Posts Tagged ‘padi’

PENGARUH JARAK TANAM HEKSAGONAL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS PADI

Muhammad Hatta

ABSTRACT

The objective of this study was to examine hexagonal plant spacing on growth and yield of three varieties of rice. In addition, this study was also aimed to examine interactions between the hexagonal plant spacing and the varieties on growth and yield of rice plants. The experiment applied a split plot design with four replications. Factors studied were (1) variety, placed as a main plot and (2) hexagonal plant spacing, placed as subplot. The results showed that effect of plant spacing on productive tiller number varied, depending on variety. In Pandan Wangi and Ciherang varieties, productive tiller numbers did not differ between plant spacing of 21 cm from a spacing of 25 cm. In contrast, in line Cot Irie, productive tiller of 25 cm plant spacing outnumbered that of plant spacing of 21 cm. Effect of plant spacing on panicle length was consistent on all varieties tested. Rice panicle length did not differ between plant spacing of 21 cm and 25 cm. Effect of plant spacing on potential yield per hectare was also consistent across all varieties tested. Plant spacing of 21 cm provided a potential yield per ha which was not significantly different from plant spacing of 25 cm. Line Cot Irie provided panicle length better than varieties Pandan Wangi and Ciherang. Line Cot Irie also provided the highest yield potential per hectare, while panicle length and potential yield per ha of Ciherang were not significantly different from Pandan Wangi.

Keywords: plant spacing, hexagonal spacing, rice, variety, Ciherang, Pandan Wangi, SRI

PENDAHULUAN

Metode SRI yang telah banyak mendapat pengakuan dari berbagai kalangan (The SRI Group, 2006; Mutakin ,2009) harus diakui masih dalam taraf perkembangan. Kendati hasil yang diperoleh sangat menjanjikan, namun kritik terhadap metode ini juga tidak sedikit (Thakur, 2010); ECOS, 2006). Ini tidak lain akibat dari eksekusi metode SRI yang sangat beragam dan dengan demikian, hasilnya pun juga sangat beragam.

Ruang untuk memperbaiki Metode SRI terbuka luas. Salah satu di antaranya adalah mencari bentuk tanam dan jarak tanam yang sesuai bagi varietas padi yang digunakan. Bentuk tanam heksagonal atau dikenal juga dengan bentuk tanam segi tiga memiliki kelebihan dibanding tipe lainnya. Salah satu kelebihannya adalah dengan jarak tanaman yang sama, bentuk ini memiliki lebih banyak populasi. Secara matematika, bentuk heksagonal memerlukan lahan lebih hemat 13 persen dan menghasilkan populasi lebih banyak sekitar 15 persen dibanding bentuk segi empat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk heksagonal memberikan hasil yang lebih baik dibanding bentuk segi empat (Hatta, 2011).

Selain bentuk tanam, jarak tanam juga mempengaruhi pertumbuhan dan hasil padi. Jarak tanam yang lebar memungkinkan tanaman memiliki anakan yang sangat banyak. Pada jarak tanam 50 cm x 50 cm, tanaman padi dapat menghasilkan 50-80 anakan dalam satu rumpun (Sinar Tani Online, 2011). Sebaliknya, jarak tanam yang sempit hanya menghasilkan jumlah anakan yang sedikit. Bahkan pada jarak tanam yang sangat sempit, satu tanaman hanya menghasilkan beberapa anakan saja. Sohel et al. (2009) menemukan bahwa pada jarak tanam 25 cm x 5 cm, satu rumpun hanya menghasilkan 4 – 5 tanaman saja. Namun demikian, jarak tanam yang terlalu lebar berpotensi menjadi tidak produktif. Banyak bagian lahan menjadi tidak termanfaatkan oleh tanaman, terutama apabila tanaman tidak mempunyai cukup banyak jumlah anakan sehingga tersisa banyak ruang kosong. Banyaknya ruang kosong ini pada akhirnya menyebabkan berkurangnya hasil padi yang dihasilkan per satuan luas lahan. Dengan kata lain, produktivitas lahan menjadi rendah. Menurut Salahuddin et al. (2009), jarak tanam mempengaruhi panjang malai, jumlah bulir per malai, dan hasil per ha tanaman padi. Selain itu, jarak tanam juga mempengaruhi komponen hasil padi. Hatta (2012) menemukan bahwa jarak tanam sangat mempengaruhi jumlah anakan produktif.

Jarak tanam juga dipengaruhi oleh varietas. Beberapa varietas yang banyak ditanam petani tergolong memiliki banyak anakan. Namun demikian, ada juga varietas yang beredar tergolong beranak sedikit atau sedang. Secara umum, varietas yang memiliki banyak anakan seyogianya ditanam dengan jarak yang renggang, sebaliknya varietas yang beranak sedikit ditanam dengan jarak yang rapat. Setiap varietas memiliki jarak tanam idealnya tersendiri. Varietas juga berpengaruh terhadap komponen hasil. Panjang malai dan jumlah bulir per malai adalah beberapa komponen hasil yang dipengaruhi oleh varietas (Hatta, 2011; Hatta, 2012).

Jarak tanam yang tepat akan memberikan pertumbuhan, jumlah anakan, dan hasil yang maksimum. Menurut Sohel et al. (2009), jarak tanam yang optimum akan memberikan pertumbuhan bagian atas tanaman yang baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari dan pertumbuhan bagian akar yang juga baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak unsur hara. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat akan mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman yang sangat hebat dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil tanaman rendah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji jarak tanam bentuk heksagonal pada tiga varietas terhadap pertumbuhan dan hasil padi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji interaksi antara jarak tanam heksagonal dengan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Pengujian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang spesifik terhadap pengembangan metode SRI ke depan.

Advertisements

PENGARUH TIPE JARAK TANAM TERHADAP ANAKAN, KOMPONEN HASIL, DAN HASIL DUA VARIETAS PADI PADA METODE SRI

Muhammad Hatta

ABSTRACT

The objective of this study was to test three types of plant spacing on two varieties of rice on growth, yield components, and yield of rice. This experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 3 replications. Factors studied were types of plant spacing and varieties. The results showed that the types of plant spacing significantly affected rice yield. However, the types of plant spacing did not significantly affect age of flowering, panicle length, and number of grains per panicle. On the rice yield variable, Legowo and triangle (hexagonal) types of plant spacing gave higher yields than rectangular type. Variety significantly affected age of flowering, panicle length, number of grains per panicle, and yield of rice. Pandan Wangi bloomed faster than Cot Irie line. However, Cot Irie line had longer panicles and more grain numbers, and higher yields than Pandan Wangi. There was a significant interaction between varieties and types of plant spacing on a number of productive tillers. On Pandan Wangi, the most productive tillers were found in a rectangular type of spacing, but not significantly different to a triangular type of spacing. The least number of productive tillers was found in a type of Legowo. However, on Cot Irie line, the number of productive tillers did not differ from each other among the types of plant spacing.

Keywords: spacing, triangle, hexagonal, Legowo, varieties, rice, Pandan Wangi


PENDAHULUAN

Penaman padi metode SRI akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan peneliti padi. Beberapa laporan menyebut-kan bahwa metode SRI sangat menjanjikan untuk diterapkan kare-na dapat memberikan hasil padi yang tinggi. Menurut Mutakin (2009), metode SRI dapat meningkatkan produktivitas padi sebesar 50%. Bahkan, di beberapa tempat peningkatannya bisa mencapai lebih dari 100%. Lebih lanjut, The SRI Group (2006) menyatakan bahwa metode SRI merupakan teknik penanaman padi yang efisien dan produktif.

Salah satu ciri khas penanaman padi metode SRI adalah jarak tanamnya yang sangat lebar. Pada metode SRI, jarak tanam yang dianjurkan antara 30 cm x 30 cm (Mutakin, 2009) sampai 50 cm x 50 cm (Sinar Tani Online, 2011). Sebaliknya, pada metode konven-sional, jarak tanam yang dianjurkan adalah 20 cm x 20 cm (Wikipedia, 2011) sampai 25 cm x 25 cm (Warintekjogja, 2011). Bahkan dalam prakteknya, ada petani yang menanam padi pada jarak tanam 15 cm x 15 cm.

Jarak tanam yang lebar pada metode SRI memungkinkan tanaman memiliki anakan yang sangat banyak. Pada jarak tanam 50 cm x 50 cm, tanaman padi dapat menghasilkan 50-80 anakan dalam satu rumpun (Sinar Tani Online, 2011). Sebaliknya, jarak tanam yang sempit memaksa tanaman hanya memiliki anakan yang sedikit. Pada jarak tanam yang sangat sempit, bahkan satu tanaman hanya menghasilkan 4 sampai 5 anakan saja. Sohel et al. (2009) pada penelitiannya mene-mukan bahwa pada jarak tanam 25 cm x 5 cm, satu rumpun hanya menghasilkan 4 – 5 tanaman saja. Menurut Salahuddin et al. (2009), jarak tanam juga mempengaruhi panjang malai, jumlah bulir per malai, dan hasil per ha tanaman padi.

Namun demikian, jarak tanam yang terlalu lebar juga ber-potensi menjadi mubazir. Banyak bagian lahan menjadi tidak termanfaatkan oleh tanaman, ter-utama apabila tanaman tidak mempunyai cukup banyak jumlah anakan sehingga tersisa banyak ruang kosong. Banyaknya ruang yang tidak termanfaatkan ini pada akhirnya menyebabkan berkurang-nya hasil padi yang dihasilkan per satuan luas lahan. Dengan kata lain, produktivitas lahan menjadi rendah.

Jarak tanam juga dipenga-ruhi oleh varietas yang memiliki perbedaan dalam menghasilkan anakan. Varietas tertentu memiliki banyak sekali anakan, tetapi ada juga varietas yang memiliki sangat sedikit jumlah anakan. Beberapa varietas yang banyak ditanam petani tergolong memiliki banyak anakan, seperti Varietas Pandan Wangi. Sebaliknya, tidak sedikit juga varietas yang beredar tergolong beranak sedikit atau sedang, seperti Varietas Ciherang. Oleh karenanya, tidak ada jarak tanam yang ideal untuk semua varietas. Akan tetapi, setiap varietas memiliki jarak tanam idealnya tersendiri.

Jarak tanam yang tepat tidak hanya menghasilkan pertumbuhan dan jumlah anakan yang maksimum, tetapi juga akan memberikan hasil yang maksi-mum. Menurut Sohel et al. (2009), jarak tanam yang optimum akan memberikan pertum-buhan bagian atas tanaman yang baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari dan pertumbuhan bagian bawah tanaman yang juga baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak unsur hara. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat akan mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman yang sangat hebat dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil tanaman rendah.

Optimasi penggunaan satuan luas lahan dapat juga diperoleh dengan pengaturan tipe jarak tanam. Secara umum, ada tiga tipe jarak tanam yang banyak dipraktekkan, yaitu segi empat, persegi panjang, dan segi tiga. Petani padi sekarang banyak menggunakan tipe segi empat, misalnya tipe jarak tanam 30 cm x 30 cm. Akan tetapi petani lain ada yang menggunakan tipe persegi panjang dengan berbagai nama seperti sistem Legowo 30 cm x 15 cm x 60 cm. Tipe segi tiga pada padi belum banyak diterapkan, tetapi pada tanaman kelapa sawit sudah sangat umum.

Tipe segi tiga atau disebut juga tipe heksagonal memiliki kelebihan dibanding dua tipe lainnya. Salah satu kelebihan tipe segi tiga dari segi empat adalah dengan jarak tanaman yang sama memiliki lebih banyak populasi. Dengan populasi yang lebih banyak, kita bisa berharap tipe segi tiga akan memberikan hasil yang lebih banyak. Sebaliknya, sistem Legowo diklaim juga memberikan hasil yang lebih tinggi daripada sistem tanam segi empat. Ini didasarkan juga pada jumlah populasi yang lebih banyak, tetapi dengan jarak tanam dalam barisan yang lebih rapat. Secara mate-matika, tipe segitiga dan Legowo masing-masing memerlukan lahan lebih hemat 13 persen dan 25 persen daripada segi empat. Bila dilihat dari jumlah populasi per hektar, maka tipe segitiga dan Legowa masing-masing menghasilkan populasi lebih banyak sekitar 15 persen dan 33 persen dibanding tipe segi empat.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji tiga jenis tipe jarak tanam pada dua varietas padi terhadap pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil padi. Pengujian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang spesifik terhadap pengembangan metode SRI ke depan.