PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

Effect of Organic and Inorganic Fertilizer on Growth and Yield of Soybean

(Glycine max ( L. ) Merrill )

Nahra Fahmi, Syamsuddin, dan Ainun Marliah

E-mail: ainun.marliah@yahoo.com

 

ABSTRACT

The research was aimed at determining effects of organic fertilizer D.I Grow and inorganic fertilizer NPK Yara Mila on growth and yield of soybean. The experiment was arranged in a completely randomized (CRD) 4 x 4 with 3 replications. There were two factors observed, that were 1) concentration of organic fertilizer D.I Grow, consisting of 4 levels : 0 mL/L of water, 1 mL/L of water, 3 mL/L of water and 5 mL/L of water, and 2) inorganic fertilizer NPK, consisting of 4 levels : 0 g/plant, 2,5 g/plant, 5,0 g/plant and 7,5 g/plant. Results showed that the concentration of fertilizer D.I Grow exerted highly significant effects on dry seed weight per plant, yield potential, and significant effects on plant height at 30 and 45 days after planting (DAP), stem diameter at 45 DAP, and seed dry weight of 100 grains, but did not exert significant effects on plant height at 15 DAP and stem diameter at 15 and 30 DAP. The best growth and yield were obtained at a concentration of DI Grow 5 mL /L of water. NPK fertilizer significantly affected plant height at 45 DAP, stem diameter at 30 and 45 DAP, dry seed weight per plant, and yield potential, but did not significantly affect plant height of 15 and 30 DAP, stem diameter at 15 DAP, weight of 100 grain and seed dry weight of 100 grains. The best growth and yield were obtained at a dose of 7.5 g NPK/plant. There were highly significant interactions between concentration of D.I Grow and dosage of NPK on dry seed weight per plant and yield potential. The best yield was obtained at a combination of D.I Grow 5 mL/L of water and 7.5 g of NPK plant .

Keyword : organic fertilizer, inorganic fertilizer, soybean, D.I Grow, NPK


PENDAHULUAN

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan tanaman pangan yang termasuk ke dalam famili Leguminosae, yang berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara), kemudian menyebar ke daerah Mansyuria, Jepang, Korea, India, Australia, dan negara-negara lain di Amerika dan Afrika. Tanaman ini dibudidayakan di Indonesia mulai abad ke-XVI sebagai bahan pangan (Purwono dan Purnamawati, 2008).

Kedelai merupakan bahan pangan penghasil sumber protein nabati yang tinggi dan murah. Kandungan protein mencapai lebih dari 40% dan lemak 10-15% (Adisarwanto, 2009). Kedelai digunakan dalam berbagai bahan pangan, seperti pada pembuatan tempe, tahu, susu kedelai, touge dan minyak nabati. Polong muda kedelai dapat dimanfaatkan sebagai sayur. Selain itu, limbah dari pembuatan tahu juga dapat digunakan sebagai campuran pakan ternak (Purwono dan Purnamawati, 2008).

Sampai saat ini kebutuhan kedelai terus meningkat dan belum dapat diimbangi oleh produksi nasional, sedangkan luas areal tanaman kedelai di Indonesia dari tahun ke tahun terus menurun. Dari tahun 1995 hingga 2007, luas areal tanam kedelai mengalami penurunan cukup signifikan, yaitu sekitar 61,75%. Produksi kedelai pada tahun 2005 mencapai 808.353 ton dengan produktivitas 1,30 ton/ha (Purwono dan Purnamawati, 2008). Permintaan kedelai pada tahun 2011 mencapai 2,8 juta ton, sementara produksi kedelai nasional hanya mencapai 1,2 juta ton (Cahyono, 2007). Produksi kedelai hanya mampu mengisi sekitar 50% dari total konsumsi dalam negeri, sedangkan sisanya dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat (Nainggolan, 1999).

Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai di Indonesia, baik secara ekstensifikasi maupun secara intensifikasi, salah salah cara intensifikasi adalah dengan pemupukan yang tepat. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik.

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat bahan organik, yang diperbaharui dan dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur-unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air (Karren, 2007). Salah satunya adalah dengan menggunakan sisa-sisa tanaman yang telah didekomposisi menjadi kompos atau diekstraksi menjadi pupuk cair organik, seperti pupuk organik cair D.I (Diamond Interest) Grow.

D.I Grow adalah pupuk organik cair yang berkualitas tinggi, terbuat dari ekstraksi rumput laut Acadian seaweed dari jenis Ascophylum nodosum (sejenis alga coklat) yang diambil dari Lautan Atlantik Utara, diproses dengan Nano Teknologi (USA Formula Technology). Pupuk D.I Grow mengandung unsur hara lengkap baik makro dan mikro, asam amino, zat perangsang tumbuh (auksin, sitokinin, giberellin), asam humik (humus penyubur tanah). D.I Grow terbagi menjadi dua yaitu D.I Grow hijau digunakan pada fase pertumbuhan (vegetatif) dan D.I Grow merah digunakan pada fase pembungaan dan pembuahan (generatif) (Anonim, 2010).

Pupuk D.I Grow adalah pupuk organik yang sangat banyak peranannya, diantaranya meningkatkan pertumbuhan akar, batang daun dan tunas/anak tanaman, meningkatkan penyebaran nutrisi dari dalam tanah oleh akar, mencegah kerontokan bunga, buah dan daun. Selain itu pupuk D.I Grow dapat meningkatkan jumlah dan ukuran daun, bunga dan buah, meningkatkan kualitas warna bunga dan rasa buah, mempercepat masa panen, meningkatkan hasil panen, memperpanjang masa penyimpanan hasil panen (bunga atau buah tidak mudah layu/busuk), meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama/penyakit dan memperpanjang usia produksi tanaman. Konsentrasi D.I Grow yang dianjurkan secara umum untuk tanaman pangan adalah 3 mL/L air, sedangkan untuk tanaman kacang-kacangan, konsentrasi D.I Grow belum diketahui secara tepat.

Selain menggunakan pupuk organik, untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk anorganik. Sistem pertanian anorganik merupakan sistem pertanian dengan menggunakan pupuk kimia sebagai bahan dasar pemupukan. Pemupukan adalah penambahan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sesuai dengan dosis yang dianjurkan (Cahyono, 2007). Salah satu pupuk anorganik adalah pupuk NPK Mutiara Yara Mila (16:16:16), merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro N, P dan K masing-masing 16%. Unsur hara N,P dan K tersebut sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Dosis anjuran pupuk NPK Mutiara Yara Mila (16:16:16) adalah 1000 kg/ha, atau setara dengan 5 g/tanaman dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 25 cm. Berdasarkan permasalahan di atas, belum diketahui konsentrasi pupuk organik cair D.I Grow dan dosis NPK Mutiara Yara Mila yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: