PEMBERIAN KALIUM PADA TANAH GAMBUT TERHADAP PRODUKSI, VIABILITAS, DAN VIGOR BENIH BEBERAPA VARIETAS KACANG TANAH

Potassium Application to Peat Soilon Yield and Seeds Vigor and Viability of

Several Peanut Varieties

T. Sarwanidas, Syamsuddin, dan Teti Arabia

tsarwanidas@yahool.com

ABSTRACT

The research was aimed at finding out the relationship between potassium dosages on peats soil, yield, seedvigor, and viability of peanut. The experiment was arranged ina completely randomized design (CRD), factorial 5 x 4 with 3 replications. Potassium application was consisted of 5 levels: 0 kg ha-1, 25 kg ha-1, 50 kg ha-1, 75 kg ha-1, and 100 kg ha-1. Variety was consisted of 4 levels : Naga Umbang, Jerapah, Gajah and Bison. Variables observed were yield, seed vigor, and seed viability. Results showed that potassium did not exert significant effects on all variables observed, except on seed vigor and viability. Varieties significantly affected yield, where Bison provided the best dried pod weight and Jerapah gave the best seed vigor and viability. No significant interaction existed between varieties and dosage of K fertilizer on the peanut yield, seed vigor, and seed viability.

Keywords : peanut, peat soil, seed quality


PENDAHULUAN

Keterbatasan lahan produktif menyebabkan ekstensifikasi lahan mengarah pada lahan-lahan marginal. Lahan gambut merupakan salah satu lahan marginal yang relatif jarang dipergunakan untuk pemukiman penduduk sehingga kemungkinan konflik tata guna lahan relatif kecil. Luas areal gambut di Indonesia diperkirakan 13-14 juta ha yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Di Aceh luas lahan gambut mencakup areal seluas 274.051 ha, diantaranya 105.417 ha (38,40 %) tersebar di pesisir pantai kabupaten Aceh Barat sedangkan sisanya tersebar di Kabupaten Aceh Selatan seluas 168.634 ha (61.60 %) (Wahyunto et al., 2005).

Penggunaan lahan gambut sebagai lahan pertanian, banyak mengalami kendala terutama berkaitan dengan sifat fisik dan kimia tanah yang kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman. Kemasaman tinggi dan kejenuhan basa yang rendah merupakan penyebab terhambatnya pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi pH tanah yang rendah yaitu 3,1-3,4 mengakibatkan beberapa unsur hara menjadi kahat (Noor, 2000).

Tanah gambut memiliki keterbatasan berupa ketersediaan unsur hara yang rendah, terutama hara kalium, reaksi tanah sangat masam dan kejenuhan basa yang rendah (Tadano et al., 1992). Tanah gambut sebagai media tumbuh memerlukan berbagai input untuk menciptakan kondisi optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan. Variasi input yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian pupuk kalium (Sabiham, 1997).

Pemberian KCl pada usaha tani kacang tanah pada tingkat petani belum mendapatkan perhatian yang serius. Sementara pemupukan lainnya seperti pupuk Urea dan phosfor telah banyak diberikan oleh petani. Dampak dari keadaan tingkat inovasi teknologi ini membuat sebagian besar biji kacang tanah tidak berisi dengan bernas, namun pertumbuhan vegetatif cukup baik. Suprapto (2000) mengatakan penambahan kalium memegang peranan penting dalam peningkatan produksi kacang tanah. Ronoprawiro (1996) mengatakan bahwa kacang tanah memerlukan pasokan kalium yang cukup selama pertumbuhannya.

Menurut Rosmarkum (2002), apabila tanaman kacang tanah kekurangan K, maka banyak proses yang tidak berjalan dengan baik, misalnya terjadinya akumulasi karbohidrat, menurunnya kadar pati dan akumulasi senyawa nitrogen dalam tanaman.

Dosis anjuran pupuk KCl menurut Sumarno (1986) berkisar antara 75-100 kg ha-1 atau setara dengan 45-60 kg K2O ha-1. Sementara menurut Suprapto (2000) pemberian pupuk kalium (K2O) sebagaipupuk dasar dengan dosis berkisar antara 50-60 kg K2O ha-1. Menurut Ronoprawiro (1996), kacang tanah memerlukan kalium pada saat awal pertumbuhan dan saat pengisian polong. Sutejo (1998), mengatakan pupuk K sangat diperlukan kacang tanah saat awal pertumbuhan, saat pembentukan ginofor dan saat pengisian polong.

Pengembangan kacang tanah pada lahan gambut masih kurang diminati. Hal ini disebabkan oleh tingkat produktivitas yang masih rendah. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan daya guna lahan gambut, diantaranya dengan reklamasi dan penerapan teknologi budidaya, pemupukan berimbang dan penggunaan benih unggul.

Introduksi varietas-varietas unggul baru merupakan salah satu alternatif untuk mempercepat proses alih teknologi pada tingkat petani. Namun beberapa varietas pada daerah tertentu unggul, belum tentu mempunyai keunggulan pada daerah-daerah lain. Oleh karena itu perlu dikaji sejauhmana varietas baru kacang tanah dengan penambahan kalium untuk menghasilkan produksi yang maksimal dengan mutu biji yang baik, sekaligus diperoleh varietas yang adaptif pada lahan gambut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis kalium dan varietas terhadap pertumbuhan, produksi serta viabilitas dan vigor benih kacang tanah pada tanah gambut. Di samping itu penelitian ini juga untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: