PENGARUH UMUR SIMPAN DAN SKARIFIKASI TERHADAP VIABILITAS BENIH SIRSAK (Annona muricata L)

Effects of Storage Life and Scarification on Seed Viability of Soursop

(Annona muricata L)

Noflindawati

email : noflindawatialfathani@yahoo.co.id

ABSTRACT

Seed viability is influenced by genetic factors, seed ages, and the physical properties of the seed itself. This research was aimed at determining effects of seed storage life and scarification on seed viability of soursop. The experiment was conducted from March to May 2013 in Sumani Experimental Tropical Fruit Research Institute Solok, West Sumatra. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with four replications. The study consisted of two sets of treatments. The first was seed storage, i.e., 6 months storage and without storage and the second one was seed scarification, i.e. without scarification and scarified seeds. The results showed that the soursop seeds that were stored for six months decreased germination rate (GR) from 82.5% to 65.0% and decreased maximum growth potential (MGP) from 86.0% to 70.5% but did not decrease vigor index and seedling height. In addition, seed scarification lowered vigor index and dry weight of normal seedling. Unscarified seeds did not lower GR and this suggests that scarification by cutting the base of the seeds is not effective for soursop seed.

Keywords: storage, scarification, soursop

 

PENDAHULUAN

Sirsak (Annona muricata L.) berasal dari Amerika Utara dan menyebar ke darah tropis serta berkembang di Suriname Amerika dan Venezuela. Buah sirsak dimakan segar apabila daging (exocarpnya) sudah lunak, warnanya putih dan lembut serta memiliki banyak biji yang berwarna hitam (Doijode 2001). Selain itu, sirsak dapat dijadikan bahan olahan untuk dodol, sirop dan produk kecantikan.

Masyarakat Indonesia telah mengenal luas tanaman sirsak, tanaman ini dapat tumbuh di perkarangan. Pada awalnya, sirsak merupakan tanaman liar dan setelah dikembangkan lebih banyak sebagai tanaman pekarangan. Buah sirsak terdiri atas 67% daging buah yang bisa dimakan, 20% kulit, 8,5% biji, dan selebihnya berupa bagian tengah buah (Verheij dan Coronel 1997). Ditambahkan Radi (1998), biji sirsak berwarna coklat agak kehitaman dan keras, berujung tumpul, permukaan halus mengkilat dengan ukuran panjang kira-kira 16,8 mm dan lebar 9,6 mm. jumlah biji dalam satu buah bervariasi, berkisar antara 20-70 butir biji normal, sedangkan yang tidak normal berwarna putih kecoklatan dan tidak berisi..

Sirsak merupakan buah yang prospektif dikembangkan karena manfaatnya yang multiguna, selain menjadi olahan produk kecantikan juga bahan mentah farmakologi. Pengembangan sirsak tidak terlepas dari ketersediaan benih dalam jumlah yang banyak dan waktu yang tepat. Tanaman Sirsak diperbanyak melalui biji dan dapat tumbuh baik pada tanah liat berpasir.

Benih sirsak akan kehilangan viabilitasnya setelah 210 hari simpan pada suhu kamar atau 300 C (Doijode, 2001). Benih sirsak memiliki kulit yang tebal dan keras sehingga bersifat impermiabel terhadap air dan gas sehingga menghambat perkecambahan. Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang dapat ditunjukkan dalam fenomena pertumbuhannya, gejala metabolisme, kinerja kromosom atau garis viabilitas sedangkan viabilitas potensial adalah parameter viabilitas dari suatu lot benih yang menunjukkan kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal yang berproduksi normal pada kondisi lapang yang optimum. Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih (Sadjad et al., 1993).

Selama periode waktu tertentu sesudah panen, pada umumnya biji dari kebanyakan tanaman menghendaki beberapa syarat khusus untuk dapat memulai perkecambahan. Biji-biji ini pada umumnya akan berkecambah segera pada keadaan lingkungan yang hampir bersamaan, akan tetapi biji dari tanaman tertentu terutama biji rumputan menghendaki keadaan lingkungan khusus untuk dapat berkecambah.

Menurut Ilyas (2012) dormansi didefinisikan sebagai status dimana benih tidak berkecambah walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk dormansi primer dan sekunder. Tipe dormansi ini biasanya berkaitan dengan sifat fisik kulit benih (seed coat). Tetapi kondisi cahaya ideal dan stimulus lingkungan lainnya untuk perkecambahan mungkin tidak tersedia.

Selanjutnya Ilyas (2012) menjelaskan benih yang impermeabel terhadap air dikenal sebagai benih keras (hard seed). Metode pematahan dormansi eksogen adalah skarifikasi mekanis untuk menipiskan testa, pemanasan, pendinginan (chilling), perendaman dalam air mendidih, dan pergantian suhu drastis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: