PENGARUH PEMBERIAN HARA FOSFOR TERHADAP STATUS HARA FOSFOR JARINGAN, PRODUKSI DAN KUALITAS BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.)

Effects of Phosphorous Fertilization on Phosphorous Tissue, Yield, and Quality of Mangosteen Fruit (Garcinia mangostana L.)

Safrizal

Staf Pengajar Fakultas Pertanian UNIMAL

Jl. Cot Tgk.Nie Reulet, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara,

Provinsi Aceh.Telp 0645-41373. Email: safrizalsarong@yahoo.com

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to determine phosphorous nutrient tissue, yield, and quality of mangosteen in diverse of phosphorous doses. The experiment was arranged in a randomized complete block design. Phosphorous doses evaluated were 0, 300, 600, 900, and 1200 g P/plant. The result showed that phosphorous fertilization increased of concentration mangosteen phosphorous tissue and yield per plant. However, phosphorous did not increase growth and fruits quality of mangosteen.

Keywords: phosphorous doses, yield, quality, mangosteen

 

PENDAHULUAN

Manggis mendapat julukan “Queen of tropical fruits” merupakan buah segar terbanyak diekspor Indonesia, sehingga termasuk komoditas ekspor unggulan dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor manggis Indonesia hingga 2009 cenderung meningkat dan mencapai 6.012 ton dengan nilai US $ 5.885.038 atau sekitar 44% dari total ekspor buah-buahan Indonesia (BPS 2010). Meningkatnya volume ekspor menuntut upaya peningkatan pengembangannya karena masih rendahnya kuantitas maupun kontinuitas produksi (Poerwanto, 2003).

Produksi manggis yang diperdagangkan saat ini umumnya berkualitas rendah karena berasal dari hutan manggis atau pekarangan yang belum tersentuh teknik budidaya. Di sisi lain, untuk keberhasilan produksi dan kualitas yang baik, diperlukan teknik budidaya yang baik dan input produksi memadai. Salah satunya pemupukan khususnya fosfor.

Fosfor merupakan salah satu dari tiga unsur hara makro paling penting bersama nitrogen dan kalium bagi tanaman manggis. Fosfat tidak direduksi dalam tanaman seperti halnya nitrat dan sulfat, melainkan tetap dalam bentuk teroksidasi. Fosfor setelah diserap pada pH fisiologis sebagai H2PO4, tidak saja tetap sebagai P-anorganik namun juga diesterifikasi melalui grup hidroksil ke rantai C (C-O-P) yang merupakan bentuk sederhana P-ester (Sugar P), ataupun terikat dengan P lainnya dengan ikatan pirofosfat membentuk senyawa kaya energi (ATP). Konversi orthofosfat menjadi bentuk organik terjadi dengan cepat dalam tanaman, di mana 80% dari P yang diserap diubah menjadi bentuk organik dalam waktu 10 menit, namun setelah itu dilepaskan kembali sebagai P anorganik dan masuk ke dalam xylem (Marschner, 1995).

Fosfor berperan penting dalam aktivitas fotosintesis, karena terkait dengan kandungan karbohidrat sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Fotosintesis merupakan proses metabolisme utama yang mempengaruhi sistem metabolisme dan proses fisiologi lainnya yang berkaitan dengan penyediaan ATP dan kerangka karbon dalam lintasan respirasi, mengendalikan sistem transpor, sebagai penghantar signal bagi fungsi-fungsi akar yang juga berkaitan dengan zat pengatur tumbuh sitokinin pada saat pucuk terinduksi, metabolisme nitrogen dan beberapa pengaruh tidak langsung dalam proses fisiologis lainnya (Marschner, 1995).

Fosfor menyusun sekitar 0,1–1,0% bahan kering tanaman dan merupakan komponen kunci biomolekul seperti asam nukleat, fosfolipid, P-ester dan ATP. Peran lainnya dari fosfor sangat penting karena tanaman tidak akan tumbuh dengan baik tanpa ketersediaan fosfor yang cukup (Dobermann dan Fairhurst, 2000).

Dalam jaringan tanaman, fosfat tidak pernah berkurang dan tetap tinggi dalam bentuk teroksidasi. Fosfor merupakan hara yang mudah diredistribusi dari organ satu ke organ lainnya, mudah hilang dari daun yang lebih tua dan terakumulasi ke daun yang muda (Salisburry dan Ross, 1992). Fungsi lainnya dari fosfor adalah sebagai konstituen struktur makromolekul yang sangat menonjol pada asam nukleat yaitu sebagai jembatan antara dua unit ribonukleosida dan juga konstituen senyawa pembentuk energi (ATP dan ADP).

Fosfor berperan dalam menambah daya tahan tanaman, merangsang pertumbuhan jaringan pada saat membentuk titik tumbuh, serta berperan penting dalam pemindahan energi antara ATP dan ADP, fosfor juga berperan dalam proses biologis, penyusun metabolik dan senyawa kompleks serta aktivator berbagai enzim (Taiz dan Zeiger, 2002).

Menurut Fukuara (1988), fosfor merupakan unsur hara tanaman yang dapat larut dalam tanah dan jumlahnya sedikit. Permukaan akar yang terbatas menyebabkan difusi fosfat lambat dan adanya fiksasi oleh mineral yang menyebabkan konsentrasi dalam larutan cepat berkurang. Pada pH tinggi fosfor difiksasi oleh Ca, sedangkan pada pH rendah difiksasi oleh Al dan Fe. Pengaruh pemupukan fosfor dapat ditingkatkan dengan memperbesar kemampuan akar tanaman dalam menyerap unsur hara.

Tanaman manggis sebagai tanaman tahunan agar dapat berproduksi maksimal setiap tahunnya, maka diperlukan pemupukan fosfor yang teratur. Acuan pemupukan pada tanaman manggis belum tersedia secara memadai untuk dijadikan landasan pemupukan fosfor. Oleh karena itu, perlu dilakukan serangkaian penelitian untuk mempelajari tingkat kebutuhan unsur hara, waktu pemberian dan dosis optimum fosfor yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan rekomendasi pemupukan fosfor dalam budidaya tanaman manggis.

Artikel ini memaparkan hasil studi yang bertujuan mengetahui pengaruh dosis pemupukan fosfor terhadap status hara jaringan daun, produksi dan kualitas buah pada tanaman manggis dewasa dan telah berumur 12 tahun yang memasuki musim berbuah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: