Archive for the ‘Jurnal vol 6 no 2’ Category

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN JENIS MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill)

Ainun Marliah, Nurhayati, dan Dewi Susilawati

ABSRACT

A study to determine a right concentration of organic fertilizer Super Nasa and type of organic mulches on growth and yield of soybeans has been conducted. The experiment used a factorial randomized complete block design 4 x 3 with 3 replications. Factors studied were concentrations of organic fertilizer Super Nasa, consisting of 4 levels: 0, 5, 10, 15 g/L of water and types of organic mulches, consisting of three levels: printing newspaper, bagasse, and paddy stalk. Results showed that the concentrations of organic fertilizer Super Nasa exerted highly significant effects on dried grain weight per plot netto and dried seed weight per hectare and exerted a significant effect on plant height 45 day after planting, but exerted no significant effect on other variables. The best growth and yield of soybean were found at a concentration of organic fertilizers Super Nasa 10 g/L of water. Types of organic mulches did not affect all variables observed. However, Soybean yield was apparently better at printing newspaper. There was no significant interaction between concentration of organic fertilizer Super Nasa and types of organic mulches on all growth and yield variables observed.

Keywords: organic fertilizer, printing newspaper, bagasse, paddy stalk, soybeans, Super Nasa


PENDAHULUAN

Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu tanaman palawija yang digolongkan ke dalam famili Leguminoceae, sub famili Papilionoideae. Tanaman ini berasal dari kedelai liar China, Manchuria dan Korea. Kedelai merupakan salah satu komoditi pangan yang semakin penting, bukan hanya menghasilkan sumber pangan yang langsung dapat dikonsumsi, juga sebagai pakan ternak dan bahan baku industri (Suprapto, 1997).

Menurut Suprapto (2002), biji kedelai mengandung zat-zat yang berguna dan senyawa-senyawa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh organ tubuh manusia untuk kelangsungan hidupnya, terutama kandungan protein (35%), karbohidrat (35%), dan lemak (15%), air (13%). Bahkan pada varietas-varietas unggul kandungan proteinnya bisa mencapai 41%-50%. Kandungan protein pada kedelai relatif lebih tinggi dibandingkan bahan penghasil protein lainnya.

Hasil kedelai di Indonesia rata-rata masih rendah yaitu antara 0,7 – 1,5 ton/ha dengan budidaya yang intensif hasilnya dapat mencapai 2 – 2,5 ton/ha. Oleh karena itu pengembangan tanaman kedelai pada suatu daerah dengan cara intensif dapat meningkatkan hasil per hektar serta mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan (Sumarno, 1983).

Berbagai cara dapat dilaku-kan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai, di antaranya dengan pemupukan. Dwijoseputro (1988) menyatakan bahwa pemupukan perlu dilakukan untuk menambah unsur hara ke dalam media tanam, karena sesungguhnya tanah mempunyai keterbatasan dalam menyediakan unsur hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman, di antaranya adalah penggunaan pupuk organik.

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan unsur hara yang bervariasi. Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena pupuk organik tersebut dapat meningkatkan air dan hara di dalam tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, mempertinggi kadar humus dan memperbaiki struktur tanah (Musnawar,2005).

Super Nasa merupakan salah satu pupuk organik yang dapat digunakan untuk meningkatkan per-tumbuhan dan hasil kedelai. Pupuk organik Super Nasa mempunyai beberapa fungsi utama yaitu dapat mengurangi penggunaan pupuk N, P dan K. Selain itu dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu memperbaiki tanah yang keras berangsur-angsur menjadi gembur, memperbaiki sifat kimia tanah yaitu memberikan semua jenis unsur makro dan mikro lengkap bagi tanah, dan meningkatkan biologi tanah yaitu membantu perkembangan mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman, dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman, dapat melarutkan sisa-sisa pupuk kimia dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman, memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembungaan dan pembuahan serta mengurangi kerontokan bunga dan buah.

Kandungan unsur hara dari pupuk Super Nasa adalah N 2,67%, P2O5 1,36%, K2O 1,55%, Ca 1,46%, S 1,43%, Mg 0,4%, Cl 1,27%, Mn 0,01%, Fe 0,18%, Cu < 1,19 ppm, Zn 0,002%, Na 0,11%, Si ),3%, Al 0,11%, NaCl 2,09%, SO4 4,31%, Lemak 0,07%, Protein 16,67%, Asam-asam organik (Karbohidrat 1.01%, humat 1,29%, Vulvat dan lain-lain) dengan C/N rasio rendah 5,86% dan pH 8. Konsentrasi yang digunakan untuk tanaman pangan dan sayur-sayuran adalah 250-500 g/25-50 liter air1.

Selain pupuk, pemberian mulsa merupakan salah satu komponen penting dalam usaha meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Mulsa adalah bahan atau material yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau lahan pertanian dengan maksud dan tujuan tertentu yang prinsipnya adalah untuk meningkatkan produksi tanaman. Penggunaan mulsa dapat memberikan keuntungan antara lain menghemat penggunaan air dengan mengurangi laju evaporasi dari permukaan lahan, memperkecil fluktuasi suhu tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan akar dan mikroorganisme tanah, memperkecil laju erosi tanah baik akibat tumbukan butir-butir hujan maupun aliran permukaan dan menghambat laju pertumbuhan gulma (Lakitan, 1995).

Mulsa yang telah umum digunakan dalam budidaya pertanian, dapat berupa mulsa organik maupun mulsa sintetik. Mulsa organik berupa jerami, sekam, alang-alang dan sebagainya, sedangkan mulsa sintetik berupa mulsa plastik. Ketebalan lapisan mulsa organik yang dianjurkan adalah antara 5-10 cm. Mulsa yang terlalu tipis akan kurang efektif dalam mengendalikan gulma. Sedangkan, menurut Tamaluddin (1993), ketebalan mulsa yang diberikan pada permukaan tanah berkisar antara 2-7 cm.

Mulsa organik lebih disukai terutama pada sistem pertanian organik. Pemberian mulsa organik seperti jerami akan memberikan suatu lingkungan pertumbuhan yang baik bagi tanaman karena dapat mengurangi evaporasi, mencegah penyinaran langsung sinar matahari yang berlebihan terhadap tanah serta kelembaban tanah dapat terjaga, sehingga tanaman dapat menyerap air dan unsur hara dengan baik (Subhan dan Sumanna, 1994). Perbedaan penggunaan bahan mulsa akan memberikan pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan hasil kedelai. Jenis mulsa organik lain seperti kertas koran, ampas tebu dan jerami sangat mudah didapat dan mudah dalam hal pemasangannya.

Dari uraian di atas belum diketahui dengan pasti berapa konsentrasi pupuk organik Super Nasa dan jenis mulsa organik yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil kedelai serta interaksi antara konsentrasi pupuk organik Super Nasa dan jenis mulsa organik yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil kedelai, untuk itu perlu dilakukan serangkaian penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik Super Nasa dan jenis mulsa organik yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Selain itu untuk mengetahui nyata tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.

Advertisements

REPONS PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) TERHADAP DOSIS DAN WAKTU APLIKASI PUPUK PHOSKA

Efendi

Abstract

A field experiment was conducted to determine the growth responses of teak stump to NPK fertilizer that contains S nutrient. The stumps of teak were treated with Phoska fertilizer: 0, 5, 10, 15 g/plant and the fertilizer dosages were applied at 0, 5, 10, and 15 days after planting. The results of the study showed that stem diameter, stem height, and seedling height of the teak were significantly affected by the dosages and application times of Phoska fertilizer at 1, 2, 3, and 4 months after planting. The leaf numbers, leaf length, and leaf width responded significantly to Phoska fertilizer. This study found a significant interaction between the dosages and application times of Phoska fertilizer on seedling height and leaf length at one month old after planting; on stem height, seedling height, and leaf numbers at three month old; on stem diameter, stem height, seedling height, and leaf numbers at four month old after planting. The study revealed that the application of 10 g/plant Phoska applied at a planting day was the best treatment to enhance the growth of teak stump.

Keywords: teak, Phoska, NPK, growth, stump


PENDAHULUAN

Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Verbenaceae dan dikenal sebagai penghasil kayu komersial dengan kualitas terbaik di dunia. Menurut Na’iem (2002), jati menyebar secara alami di negara-negara India, Birma, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia jati terutama dijumpai di beberapa daerah seperti Jawa, Muna, Buton, Maluku, dan Nusa Tenggara dalam bentuk hutan rakyat maupun hutan tanaman skala besar. Jati kemudian  dikembangkan di Amerika Latin seperti Kostarika, Argentina, Brazil, dan beberapa negara Afrika.

Tanaman jati memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Menurut Wikipedia (2011), kayu jati terutama dipakai untuk furnitur dan bahan bangunan. Dalam industri kayu, jati diolah menjadi venir untuk melapisi permukaan kayu lapis mahal serta dijadikan keping-keping parket penutup lantai. Kayu jati juga digunakan sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Akar jati sering dipakai sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami atau merah alami. Daun jati dapat juga digunakan untuk pengobatan penyakit kolera. Di samping itu, daun jati dimanfaatkan pula secara tradisional sebagai pembungkus makanan, seperti nasi dan tempe.

Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar (Wikipedia, 2011). Oleh karena itu, pengembangan jati dinilai sangat prospek di masa yang akan datang. Namun, salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini adalah terbatasnya lahan pada daerah-daerah sentra produksi seperti di Jawa. Pengembangan tanaman jati akhir-akhir ini mulai dilaksanakan di luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Program pengembangan jati di seluruh Indonesia akan membutuhkan bibit yang berkualitas tinggi dalam jumlah yang besar. Penyediaan bibit tersebut sampai saat ini masih mengalami permasalahan yang serius akibat terbatasnya kebun-kebun pembibitan di luar Jawa, sehingga bibit harus didatangkan dari Jawa. Transportasi bibit jati selain memerlukan biaya tinggi, juga dapat menimbulkan kerusakan atau stres, sehingga bibit memerlukan waktu beberapa hari/minggu untuk penyembuhannya. Oleh karena itu, usaha-usaha untuk mengurangi biaya transportasi bibit serta cara penyembuhan bibit yang baik sangat penting dilakukan.

Bibit jati dapat diangkut dengan menggunakan organ stump secara lebih efisien. Stump merupakan bibit yang telah dibongkar dari polibag kemudian dipotong batang, ujung akar, cabang akar, sehingga tersisa akar utama dengan beberapa sentimeter pangkal batang dengan ukuran sebesar pensil. Stump inilah yang dikirim ke berbagai daerah pengembangan jati. Namun demikian, masih ada permasalahan lain yaitu diperlukan waktu untuk menumbuhkan kembali stump tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemupukan stump dengan dosis, waktu, serta jenis pupuk yang tepat.

Menurut Wiedenhoeft (2006), dengan pemupukan yang teratur dan dengan dosis yang sesuai maka tanaman akan tumbuh seperti yang diharapkan. Pemupukan jati dengan dosis yang tepat serta unsur hara yang seimbang dapat meningkatkan pertumbuhan bibit jati. Salah satu pupuk majemuk dengan unsur hara NPK yang banyak beredar di pasar dan dengan harga yang murah adalah Phoska. Namun demikian, apakah Phoska dapat mempercepat pertumbuhan bibit jati, khususnya stump belum diketahui dengan baik. Sehingga perlu dilakukan penelitian, berapa dosis yang paling baik untuk mempercepat pertumbuhan stump jati. Walaupun pengaruh NPK terhadap bibit jati telah diteliti sebelumnya (Abod dan Siddiqui, 2002; dan Sumantri, 2005), tetapi penggunaan pupuk NPK dengan tambahan unsur Sulfur (S) merupakan faktor yang khusus dalam penelitian ini.

Di samping permasalahan dosis, stump yang akan ditumbuhkan belum memiliki sistem perakaran yang sempurna, sehingga pemberian pupuk yang terlalu cepat membuat bibit tidak respons terhadap pemupukan. Sementara, kalau pemupukan terlambat dilakukan, maka pertumbuhan bibit menjadi terhambat pula. Oleh karena itu, perlu diteliti pula kapan sebaik waktu pemupukan NPK Phoska yang paling tepat dilakukan. Pemupukan Phoska dengan dosis dan waktu yang tepat diharapkan akan menghasilkan pertumbuhan bibit jati secara cepat serta berkualitas. Schroth dan Sinclair (2003) mengemukakan bahwa tanaman yang memperoleh unsur hara dalam jumlah yang optimum beserta waktu yang tepat, maka akan tumbuh dan berkembang secara maksimal pula.

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR MERANG (Volvariella volvacea L.) PADA MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI PUPUK BIOGREEN YANG BERBEDA

Cut Nur Ichsan, Fuadi Harun, dan Nana Ariska

 

ABSTRACT

The objectives of this study were to evaluate characteristics of growth and yield of Volvariella volvacea L in different growing media and concentration of Biogreen fertilizer. Growing media consisted of rice straw and oil palm waste. Concentration of Biogreen fertilizer consisted of 0.5%, 1.0% and 1.5%. The result showed that rice straw gave better growth and yield of the mushroom but the highest production of the mushroom was at oil palm media. Concentration of Biogreen at level 1.5% gave better growth and yield of the mushroom. The best combination for fresh mushroom numbers was rice straw and concentration 5% Biogreen fertilizer but the best combination for mushroom yield was oil palm waste and concentration 5% Biogreen.

Keywords: Volvariella volvacea L., rice straw, oil palm waste, Biogreen fertilizer


PENDAHULUAN

Jamur merang (Volvariella volvacea L.) merupakan jamur yang paling banyak digunakan untuk aneka bahan pangan seperti campuran sup, pizza, pasta dan lain-lain. Rasa, tekstur, dan kandungan gizi yang tinggi menyebabkan jamur semakin banyak digunakan dan nilai ekonomi yang semakin meningkat.

Jamur merang memerlukan persyaratan lingkungan yang khusus serta media tanam dan pemupukan (Sinaga, 2007). Media tanam yang biasa digunakan adalah ampas kelapa sawit, ampas tebu, limbah kardus, limbah kapas dan sebagainya (Indra, 2008). Limbah yang digunakan harus terbebas dari kontaminasi, agar yang tumbuh hanya jamur yang ditanam (Gunawan, 2000).

Penggunaan ampas kelapa sawit sangat potensial karena produksinya dalam skala besar tersedia di daerah-daerah produksi kelapa sawit. Penggunaan limbah tersebut akan meningkatkan nilai ekonomi dari ampas sawit. Penggunaan jerami padi akan mengatasi masalah limbah hasil pertanian setelah panen padi di daerah-daerah produksi padi, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari limbah padi.

Secara kimiawi penggunaan limbah jerami padi dan sawit dimungkinkan untuk budidaya jamur merang karena limbah-limbah tersebut masih mengandung bahan organik dan hara mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur. Secara alami jamur dapat tumbuh pada limbah jerami maupun ampas sawit, hanya saja waktu yang dibutuhkan lebih lama dan karakteristik jamur yang tumbuh juga lebih kecil. Karenanya dalam budidaya jamur merang diperlukan tambahan pupuk maupun hormon (Sediaoetomo, 2004).

Penggunaan pupuk Biogreen yang merupakan pupuk alami yang mengandung unsur makro dan mikro serta hormon perangsang tumbuh diharapkan dapat meningkatkan penampilan jamur yang ditanam (Biogreen, 2011). Penggunaan pupuk cair perlu memperhatikan konsentrasi. Konsentrasi yang tinggi dapat mengganggu keseimbangan hara dan metabolisme tanaman. Konsentrasi pupuk cair yang rendah tidak optimal untuk pertumbuhan dan hasil jamur (Indra, 2008).

Penggunaan media tanam dan konsentrasi pupuk cair yang tepat diperlukan untuk mendapatkan produksi jamur yang maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pertumbuh-an dan hasil jamur merang yang tumbuh pada media tanam ampas kelapa sawit dan jerami padi serta konsentrasi pupuk Biogreen yang berbeda.

EFEK KOMBINASI DOSIS PUPUK N P K DAN CARA PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS

Jumini, Nurhayati, dan Murzani

ABSTRACT

This study was aimed at determining effects of combinations of doses N, P and K and fertilizer placement on growth and yield of sweet corn and also finding out interactions between the two treatments. The research was conducted at the Seed Garden of Agriculture Faculty, Unsyiah, using a factorial randomized complete block design. Factor studied were combinations of fertilizer doses of N, P and K (Urea, TSP and KCl), consisting of three levels: P1 = 400 + 250 + 200 kg/ha, P2 = 450 + 300 + 250 kg/ha, and P3 = 500 + 350 + 300 kg/ha, and fertilization manners, consisting of two levels: circle and sideband. The results showed that the combination of doses of fertilizer N, P and K exerted a highly significant effect on ear weight, cob weight and cob weight/ha and exerted a significant effect on plant height of 30 and 45 days after planting and cob length, but did not affect cob diameter. The best growth and yield was obtained in a combination of N, P and K 500 + 350 + 300 kg/ha. Fertilizer placement did not significantly affect plant growth and yield of sweet corn. There was no significant interaction between fertilizer dose combinations of N, P and K and fertilizer placement on growth and yield of sweet corn.

Keywords: sweet corn, fertilizer, doses of N, P and K, sideband, circle


PENDAHULUAN

Jagung manis (Zea mays saccharata) semakin populer dan banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis dari jagung biasa, di samping itu umur produksi lebih singkat (genjah) sehingga sangat menguntungkan jika dibudidayakan.

Selama pertumbuhannya jagung manis memerlukan unsur hara yang diserap dari dalam tanah, jika tanah tidak menyediakan unsur hara yang cukup mendukung pertumbuhan optimal, maka harus dilakukan pemupukan. Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi. Suatu tanaman dapat tumbuh dengan optimal bila dosis pupuk yang diberikan tepat (Sarief, 1986). Melalui pemupukan diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah antara lain mengganti unsur hara yang hilang karena pencucian dan yang terangkut saat panen. Pemberian pupuk urea, TSP dan KCl sebagai sumber N, P dan K merupakan usaha untuk meningkatkan produksi tanaman (Rukmana, 1997).

Nitrogen (N) merupakan salah satu unsur hara makro bagi pertumbuhan tanaman, yang pada umumnya sangat diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun (Sutejo, 1992).

Fosfor merupakan salah satu unsur hara makro yang esensial bagi pertumbuhan dan hasil tanaman, yang berperan penting dalam memacu terbentuknya bunga, bulir pada malai, memperkuat jerami sehingga tidak rebah dan memperbaiki kualitas gabah. Peranan utama Kalium bagi tanaman adalah sebagai aktivator berbagai enzim yang berperan dalam proses metabolisme (Rinsema, 1986).

Menurut Achmad (1993) dalam melakukan pemupukan, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah tanaman yang dipupuk, jenis tanah, jenis pupuk yang digunakan, dosis yang diberikan, waktu pemupukan dan cara pemupukan.

Kombinasi dosis pupuk yang biasa digunakan untuk tanaman jagung manis adalah 200 kg N/ha (435 kg Urea), 150 kg P2O5/ha (335 kg TSP) dan 150 kg K2O/ha (250 kg KCl) (Anonymous, 2002).

Di samping dosis pupuk N, P dan K yang digunakan, perlu juga diperhatikan cara pemupukan, agar pemupukan lebih efisien. Menurut Setyamidjaya (1986) pemupukan dapat dilakukan dengan beberapa cara; 1. Disebar yaitu pupuk disebar di permukaan tanah pada saat pengolahan tanah terakhir atau sehari sebelum tanam, 2. Ditempatkan dalam larikan yang dibuat di antara barisan tanaman, 3. Ditempatkan dalam lubang yang dibuat di samping tanaman, 4. Disemprot melalui daun. Cara pemupukan harus disesuaikan dengan jenis pupuk, sebab pupuk anorganik banyak mengandung bahan kimia, kesalahan cara pemupukan akan berakibat kurang baik bagi tanah dan tanaman.

Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang kombinasi dosis pupuk N, P dan K serta cara pemupukan sehingga diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi dosis pupuk N, P dan K dan cara pemupukan yang sesuai sehingga diperoleh pertumbuhan dan hasil jagung manis yang maksimal serta interaksi antara kedua faktor tersebut.

EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH

Erida Nurahmi, T. Mahmud, dan Sylvia Rossiana S

ABSTRACT

The objectives of this experiment were to study effectiveness of organic fertilizer on growth and yield of some varieties of red chili The experiment used a Randomized Complete Block Design with factorial pattern 3 x 3 and 3 replicates. There were 2 factors studied, i.e. organic fertilizer (P1= compost fertilizer, P2= liquid fertilizer, P3= guano fertilizer) and varieties (V1= TM-999, V2= ST-168, V3= local). The result showed that the best fertilizer for red chili growth and yield was guano fertilizer and the best variety was local variety. There was not significant interaction between organic fertilizers and varieties on all growth and yield variables studied.

Keywords: red chili, guano, compost, variety, TM 999, ST 168


PENDAHULUAN

Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting. Hal ini disebabkan banyaknya manfaat yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, baik yang berhubungan dengan kegiatan rumah tangga maupun untuk keperluan lain seperti untuk bahan ramuan obat tradisional, bahan makanan dan minuman serta industri. Tidak hanya itu, secara umum tanaman cabai memiliki kandungan gizi dan vitamin di antaranya, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C.

Produksi cabai di Indonesia masih rendah dengan rata-rata nasional hanya mencapai 5,5 ton/ha, sedangkan potensi produksinya dapat mencapai 20 ton/ha. Berdasarkan hal itu, maka usaha peningkatan produksi cabai dapat dilakukan dengan cara perbaikan teknik budidaya yang meliputi pemupukan dengan pupuk organik dan penggunaan varietas cabai yang digunakan.

Dewasa ini banyak pupuk yang beredar di pasaran dan memberikan hasil yang cukup baik. Akan tetapi, pupuk yang beredar adalah pupuk anorganik yang biasa kita kenal sebagai pupuk kimia. Pemakaian pupuk seperti ini dalam jangka waktu yang lama bukan memberikan hasil yang positif, melainkan hasil yang negatif karena pupuk kimia dapat merusak ekosistem. Untuk itu diperlukan sesuatu zat yang bukan hanya menyehatkan, tetapi juga ramah terhadap lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal itu adalah pemberian pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang beredar di pasaran, di antaranya pupuk kompos, pupuk cair organik dan guano. Ketiga pupuk ini mengandung unsur hara baik makro dan mikro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Pupuk organik maupun anorganik mempunyai perbedaan masing-masing, di antaranya dalam hal kecepatan penyerapan unsur hara dari pupuk organik yang tergolong lambat dibandingkan pupuk anorganik sehingga pengaruh yang ditimbulkan oleh pupuk organik terhadap pertumbuhan yang terjadi pada tanaman berlangsung dengan lambat dibandingkan pupuk anorganik yang berlangsung cepat. Sebaliknya, susunan unsur hara yang dikandung dalam pupuk organik lebih lengkap dibandingkan pupuk anorganik.

Selain pemupukan, penggunaan varietas juga merupakan faktor dalam meningkatkan produksi cabai. Varietas sangat menentukan produktivitas. Varietas yang sesuai dengan keadaan lingkungan diharapkan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang tinggi. Dalam penelitian ini digunakan tiga varietas cabai merah yaitu varietas TM-999, ST-168 dan varietas lokal.

Berdasarkan penjelasan di atas, penggunaan pupuk organik merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produksi cabai. Namun seberapa besar efektivitas penggunaan ketiga pupuk yang dicobakan tersebut bagi pertumbuhan dan hasil beberapa varietas cabai merah belum begitu jelas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan dan hasil yang diperoleh dari penggunaan pupuk organik pada beberapa varietas cabai merah serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut.

SIFAT-SIFAT TANAH DAN AIR YANG TERPENGARUH TSUNAMI DI KECAMATAN LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR

Hairul Basri, Syakur, dan Alfian Rusdi

ABSTRACT

The aims of the research were to evaluate soil characteristics, to study land suitability and to propose recommendation of land use and rehabilitation of the tsunami affected agricultural area in Lhoong Sub-District. The result showed that soil textures were varied from very coarse at the area near the coastline to rather fine at the area far from the coast. The soil structures of topsoil were generally plate and blocky, and at subsoil generally massive. The quality of irrigation water in Sub District of Lhoong was still suitable for crops. The pH of water was neutral and low in salinity (0, 4 mS cm-1). The recommendations for land of class A were (1) cleaning and repairing of irrigation and drainage channel, (2) leaching of salinity in topsoil from soil profile by flooding method (irrigation basin) or furrow irrigation, (3) making the ditches for cultivation in managing the excess of salinity, (4) establishing ditches for paddy, and (5) requiring a specified amount of water for the leaching processes and the amount of water required for crops. The recommendation for land class B were (1) cleaning and repairing of irrigation and drainage channel, (2) removing the sediment above the topsoil, (3) leaching the salt from topsoil passing soil profile by irrigation water, (4) constructing ditches for cultivation in managing the excess of salinity.

Keywords: soil, water, tsunami, Lhoong


PENDAHULUAN

Kecamatan Lhoong meru-pakan salah satu wilayah kabupaten yang mengalami bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan termasuk kategori wilayah kerusakan yang paling parah dengan intensitas kerusakan antara 61-85%. Sebagian besar areal pertanian terutama lahan persawahan, pekarangan, dan tegalan, tidak dapat difungsikan lagi karena telah tertimbun oleh sampah dan sedimen serta bahan-bahan reruntuhan gedung atau perumahan.

Infrastruktur yang ada seperti jalan, jembatan, perkantoran, pasar, dan sarana yang mendukung usaha rakyat baik yang berhubungan dengan tempat kegiatan ekonomi maupun pelayanan jasa juga telah sirna. Demikian juga dengan prasarana irigasi yang selama ini telah beroperasi dengan baik, ternyata juga telah mengalami kerusakan dan tidak berfungsi.

Satu di antara kecamatan yang mengalami kerusakan paling parah adalah Kecamatan Lhoong. Luas areal yang terkena dampak tsunami kecamatan tersebut diperkirakan lebih 3.000 hektar dan 60% dari wilayah tersebut merupakan lahan pertanian yang produktif.

Masalah utama yang berhubungan dengan kualitas lahan yang terkena dampak tsunami adalah meningkatnya salinitas tanah, ketebalan sedimen, menurunnya kualitas air, dan buruknya sistem sanitasi lingkungan. Akibat gelombang tsunami yang menimpa Provinsi Aceh, banyak lahan pertanian di wilayah pesisir pantai mengalami kerusakan akibat terjadinya akumulasi sampah dan sedimen serta bahan-bahan pencemar lainnya seperti sampah-sampah rumah tangga, logam berat, dan senyawa beracun lainnya yang terbawa lewat lumpur tsunami. Sebaran sedimen bervariasi antara satu tempat dengan tempat yang lain. Ketebalan sedimen dan masalah salinitas tanah dan air dapat mempengaruhi upaya remediasi lahan untuk pertanian.

Penelitian difokuskan pada pengkajian sifat-sifat tanah dan air yang terpengaruh tsunami pada beberapa lahan pertanian di Kabupaten Aceh Besar khususnya di Kecamatan Lhoong.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi sifat-sifat tanah dan air pada lahan yang terkena Tsunami serta arahan reklamasi dan rehabilitasi tanah di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.

PEGARUH METODE DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP MUTU MOL (MIKROORGANISME LOKAL)

Juanda, Irfan, dan Nurdiana

ABSTRACT

MOL (Local Microorganism) is one of the key factors to determine the success in manufacturing of organic fertilizer. MOL can fully substitute EM4 (Effective Microorganism) widely being sold in market, as starter to accelerate composting process. The MOL in the experiment was produced from agricultural waste likes in consumable fruits. The experiment was aimed to investigate a better fermentation method in the production of MOL. A Split Plot Design with fermentation methods (with and without applying of air channel) as main plot and length of fermentation (0, 1, 2, 3, 4 and 5 weeks) as sub-plot were applied to produce MOL, with 2 replications. With air channel, the gas produced from the fermentation process could be channeled out of the fermentation container. Analysis of MOL quality included total microorganisms (TCC), temperature, pH, and color. In general, result showed that the MOLs produced from fermentations without air channel were better than the ones produced from with air channel. The highest amount of TCC in MOL was produced from 3 weeks fermentation without air channel.

Keywords: Mol, fermentation, air channel

PENDAHULUAN

MOL ( mikroorganisme lokal) merupakan kumpulan mikroorganisme yang bisa diternakkan, yang berfungsi sebagai starter dalam pembuatan bokasi atau kompos. Pemanfaatan limbah pertanian seperti buah-buahan tidak layak konsumsi untuk diolah menjadi MOL dapat meningkatkan nilai tambah limbah, serta mengurangi pencemaran lingkungan.

Farida (2009) mengamati bahwa pada pembuatan MOL dengan lama fermentasi lebih dari 3 minggu, tutup wadah fermentasi ada yang terlepas. Lepasnya tutup wadah diduga akibat tekanan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi. Karena itu, dalam penelitian ini akan dibandingkan metode fermentasi MOL dengan dan tanpa penggunaan selang atau saluran udara, sehingga gas yang dihasilkan dari proses fermentasi dapat disalurkan keluar wadah fermentasi. Selain itu, wadah fermentasi akan ditutup lebih kuat sehingga tidak mudah terlepas.