Archive for the ‘jurnal vol 5 no 1’ Category

KANDUNGAN UNSUR HARA TANAH DAN TANAMAN SELADA PADA TANAH BEKAS TSUNAMI AKIBAT PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK

Erida  Nurahmi

ABSTRACT

            Various forms of soil damage can be seen from the changes in physical properties, chemical and biological soil which happens in almost all coastal areas affected by the tsunami. The objectives of the study were to investigate the influence of organic and inorganic fertilizers in tsunami-affected lands on the growth of lettuce, and elemental content of N, P, and K in soil and plants. Experiment was carried out in polybags. Result showed that organic and inorganic fertilizer increased nutrient status of N and P soil, increased growth and nutrient content of N and P in lettuce plants. While for nutrient content of K, organic and inorganic fertilizer only affected soil and roots of lettuce. Growth and nutrient content of N, P and K in soil and plants due to organic and inorganic fertilizer application was highly dependent on the dosage given. The best growth of lettuce was obtained at combination of organic fertilizer 30 tons/ha with inorganic NPK fertilizer 1000 kg/ha
Key words: tsunami-affected land, fertilizers, organic and inorganic, lettuce


PENDAHULUAN

Pasca bencana gempa bumi dan tsunami akhir tahun 2004 di Provinsi NAD, menyisakan kerusakan fisik dan nonfisik yang masih belum dapat diperbaiki secara sempurna.  Hal yang sama juga terlihat pada  kondisi lahan pertanian masyarakat yang sempat terendam air laut ketika bencana terjadi. Menurut Tim Penanggulangan Bencana Nasional Departemen Pertanian Republik Indonesia (2005) lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat seluas 20.101 ha, sedangkan kerusakan ladang mencapai 31.345 ha.  Kerusakan ini disebabkan terjadinya kontaminasi garam dan lumpur laut.

Keberadaan senyawa garam dalam jumlah yang berlebih pada lahan pertanian  menimbulkan masalah bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Sebagian besar tanaman darat sangat sensitif terhadap senyawa garam yang berlebihan, karena dapat meracuni organel sel dalam jaringan akarnya, sehingga tanaman mati.  Akan tetapi, beberapa jenis tanaman tertentu memiliki sistem khusus untuk mengatasi kondisi ekstrim tersebut, misalnya tanaman mangrove.  Menurut Poljakoff-Mayber dan Gale (1975) ada tiga cara yang umumnya terjadi dalam tanaman untuk mengurangi kandungan garam dalam jaringannya. Pertama, mengeluarkan langsung garam-garam dari akarnya seperti yang terjadi pada tanaman jenis mangrove.  Kedua, dengan mengembangkan jaringan penyimpan air untuk mengurangi tekanan osmotik yang tinggi.  Ketiga, dengan cara menggugurkan organ-organ tanaman yang banyak mengandung garam.

Menurut Doorenbos dan Kassam (1979), kemampuan tanaman menyerap air pada lingkungan bergaram akan berkurang sehingga gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala kekeringan.  Gejala-gejala yang tampak seperti daun cepat menjadi layu, terbakar, berwarna biru kehijau-hijauan, pertumbuhan daun yang kecil, dan pada akhirnya tanaman akan mati kekeringan.  Selain itu terjadi pula penurunan jumlah daun dan stomata per satuan luas daun, meningkatnya daun sekulen serta terjadinya penebalan lapisan kutikula dan lilin di permukaan daun (Levitt, 1980).  Perubahan struktur ini disebabkan karena berkurangnya jumlah air yang dapat diserap oleh tanaman.  Di samping itu, transpirasi per unit luas daun pada kebanyakan tanaman menurun dengan meningkatnya salinitas tanah.

Degradasi kesuburan tanah dapat juga diartikan sebagai hasil dari satu atau lebih kejadian yang mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan tanah secara aktual maupun potensial untuk memproduksi barang dan jasa (FAO, 2005).  Tanah terdegradasi yang dicirikan dengan penurunan sifat kimia dan biologi tanah umumnya tidak terlepas dari penurunan kandungan bahan organik tanah, sehingga pemberian bahan organik sebagai agen resiliensi merupakan salah satu upaya mempercepat rehabilitasi lahan secara alami.

Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk hijau) dan kapur dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena kedua bahan tersebut dapat meningkatkan daya pegang air dan hara di tanah. Sementara itu, adanya residu pupuk diharapkan dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk anorganik pada musim tanam berikutnya.  Beberapa hasil penelitian  juga menunjukkan bahwa pemberian bahan kapur, pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kieserit mampu meningkatkan hasil padi gogo dan kedelai tanah podzolik merah kuning (Arief dan Irman, 1993).

Beberapa keunggulan dari pupuk organik yaitu memperbaiki struktur tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air, menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah karena jasad renik dalam tanah amat berperan dalam perubahan bahan organik, sebagai sumber unsur hara N, P, K dan S, dan  unsur mikro dan lain-lain  (Prihmantoro, 2005 ; Sutedjo dan Kartasepoetra (1988.  Bahan organik yang telah dikomposkan selain bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman juga berperan besar terhadap perbaikan sifat-sifat tanah (Mushawar, 2005). Bahan organik dapat meningkatkan pengaruh permukaan dari pupuk buatan, memperbesar daya ikat tekstur tanah berpasir, sehingga struktur tanah menjadi lebih kompak, memperbaiki sistem drainase dan aerasi, terutama pada tanah berat.  Dengan aerasi tanah yang baik dan kandungan air yang cukup, maka suhu tanah menjadi lebih stabil dan bahan organik mempertinggi daya ikat tanah. 

Advertisements

PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI KOMBINASI PUPUK ORGANIK LAMTOROGUNG DENGAN PUPUK KANDANG

Efendi

ABSTRACT

 

            Response of plant on agroinputs such as organic fertilizer is different, depending on cultivar. Nutrient composition of organic fertilizer is also varied from one to another. The cultivar of Kipas Putih and Anjasmara were studied. The growth and yield of soybean were significantly affected by cultivar and organic fertilizer,  composted from manure and green manure using EM-4.  The growth and yield of Kipas Putih were significantly better than those of Anjasmara.  Fertilization with 12.5 ton/ha of organic matter also increased growth and yield of soybean.

Keywords: green organic matter, manure, soybean


PENDAHULUAN

            Produktivitas kedelai nasional saat ini masih sangat rendah, yaitu 1,3 ton/ha (Atman, 2009). Padahal potensinya masih dapat ditingkatkan sampai 2,5 ton/ha melalui pemanfaatan teknologi maju dan pemeliharaan yang intensif. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kedelai, misalnya penggunaan pupuk secara efisien, waktu tanam yang tepat, daya dukung lahan yang sesuai, serta penggunaan varietas unggul yang memiliki daya adaptasi yang tinggi/luas pada berbagai agroekosistem (Martodireso dan Suryanto, 2001).

Varietas merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha pengelolaan teknik budidaya tanaman. Pemilihan varietas memegang peranan penting dalam budidaya kedelai, karena untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi sangat ditentukan oleh potensi genetiknya. Bila pengelolaan lingkungan tumbuh tidak dilakukan dengan baik, maka potensi daya hasil biji yang tinggi dari varietas unggul tersebut tidak dapat tercapai (Adisarwanto, 2006). Sumarno dan Harnoto (1983) menjelaskan bahwa secara umum varietas unggul memiliki kelebihan dibandingkan dengan varietas lokal, baik terhadap sifat-sifat pertumbuhan maupun terhadap sifat produksinya. Oleh karena itu, penggunaan varietas yang bermutu tinggi merupakan cara yang paling mendasar dan termurah di antara cara-­cara lain untuk meningkatkan produksi tanaman.

Gardner, et al (1991) menyatakan bahwa faktor internal yang ada dalam kendali genetik bervariasi antara satu varietas dengan varietas lainnya. Sehingga suatu varietas yang cocok pada suatu kondisi tertentu belum tentu cocok pada kondisi agroklimat lainnya. Di samping itu, setiap varietas juga mempunyai respons yang berbeda-beda terhadap faktor-faktor eksternal, seperti agroinput yang diberikan kepada tanaman.

Masalah lainnya yang dihadapi dalam meningkatkan produktivitas kedelai saat ini adalah kurangnya daya dukung lahan yang produktif. Hal ini disebabkan terjadinya degradasi serta kerusakan lahan akibat pola pertanian konvensional saat ini yang lebih mengutamakan penggunaan input tinggi seperti pupuk  anorganik dan pestisida. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas kedelai harus diupayakan dengan cara-cara yang lebih baik, seperti menggunakan pupuk organik.

Sumber pupuk organik dapat berasal dari berbagai biomas atau bahan organik, seperti sisa tanaman atau hewan. Setiap bahan organik memiliki kandungan atau komposisi unsur hara yang berbeda-beda. Jenis apa dan dosis berapa yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai belumlah diketahui dengan pasti. Umumnya, sumber bahan organik yang baik adalah pupuk kandang serta kompos yang diolah dari tanaman leguminosa, seperti lamtorogung. Dosis pupuk organik direkomendasikan untuk kedelai adalah 20-30 ton/ha (Abdurahman, 2005).

Menurut Sarief (1986) pemberian pupuk organik yang tepat dapat memperbaiki kualitas tanah, tersedianya air yang optimal sehingga memperlancar serapan hara tanaman serta merangsang pertumbuhan akar. Pemberian pupuk organik yang berlebihan menyebabkan tanah menjadi asam, sebaliknya bila diberikan terlalu sedikit pengaruhnya pada tanaman tidak akan nyata. Oleh karena itu, diperlukan pemberian pupuk organik dalam jumlah yang tepat agar diperoleh hasil yang optimum. Namun, berapa dosis yang sesuai untuk pupuk organik yang dibuat dari kombinasi daun lamtorogung dan pupuk kandang belum diketahui secara tepat khususnya bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh varietas dan dosis bahan organik  yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Diduga varietas dan dosis bahan organik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai.


RESPONS BIBIT JARAK PAGAR PADA BERBAGAI KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI PUPUK DAUN NOVELGRO

Ainun Marliah dan Jumini

ABSTRACT

The ojectives of this research were to study effect of media composition and  foliar fertilizer of NOVELGRO concentration on growth Jatropha curcas.  Experimental design used was a factorial 3×4 with three replications. Factors investigated were growth media composition with a ratio of 1:1:1 (soil, compost, sand), (soil, compost, and rice husk), (soil, compost, saw dust), and Novelgro concentration of 0, 1, 2 and 3 cc/L of water.  Results showed that there was a significant effect of growth media composition on plant growth and leaf number  at  35, 45 and 55 day after planting (DAP), stem diameter at 45 and 55 DAP, fresh weight, dry weight and dry weight of root, but the media composition did not show significant  effect on plant growth and leaf number at 25 DAP and stem diameter at 25, 35 DAP. The best growth was found at media composition of soil, compost and sand with a ratio of 1:1:1.  Fertilizer concentration significantly affected stem diameter at 25 DAP but did not show a significant affect on plant growth and leaf number at 25, 35, 45, and 55 DAP, stem diameter at 35, 45, and 55 DAP, fresh weight, dry weight and dry weight of root. Plant growth was best at a fertilizer concentration of 2cc/L of water. There was no significant interaction between growth media composition and fertilizer concentration on all variables observed.

                                                                                                                     

Keywords: Jatropha curcas, media composition, foliar fertilizer

 

PENDAHULUAN

 

Prospek pengembangan tanaman jarak pagar (Jatropa curcas Linn.) cukup potensial, yaitu bijinya dapat diolah menjadi bahan bakar pengganti minyak bumi. Menurut Prihandana dan Hendroko (2006) biji jarak pagar dapat menjadi sumber energi (BBM) alternatif dan menjadi bahan bakar hayati.  Untuk itu perlu  upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman jarak pagar. Berbagai usaha dapat dilakukan diantarainya dengan penyiapan bibit yang baik.

Pertumbuhan bibit yang baik dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah media tanam. Tanah yang baik untuk pertumbuhan bibit harus memiliki sifat fisik, kimia serta biologi yang sesuai. Salah satu cara untuk memperbaiki sifat fisik , kimia dan biologi tanah adalah dengan pemberian bahan organik (Sutedjo dan Kartasapoetra, 1988)

Media tanam yang baik bagi pertumbuhan bibit jarak pagar adalah campuran tanah, kompos dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Media tanam pasir dapat juga digantikan dengan sekam padi atau serbuk gergaji (Prihandana dan Hendroko, 2006).

Tanah merupakan media utama sebagai tempat tumbuh tanaman jarak pagar.  Menurut Rao (1994) tanah menyediakan dukungan fisik yang diperlukan untuk perkembangan  sistem perakaran dan  berfungsi sebagai penyuplai udara, air dan nutrisi yang  penting bagi pertumbuhan tanaman. Sutarminingsih (2003) menambahkan agar tanaman berproduksi dengan baik, diperlukan adanya sumber daya tanah yang baik pula, dalam arti mampu mendukung pertumbuhan tanaman melalui ketersediaan unsur hara, air dan udara yang terkandung di dalamnya.

Kompos merupakan pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan makhluk hidup (tanaman maupun hewan). Menurut Lingga dan Marsono (2008) kandungan utama dengan kadar tertinggi dari kompos adalah bahan organik yang sangat baik untuk memperbaiki kondisi tanah. Unsur lain dalam kompos yang variasinya cukup banyak walaupun kadarnya rendah adalah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium.

Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah.  Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Menurut Merina (2006) pasir  merupakan media tanam yang sering digunakan dengan cara mengombinasikan dengan tanah atau pupuk kandang, sehingga mempunyai daya pegang air dan aerasi yang baik.

Menurut Rahardi (1991) sekam padi merupakan limbah yang mempunyai sifat-sifat antara lain: ringan, tidak mempengaruhi pH, mudah didapatkan, harganya murah namun kandungan haranya rendah dan memiliki kapasitas memegang air rendah. Sekam padi mengandung unsur Nitrogen sebanyak 1 % dan Kalium 2 %.

Wuryaningsih, Marwoto dan Mintursih (2001) menyatakan bahwa, serbuk gergaji sebagai limbah penggergajian kayu mudah didapat, dan kadang-kadang dapat diperoleh cuma-cuma. Di luar negeri serbuk gergaji digunakan sebagai campuran media dalam pot jika kulit pinus tidak tersedia.

Faktor lain yang sangat berperan dalam pertumbuhan tanaman adalah pemupukan, baik pupuk yang diberikan melalui akar maupun pupuk yang diberikan melalui daun. Penggunaan pupuk buatan dewasa ini terus meningkat. Salah satu jenis pupuk buatan adalah pupuk daun Novelgro yang mengandung hara makro dan mikro. Pupuk ini dapat diaplikasikan melalui daun dengan cara menyemprotkan ke seluruh permukaan daun. Pupuk daun Novelgro  mengandung unsur hara makro 9% N, 6% P2O5, 2% K2O, 1% Mg, dan dilengkapi pula dengan unsur hara mikro : 0,5% Mn, 4,5% Zn, 0,5% B, 0,05% Cu. Manfaat dari pupuk daun Novelgro dapat meningkatkan dan mempertahankan klorofil pada daun, meningkatkan proses fotosintesis, serta meningkatkan perkembangan akar. Dengan meningkatnya aktivitas fotosintesis, maka daya serap hara dari tanah akan meningkat sehingga dapat merangsang pertumbuhan dan produksi tanaman (Budiana, 2008).

Penggunaan pupuk  harus memperhatikan konsentrasi yang tepat. Penggunaan konsentrasi pupuk daun Novelgro yang terlalu rendah dapat menyebabkan kurang responsnya tanaman sehingga tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, sedangkan pemberian pupuk dengan konsentrasi yang terlalu tinggi akan menyebabkan keracunan bagi tanaman. Konsentrasi anjuran pupuk ini adalah 1 cc/l air yang dapat diaplikasikan pada pagi atau sore hari dengan interval pemberian 2-4 Minggu sekali (AAK, 2005).

Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya komposisi media tanam dan konsentrasi pupuk daun Novelgro yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan bibit jarak pagar. Selain itu belum diketahui apakah ada interaksi antara kedua faktor tersebut.  

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi media tanam yang sesuai dan konsentrasi pupuk daun Novelgro yang tepat agar diperoleh pertumbuhan bibit jarak pagar yang baik serta ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.


RESPONS BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP WAKTU PEMBERIAN BAHAN ORGANIK PADA METODE SRI

Muhammad Hatta, Cut Nur Ichsan, dan Salman

ABSTRACT


            The objective of study was to determine response of three varieties of rice to timing of providing organic fertilizer on SRI system. The results showed that the timing of providing organic materials exerted a significant effect on grain weight per hill and production per hectare, but no significant effect on variables of other rice growth and production. Provision of organic matter at planting date and a week after planting date gave  better grain weight per hill and production per hectare than a week before planting date. These results were consistent for all the tested rice varieties, i.e. Ciherang, Pandan Wangi, and Angke.  However, to some extent, Pandan Wangi was the best.

Keywords :  Variety, rice, SRI, organic matter

 


PENDAHULUAN

 

SRI (System of Rice Intensification) adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara. Metode ini terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50%.  Bahkan, di beberapa tempat peningkatannya mencapai lebih dari 100%. Metode ini pertama kali ditemukan di Madagaskar antara tahun 1983 oleh biarawan Yesuit asal Perancis bernama F.R. Henri de Laulani, S.J. (The SRI Group, 2005).

Pada metode SRI, pemberian pupuk organik merupakan salah satu unsur penting. Pemberian pupuk organik pada tanah sawah  dengan dosis yang sesuai dapat meningkatkan ketersediaan hara, meningkatkan aktivitas mikro organisme tanah, dan membentuk agregat tanah sehingga dapat mengikat lebih banyak air. Lebih lanjut Prihandarini (2007) menyatakan bahwa pemberian pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik dan memperbaiki keadaan sifat fisik, kimia dan biologi tanah, sehingga dampak pencemaran lingkungan akibat pupuk anorganik dapat secara nyata dikurangi.  Andoko (2005) menyatakan pupuk organik yang dianjurkan untuk tanaman padi sawah adalah 10 ton per/ha.

Selain dosisnya,  waktu pemberian pupuk organik yang tepat pada tanaman juga perlu mendapat perhatian, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Umumnya, pemberian pupuk organik sebagai pupuk dasar pada tanaman padi diberikan pada 7-10 hari sebelum tanam. Namun, ada juga petani yang memberikan pupuk organik yang dicampur dengan pupuk anorganik setelah tanam.

Respons varietas padi terhadap waktu pemberian pupuk organik bisa tidak sama satu dengan yang lainnya.  Suatu varietas bisa memberikan respons yang lebih baik bila pupuk organik diberikan sebelum tanam, sementara varietas lainnya lebih baik bila pupuk organik diberikan setelah tanamn. Adisarwanto (2006) menyatakan bahwa keunggulan suatu varietas dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik varietas dengan kondisi lingkungan tumbuh. Pengelolaan lingkungan tumbuh yang tidak sesuai dapat menyebabkan potensi hasil yang tinggi dari suatu varietas tidak akan muncul.

Pengujian beberapa varietas terhadap waktu pemberian pupuk organik diharapkan dapat memberikan informasi yang spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons tiga varietas  padi terhadap waktu pemberian pupuk organik pada sistem SRI.


PEMBERIAN PUPUK HAYATI DAN FOSFOR PADA PADI GOGO TERHADAP SERANGAN KEPIK HIJAU

Alfian Rusdy

 

 

ABSTRACT

 

The purposes of this study were to determine the resistance levels of non-irrigated rice to green bug (Nezara viridula L.) after providing bio-fertilizers and dosages of phosphorus. This research was carried out in the Experimental Farm of Research Center for Agricultural Technology (BPTP) NAD, Banda Aceh. The research applied a completely randomized factorial design with 2 treatments, i.e., 4 dosage levels of bio-fertilizers and 4 dosage levels of phosphorus. The results showed that the percentage of damaged plants, percentage of eating inhibition, and the percentage of infected spikelet showed a significant difference between treatments. The higher the dosages of bio-fertilizers and phosphorus were given, the lesser damage and the greater the eating inhibitions were recorded, and the smaller the grains were broken.
Keywords: Nezara viridula, Bio-fertilizer, and phosphorus

 


 PENDAHULUAN

 

Bangsa Indonesia sejak dulu hingga kini sangat mengandalkan beras sebagai bahan pangan nasional. Dengan demikian produktivitas padi sebagai bahan baku beras harus terus ditingkatkan, bukan saja padi sawah namun juga padi gogo. Pada saat ini kontribrusi padi sawah pada produksi beras nasional mencapai 95% (Prasetyo, 2003). Pada masa yang akan datang kontribusi padi sawah hendaknya dapat diturunkan dan kontribusi padi gogo diharapkan meningkat. Harapan ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa potensi lahan kering sebagai lahan yang dapat ditanami padi gogo sangat luas di Indonesia (Handayani, 2001).

Upaya meningkatkan produksi pangan tidak terlepas dari teknologi di bidang pemupukan sebagai salah satu penentunya (Kasniari dan Supanda, 2007). Pemupukan merupakan usaha pemberian atau penambahan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk peningkatan produksi dan mutu tanaman (Sarief, 1989).

Salah satu langkah yang sedang gencar dikembangkan saat ini adalah pemanfaatan pupuk hayati (Goenadi dan Herman, 1999). Pupuk hayati telah dilaporkan mampu meningkatkan efisiensi serapan hara, memperbaiki pertumbuhan dan hasil serta diyakini meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit (Hardianto, 2000 dalam Agung dan Rahayu, 2004).

Pupuk hayati merupakan suatu bahan yang mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil tanaman, melalui aktivitas biologi akhirnya dapat berinteraksi dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai bahan aktif pupuk hayati adalah Azotobacter sp 2,0 x 107 – 105 sel/ml, Azospirillum sp 2,3 x 108 – 105 sel/ml, Mikroba Pendegradasi Selulose 3,5 x 107 – 104 sel/ml, Lactobacillus sp 1,5 x 104 – 103 sel/ml, Pseudomonas sp 1,7 x 106 – 104 sel/ml, P = 34,70 ppm; K = 1700 ppm; C Organik = 0,92%; N = 0,04% Fe = 44,3ppm; Mn = 0,23 ppm; Cu 0,85 ppm dan Zn = 3,7 ppm dan Mikroba pelarut fosfat 3,0 x 107 – 105 sel/ml (Simalongo, 2008).

Unsur fosfat berperan menjaga keseimbangan dari efek pemberian nitrogen yang berlebihan, merangsang pembentukan jaringan, dan memperkuat dinding sel sehingga diyakini dapat membuat tanaman menjadi resisten (Buckman dan Brady, 1982).

Penggunaan pupuk dengan perilaku berlebihan atau melebihi dosis yang dianjurkan akan mengakibatkan pada pemborosan energi dan menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan (Goenadi dan Herman, 1999). Pemupukan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan tingkat haranya hanya akan mengakibatkan gangguan pada tanaman budidaya (Salim et al., 2003 dalam Juniati dan Syamiah, 2006).

Sistem pemupukan merupakan salah satu proses pengendalian hama secara kultur teknis dan termasuk kepada pengendalian hama terpadu. Seperti yang diketahui selama ini bahwa penggunaan pupuk yang tidak benar (waktu aplikasi, jenis, dan dosis) akan menyebabkan berbagai masalah terhadap tanaman, sebaliknya penggunaan pupuk yang berimbang dan dengan dosis serta waktu pemberian yang tepat dapat mengurangi perkembangan beberapa organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh sebab itu, pemakaian dosis pupuk harus benar-benar diperhatikan. Berdasarkan hasil penelitian Simalongo (2008) bahwa penggunaan pupuk hayati pada pertanaman padi sebanyak 6 Lha-1 yang diaplikasikan sebanyak 3 kali yaitu 3 hari sebelum tanam, 30 hari setelah tanaman, serta pada booting stage, sedangkan dosis anjuran penggunaan pupuk fosfor untuk tanaman padi gogo menurut Deptan (2006) adalah sebanyak 100 kg (SP-36) ha-1 yang diberikan 1 hari sebelum tanam.

Seperti halnya tanaman lain, tanaman padi gogo juga kerap terserang oleh serangga hama tanaman, salah satunya adalah kepik hijau (Nezara viridula) yang masih tercatat sebagai hama penting tanaman padi (Pracaya, 1995). Hama kepik hijau merupakan salah satu hama utama padi gogo yang merusak pada stadia generatif, yakni di saat tanaman telah membentuk bulir dalam keadaan matang susu (Hasan et al., 1992). Prihatman, (2000) dan Harahap (1994) menambahkan, kepik hijau (N. viridula) juga menyerang batang, daun dan bulir padi dengan cara mengisap cairan tanaman padi sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu selama masa hidup N. viridula. Kartosuwondo (1984), menyatakan bahwa lama hidup imago N. viridula jantan berkisar 7-134 hari sedangkan imago N. viridula betina berkisar 12-128 hari.

Bertitik tolak dari permasalahan tersebut, maka perlu dikembangkan suatu sistem pemupukan yang sesuai dengan lingkungan juga mampu mendukung pencapaian produksi optimum dan aman terhadap lingkungan serta dimungkinkan yang dapat membuat tanaman padi gogo menjadi resisten. Salah satu sistem yang akan dicobakan adalah pengaruh pemberian pupuk hayati dan fosfor pada tanaman padi gogo terhadap hama kepik hijau (Nezara viridula).


KAJIAN BIOKOMPLEK TRICO-G DAN INOKULASI RHIZOBIUM PADA HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) MERRILL)

Jumini dan Rita Hayati

ABSTRACT

 

Study of Biokomplek Trico-G and Inoculation of Rhizobium on soybean yield has been conducted. The aim of research was to evaluate concentration of Biokomplek Trico-G and Rhizobium inoculation on yield.  The experiment used a randomized complete block design 4×2 with 3 replicates. Factors evaluated were concentration of Biokomplek Trico-G, consisted of 4 levels, that is: 0, 5, 10 and 15 g/L water and Rhizobium inoculation, consisted of 2 levels, that is without inoculation and inoculation with ex-soybean soil.  Results showed that the concentration of Biokomplek Trico-G had a highly significant effect on dry weight seed per crop and dry weight seed per hectare and had a significant effect on seed diameter. The best result was concentration of Biokomplek Trico-G at 10 g/L water.  Inoculation of Rhizobium had a highly significant effect on number of productive branches and a significant effect on number of fine pods per crop but insignificant effect on seed diameter, dry weight of seed per crop and dry weight of seed per hectare. The best result was inoculation with ex-soybean soil.

Keywords: Biokomplek Trico-G, inoculation, Rhizobium, soybean


PENDAHULUAN

         Kedelai merupakan tanaman pangan yang termasuk ke dalam famili Leguminoceae dan dikenal dengan nama ilmiah Glycine max (L.) Merrill, dan berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara). Tanaman kedelai kemudian menyebar ke daerah Mansyuria, Jepang (Asia Timur) dan Negara-negara lain di Amerika dan Afrika. Di Indonesia, tanaman ini dibudidayakan mulai abad ke-17 sebagai bahan pangan. Selain itu, kedelai juga dikenal sebagai pupuk hijau karena dapat meningkatkan kesuburan tanah (Purwono dan Purnamawati, 2008).

Kedelai mengandung kadar protein lebih dari 40% dan lemak 10 – 15%. Sampai saat ini kedelai masih merupakan bahan pangan sumber protein nabati yang paling murah sehingga tidak mengherankan bila total kebutuhan kedelai untuk pangan mencapai 95% dari total kebutuhan kedelai di Indonesia (Adisarwanto dan Wudianto, 2007).

Sampai saat ini kebutuhan akan kedelai yang terus meningkat tidak dapat diimbangi oleh produksi nasional, sedangkan luas areal tanaman kedelai di Indonesia dari tahun ke tahun terus menurun. Bahkan pada kurun waktu 1995 hingga 2007 luas areal mengalami penurunan cukup signifikan, yakni sekitar 61,75 %. Produksi kedelai hanya mampu mengisi sekitar 50% dari total konsumsi dalam negeri, sedangkan sisanya dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat (Nainggolan, 1999). Produksi kedelai pada tahun 2005 mencapai 808,353 ton dengan produktivitas 1,30 ton/ha (Purwono dan Purnamawati, 2008).

Untuk meningkatkan produksi kedelai dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan usaha intensifikasi pertanian, diantaranya dengan menggunakan Biokomplek Trico-G dan Inokulasi Rhizobium.

Trico-G adalah biokomplek yang terdiri atas campuran jamur Tricoderma sp. Dan Gliocadium sp. Trico-G ini merupakan hasil penelitian bio-teknologi terbaru. Trico-biokomplek juga merupakan bioprectan dengan menggunakan bahan aktif Trichoderma harzianum dan Gliocladium sp sampai bioantagonis dan biofertilizer penyubur tanaman guna memperoleh hasil maksimal. Penggunaan pupuk organik biokomplek Trico-G dapat menyebabkan tanaman lebih tahan terhadap penyakit, produksi tinggi dan agro-ekosistem aman. Dosis anjuran pupuk organik ini adalah 90 g dalam 10 l air, selanjutnya disiramkan ke bedengan dua hari sebelum benih ditanam dan diulangi 3 hari setelah benih ditanam (PT. Primasit Andalan Utama, 2006).

Disamping penggunaan bahan organik Biokomplek Trico-G, perlakuan inokulasi Rhizobium pada tanaman kacang kedelai juga perlu mendapat perhatian. Inokulasi adalah usaha mempertemukan akar kacang-kacangan dengan bakteri Rhizobium, yang bertujuan untuk menghasilkan bintil akar yang efektif, sehingga penambatan N dari udara lebih terjamin. Proses tersebut diharapkan dapat melancarkan aktifitas metabolisme tanaman, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman meningkat (Alexander, 1981). Konstribusi Nitrogen melalui fiksasi sangat penting bagi pertanian. Inokulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, umumnya dengan menggunakan tanah bekas tanaman kacang-kacangan, secara alami dan dengan menggunakan biakan murni Zhizobin.

Dari permasalahan di atas belum diketahui berapa konsentrasi bahan organik biokomplek Trico-G dan cara inokulasi yang sesuai, agar diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang tinggi, sehingga perlu dilakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Biokomplek Trico-G dan inokulasi Rhizobium terhadap hasil tanaman kedelai.


PERUBAHAN ANATOMI DAN KANDUNGAN OLIGOSAKARIDA PADA BENIH REKALSITRAN Avicennia marina AKIBAT PERBEDAAN LAJU PENGERINGAN

Halimursyadah

ABSTRACT

The objective of this study was to evaluate anatomical changes and oligosaccharide content of recalcitrant seed Avicennia marina at various drying rate i.e. fast, medium and slow drying.  Oligosaccharide content was determined, and anatomical embryonic axes was observed at various times during desiccation. The result showed that moisture content of  A. marina seed was 60.75-64.67% at shedding. The highest ratio of (raffinose + stachyose) / sucrose was 0.41, indicating that embryonic axes were more tolerant to desiccation than cotyledon.   Anatomical observation of embryonic axes showed that there was radicle damage due to  medium and slow drying treatment.

 

Key words:  recalcitrant, oligosaccharide, drying rate, anatomical observation


PENDAHULUAN

Tingkat aktivitas metabolisme pada benih rekalsitran sangat tergantung pada sifat rekalsitransi yang dimilikinya. Aktivitas metabolisme pada benih rekalsitran terus berlangsung selama perkembangan benih.  Pada benih sangat rekalsitran, Avicennia marina, aktivitas enzim respirasi terus terjadi hingga absisi (Farrant et al. 1988).

Benih rekalsitran memiliki kisaran kadar air yang bervariasi pada saat rontok (shedding) dan setelah dipanen (post harvest), terutama responnya terhadap desikasi.  Fenomena benih rekalsitran adalah tetap aktif bermetabolisme sehingga mengakibatkan terjadinya perkecambahan di penyimpanan.  Pammenter dan Berjak (2000) menyatakan bahwa ada tiga tipe kerusakan yang terjadi bila benih dikeringkan atau diturunkan kadar airnya yaitu : (1) kerusakan mekanik yang berhubungan dengan pengurangan volume sel, (2) pada kadar air intermediate terjadinya degradasi yang didasarkan pada oksidasi aktivitas air dan ketidakteraturan metabolisme (aqueous-based oxidative dan unregulated metabolism), (3) kerusakan biofisik terhadap struktur makromolekul yang terjadi akibat hilangnya air pada kadar air rendah.  Tipe kerusakan pertama hanya terjadi pada benih yang mempunyai vakuola besar seperti A. marina.  Tipe kerusakan kedua terjadi pada kondisi dibawah normal pengeringan lambat  yang dapat mengakibatkan kematian benih rekalsitran.  Respon terhadap dehidrasi pada tipeini tergantung pada aktivitas metabolime benih dan laju pengeringan.  Ini mengakibatkan kesukaran untuk menentukan toleransi desikasi.  Tipe kerusakan ketiga dapat mematikan jaringan apabila dikeringkan secara cepat.

Karbohidrat adalah salah satu golongan bahan organik utama  di alam, terdapat di semua bagian bahan sel baik sebagai komponen struktur maupun komponen fungsi.  Bobot kering tumbuhan secara khas terdiri dari 50-80% karbohidrat polimer sellulosa bersama dengan bahan struktur sejenis.  Karbohidrat sebagai tulang punggung asam nukleat, RNA dan DNA, dan merupakan gula yang memberikan cadangan energi yang diperoleh dari matahari melalui fotosintesis.  Karbohidrat adalah zat yang terdiri atas polihidroksi aldehida dan keton serta turunannya.  Gula yang juga dikenal sebagai sakarida,  umumnya diperlakukan sebagai karbohidrat khas  (Pine et al.  1988).

Monosakarida adalah karbohidrat yang biasanya memiliki 3-9 atom karbon.  Karbohidrat yang terdiri atas dua satuan monosakarida atau lebih yang tergabung  melalui ikatan glikosida digolongkan ke dalam oligosakarida.  Oligosakarida terdiri atas 2-10 satuan monosakarida.  Beberapa oligosakarida yang terdapat di dalam benih adalah sukrosa, rafinosa dan stakiosa.  Sukrosa adalah disakarida yang terdapat bebas di alam dan banyak ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.  Hidrolisis ikatan glikosida menunjukkan sukrosa terdiri atas D-glukosa dan fruktosa.  Ukuran lingkar satuan monosakarida glukosa ditentukan dengan pemetilan gugus hidroksil bebas yang dilanjutkan dengan penguraian oktametilsukrosa yang terbentuk, karena sukrosa disebut α-D-glukopiranosil β-D-fruktofuranosida.

Rafinosa adalah trisakarida yang tersebar luas dalam tumbuhan, meskipun terdapat dalam kadar rendah.  Rafinosa terdiri atas masing-masing satu molekul D-galaktosa, D-glukosa, dan D-fruktosa yang tersusun sedemikian rupa sehingga galaktosa terikat pada atom karbon nomor enam sukrosa atau disebut O-ά-Dgalaktopiranosil-(1à6)α-D-glukopiranosil β-D-fruktofuranosida.  Rafinosa terdapat pada bit dan tepung biji kapas kira-kira 8%.  Trisakarida ini tidak digunakan oleh manusia sebagai sumber karbohidrat. Stakiosa adalah tetrasakarida yang bila dihidrolisis sempurna akan menghasilkan 2 molekul galaktosa, 1 molekul glukosa dan 1 molekul fruktosa. Sedangkan pada hidrolisis parsial dapat dihasilkan fruktosa dan manotriosa (trisakarida).

Pada metabolisme karbohidrat, gula merupakan stabibilizing agent,  sukrosa terlibat dalam mencegah liquid crystalline menjadi transisi fase gel, dan oligosakarida bertindak sebagai pencegah pengaruh kristalisasi (Corbineau et al.  2000).  Akumulasi sukrosa dan raffinose family oligosacharide (RFO) seperti rafinosa dan stakiosa berkorelasi dengan perkembangan tanaman dan berhubungan dengan kepekaan desikasi seperti pada benih jagung dan gandum (Black et al. 1996); Brassica campestris,  kedelai, lupin dan buncis (Corbineau 1998); dan Pisum sativum (Corbineau et al. 2000). Semakin tinggi rasio (rafinosa + stakiosa)/sukrosa mengindikasikan benih semakin peka terhadap desikasi.  Penurunan RFO dan peningkatan gula tereduksi berhubungan dengan hilangnya kepekaan desikasi selama perkecambahan pada beberapa spesies.  Namun pada beberapa spesies lainnya seperti benih gandum yang belum masak menunjukkan akumulasi RFO tidak berkorelasi erat dengan derajat kepekaan desikasi  (Black et al. 1996). Penelitian pada beberapa spesies menunjukkan bahwa bila hanya sukrosa yang berperan tidak menunjukkan ketahanan terhadap dehidrasi, dan oligosakarida seperti rafinosa, stakiosa, trehalose,  umbelliferose atau verbascose juga penting peranannya.  Chen dan Burris dalam Black (1996) menunjukkan bahwa kandungan rafinosa 9% adalah merupakan nilai kritikal, yang mana rafinosa berperan dalam stabilisasi glassy state yang diinduksi oleh sukrosa dan memperpanjang daya simpan benih.

Corbineau et al. (2000) meneliti pada benih Pisum sativum bahwa efek dehidrasi terhadap kepekaan desikasi berhubungan dengan kandungan oligosakarida dan bahan membran sel.  Rasio (rafinosa + stakiosa)/sukrosa meningkat selama perkembangan benih dan mencapai nilai 1,1 pada axis dan 0,2 pada kotiledon.  Pada pengeringan tertentu tidak menghasilkan stakiosa dan memicu peningkatan kebocoran elektrolit, menurunkan kemampuan benih mengubah 1-aminocyclo­propane 1-carboxylic acid (ACC) menjadi etilen dan meningkatkan sintesa ethane, yang menunjukkan kemunduran membran sel dan lipid peroksidasi.

             Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati perubahan anatomi secara mikroskopis dan analisis kandungan oligosakaridapada  pada benih rekalsitran Avicennia marina yang dikeringkan dengan metode pengeringan cepat, sedang dan lambat.