Archive for the ‘uncatagorized’ Category

PENGUJIAN PENGHAMBATAN AKTIVITAS MAKAN DARI EKSTRAK DAUN Lantana camara L. (Verbenaceae) TERHADAP LARVA Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae)

 

Evaluation of Antifeedant activity of Leaf Extract Lantana camara L. (Verbenaceae) against Larva Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae)

Khaidir dan Hendrival

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh,

Reuleut, Aceh Utara. Email penulis ke dua: hendrival@yahoo.com

ABSTRACT

Research on antifeedant activity of n-hexane leaf extract Lantana camara and its active fractions were evaluated for their insecticidal activity against Plutella xylostella larvae. The method included extraction, fractionation, and examination antifeedant leaf extract L. camara and fractions active against P. xylostella larvae. Extract application was conducted using a residue feeding method. Fractionation of active compounds from extract n-hexane was conducted by liquid vacuum chromatography, using phase silent silicate gel GF254­ and phase mobility n-hexane, ethyl acetate, and methanol (elusion gradient), which produce fractions A, B, C, D, and E. Extract leaf L. camara and fractions possessed antifeedant activity against P. xylostella larvae. Extract leaf L. camara at concentration of 1% caused larva antifeedant activity up to 78.47%. Fraction E caused a higher larva antifeedant activity (85,52%) than extract and other fractions did.

Keywords: antifeedant, Lantana camara, Plutella xylostella

Advertisements

Temporary Post Used For Theme Detection (e2d29582-4e20-4502-b188-f5b199a76f60 – 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

This is a temporary post that was not deleted. Please delete this manually. (ee373e31-def5-4d40-9f47-f7b594ea4496 – 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

APLIKASI PUPUK HAYATI DAN KANDANG UNTUK PENGENDALIAN LALAT BIBIT PADA TANAMAN KEDELAI

Hasnah dan Susanna

 

ABSTRACT

 

The objectives of this research were to find out dosages of biofertilizer and manure which was the most effective to control bean fly (A. phaseoli). This research was carried out at Cot Cut Village, District of Kuta Baro, Aceh Besar, from September to December 2008. This research used a factorial randomized complete block design with two factors: biofertilizer (H) and manure (K).  Dosages of biofertilizer were H1= 2,8 L ha-1, H2= 3,5 L ha-1, H3= 4,2 L ha-1, and H4= 4,9 L ha-1. Dosages of manure fertilizer were K1= 2,8 ton ha-1,  K2= 5,6 ton ha-1 and K3= 8,4 ton ha-1.  The result showed that application of biofertilizer was more effective than that of manure fertilizer to percentage rates of the attacked plant. However, both biofertilizer and mature fertilizer exerted  significant effects to percentage of plant death, plant dwarf, number of larva and pupa, and dry seed weight per plant.  Application of biofertilizer at 4,9 L ha-1 and manure fertilizer at 8,4 ton ha-1 reduced  percentages of  plant death up to 86% and 83%, respectively.

Keywords: A. phaseoli, biofertilizer, manure fertilizer, and soybean

 


PENDAHULUAN

 

            Agromyza (Ophiomyia) phaseoli Tryon adalah lalat bibit yang termasuk dalam ordo.  Diptera dan famili Agromyzidae. Lalat ini me-rupakan hama yang menyerang bibit tanaman kedelai. Penyebarannya mulai dari Indonesia,Asia Selatan, Australia dan Samudera Pasifik (Kalshoven, 1981). Hama ini termasuk hama penting yang mengganggu pertumbuhan tanaman kedelai dan merupakan satu kendala utama yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas kedelai di Indonesia (Halim et al., 2004). Ambang ekonomi dari serangan A. phaseoli adalah 2 imago/50 tanaman atau intensitas serangan 2 % pada tanaman yang berumur 10 hari setelah tanam (Wiriadiwangsa, 2008).

Serangan lalat bibit ini dapat terjadi segera setelah tanaman muncul di atas permukaan tanah. Gejala serangan mula-mula berupa bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama atau daun kedua di sekitar pangkal daun. Bintik-bintik putih tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telurnya (Tengkano & Soehardjan, 1985), serta cairan yang keluar dari lubang tusukan merupakan bahan pakan imago (Tengkano, 2003).

Usaha yang telah dilakukan dalam mengendalikan serangan hama ini adalah dengan pemakaian insek-tisida. Namun perlu disadari bahwa penggunaan insektisida dapat menim-bulkan resistensi dan resurjensi terhadap serangga hama, dan bahkan berdampak negatif terhadap ling-kungan lainnya. Untuk menghindari kelemahan penggunaan insektisida perlu dikembangkan konsep pengena-dalian hama terpadu (PHT). Salah satu komponen dari PHT adalah pemupukan yang berimbang dan berwawasan lingkungan ( Untung, 2006 ).

Berawal dari permasalahan tersebut perlu dikembangkan suatu teknologi yang sesuai dengan lingkungan, dan mengikuti kaidah konservasi serta mampu mendukung  pencapaian produksi optimum yang aman terhadap lingkungan. Salah satu langkah efektif yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan pupuk hayati dan pupuk kandang sebagai metode pengendalian hama secara preventif.

Menurut  hasil penelitian di Amerika, pemupukan berimbang antara kandungan N,P, dan K dapat meningkatkan ketahanan tanaman gandum terhadap serangan hama penggerek batang. Sebaliknya apabila pemupukan Nitrogen yang lebih banyak, tanaman menjadi lebih peka terhadap serangan penggerek batang. Pemupukan yang berimbang merupakan upaya mengubah toleransi tanaman terhadap serangan hama, sehingga hal ini termasuk dalam ketahanan ekologi  (Untung, 2008).

Pupuk hayati mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas hasil tanaman, yaitu melalui peningkatan aktivitas biologi yang akhirnya dapat berinteraksi dengan sifat-sifat fisik dan kimia media tumbuh (tanah). Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai bahan aktif pupuk hayati ialah mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat dan pemantap agregat (Subba Rao, 1982). Penelitian Saraswati (1999) pada tanaman kedelai menunjukkan adanya peningkatan serapan P (dari 3.00 menjadi 3.30 mg    pot-1) dan N (dari 65.40 menjadi 65.80 mg pot-1) yang diinokulasi dengan fungi Aspergillus sp. Hasil penelitian tersebut memberikan indikasi bahwa penggunaan pupuk berbasis mikro-organisme dapat memperbaiki atau memulihkan kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah serta dapat meningkatkan hasil tanaman. Unsur fosfat berperan menjaga keseim-bangan dari efek pemberian nitrogen yang berlebihan, merangsang pembentukan jaringan, dan memper-kuat dinding sel sehingga diyakini  dapat membuat tanaman menjadi tahan terhadap serangan hama (Buckman & Brady, 1982; Soepardi, 1983)).  Selanjutnya  De Data (1987) menambahkan bahwa, peran unsur fosfat sebagai pendorong perkem-bangan akar, sedangkan unsur kalium berperan meningkatkan respons tanaman terhadap fosfat, serta mempunyai peranan penting dalam proses-proses fisiologi tanaman, termasuk membuka dan menutup stomata dan ketahanan terhadap kondisi iklim yang  tidak mengun-tungkan.

Dalam penelitian ini digunakan pupuk hayati yang mengandung : Azotobacter sp 2,0 x 105 -107 sel ml-1, mikroba pelarut fosfat 3,0 x 105 -107 sel ml-1, Azospirillum sp.  2,3 x 105 -108 sel ml-1, mikroba pendegradasi selulosa  3,5 x 104 -107 sel ml-1 dan unsur hara P =34,70 ppm; K = 1700 ppm; C organik = 0,92%; N =0,04%; Fe =44,3 ppm; Mn =0,23 ppm; Cu =0,85 ppm dan Zn =3,7 ppm (Simalongo, 2008).

Selanjutnya penggunaan pupuk kandang dalam penelitian ini adalah untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta sebagai sumber unsur hara nitrogen bagi tanaman. Kandungan hara dalam pupuk kandang sapi antara lain adalah N =0,65 ppm; P =0,15 ppm; K =0,30 ppm; Ca =0,12 ppm; Mg =0,10 ppm; S =0,09 ppm dan Fe =0,004 ppm (Hartatik & Widowati, 2006).

Pupuk hayati dan pupuk organik berdaya ameliorasi ganda dengan berbagai proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus mengonversi tanah serta menyehatkan ekosistem tanah, dan menghindari pencemaran lingkungan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis pupuk hayati dan pupuk kandang yang efektif untuk pengendalian  secara preventif terhadap serangan lalat bibit (A. phaseoli) pada tanaman kedelai.

            Penelitian ini dimaksudkan juga untuk memasyarakatkan peng-gunaan pupuk hayati dan  pupuk kandang dalam pengendalian secara preventif terhadap hama tanaman, khususnya lalat bibit (A. phaseoli) pada tanaman kedelai, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan dapat tercipta pertanian yang berkelanjutan.

 

APLIKASI BEBERAPA DOSIS HERBISIDA PARAQUAT PADA BIDURI DENGAN UMUR YANG BERBEDA

Gina Erida dan Herman Evisa

 ABSTRACT

 

            The study on application of different dosages of paraquat herbicide on different ages of milkyweed (Calotropis gigantea R. Br) have been conducted in Experimental Station, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University, Darussalam Banda Aceh. The treatments were arranged in a Completely Randomized Design (CDR) with two factors. The first factor was dosages of herbicide which were 0; 0,1; 0,2; 0,3; and 0,4 kg active ingredient (a.i.) ha-1. The second factor was ages of  C. gigantea R. Br which were 30 days, 45 days and 60 days after planting. The result showed that dosage of 0,3 kg i.a. ha-1 significantly increased the percentage of C. gigantea R. Br and decreased the dry weight shoot and root of C. gigantea R. Br. The youngest stage of C. gigantea R. Br was more effective to be controlled, and had a lower dry weight shoot and root than the oldest one. The paraquat herbicides applied with dosages of 0,3 kg a.i. ha-1 on 30 days after planting increased the percentage of C. gigantea R. Br, and  reduced shoot and root dry weight of C. gigantea R. Br.

Keywords : paraquat, herbicide, milkyweed (Calotropis gigantea R.Br)

 

 

PENDAHULUAN

 

Gulma tidak hanya tumbuh pada tanaman yang dibudidayakan saja, akan tetapi dapat tumbuh pada non areal pertanian[1] (ruderal). Gulma ruderal umumnya dijumpai pada sisa-sisa lahan pertanian, tepi jalan, tepi rel kereta api, tepi kolam, lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan pada tem-pat pembuangan sampah (Sastroutomo, 1990). Salah satu gulma ruderal ialah biduri (Calotropis gigantea R.Br) yang mampu tumbuh dengan sedikit unsur hara dan bersaing dengan gulma yang lainnya (Steenis, 1981).

Menurut Wardiyono (2008), biduri menyebar dari India, Sri Lanka sampai Thailand dan Cina bagian Sela-tan, serta tumbuh tersebar di Indonesia dan kawasan Malaysia lainnya. C. gigantea termasuk golongan gulma berdaun lebar famili Asclepiadaceae. Pada umumnya pengendalian gulma biduri dilakukan dengan cara mekanis dan pembakaran. Namun, pengendalian ini banyak membutuhkan waktu, tenaga kerja, dan kurang efisien sedangkan pembakaran dapat merusak ekosistem yang lain. Salah satu alternatif pengendalian cara lain adalah dengan menggunakan herbisida yaitu herbisida paraquat.

Menurut Anwar (2002), herbisida paraquat merupakan herbi-sida kontak non selektif yang dapat diberikan sebelum tanam dan sesudah tumbuh. Rao (2000), menambahkan bahwa herbisida paraquat dapat mengendalikan gulma berdaun lebar, dengan merusak bagian membran sel serta menghambat fotosintesis. Herbisi-da ini digunakan pada pertanaman kopi, teh, karet, kelapa, kelapa sawit, tebu, gandum, nenas, baby corn, dan jagung. Hasil penelitian Roslina (2008), menunjukkan bahwa herbisida paraquat pada dosis 0,4 kg b.a ha-1 mampu menekan pertumbuhan gulma biduri hingga 100 %.

Penghambatan atau pemacuan pertumbuhan dan perkembangan gul-ma, ditentukan oleh dosis herbisida tersebut. Herbisida pada dosis tertentu dapat bersifat selektif, tetapi bila dosis diturunkan atau dinaikkan berubah menjadi tidak selektif (Tjitrosoedirdjo et al., 1984). Djojosumarto (2008), menambahkan dalam takaran yang sangat rendah dapat berfungsi sebagai hormon untuk merangsang pertumbuh-an tanaman, sedangkan pada takaran yang tinggi dapat bersifat tidak selektif.

Kepekaan tumbuhan terhadap suatu jenis herbisida juga ditentukan oleh umur tumbuhan. Semakin muda umur tumbuhan, maka semakin tinggi persentase pertumbuhan jaringan me-ristematiknya sehingga aktivitas bio-logisnya semakin tinggi pula. Tumbuhan yang masih muda kurang mampu bertahan dibandingkan dengan tumbuhan yang sudah tua. Jadi, umur dari suatu tumbuhan sering menentu-kan tanggapan terhadap herbisida. Stadia pertumbuhan gulma yang sudah hampir menyelesai-kan siklus hidupnya  kurang peka terhadap herbisida, tetapi sebaliknya gulma yang sedang aktif tumbuh lebih peka  dan mudah dikendalikan oleh herbisida. Keadaan inilah yang menentukan kapan aplikasi herbisida yang tepat digunakan (Klingman & Ashton, 1982).

Menurut Anwar (2002), gejala keracunan akibat herbisida paraquat terlihat pada umur satu minggu dan dua minggu, juga dapat menyebabkan kelayuan dan kekeringan daun yang dimulai dari gangguan pada membran sehingga terjadi nekrosis dan kematian daun. Paraquat juga dapat menekan senyawa-senyawa fotosintesis dan hasil respirasi sehingga daun tidak normal.

Pada fase vegetatif ukuran tumbuhan terus meningkat dan membutuhkan air, serta unsur hara, untuk proses photosintesis. Pada fase vegetatif ini laju pertumbuhan semakin cepat, sedangkan pada fase generatif pertambahan ukuran tanaman semakin lambat dengan bertambahnya umur tanaman (Salisbury & Ross, 1995).

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang dosis herbisida paraquat terhadap  pertumbuhan pada berbagai stadia umur C. gigantea.

Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik C. gigantea pada beberapa stadia umur akibat aplikasi herbisida paraquat berbagai dosis.

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!