KEMAMPUAN BERTAHAN HIDUP TRICHODERMA HARZIANUM DAN TRICHODERMA VIRENS SETELAH DITUMBUHKAN BERSAMA DENGAN JAMUR PATOGEN TULAR TANAH SECARA IN VITRO

Survivability of Trichoderma harzianum and Trichoderma virens after

Cohabiting with Soil Born Pathogen Fungi

Rina Sriwati, T. Chamzurni, dan L. Kemalasari

Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh, Indonesia. Email: rin_aceh@yahoo.com

ABSTRACT

The experiment was conducted at the Laboratory of Plant Pathology Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from February to June 2013. The purpose of study was to evaluate the survival of T. harzianum and T. virens after cohabiting with soil borne pathogenic fungi (Fusarium sp, Rhigidoporus sp, and Sclerotium sp) as well as the type of interaction. Trichoderma fungi and fungal pathogens were grown on PDA in vitro, and then observed their growth after being reisolated on 3 different growth zones. The results showed that T. harzianum and T. virens growing with Fusarium sp were capable to grow over the space. It was evident from the results of reinoculation on a petridish B (border zone) and C (zone Trichoderma) colonies, that T. harzianum and T. virens regrew, while the pathogens were not able to regrow. When cohabiting with Sclerotium sp and Rhigidoporus sp, antagonistic fungus regrew after reisolation but pathogens also grew on Petridis B (border zone). It indicates that on the contact area (petri dish B), Sclerotium sp and Rhigidoporus sp conduct defense over the competition. Regrowth of fungal pathogens on contact area (border) indicates that the fungus has a high level of competition. Antagonist agents such as T. virens and T. harzianum were able to survive and regrow after cohabiting with fungal pathogens and showed type A interaction (against Fusarium sp), while cohabiting with Sclerotium sp and Rhigidoporus sp showed the type B interaction.

Keywords: Trichoderma harzianum , Trichoderma virens, soil born pathogen, fungi

PENDAHULUAN

Patogen tular tanah hingga saat ini masih menjadi masalah serius yang harus dihadapi oleh petani. Keberadaan dan kemampuan bertahan hidupnya di dalam tanah menjadi salah satu penyebab sulitnya pengendalian terhadap patogen tular tanah. Berbagai cara pengendalian telah diterapkan, tetapi pengendalian secara kimia sintetik paling efektif, karena mampu mengendalikan patogen dengan cepat. Namun, pengendalian dengan menggunakan fungisida kimia sintetik dapat berdampak pada pencemaran lingkungan, punahnya musuh alami, timbulnya residu dalam tanaman dan sering kali gagal dalam menghadapi serangan cendawan patogen yang berat, serta akan menimbulkan risiko kesehatan pada penggunanya. Patogen tular tanah yang menjadi masalah bagi petani di antaranya adalah Fusarium oxysporum merupakan penyebab penyakit layu fusarium, Sclerotium rolfsii penyebab penyakit rebah kecambah, dan Rigidoporus sp. penyebab penyakit Jamur Akar Putih (JAP).

F. oxysporum memiliki kisaran inang yang luas dan dapat menyerang dari perkecambahan sampai tanaman dewasa sehingga kerugian yang ditimbulkan akibat serangan patogen ini sangat besar. F. oxysporum tidak hanya menular melalui tanah dan menginfeksi perakaran tetapi dapat juga menginfeksi organ lain seperti batang, daun, bunga, dan buah, melalui luka. F. oxysporum juga memiliki kemampuan untuk hidup sebagai saprofit yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbulkan penyakit pada tanaman lain,.dan dapat bertahan di dalam tanah mencapai 10 tahun apabila tidak ada inang Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi yang terbawa oleh alat pertanian dan manusia (Djaenuddin, 2011).

S. rolfsii merupakan salah satu patogen yang dapat bertahan hidup di dalam tanah dengan membentuk struktur istirahat yang disebut sklerotia. Di dalam tanah sklerotia dapat bertahan sampai 7 tahun. Dalam keadaan yang kering, sklerotia dapat mengeriput, tetapi ini justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada di lingkungan yang lembab (Semangun 2004). Permukaan sklerotia dapat mengeluarkan eksudat berupa ikatan ion, protein, karbohidrat, enzim endopoligalakturonase dan asam oksalat. Asam oksalat yang dihasilkan S. rolfsii ini bersifat racun bagi tanaman. S. rolfsii mempunyai banyak, tanaman inang antara lain dari famili Leguminoceae (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, dan buncis) (Sumartini, 2011).

Rigidoporus sp. merupakan patogen penyebab penyakit JAP dan menyebar melalui kontak akar, yakni bila akar yang telah terserang JAP bersinggungan dengan akar yang sehat maka terjadilah penularan serangan penyakit (Catharina, 2012). JAP merupakan cendawan polifag, selain menyerang tanaman karet, JAP juga menyerang teh, kopi, kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, nangka, ubi kayu, jati, dan lain- lain (Semangun, 2001). Penyakit akar putih menimbulkan kerugian yang cukup besar di Thailand, Sri Lanka, India Selatan, Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Indonesia. Di daerah asal tanaman karet yaitu Brasilia, penyakit ini kurang menimbulkan kerugian dikarenakan tanah di Brasilia tersebut bereaksi masam sehingga menyebabkan jamur akar putih tidak dapat berkembang dengan baik (Basuki, 1986 dalam Semangun, 2001).

Alternatif pengendalian ramah lingkungan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan ketiga patogen tersebut adalah dengan menggunakan agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum dan Trichoderma virens. Kedua spesies Trichoderma ini telah terbukti mampu mengendalikan serangan berbagai macam patogen. Etebarian et al. (2000) telah menguji bahwa T. harzianum isolat T39 dan T. virens isolat DAR 74290 berpotensi sebagai agen pengendalian hayati penyakit busuk akar dan batang pada kentang dan tomat yang disebabkan oleh jamur Phytopthora erythroseptica. Secara laboratorium, Sriwati (2012) telah meneliti bahwa T. virens mampu menghambat perkembangan P. palmivora (yang merupakan patogen tular tanah) dengan mekanisme antibiosisnya. Kataoka et al. (2010) menyatakan bahwa T. virens menghasilkan antibiotik dan memiliki aktivitas anti jamur yang lebih baik daripada T. harzianum. Sunarwati dan Yoza (2010) menyatakan T. virens yang diuji dalam penelitiannya terbukti sangat mampu menghambat perkembangan P. palmivora dengan persentase hambatan sebesar 100% dengan metode uji ganda. Melihat kemampuan T. harzianum dan T. virens dalam menghambat perkembangan beberapa patogen tular tanah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat kemampuan bertahan hidup dan kolonisasi dari T. harzianum dan T. virens setelah ditumbuhkan secara bersama dengan jamur patogen tular tanah (Fusarium sp, Sclerotium sp, dan Rhigidoporus sp).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: