PENGGUNAAN GUANO DAN PUPUK NPK-MUTIARA UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS MEDIA SUBSOIL DAN PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

Use of Guano and Fertilizer NPK to Improve Quality

of Subsoil Media and Growth of Oil Palm Seedling

Mukhtaruddin, Sufardi, dan Ashabul Anhar

email:mukhtaruddin13@gmail.com

ABSTRACT

Utilization of subsoil as a growing medium for the nursery is a challenge to replace the role of topsoil as media for oil palm nurseries mainly on main nursery. This research was aimed at studying the effects of organic Guano and inorganic NPK fertilizer on oil palm seedling growth on sub soil growing media. The experiment was conducted in a pot, arranged in a randomized complete block design (RCBD), factorial 4×3 with 3 replicates. There were two factors examined, 1) guano dose consisting of four levels, namely: 0 kg, 0.5 kg, 1.0 kg and 1.5 kg/polybags and 2) inorganic fertilizers NPK consisting of three levels, namely: 0, 15, and 30 g/polybags. The results showed that subsoil can be used for growing media with applications of fertilizer Guano and inorganic NPK fertilizer. Guano and NPK fertilizer affected several soil chemical properties, i.e. increase in soil pH, available total C and N and P, and cation exchange capacity (CEC) and affected growth of oil palm seedling at age 16 weeks after planting. The best combination for the best seedling growth was obtained at 1.5 kg Guano + 30 kg NPK.

Keywords: Guano, NPK fertilizer, soil media quality, seed growth


PENDAHULUAN

Kelapa Sawit (Elaeis guineennsis Jack) merupakan komoditas perkebunan yang memberi kontribusi penting terhadap perekonomian Indonesia. Produknya tidak hanya untuk menyuplai kebutuhan industri di dalam negeri, tetapi permintaan pasar ekspor juga semakin meningkat serta memiliki nilai ekonomis tinggi dan menjaga ketahanan pangan serta ketahanan energi. Kondisi ini menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan di masa mendatang. Hal ini dapat dilihat dari keunggulan kelapa sawit itu sendiri maupun permintaan pasar yang kian meningkat (Maruli, 2012).

Produksi kelapa sawit sangat ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik dan faktor luar seperti iklim, tanah, dan budidaya. Pertumbuhan bibit yang baik dan sehat akan diperoleh jika perlakuan di pembibitan optimal. Perlakuan tersebut dimulai dengan melaksanakan penyiraman, pengendalian organisme pengganggu Tanaman (OPT), dan pemberian pupuk yang tepat dan seimbang. Pemupukan dimulai pada umur dua minggu setelah bibit dipindahkan ke main nursery. Jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk majemuk NPK dan pupuk Kiesserit (Maruli, 2012; Satyawibawa dan Widyastuti, 1992). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas bibit kelapa sawit, satu di antaranya adalah media tanam yang akan digunakan pada pembibitan. Media tanam pada umumnya digunakan tanah lapisan atas (topsoil) yang subur. Namun pada daerah-daerah tertentu topsoil telah sulit didapatkan, hal itu disebabkan oleh penggunaannya yang secara terus menerus ataupun terkikis akibat erosi sehingga ketersediaannya semakin menipis.

Berkaitan dengan persoalan tersebut, maka pemanfaatan tanah lapisan bawah (subsoil) akan menjadi alternatif untuk menggantikan peran topsoil sebagai media tanam untuk bibit tanaman perkebunan di pembibitan. Hal ini disebabkan subsoil relatif lebih banyak tersedia dan mudah dijumpai dalam jumlah yang cukup besar di lapangan, di bandingkan dengan topsoil (Hidayat, et al, 2007). Penggunaan tanah lapisan bawah ini tentu akan menjadi tantangan karena secara fisik tanah ini relatif kurang subur dan miskin unsur haranya, serta mengandung bahan organik yang sangat rendah sehingga memerlukan penambahan bahan amelioran. Kandungan bahan organik yang rendah ini dapat diatasi dengan pemberian pupuk organik misalnya Guano, pupuk kandang, dan kompos atau bahan organik lainnya, sedangkan rendahnya kandungan dan ketersediaan hara dapat diperbaiki dengan pemberian pupuk NPK.

Pupuk guano adalah pupuk yang berasal dari kotoran kelelawar dan sudah mengendap lama di dalam gua dan telah bercampur dengan tanah dan bakteri pengurai. Pupuk guano ini mengandung nitrogen, fosfor dan potasium yang sangat bagus untuk mendukung pertumbuhan, merangsang akar, memperkuat batang bibit, serta mengandung semua unsur mikro yang dibutuhkan oleh bibit (Rasantika, 2009). Lebih lanjut Rasantika (2009) menyatakan bahwa guano mengandung 19 % fosfor dalam bentuk P2O5 yang di dalam tanaman sebagai penyusun senyawa ATP yang diperlukan dalam proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat (Mengel dan Kikrby, 2010; Sufardi, 2012). Pupuk anorganik merupakan pupuk buatan yang mengandung unsur hara tertentu yang dapat dipenuhi sesuai kebutuhan bibit, sehingga dapat dengan mudah mengatur penggunaannya terhadap kebutuhan hara bibit. Salah satu pupuk kimia yang dianjurkan adalah pupuk majemuk N-P-K (15-15-15). Pemupukan NPK ini dapat dilakukan setiap bulan sekali dengan dosis. bibit berumur 4–6 bulan sebanyak 20 gram setiap polibag hingga 30-40 gram setiap polibag pada umur di atas 7-18 bulan (Sutedjo, 2002).

Penggunaan secara kombinasi antara pupuk organik dan pupuk anorganik diharapkan akan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap sifat-sifat tanah subsoil sehingga dapat menggantikan peran topsoil sebagai media tanam pembibitan kelapa sawit terutama pada main nursery. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan bibit kelapa sawit pada media tumbuh subsoil yang diberi pupuk Guano dan pupuk anorganik NPK di pembibitan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: