Posts Tagged ‘varietas’

PENGARUH JENIS PUPUK ORGANIK DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.)

Erita Hayati, T. Mahmud, dan Riza Fazil

ABSTRACT

This study was aimed at determining effects of organic fertilizer types and varieties on growth and yield of pepper and interaction between both factors. The research was conducted at Experiment Station of Agriculture Faculty, Syiah Kuala University, Darussalam Banda Aceh, from June to October 2010. The experiment used a randomized complete block design (RCBD), 3 x 2 with three replications. Factors studied were types of organic fertilizer, consisting of compost and cow manure and varieties, consisting of TM-999 and local varieties. Variables observed were plant height at ages of 15, 30 and 45 days after planting (DAP), number of productive branches, number of fruits per plant, fruit weight per plant, yield per plot and production per ha. Results showed that there was no significant interaction between organic fertilizer types and varieties on all observed variables. Organic fertilizers did not significantly affect plant height at ages of 15, 30 and 45 DAP, productive branches at age of 75 DAP, number of fruits per plant, fruit weight per plant, yield per plot, and yield per ha. Varieties significantly affected plant height at age of 30 DAP, number of fruits per plant, but did not significantly affected plant height at ages 15 and 45 DAP, number of productive branches at age of 75 DAP, fruit weight per plant, yield per plot, and yield per ha.

Keywords: organic fertilizer, varieties, chili pepper

PENDAHULUAN

Cabai merah (Capsicum annum L.) adalah sayuran semusim yang termasuk famili terung-terungan (Solanaceae). Tanaman ini berasal dari benua Amerika, tepatnya di daerah Peru, dan menyebar ke daerah lain di benua tersebut. Di Indonesia sendiri diperkirakan cabai merah dibawa oleh saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh antara lain adalah cabai merah besar, cabai rawit, cabai merah keriting dan paprika. Cabai tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebagai bumbu masak atau bahan campuran pada berbagai industri pengolahan makanan dan minuman, tetapi juga digunakan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Selain itu cabai juga mengandung zat-zat gizi yang sangat diperlukan untuk kesehatan manusia. Cabai mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium (Ca), fosfor (P), besi (Fe), vitamin-vitamin, dan mengandung senyawa alkaloid seperti flavonoid, capsolain, dan minyak esensial (Santika, 2006).

Produksi cabai di Indonesia masih rendah dengan rata-rata nasional hanya mencapai 5,5 ton/ha, sedangkan potensi produksinya dapat mencapai 20 ton/ha (Santika, 2006). Berdasarkan hal itu, maka usaha peningkatan produksi cabai harus dilakukan baik dengan cara perbaikan teknik budidaya maupun dengan penggunaan varietas yang sesuai.

Salah satu cara usaha peningkatan produksi yaitu dengan perbaikan teknik budidaya seperti penggunaan pupuk organik. Pupuk organik padat merupakan pupuk dari hasil pelapukan sisa-sisa tanaman atau limbah organik (Musnamar, 2003). limbah yang dimaksud berasal dari hasil pelapukan jaringan-jaringan tanaman atau bahan-bahan tanaman seperti jerami, sekam, daun-daunan dan rumput-rumputan yang berupa limbah hayati yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar kita, didaur ulang dan dirombak dengan bantuan mikroorganisme dekomposer seperti bakteri dan cendawan menjadi unsur-unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses perombakan jenis bahan organik menjadi pupuk organik dapat berlangsung secara alami atau buatan (Prihmantoro, 2005).

Menurut Sarief (1986) pemberian pupuk organik yang tepat dapat memperbaiki kualitas tanah, tersedianya air yang optimal sehingga memperlancar serapan hara tanaman serta merangsang pertumbuhan akar.

Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi merupakan pupuk padat yang banyak mengandung air dan lendir. Pupuk ini digolongkan sebagai pupuk dingin. Pupuk dingin merupakan pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung secara perlahan-lahan sehingga tidak membentuk panas. Sebaliknya, pupuk kotoran kambing digolongkan sebagai pupuk panas, yaitu pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung secara cepat sehingga membentuk panas (Musnamar, 2005). Kelemahan dari pupuk panas adalah mudah menguap karena bahan organiknya tidak terurai secara sempurna sehingga banyak yang berubah menjadi gas (Samekto, 2006).

Prajnanta (2004) menyatakan unsur hara yang dihasilkan dari jenis pupuk organik sangat tergantung dari jenis bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Unsur hara tersebut terdiri dari mineral, baik makro maupun mikro, asam amino, hormon pertumbuhan, dan mikroorganisme. Kandungan hara yang dikandung dalam jenis pupuk organik kotoran sapi berbentuk padat terdiri dari nitrogen 0,40%, fosfor 0,20% dan kalium 0,10%. Jenis pupuk organik dari sampah organik terdiri dari nitrogen 0,09%, fosfor 0,36% dan kalium 0,81% (Lingga, 2005)

Pupuk organik mempunyai fungsi antara lain adalah: 1) memperbaiki struktur tanah, karena bahan organik dapat mengikat partikel tanah menjadi agregat yang mantap, 2) memperbaiki distribusi ukuran pori tanah sehingga daya pegang air tanah meningkat dan pergerakan udara (aerasi) di dalam tanah menjadi lebih baik. Fungsi biologi pupuk kompos adalah sebagai sumber energi dan makanan bagi mikroba di dalam tanah. Dengan ketersediaan bahan organik yang cukup, aktivitas organisme tanah yang juga mempengaruhi ketersediaan hara, siklus hara, dan pembentukan pori mikro dan makro tanah menjadi lebih baik (Setyorini 2004). Selain pemupukan, penggunaan varietas juga merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan produksi cabai.

Varietas terdiri dari sejumlah genotipe yang berbeda di mana masing-masing genotipe mempunyai kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Setiap varietas memiliki perbedaan genetik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil serta kemampuan adaptasi suatu varietas berbeda-beda. Varietas bermutu (varietas unggul) mempunyai salah satu sifat keunggulan dari varietas lokal. Keunggulan tersebut dapat tercermin pada sifat pembawaannya yang dapat menghasilkan buah yang berproduksi tinggi, respons terhadap pemupukan dan resisten terhadap hama dan penyakit. Jenis varietas yang sesuai dengan keadaan lingkungan diharapkan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang tinggi (Prajnanta, 2004).

Untuk mencapai produksi yang tinggi ditentukan oleh potensi varietas unggul. Potensi varietas unggul di lapangan masih dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik (varietas) dengan pengelolaan kondisi lingkungan. Bila pengelolaan lingkungan tumbuh tidak dilakukan dengan baik, potensi produksi yang tinggi dari varietas unggul tersebut tidak dapat tercapai (Adisarwanto, 2006). Varietas lokal pertumbuhannya sangat kuat, tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman, serta mempunyai adaptasi yang baik terhadap lingkungan, tetapi masih memiliki kelemahan yaitu produksi yang masih rendah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik dan varietas terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai serta ada tidaknya pengaruh interaksi antara kedua faktor tersebut.

Advertisements

PENGARUH JARAK TANAM HEKSAGONAL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS PADI

Muhammad Hatta

ABSTRACT

The objective of this study was to examine hexagonal plant spacing on growth and yield of three varieties of rice. In addition, this study was also aimed to examine interactions between the hexagonal plant spacing and the varieties on growth and yield of rice plants. The experiment applied a split plot design with four replications. Factors studied were (1) variety, placed as a main plot and (2) hexagonal plant spacing, placed as subplot. The results showed that effect of plant spacing on productive tiller number varied, depending on variety. In Pandan Wangi and Ciherang varieties, productive tiller numbers did not differ between plant spacing of 21 cm from a spacing of 25 cm. In contrast, in line Cot Irie, productive tiller of 25 cm plant spacing outnumbered that of plant spacing of 21 cm. Effect of plant spacing on panicle length was consistent on all varieties tested. Rice panicle length did not differ between plant spacing of 21 cm and 25 cm. Effect of plant spacing on potential yield per hectare was also consistent across all varieties tested. Plant spacing of 21 cm provided a potential yield per ha which was not significantly different from plant spacing of 25 cm. Line Cot Irie provided panicle length better than varieties Pandan Wangi and Ciherang. Line Cot Irie also provided the highest yield potential per hectare, while panicle length and potential yield per ha of Ciherang were not significantly different from Pandan Wangi.

Keywords: plant spacing, hexagonal spacing, rice, variety, Ciherang, Pandan Wangi, SRI

PENDAHULUAN

Metode SRI yang telah banyak mendapat pengakuan dari berbagai kalangan (The SRI Group, 2006; Mutakin ,2009) harus diakui masih dalam taraf perkembangan. Kendati hasil yang diperoleh sangat menjanjikan, namun kritik terhadap metode ini juga tidak sedikit (Thakur, 2010); ECOS, 2006). Ini tidak lain akibat dari eksekusi metode SRI yang sangat beragam dan dengan demikian, hasilnya pun juga sangat beragam.

Ruang untuk memperbaiki Metode SRI terbuka luas. Salah satu di antaranya adalah mencari bentuk tanam dan jarak tanam yang sesuai bagi varietas padi yang digunakan. Bentuk tanam heksagonal atau dikenal juga dengan bentuk tanam segi tiga memiliki kelebihan dibanding tipe lainnya. Salah satu kelebihannya adalah dengan jarak tanaman yang sama, bentuk ini memiliki lebih banyak populasi. Secara matematika, bentuk heksagonal memerlukan lahan lebih hemat 13 persen dan menghasilkan populasi lebih banyak sekitar 15 persen dibanding bentuk segi empat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk heksagonal memberikan hasil yang lebih baik dibanding bentuk segi empat (Hatta, 2011).

Selain bentuk tanam, jarak tanam juga mempengaruhi pertumbuhan dan hasil padi. Jarak tanam yang lebar memungkinkan tanaman memiliki anakan yang sangat banyak. Pada jarak tanam 50 cm x 50 cm, tanaman padi dapat menghasilkan 50-80 anakan dalam satu rumpun (Sinar Tani Online, 2011). Sebaliknya, jarak tanam yang sempit hanya menghasilkan jumlah anakan yang sedikit. Bahkan pada jarak tanam yang sangat sempit, satu tanaman hanya menghasilkan beberapa anakan saja. Sohel et al. (2009) menemukan bahwa pada jarak tanam 25 cm x 5 cm, satu rumpun hanya menghasilkan 4 – 5 tanaman saja. Namun demikian, jarak tanam yang terlalu lebar berpotensi menjadi tidak produktif. Banyak bagian lahan menjadi tidak termanfaatkan oleh tanaman, terutama apabila tanaman tidak mempunyai cukup banyak jumlah anakan sehingga tersisa banyak ruang kosong. Banyaknya ruang kosong ini pada akhirnya menyebabkan berkurangnya hasil padi yang dihasilkan per satuan luas lahan. Dengan kata lain, produktivitas lahan menjadi rendah. Menurut Salahuddin et al. (2009), jarak tanam mempengaruhi panjang malai, jumlah bulir per malai, dan hasil per ha tanaman padi. Selain itu, jarak tanam juga mempengaruhi komponen hasil padi. Hatta (2012) menemukan bahwa jarak tanam sangat mempengaruhi jumlah anakan produktif.

Jarak tanam juga dipengaruhi oleh varietas. Beberapa varietas yang banyak ditanam petani tergolong memiliki banyak anakan. Namun demikian, ada juga varietas yang beredar tergolong beranak sedikit atau sedang. Secara umum, varietas yang memiliki banyak anakan seyogianya ditanam dengan jarak yang renggang, sebaliknya varietas yang beranak sedikit ditanam dengan jarak yang rapat. Setiap varietas memiliki jarak tanam idealnya tersendiri. Varietas juga berpengaruh terhadap komponen hasil. Panjang malai dan jumlah bulir per malai adalah beberapa komponen hasil yang dipengaruhi oleh varietas (Hatta, 2011; Hatta, 2012).

Jarak tanam yang tepat akan memberikan pertumbuhan, jumlah anakan, dan hasil yang maksimum. Menurut Sohel et al. (2009), jarak tanam yang optimum akan memberikan pertumbuhan bagian atas tanaman yang baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari dan pertumbuhan bagian akar yang juga baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak unsur hara. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat akan mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman yang sangat hebat dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil tanaman rendah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji jarak tanam bentuk heksagonal pada tiga varietas terhadap pertumbuhan dan hasil padi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji interaksi antara jarak tanam heksagonal dengan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Pengujian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang spesifik terhadap pengembangan metode SRI ke depan.

PENGARUH INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR ENVIRO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS MENTIMUN (Cucumis sativus L.)

Jumini, Hasinah HAR, dan Armis

ABSTRACT

This study was aimed at determining appropriate time interval of providing liquid organic fertilizer Enviro to growth and yield of two varieties of cucumber and interaction betweenthe time interval and the variety. The experiment was carried out on flood plain of Krueng Lamnyong, Shiah Kuala Sub District, Banda Aceh from November 2008 to January 2009, using a factorial randomized complete block design 4×2 with three replications. Factors studied were time interval of providing liquid organic fertilizer Enviro, consisting of 4 levels ( 5, 7, 9 and 11 days and varieties, consisting of 2 levels (local varieties and Hercules 56). Variables observed were plant height, fruit numbers, fruit length, fruit diameter, and fruit Weights. Results showed that the time interval of providing liquid organic fertilizer Enviro did not affect plant height at age of 10, 20, and 30 days after planting (DAP), the number, length, diameter and weight of cucumber fruits harvested for 4 times. On the other hand, variety exerted significant effects on plant height at age of 10, 20 and 30 DAP, the number, length and weight of fruits, but did not exert a significant effect on fruit diameter. The best growth and length of cucumber fruits were found on varieties Hercules 56, while the number, diameter and weight of fruits of four Time harvest were found on local varieties.
There was no significant interaction between time interval and variety on all variables observed.

Keywords: liquid organic fertilizer, Enviro, variety, Hercules 56, cucumbers

PENDAHULUAN

Prospek tanaman mentimun semakin cerah, karena pemasaran hasilnya tidak hanya dilakukan di dalam negeri (domestik) tetapi ke luar negeri (ekspor). Untuk itu diperlukan peningkatan produksi dan produktivitas dari mentimun, salah satunya melalui pemupukan (Rukmana, 1994). Pemupukan memegang peran penting dalam meningkatkan produksi tanaman, terlebih lagi dengan banyaknya penggunaan varietas unggul yang mempunyai respons yang tinggi terhadap pemupukan.

Pemupukan merupakan salah satu cara untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah dan meningkatkan produksi tanaman. pemupukan dapat dilakukan melalui tanah dan daun. Pemupukan melalui daun dilakukan karena adanya kenyataan bahwa pemupukan melalui tanah kadang-kadang kurang menguntungkan, karena unsur hara sering terfiksasi, tercuci dan adanya interaksi dengan tanah sehingga unsur hara tersebut relatif kurang tersedia bagi tanaman. Faktor inilah yang mendorong timbulnya pemikiran untuk melaku-kan pemupukan melalui daun (Suhadi, 1980). Keuntungan pemupukan melalui daun adalah penyerapan unsur hara dari pupuk yang di berikan berjalan lebih cepat dibandingkan bila diberikan melalui tanah, sehingga pemberian pupuk melalui daun lebih efisien penyerapan unsur haranya (Lingga, 1994).

Pada prinsipnya pemupukan melalui daun memperhatikan waktu aplikasi yang tepat. Soetejo dan Kartasapoetra (1988) menyebutkan bahwa waktu aplikasi juga menentukan pertumbuhan tanaman. Berbedanya waktu aplikasi akan memberikan hasil yang tidak sesuai dengan pertumbuhan tanaman. pemberian pupuk melalui daun dengan interval waktu yang terlalu sering dapat menyebabkan konsumsi mewah, sehingga menyebabkan pemborosan pupuk. Sebaliknya, bila interval pemupukan terlalu jarang dapat menyebabkan kebutuhan hara tanaman kurang terpenuhi. Interval waktu pemberian pupuk organik cair Enviro di anjurkan yaitu 7-10 hari sekali dengan konsentrasi 1 cc per liter air.

Di samping pemupukan, penggunaan benih varietas unggul juga sangat berpengaruh terhadap hasil mentimun. Penelitian ini menggunakan dua varietas yang menghendaki tempat yang berbeda. Mentimun varietas lokal menghen-daki dataran rendah dan mentimun varietas Hercules 56 menghendaki dataran tinggi untuk pertumbuhan-nya. Mentimun varietas lokal mulai berbunga pada umur 24 HST, umur panen tanaman ini 33-36 HST dan banyak menghasilkan bunga jantan, buahnya berwarna putih kehijauan. Sedangkan varietas Hercules 56 masa panennya 35-60 HST, buah seragam, tidak berongga, daging buah cukup tabal, buah berbentuk panjang silindris dan kulitnya berwarna hijau tua (Cahyono, 2003). Sejauh mana pengaruh dari interval waktu pemupukan organik cair Enviro terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas mentimun serta interaksi antara kedua faktor tersebut belum diketahui oleh karena itu perlu dilakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interval waktu pembe-rian pupuk organik cair Enviro yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tanaman mentimun serta nyata tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.

EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH

Erida Nurahmi, T. Mahmud, dan Sylvia Rossiana S

ABSTRACT

The objectives of this experiment were to study effectiveness of organic fertilizer on growth and yield of some varieties of red chili The experiment used a Randomized Complete Block Design with factorial pattern 3 x 3 and 3 replicates. There were 2 factors studied, i.e. organic fertilizer (P1= compost fertilizer, P2= liquid fertilizer, P3= guano fertilizer) and varieties (V1= TM-999, V2= ST-168, V3= local). The result showed that the best fertilizer for red chili growth and yield was guano fertilizer and the best variety was local variety. There was not significant interaction between organic fertilizers and varieties on all growth and yield variables studied.

Keywords: red chili, guano, compost, variety, TM 999, ST 168


PENDAHULUAN

Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting. Hal ini disebabkan banyaknya manfaat yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, baik yang berhubungan dengan kegiatan rumah tangga maupun untuk keperluan lain seperti untuk bahan ramuan obat tradisional, bahan makanan dan minuman serta industri. Tidak hanya itu, secara umum tanaman cabai memiliki kandungan gizi dan vitamin di antaranya, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C.

Produksi cabai di Indonesia masih rendah dengan rata-rata nasional hanya mencapai 5,5 ton/ha, sedangkan potensi produksinya dapat mencapai 20 ton/ha. Berdasarkan hal itu, maka usaha peningkatan produksi cabai dapat dilakukan dengan cara perbaikan teknik budidaya yang meliputi pemupukan dengan pupuk organik dan penggunaan varietas cabai yang digunakan.

Dewasa ini banyak pupuk yang beredar di pasaran dan memberikan hasil yang cukup baik. Akan tetapi, pupuk yang beredar adalah pupuk anorganik yang biasa kita kenal sebagai pupuk kimia. Pemakaian pupuk seperti ini dalam jangka waktu yang lama bukan memberikan hasil yang positif, melainkan hasil yang negatif karena pupuk kimia dapat merusak ekosistem. Untuk itu diperlukan sesuatu zat yang bukan hanya menyehatkan, tetapi juga ramah terhadap lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal itu adalah pemberian pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang beredar di pasaran, di antaranya pupuk kompos, pupuk cair organik dan guano. Ketiga pupuk ini mengandung unsur hara baik makro dan mikro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Pupuk organik maupun anorganik mempunyai perbedaan masing-masing, di antaranya dalam hal kecepatan penyerapan unsur hara dari pupuk organik yang tergolong lambat dibandingkan pupuk anorganik sehingga pengaruh yang ditimbulkan oleh pupuk organik terhadap pertumbuhan yang terjadi pada tanaman berlangsung dengan lambat dibandingkan pupuk anorganik yang berlangsung cepat. Sebaliknya, susunan unsur hara yang dikandung dalam pupuk organik lebih lengkap dibandingkan pupuk anorganik.

Selain pemupukan, penggunaan varietas juga merupakan faktor dalam meningkatkan produksi cabai. Varietas sangat menentukan produktivitas. Varietas yang sesuai dengan keadaan lingkungan diharapkan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang tinggi. Dalam penelitian ini digunakan tiga varietas cabai merah yaitu varietas TM-999, ST-168 dan varietas lokal.

Berdasarkan penjelasan di atas, penggunaan pupuk organik merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produksi cabai. Namun seberapa besar efektivitas penggunaan ketiga pupuk yang dicobakan tersebut bagi pertumbuhan dan hasil beberapa varietas cabai merah belum begitu jelas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan dan hasil yang diperoleh dari penggunaan pupuk organik pada beberapa varietas cabai merah serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut.

PENGARUH TIPE JARAK TANAM TERHADAP ANAKAN, KOMPONEN HASIL, DAN HASIL DUA VARIETAS PADI PADA METODE SRI

Muhammad Hatta

ABSTRACT

The objective of this study was to test three types of plant spacing on two varieties of rice on growth, yield components, and yield of rice. This experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 3 replications. Factors studied were types of plant spacing and varieties. The results showed that the types of plant spacing significantly affected rice yield. However, the types of plant spacing did not significantly affect age of flowering, panicle length, and number of grains per panicle. On the rice yield variable, Legowo and triangle (hexagonal) types of plant spacing gave higher yields than rectangular type. Variety significantly affected age of flowering, panicle length, number of grains per panicle, and yield of rice. Pandan Wangi bloomed faster than Cot Irie line. However, Cot Irie line had longer panicles and more grain numbers, and higher yields than Pandan Wangi. There was a significant interaction between varieties and types of plant spacing on a number of productive tillers. On Pandan Wangi, the most productive tillers were found in a rectangular type of spacing, but not significantly different to a triangular type of spacing. The least number of productive tillers was found in a type of Legowo. However, on Cot Irie line, the number of productive tillers did not differ from each other among the types of plant spacing.

Keywords: spacing, triangle, hexagonal, Legowo, varieties, rice, Pandan Wangi


PENDAHULUAN

Penaman padi metode SRI akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan peneliti padi. Beberapa laporan menyebut-kan bahwa metode SRI sangat menjanjikan untuk diterapkan kare-na dapat memberikan hasil padi yang tinggi. Menurut Mutakin (2009), metode SRI dapat meningkatkan produktivitas padi sebesar 50%. Bahkan, di beberapa tempat peningkatannya bisa mencapai lebih dari 100%. Lebih lanjut, The SRI Group (2006) menyatakan bahwa metode SRI merupakan teknik penanaman padi yang efisien dan produktif.

Salah satu ciri khas penanaman padi metode SRI adalah jarak tanamnya yang sangat lebar. Pada metode SRI, jarak tanam yang dianjurkan antara 30 cm x 30 cm (Mutakin, 2009) sampai 50 cm x 50 cm (Sinar Tani Online, 2011). Sebaliknya, pada metode konven-sional, jarak tanam yang dianjurkan adalah 20 cm x 20 cm (Wikipedia, 2011) sampai 25 cm x 25 cm (Warintekjogja, 2011). Bahkan dalam prakteknya, ada petani yang menanam padi pada jarak tanam 15 cm x 15 cm.

Jarak tanam yang lebar pada metode SRI memungkinkan tanaman memiliki anakan yang sangat banyak. Pada jarak tanam 50 cm x 50 cm, tanaman padi dapat menghasilkan 50-80 anakan dalam satu rumpun (Sinar Tani Online, 2011). Sebaliknya, jarak tanam yang sempit memaksa tanaman hanya memiliki anakan yang sedikit. Pada jarak tanam yang sangat sempit, bahkan satu tanaman hanya menghasilkan 4 sampai 5 anakan saja. Sohel et al. (2009) pada penelitiannya mene-mukan bahwa pada jarak tanam 25 cm x 5 cm, satu rumpun hanya menghasilkan 4 – 5 tanaman saja. Menurut Salahuddin et al. (2009), jarak tanam juga mempengaruhi panjang malai, jumlah bulir per malai, dan hasil per ha tanaman padi.

Namun demikian, jarak tanam yang terlalu lebar juga ber-potensi menjadi mubazir. Banyak bagian lahan menjadi tidak termanfaatkan oleh tanaman, ter-utama apabila tanaman tidak mempunyai cukup banyak jumlah anakan sehingga tersisa banyak ruang kosong. Banyaknya ruang yang tidak termanfaatkan ini pada akhirnya menyebabkan berkurang-nya hasil padi yang dihasilkan per satuan luas lahan. Dengan kata lain, produktivitas lahan menjadi rendah.

Jarak tanam juga dipenga-ruhi oleh varietas yang memiliki perbedaan dalam menghasilkan anakan. Varietas tertentu memiliki banyak sekali anakan, tetapi ada juga varietas yang memiliki sangat sedikit jumlah anakan. Beberapa varietas yang banyak ditanam petani tergolong memiliki banyak anakan, seperti Varietas Pandan Wangi. Sebaliknya, tidak sedikit juga varietas yang beredar tergolong beranak sedikit atau sedang, seperti Varietas Ciherang. Oleh karenanya, tidak ada jarak tanam yang ideal untuk semua varietas. Akan tetapi, setiap varietas memiliki jarak tanam idealnya tersendiri.

Jarak tanam yang tepat tidak hanya menghasilkan pertumbuhan dan jumlah anakan yang maksimum, tetapi juga akan memberikan hasil yang maksi-mum. Menurut Sohel et al. (2009), jarak tanam yang optimum akan memberikan pertum-buhan bagian atas tanaman yang baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari dan pertumbuhan bagian bawah tanaman yang juga baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak unsur hara. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat akan mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman yang sangat hebat dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil tanaman rendah.

Optimasi penggunaan satuan luas lahan dapat juga diperoleh dengan pengaturan tipe jarak tanam. Secara umum, ada tiga tipe jarak tanam yang banyak dipraktekkan, yaitu segi empat, persegi panjang, dan segi tiga. Petani padi sekarang banyak menggunakan tipe segi empat, misalnya tipe jarak tanam 30 cm x 30 cm. Akan tetapi petani lain ada yang menggunakan tipe persegi panjang dengan berbagai nama seperti sistem Legowo 30 cm x 15 cm x 60 cm. Tipe segi tiga pada padi belum banyak diterapkan, tetapi pada tanaman kelapa sawit sudah sangat umum.

Tipe segi tiga atau disebut juga tipe heksagonal memiliki kelebihan dibanding dua tipe lainnya. Salah satu kelebihan tipe segi tiga dari segi empat adalah dengan jarak tanaman yang sama memiliki lebih banyak populasi. Dengan populasi yang lebih banyak, kita bisa berharap tipe segi tiga akan memberikan hasil yang lebih banyak. Sebaliknya, sistem Legowo diklaim juga memberikan hasil yang lebih tinggi daripada sistem tanam segi empat. Ini didasarkan juga pada jumlah populasi yang lebih banyak, tetapi dengan jarak tanam dalam barisan yang lebih rapat. Secara mate-matika, tipe segitiga dan Legowo masing-masing memerlukan lahan lebih hemat 13 persen dan 25 persen daripada segi empat. Bila dilihat dari jumlah populasi per hektar, maka tipe segitiga dan Legowa masing-masing menghasilkan populasi lebih banyak sekitar 15 persen dan 33 persen dibanding tipe segi empat.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji tiga jenis tipe jarak tanam pada dua varietas padi terhadap pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil padi. Pengujian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang spesifik terhadap pengembangan metode SRI ke depan.