Archive for the ‘jurnal vol 3’ Category

PREFERENSI TIKUS TERHADAP JENIS UMPAN PADA TANAMAN PADI SAWAH

Alfian Rusdy dan Irvandra Fatmal

 

  

ABSTRACT

 

The purpose of this research was to identify preference of rats to several kinds of foods. This research was conducted at rice field at Aneuk Glee Village, sub district of Indrapuri, district of Aceh Besar. This research used Randomized Block Design non factorial, consisting of 6 treatments. They were unhulled paddy, rice, split rice, corn, split corn and corn powder. The treatment was repeated 4 times. The variables observed were percentage of damage plant, trapped rats, and ratio of male rat to female rat.  The result of this research showed that preference of the rat was significantly affected by kinds of food. Among the treatments, unhulled paddy was the most preferred.  However, at percentage of damage plant, the rats preferred rice to other baits.  The ratio of rats trapped was high at male rats. This proved that male rats in addition to getting the food were looking for their pairs, because female rats stayed more in the pit for feeding activity.

Keywords: Preference, bait, rat


PENDAHULUAN

     Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk family Graminae penghasil biji-bijian  yang berasal dari negeri China (Manurung dan Ismunadji 1998).

Dalam budidaya tanaman padi banyak terjadi serangan hama tikus (Rattus argentiventer Rob & Kloss), sebab tikus merupakan hama yang relatif sulit dikendalikan karena memiliki kemampuan adaptasi, mobilitas, dan kemampuan berkembangbiak yang pesat serta daya rusak yang tinggi, hal ini menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan hasil produksi akibat serangan tikus cukup besar, karena menyerang tanaman sejak di persemaian hingga menjelang panen. Potensi perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas makanan yang tersedia. Tikus bersifat omnivora atau pemakan segala jenis makanan, akan tetapi dalam hidupnya tikus membutuhkan makanan yang kaya akan karbohidrat dan protein seperti bulir padi, kacang tanah, jagung, umbi-umbian, dan biji-bijian.

Apabila tidak tersedia makanan di sawah, tikus baru menyerang pertanaman lainnya seperti tanaman jagung, palawija dan ubi kayu serta ubi jalar. Keragaman komoditi menyebabkan terciptanya lingkungan yang selalu menguntungkan bagi kehidupan dan perkembangan tikus (Priyambodo 1995).

Mobilitas tikus tergantung kepada natalitas dan mortalitas. Jika makanan tersedia di lapangan maka satu populasi akan membentuk beberapa populasi lainnya, bila makanan berkurang maka akan terjadi mortalitas yang tinggi di lapangan. Populasi yang baru terbentuk akan kembali ke populasi yang lama dengan 2 macam pergerakan, yaitu: pergerakan harian dalam mencari makan sehari-hari dengan jarak ±100 m dan pergerakan musiman dengan jarak pergerakan mencapai ±500 m (Sianturi 1990).

Beberapa upaya pengendalian hama tikus yang banyak dilakukan oleh para petani adalah dengan mengatur waktu tanam, rotasi tanaman, sanitasi lingkungan, pengendalian secara fisik-mekanik, pengendalian secara biologis, dan pengendalian secara kimiawi. Dari sekian banyak metode pengendalian tersebut tampaknya pengendalian tikus dengan menggunakan umpan beracun (rodentisida sintetik) masih menjadi pilihan utama petani, karena relatif lebih praktis dan langsung memperlihatkan hasilnya. Disamping itu, dengan memakan bahan ini menyebabkan tikus menjadi mandul. Keefektifan penggunaan umpan beracun di lapangan antara lain ditentukan oleh jenis dan bentuk umpan yang digunakan.

Disisi lain harga rodentisida sintetik yang relatif mahal dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya antara lain terbunuhnya organisme bukan sasaran seperti ikan, dan binatang peliharaan lainnya, karacunan pada manusia, dan lain-lain. Sejumlah masalah yang muncul akibat penggunaan rodentisida sintetik yang tidak bijaksana tersebut menyebabkan meningkatnya kembali perhatian sejumlah peneliti dalam memanfaatkan potensi tumbuhan seperti akar tegari (Dianella sp.) untuk mengendalikan tikus sawah (Jumar dan Helda, 2003). Oleh karena itu, alternatif menggunakan perangkap merupakan pengendalian yang relatif aman terhadap hewan sekitar dan lingkungan, pengendalian hama ini dilakukan dengan mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) dan tepat sasaran. Dalam penerapan PHT diperlukan pengetahuan aspek biologi hama sebagai dasar memilih teknik pengendalian yang tepat (Theceli 1992).

Teknik pengendalian lainnya yaitu dengan menggunakan perangkap, salah satu jenis perangkap tikus yang dapat digunakan adalah perangkap bambu dan perangkap yang terbuat dari kawat. Penggunaannya mudah yaitu hanya dengan meletakkan perangkap yang telah diberi umpan pada setiap petakan sawah (Rachman 2007).

Berkaitan dengan hal tersebut, upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pra tanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik pengendalian secara terpadu. Di daerah persawahan kepadatan populasi tikus berkaitan erat dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Pada fase vegetatif populasi tikus umumnya masih relatif rendah, seterusnya akan meningkat saat tanaman padi berada pada fase generatif. Tikus dapat menyerang padi pada fase vegetatif dengan menggigit dasar anakan rumpun sampai hancur. Biasanya dimulai dari bagian tengah petakan kemudian dilanjutkan ke pinggir pematang sawah. (Tobing dan Sianturi 1982, Priyambodo 1995).

Bertitik tolak dari hasil penelitian di atas maka perlu diteliti tentang pengaruh berbagai jenis dan bentuk umpan untuk mengendalikan tikus sawah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi jenis dan bentuk umpan yang digunakan sebagai perangkap terhadap tikus sawah yang menyerang .


Advertisements

PENGARUH PENGGENANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF CABAI

Safrizal, Edi Santosa, dan Bakhtiar

ABSTRACT

Generally, chilli grows at dry season, but only offers low price of the yield. To obtain high price of the yield, usually farmers grow this crop at out of season, i.e. wet season. Wet season, however,  has more limiting factors to increase the yield, such as water logging. The aim of this study was to understand the resistance of plant to water logging. Seedlings at 21 days of age were planted in plastic container. The result indicated that full water logging and half water logging inhibited vegetative growth of chilly. However, the seedlings were survive until 3 week of logging. Full water logging caused horizontal growth of roots. Full water logging also caused increase of chlorophyl b, antocianin, and carotenoid, but decrease of chlorophyl a.

Keywords:  chilly, deep of logging, chlorophyl

 


PENDAHULUAN

            Cabai (Capsicum annum, L.) merupakan salah satu sayuran penting yang identik dengan aroma dan rasanya yang pedas. Beberapa varietas cabai mempunyai keunikan dalam bentuk dan warna yang dapat digunakan sebagai tanaman hias. Di samping kontribusi dalam hal aroma dan rasa, cabai merupakan sumber provitamin A dan vitamin C.  Cabai juga digunakan sebagai obat terutama di Afrika dan penduduk asli Amerika Latin.[1]

Kebutuhan cabai di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data statistik menunjukkan kebutuhan cabai dalam negeri pada tahun 2003 sebesar sebesar 176.264 ton dan meningkat menjadi 194.588 ton pada tahun 2004. Namun demikian, luas pertanaman cabai tidak diikuti oleh tingginya produktivitas. Pada tahun 2004, produktivitas cabai merah hanya 5.67 ton ha-1 (Departemen Pertanian, 2006).

Pada tanah sawah, umumnya cabe hanya ditanam pada musim kemarau sehingga hasilnya tidak optimal. Untuk meningkatkan hasil per tahun petani juga berusaha menanam pada musim hujan, namun pada saat tersebut lahan tanam biasanya jenuh air. Teknik budidaya jenuh air merupakan cara manipulasi lingkungan yang berpangkal dari prinsip pengaturan sistem tata air dengan cara pemberian secara terus menerus dengan tinggi muka air yang tetap sehingga lapisan tanah di bawah perakaran menjadi jenuh air (Hunter et al. 1980; Sumarno, 1986).  Tahap aklimatisasi tanaman cabai terhadap jenuh air berlangsung selama 2 minggu  (Troedson et al.,1983) atau antara 2 – 4 minggu (Lawn, 1985).

Penerapan budidaya jenuh air dapat dilakukan pada areal pertanaman dengan irigasi cukup maupun pada areal dengan drainase kurang baik. Kelebihan air akan menyebabkan jumlah pori untuk aerasi berkurang, dapat merusak struktur tanah dan akhirnya akan mengurangi total ruang pori. Penurunan ukuran  dan total ruang pori akan meningkatkan tahanan difusi dan menurunkan koefisien difusi. Hal ini menyebabkan laju difusi dan pertukaran gas menurun (Ghulamahdi, 1999).

Hasil penelitian Amrullah (2000) menunjukkan pada kondisi tergenang mikroorganisme anaerobik fakultatif tertentu menggunakan nitrat sebagai sumber oksigen dalam respirasi, sehingga menyebabkan denitrifikasi dengan melepaskan nitrogen oksida (N2O). Denitrifikasi akan menurunkan nitrat-N, dan merupakan gejala umum pada kondisi tanah tergenang. Dalam kondisi tergenang, N diserap dalam bentuk amonium, sehingga jika dilakukan pemupukan, amonium akan dinitrifikasi. Hal ini menyebabkan nitrat mengalami denitrifikasi karena mudah tercuci.

Berkaitan dengan faktor tanaman, salah satu aspek fisiologi yang secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan dan daya hasil tanaman adalah kandungan klorofil. Klorofil merupakan absorber energi radiasi matahari dan sebagai organel yang dapat mengubah energi radiasi menjadi energi kimia (Taiz dan Zeigler, 2002). Klorofil merupakan faktor internal tanaman yang sangat mempengaruhi efisiensi dan laju fotosintesis. Tanaman yang memiliki kandungan klorofil tinggi akan sangat efisien dalam penggunaan energi radiasi matahari untuk melaksanakan proses fotosintesis. Tanaman tersebut juga akan mampu memanfaatkan energi matahari secara maksimal (Lawlor, 1987).

Berdasarkan peranan dan fungsi klorofil yang penting bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai, kandungan klorofil daun dapat digunakan sebagai salah satu alternatif kriteria seleksi awal tanaman yang akan mampu menduga suatu varietas cabai unggul dengan potensi pertumbuhan dan produktivitas yang tinggi.

Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat resistensi pertumbuhan vegetatif tanaman cabai pada kondisi jenuh.


PENGARUH IAA DAN BAP TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM IN VITRO

Muhammad Hatta, Mardhiah Hayati, dan Ulfa Irayani

ABSTRACT

The research was aimed at understanding response of patchouli growth in vitro to concentration of IAA and BAP, and looking at interaction between both treatments.  The experiment was arranged in a factorial randomized complete block design (RCBD)  2 x 6 with 5 replicates.  Factors investigated were concentration of  IAA (0 dan 1 mgl-1) and concentration of BAP (0.0, 0.4, 0.8, 1.6, 3.2 dan 6.4 mgl-1). Variables observed were shoot numbers, shoot height, and leaf numbers at 8 weeks after culturing. The results showed that there was interaction between IAA and BAP on leaf numbers of plantlet at 8 weeks after culturing, where the presence of IAA in the medium caused BAP to exert negative effect on lef formation. On shoot numbers and shoot height, the concentration of IAA and BAP did not exert any effect.

Keywords : IAA, BAP, Patchouli, in vitro

 


PENDAHULUAN

 

Tanaman nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan tanaman perdu yang menghasilkan minyak.   Minyak nilam banyak digunakan industri parfum, farmasi, makanan dan aroma terapi. Fungsi utama minyak nilam adalah sebagai bahan fiksatif dan wangi-wangian. Minyak nilam Indonesia memasok sekitar 70% pangsa pasar dunia dan merupakan penghasil devisa terbesar dari ekspor minyak atsiri, sehingga tanaman nilam mempunyai prospek pasar paling baik dibandingkan tanaman atsiri lainnya (Mangun, 2005).

Nilam merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan. Namun, karena tanaman ini tidak berbunga maka keragaman genetik tanaman ini sangat rendah.  Untuk meningkatkan keragaman genetiknya maka perlu dilakukan pendekatan bioteknologi. Agar aplikasi bioteknologi dapat dilakukan, maka perlu dikuasai lebih dahulu teknik perbanyakan tanaman nilam secara  kultur jaringan.

Kultur jaringan adalah upaya perbanyakan tanaman dengan menggunakan bahan tanam mikro dalam media buatan dengan kondisi bebas mikroorganisme. Dalam kultur jaringan, dua golongan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. Sitokinin berperan penting untuk merangsang pembelahan sel dan auksin digunakan secara luas dalam kultur jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi sel dan organ. Heddy (1986) menyatakan bahwa ZPT dalam konsentrasi rendah dapat mempengaruhi proses fisiologis tumbuhan. Hal ini disebabkan karena adanya asam yang langsung mempengaruhi sintesis protein dan mengatur aktivitas enzim (Gardner, Pearce dan Mitchell, 1985).

BAP adalah salah satu sitokinin yang banyak dipakai dalam kultur jaringan. Zat pengatur tumbuh ini menunjukkan pengaruh yang beragam terhadap pembentukan tunas. Gunawan (1987) menemukan bahwa induksi tunas terbanyak pada eksplan tanaman Brassica oleraceae L. var Botrytis diperoleh pada konsentrasi   BAP 0.5 mgl/l. Sholeh dan Parawita (2005) menemukan bahwa konsentrasi BAP 0.25 mg/l merupakan konsentrasi terbaik dalam menginduksi tunas eksplan tanaman melon.  Sebaliknya IAA adalah salah satu jenis auksin.   Hormon ini dipakai untuk merangsang pembentukan akar. Sholeh dan Parawita (2005) menemukan bahwa IAA 0.5 mgl-1 merupakan konsentrasi terbaik pada kedinian terbentuknya akar, jumlah akar, panjang akar serta pertambahan tinggi tunas dari tanaman melon.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan tanaman nilam secara in vitroterhadap konsentrasi IAA dan BAP serta melihat interaksi antara kedua perlakuan.


RESPONS FUNGSIONAL PARASITOID TRICHOGRAMMA PRETIOSUM TERHADAP TELUR Corcyra cephalonica: PENGARUH KEPADATAN INANG DAN SUHU

Sapdi

ABSTRACT

            A laboratory study has been conducted to investigate the functional response of parasitoid Trichogramma pretiosum on egg-host, Corcyra cephalonica. The treatments were egg-host density (5, 10, 15, 30, and 60 eggs per pias) and temperature (18 oC, 25oC, and room temperature). The eggs of host were exposed to the parasitoid for 24 hours at the temperature tested. Then, the parasited eggs were reared at room temperature until they were darkened. The number of parasitized eggs was observed. The result of the study showed that the type of functional response of T. pretiosum on eggs of C. Cephalonica was type II. The percentage of parasitization increased with the increase of egg-host density and temperature tested.

Keywords:   functional response, Trichogramma pretiosum, Corcyra cephalonica, egg-host density, temperature.

PENDAHULUAN

            Pengendalian hayati serangga hama dengan mengoptimalkan peranan parasitoid telah mendapat perhatian yang serius para peneliti yang berkecimpung dalam bidang entomologi terapan. Salah satu genus parasitoid yang banyak diteliti akhir-akhir ini adalah Trichogramma (Hymenoptera: Trichogrammatidae). Sebenarnya parasitoid ini telah dimanfaatkan sebagai agen pengendali hayati untuk berbagai spesies serangga hama ordo Lepidoptera lebih dari seratus tahun (Smith, 1996).

Trichogramma merupakan parasitoid telur pada berbagai spesies serangga Lepidoptera, antara lain Ostrinia furnacalis (penggerek batang jagung), Chilo sacchariphagus (penggerek batang tebu), dan Helicoverpa armigera (penggerek buah kapas) (Kalshoven, 1981). Pada saat ini, di Laboratorium Bioekologi Parasitoid dan Predator, HPT IPB juga sedang diteliti Trichogramma pretiosum, meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan upaya pengembangan parasitoid tersebut sebagai agen pengendali hayati. Sebagai inang dalam upaya perbanyakan parasitoid ini di laboratorium digunakan telur Corcyra cephalonica (Lepidoptera: Pyralidae). Serangga ini merupakan salah satu hama utama pada beras di penyimpanan (Kalshoven, 1981).

Untuk mengetahui sejauh mana keefektifan parasitoid T. pretiosum dalam mengendalikan populasi C. cephalonica perlu dipelajari kemampuan parasitoid tersebut untuk memarasit inangnya. Hal ini dapat diukur dengan melihat respons fungsional parasitoid tersebut (Doutt, 1973). Dalam interaksi inang-parasitoid, respons fungsional menggambarkan suatu hubungan antara laju parasitisasi oleh parasitoid dengan kepadatan inangnya (Price, 1984; Wang & Ferro, 1998). Merujuk pada tulisan Holling (1959), mereka menyatakan bahwa hubungan tersebut dapat digambarkan dengan suatu kurva yang konstan, tidak terpaut kepadatan (Tipe I), kurva yang meningkat, terpaut kepadatan (Tipe II), dan kurva yang meningkat, yaitu terpaut kepadatan positif dalam kisaran kepadatan inang yang terbatas (Tipe III). Secara lebih sederhana, respons fungsional dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk kurvanya yaitu linier (Tipe I), hiperbolik (Tipe II), dan sigmoid (Tipe III) (Hassell, 2000).

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat respons fungsional parasitoid T. pretiosum pada telur C. cephalonica pada berbagai tingkat kepadatan dengan suhu yang berbeda pada saat pemaparan. Dalam percobaan ini, penentuan tipe respons fungsional hanya didasarkan pada bentuk kurva yang diperoleh dari hubungan antara jumlah telur terparasit dengan kepadatan telur inang. Sebagai data tambahan juga dihitung persentase parasitisasi pada berbagai tingkat kepadatan telur inang dan suhu pada saat pemaparan.


PENGOPTIMUMAN TIGA FORMULASI SATA PADA BANGSA INDONESIA, MELAYU DAN CINA MELALUI PENILAIAN SENSORI


 

Rita Hayati

 

ABSTRACT

 

Result of the study showed that optimum region for sata production using boiled tuna fish, katsoubushi and surimi were 36-40%, 39-85% and 0-12%, respectively.  Three formulations were selected for validation study.  Two formulation were from acceptance region (F1=0.37 of boiled fish, 0.46 katsoubushi, 0.17 surimi, F2 =0.37 of boiled fish, 0.40 katsoubushi, 0.22 surimi), and one formulation from rejection region (F3 =12.5 of boiled fish, 75 katsoubushi, and 12.5 surimi). The validation of the three optimum points using sensory evaluation showed that formulation F1 was most acceptable followed by F2 and F3. There was significant difference (P≤0.05) between F1 and F2 when compared to F3, thus model equation was able to predict the optimum points.

 

Keywords: Optimum, sata, sensory evaluation


PENDAHULUAN

Pemilihan makanan dipengaruhi oleh penerimaan atribut dan kesesuaian untuk dimakan.  Sebagian besar keputusan pemilihan berdasarkan oleh kualitas panca indera.  Penilaian sensori bisa dianggap sebagai satu pendekatan paling praktis untuk memprediksikan  penerimaan konsumen terhadap suatu produk makanan, selain produk baru, produk diperbaiki kualitas atau modifikasi metode (Aminah 1989).  Institut Teknologi Makanan mendifinisikan penilaian sensori sebagai suatu disiplin ilmu yang digunakan untuk merangsang, mengukur, menganalisis dan menginterprestasi reaksi ciri-ciri makanan dan bahan-bahan apabila dinilai oleh panca indera seperti melihat, bau, rasa, sentuh dan dengar (IFT 1981).  Dimana melibatkan penggunaan organ-organ sensori yaitu mata, hidung, lidah, kulit dan telinga.  Penilaian ini berhubungan dengan tanggapan konsumen terhadap rupa bentuk, aroma, citarasa, tekstur dan rasa sesudah dimakan tanpa mempertimbangkan label, harga dan keterangan lainnya (Stone & Sidel 1995).

Kegiatan penilaian sensori dapat dibedakan berdasarkan tujuan yang ingin diperoleh.  Banyak metode ujian sensori telah diperkenalkan.  Metode yang dipilih haruslah yang paling praktis dan paling berpengaruh, sesuai dengan objektif kajian serta informasi yang ingin diperoleh (Aminah 2000).

Skala hedonik merupakan penskalaan yang digunakan untuk berbagai situasi yang bertujuan untuk mengenal pasti sensasi, sikap serta sebagai bahan referensi.  Skala ini penting dalam stimulasi fisik, penumpuan serta memberikan hasil berdasarkan kekuatan sesuatu produk dari segi rasa, bau, sentuhan dan penglihatan.  Skala ini juga mengukur kecenderungan konsumen melalui respon yang diberikan berdasarkan tingkat kesukaan individu tersebut.  Skala hedonik juga bisa digunakan untuk menilai produk makanan, minuman dan juga produk bukan makanan   (Lawless & Heymann 1999).

Menurut Bovell-Benjamin et al. (1999) skala hedonik dengan menggunakan skala 9 titik merupakan skala yang paling sesuai.  Sedangkan Aminah (2000) pula berpendapat bahawa skala 7 titik adalah skala yang paling baik digunakan karena dapat menghindari dari kesukaran menterjemah maksud setiap titik pada skala tersebut.  Skala ini boleh dikembangkan untuk menguji produk baru atau untuk membandingkan dengan produk yang sudah ada di pasaran. Jumlah panel yang digunakan sangat berpengaruh terhadap penerimaan sesuatu produk.  Di samping itu juga tempat, umur panel melakukan ujian sensori juga merupakan hal yang penting.  Stone & Sidel (2004) menyatakan 25 – 50 panel dari laboratorium,  100 atau lebih panel dalam lokasi test, dan 50 – 100 famili untuk rumah sudah mencukupi.

Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengoptimumkan sata kajian yang diperoleh serta untuk melihat penerimaan produk sata pada bangsa Indonesia, Melayu dan Cina dengan penilaian sensori.


RESPONS TUNAS KAKTUS PADA BERBAGAI KONSENTRASI NAA DAN BAP SECARA IN VITRO

Mardhiah Hayati

 

ABSTRACT

The research was arranged in a factorial completely randomized design 3 x 3 with 5 replicates. Factors evaluated were concentration of NAA (0, 2, 4 mgl-1), and concentration of BAP (0, 3, 6 mgl-1). Variables observed were initiation time, shoot numbers, shoot height, root number at 2 and 4 weeks after culturing (WAC) and life percentage, dead percentage, contamination percentage. The results showed that NAA significantly affected initiation time and shoot numbers at 4 WAC.  The best initiation time was found at concentration of  NAA 4 mgl-1 and the best shoot numbers was found at concentration of NAA 2 dan 4 mgl-1. BAP had significant effect on  shoot number 4 WAC, shoot height 2 WAC, and root numbers at 2 and 4 WAC.  The best shoot numbers and shoot height were found at  BAP 3 mgl-1 but did not significantly differ from BAP 6 mgl-1.  The best root numbers, however, was at no BAP.  There was no significant interaction between both factors.

Keywords: NAA, BAP, cactus.

 


PENDAHULUAN

 

Kaktus (Mammillaria myriacantha) adalah tanaman hortikultura yang berasal dari Benua Amerika. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat karena penampilannya yang unik dan khas (Djaafarer dan Budiatmaja, 1987). Tanaman kaktus ternyata tidak hanya dikenal sebagai tanaman hias saja. Kaktus juga biasa menghasilkan buah yang dikenal dengan prickly pear cactus yang nikmat rasanya dan dikonsumsi dalam bentuk segar atau dikeringkan  (Tim Trubus, 2001).

Jenis kaktus tertentu kadang-kadang mengalami penyimpangan dari bentuk aslinya. Kaktus yang seperti ini diberi istilah Cristata. Menurut Djaafarer (1987), kaktus-kaktus yang Cristata ini termasuk kaktus yang istimewa dan langka, sebab bentuk Cristata tidak dapat diperbanyak melalui biji (generatif). Apabila biji kaktus yang dihasilkan induk kaktus yang Cristata ini ditumbuhkan maka akan kembali kepada bentuk normalnya. Hal inilah yang menyebabkan harga kaktus yang Cristata menjadi sangat mahal.

Menurut Hasjim (1987), tidak hanya kaktus Cristata yang sulit di perbanyak dengan biji, kaktus-kaktus tertentu seperti Echinocactus grusonii atau yang lebih populer dengan sebutan Golden Ball sangat sulit diperbanyak dengan biji, karena bunganya baru muncul setelah berumur puluhan tahun.

Perbanyakan kaktus secara vegetatif dilakukan dengan menyetek, memisahkan anakan dan menyambung, namun setek dan anakan hanya terbatas pada jenis kaktus yang memiliki percabangan dan anakan yang cukup banyak. Cara ini tidak efektif untuk jenis kaktus yang tumbuh secara tunggal, berbatang pendek, dan jenis kaktus yang berbatang panjang tetapi tidak memiliki anakan. Sedangkan penyambungan hanya menciptakan jenis-jenis kaktus baru untuk mengatasi kejenuhan pasar (Endah dan Tim Lentera, 2002; Arif, 1990). Djaafarer dan Budiatmaja (1987) juga menyatakan bahwa penyetekan kaktus tidak dapat dilakukan terhadap semua jenis, hanya pada jenis-jenis kaktus yang banyak bercabang.

Mengatasi permasalahan sistem konvensional di atas yang umumnya masih memerlukan waktu yang cukup lama, saat ini dikembangkan suatu sistem perbanyakan tanaman yang lebih cepat dengan hasil yang lebih banyak, yakni dengan sistem kultur jaringan (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Gunawan (1987) secara luas mendefinisikan kultur jaringan sebagai usaha mengisolasi, menumbuhkan, memperbanyak, dan meregenerasikan protoplas dari sel utuh atau agregat sel, atau bagian tanaman seperti meristem, tunas, daun muda, batang muda, ujung akar, kepala sari dan bakal buah, dalam suatu lingkungan aseptik yang terkendali.

Pola perkembangan eksplan di dalam kultur jaringan dipengaruhi oleh jenis, jumlah, dan perbandingan zat-zat pengatur tumbuh yang digunakan. Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin memegang peranan penting. Auksin dan sitokonin tidak hanya menentukan tumbuhnya jaringan yang dikulturkan, tetapi bagaimana jaringan itu tumbuh (Skoog dan Miller,  dalam Yusnita 2003).

Wetter dan Constable (1991) juga menyatakan bahwa organogenesis merujuk kepada proses yang menginduksi pembentukan jaringan, sel, atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan. Benziladenin dan sitokinin lainnya, baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan golongan auksin dan kadang-kadang dengan asam giberelat, menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas. Pembentukan akar dapat terjadi serentak atau diinduksi sesudahnya.

Auksin sintetik seperti NAA (Naftalen Asam Asetat) dan 2,4-D(2,4-Dikhlorofenoksi asetat) biasanya lebih efektif daripada IAA (Indol Asam Asetat), karena NAA dan 2,4-D tidak dirusak oleh IAA oksidase atau enzim lain sehingga dapat bertahan lebih lama dan lebih stabil, namun penggunaan 2,4-D dalam kultur jaringan cenderung dihindari karena 2,4-D dapat menginduksi kalus dari eksplan, kecuali untuk tujuan demikian (Salisbury dan Ross, 1995; Hendaryono dan Wijayani, 1994). Selanjutnya Wetter dan Constable (1991), menyatakan bahwa NAA, IAA, dan IBA dapat digunakan dalam media dengan kadar seperti sitokinin, tetapi NAA lebih baik digunakan karena lebih stabil.

Golongan sitokinin yang aktif adalah BAP (N6– benzyl amino purine) dan Thidiazuron. Kasus-kasus tertentu menunjukkan thidiazuron lebih aktif dari pada BAP, namun setiap tanaman akan menunjukkan respons yang berbeda, sehingga tidak dapat dikatakan auksin atau sitokinin yang terbaik karena regenerasi juga ditentukan oleh faktor internal yang tidak diketahui (Gunawan, 1995).

Pierik (1987) menyatakan, auksin alami (IAA) biasa digunakan dengan konsentrasi 0,01-10 mg/l, dan untuk auksin sintetik (IBA, NAA, dan 2,4-D) yang relatif lebih aktif digunakan pada konsentrasi 0,001-10 mg/l. sedangkan BAP biasa digunakan dengan konsentrasi lebih tinggi (1-10 mg/l) dimana dapat merangsang pembentukan tunas, tetapi biasanya menghambat terbentuknya akar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons mata tunas kaktus terhadap berbagai konsentrasi NAA dan BAP serta interaksi antara NAA dan BAP secara in vitro.


PENGARUH VARIETAS KACANG TANAH DAN WAKTU TANAM JAGUNG MANIS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADA SISTEM TUMPANGSARI

Effect of Ground Nut Varieties and Sweat Corn Planting Time  through Intercropping System on Growth and Yield of the Two Plants

Lukman Nulhakim and Muhammad Hatta

ABSTRACT

The aim of this research was to know the effect of sweat corn planting time and ground nuts varieties, and interaction between them, on both growth and yield in intercropping system. This research was conducted at Cot Cut village, Kota Baro regency, Aceh Besar sub district, from June to October 2007. Treatments were arranged by Factorial Completely Randomized Block Design 3 x 4 with 3 replicates. Sweat corn planting time consisted of 0, 15, 30 and 45 days after ground nut planting, and ground nuts varieties consisted of Putih, Merah and Gajah. Each plot were 3,5 m x 3,5 m in size, the planting spacing for sweat corn was 100 cm x 75 cm, and for ground nut was 25 cm x 25 cm. Manure was 12,25 kg/plot, applicated 1 week before ground nut planting. Urea for ground nuts was 0,12 kg/plot, applicated at ground nuts planting. Urea for sweat corn was 0,37 kg/plot, applicated 1 week after each planting times. TSP and KCl were given at ground nut planting. The results showed that 0 day after ground nut planting was the best for sweat corn growth, but 15 days after ground nut planting was the best for sweat corn yield. Variety of Putih was the best for both plants growth and yield. There was interaction between both treatments on ear of sweat corn diameters.  The best combination was  Putih variety planted at the same time with sweat corn

Keywords: Ground nut varieties, sweat corn planting time, intercropping

Artikel lengkap dapat anda pesan

Caranya

1. Tulis pesanan anda di komentar blog ini atau kirim ke email :   hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com

2.  Donasikan  Rp 50.000,- ke rekening

1050095020990

Bank Mandiri

3. Konfirmasikan donasi anda dengan sms ke nomor  hp:081360016837

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda

Catatan: pengiriman hanya dengan email