PENGARUH PEMUPUKAN KALIUM TERHADAP PERKEMBANGAN POPULASI KUTU DAUN (Aphis glycines Matsumura) DAN HASIL KEDELAI

Effecs of Potassium Fertilization on Growth Population of Aphid

(Aphis glycines Matsumura) and Soybean Yield

Hendrival, Latifah, dan Idawati

email: hendrival@yahoo.com

 

ABSTRACT

The research was aimed at studying effects of potassium on the development of Aphis glycines populations and soybean yield. The experiment was conducted in Village Rayeuk Naleung, Sub district Tanah Luas, District North Aceh from July to September 2013. The experiment was arranged in a randomized complete block design (RCBD) with 3 replicates. The treatment was without fertilizer, potassium fertilizer at a dose of 25 kg/ha K2O, 50 kg K2O/ha and 75 kg K2O/ha. The variables observed were populations of A. glycines and components of yield soybean. The results showed that potassium at doses of 75 kg K2O/ha can reduce populations of A. glycines and soybean yield increase as compared to potassium fertilization at a dose of 25 kg/ha K2O and 50 kg K2O/ha.

Keywords: Aphis glycines, potassium, soybean


PENDAHULUAN

Kutu daun Aphis glycines (soybean aphid) merupakan salah satu hama yang berkembang dalam koloni besar dan menyebabkan kehilangan hasil mencapai 58% pada tanaman kedelai (Wang et al., 1994). A. glycines kedelai memiliki tipe mulut menusuk mengisap yang digunakan untuk mengambil cairan dari jaringan floem. A. glycines mengisap cairan tanaman pada daun, batang, dan polong. Namun demikian A. glycines banyak dijumpai pada permukaan bawah daun (Tilmon et al., 2011; McCornack et al., 2008). A. glycines yang menyerang tanaman kedelai dapat menyebabkan penurunan kapasitas fotosintesis (Macedo et al., 2003). Populasi A. glycines yang tinggi dapat mengurangi produksi kedelai secara langsung melalui beberapa kerusakan seperti kerdil, distorsi daun, dan mengurangi kualitas polong yang dihasilkan (Sun et al. 1991). Jumlah polong yang terbentuk berkurang, berukuran kecil, dan berbelang (Baliadi, 2007). A. glycines dapat menularkan virus tanaman (Clark & Perry, 2002) dari berbagai virus (Wang et al., 2006) seperti soybean mosaic virus (SMV), alfalfa mosaic virus (AMV), soybean stunt virus (SSV), peanut stripe virus (PStV), peanut mottle virus (PMoV), bean yellow mosaic virus (BYMV), dan blakeye cowpea mosaic virus (BICMV). Semakin muda tanaman yang terserang vektor dan terinfeksi virus yang ditularkan, semakin besar kerugian yang dapat ditimbulkan (Balliadi et al., 2007).

Ukuran koloni A. glycines dipengaruhi oleh faktor ekologi seperti temperatur dan musuh alami seperti predator dan parasitoid, namun ukuran koloni juga dipengaruhi oleh kualitas nutrisi cairan dari jaringan tanaman inang. Pertumbuhan populasi kutu daun yang menyerang tanaman kedelai dibatasi oleh kualitas nutrisi tanaman inangnya. Komponen yang membatasi dari nutrisi A. glycines adalah kandungan nitrogen, yang memiliki konsentrasi rendah dalam jaringan floem (Tilmon et al., 2011). Pertumbuhan populasi A. glycines mengalami peningkatan pada kedelai karena meningkatnya konsentrasi nitrogen pada jaringan floem akibat kekurangan kalium dalam tanah ((Difonzo & Hines, 2002, Myers et al., 2005; Walter & DiFonzo, 2007; Noma et al., 2010). Kekurangan unsur hara kalium pada tanaman kedelai dapat meningkatkan populasi hama A. glycines (Myers et al., 2005) yang disebabkan oleh rendahnya kandungan asam amino dalam jaringan floem (Bruulsema et al., 2010). Pertumbuhan populasi A. glycines memiliki korelasi negatif dengan kandungan unsur hara makro seperti kalium (Myers & Gratton, 2006).

Pemupukan merupakan salah satu cara untuk menambahkan hara ke dalam tanah, sehingga tersedia unsur hara bagi tanaman. Pemupukan tidak hanya dapat meningkatkan hasil panen, tetapi juga mempengaruhi kesesuaian tanaman untuk perkembangan hama, walaupun tergantung pada jenis pupuk dan spesies hama (Difonzo & Hines, 2002). Kalium merupakan unsur yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman setelah nitrogen. Tanaman kedelai seperti kebanyakan jenis tanaman kacang-kacangan lainnya, membutuhkan kalium dalam jumlah yang tinggi, sehingga sangat peka terhadap kekurangan kalium. Oleh karena itu pengujian atau pengukuran kadar kalium melalui pemberian pupuk perlu dilakukan dalam usaha pencapaian efisiensi dan efektivitas pemupukan kalium pada tanaman kedelai. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemupukan kalium terhadap perkembangan populasi hama A. glycines dan hasil kedelai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: