PERANAN BERBAGAI JENIS BAHAN PEMBENAH TANAH TERHADAP STATUS HARA P DAN PERKEMBANGAN AKAR KEDELAI PADA TANAH GAMBUT ASAL AJAMU SUMATERA UTARA

Role of Various Ameliorans on P Nutrient and  Soybean Root Development in Peat Soil of Ajamu North Sumatera

Nurhayati, Razali, dan Zuraida

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala,

Banda Aceh, Indonesia. email: nhayati87@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The purpose of this research was to evaluate the influence of some types of soil ameliorans (lime, sea mud and some types of soil microorganisms) on P nutrient and soybean root development in peat soil. The experiment was carried out in the Greenhouse of Agriculture Faculty of USU, Soil Biology Laboratory, Central Laboratory of Agriculture Faculty of USU and Laboratory of Soil analysis at RISPA, from March to November 2011. The experiment was arranged in a completely randomized design, consisted of 13 treatments and two replicates. The treatments included control, dolomite lime, sea mud, lime + sea mud, Bradyrhizobium, mos, Mycorrhizal isolate of peat soil, mycorrhizal isolate of mineral soil, Bradyrhizobium + mos, mos + mycorrhizal isolate of peat soil isolates, mos + mineral soil mycorrhizal isolate, Bradyrhizobium + mos + mycorrhizal isolate of peat soil, Bradyrhizobium + mos + mycorrhizal isolate of mineral soil. Variables observed included soil pH, soil P available, plant P uptake, and weight of root dry. Types of amelioran exerted significant effect on soil pH, but did not exert significant effects on soil P available, plant P uptake, and weight of dry root.

Keywords: peat soil, soil amelioran, soil microorganism, P nutrient

 

PENDAHULUAN

Menurut Noor (2001), secara kimiawi, sifat tanah gambut yang utama adalah kemasaman tanah, ketersediaan hara tanah, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, kadar asam organik tanah, kadar pirit atau sulfur.

Tanah gambut di Indonesia mempunyai pH berkisar antara 2,8 – 4,5 dan kemasaman potensial mencapai >5 cmol/kg, ketersediaan unsur-unsur makro N, P, K, serta jumlah unsur mikro pada umumnya juga rendah. Namun dibandingkan dengan tanah mineral tanah gambut mempunyai kapasitas fiksasi P sangat rendah, karena itu ketersediaan P pada tanah gambut umumnya lebih baik daripada tanah mineral. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut cukup tinggi apabila dihitung berdasarkan berat bahan kering mutlak 115-270 cmol/kg, kejenuhan basa (KB) tanah gambut umumnya rendah pada kisaran 5,4-13 % dengan rasio C/N tinggi yaitu 24-33,4 (Suhardjo dan Widjhaya-Adhi, 1976).

Tanah gambut mengandung bahan organik yang tinggi tetapi sangat bertolak belakang dengan kandungan unsur hara tanahnya. Hal ini disebabkan proses dekomposisi bahan organik belum sempurna, sehingga status hara tanah gambut sangat miskin. Di samping itu bentuk hara P pada tanah gambut didominasi bentuk P organik yang disebut fosfolipida. Fosfolipida tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman, oleh karena itu mikoriza sangat berperan untuk menghidrolisis fosfolipida dan kemudian menghasilkan enzim fosfatase yang dapat mengubah senyawa fosfor menjadi tersedia bagi tanaman. Menurut Sutanto (2002), mikoriza dapat menghemat pupuk fosfat sekitar 20% sampai 30%.

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa jenis bahan pembenah tanah (kapur, lumpur laut, dan beberapa jenis mikroorganisme tanah) terhadap status hara P dan perkembangan akar kedelai pada tanah gambut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: