KARAKTERISASI KUALITAS BUAH EMPAT GENOTIP PEPAYA (Carica papaya L.) KOLEKSI BALAI PENELITIAN TANAMAN BUAH TROPIKA

Characterizing Fruit Quality of Four Papaya Genotypes,

Collection of Tropical Fruit Research Institute

Dewi Fatria dan Noflindawati

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika,

Jl. Raya Solok – Aripan km 8 Solok, Indonesia 27301

Email : noflindawatialfathani@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The research was conducted at Post Harvest Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI) from March to May 2010. The design used was a randomized complete block design with 4 replicates. Papaya genotypes tested were BT-01, BT-02, BT-03, and BT-04. The results showed that papaya genotypes of BT-01, BT-02, BT-03, and BT-04 were not significantly different each other on physical fruit characters i.e. fruit length, fruit width, fruit weight, and stem length. However, the thinnest fruit flesh was found at BT-3 genotype and the thicknest flesh was at BT-2 genotype. The lowest fruit cavity was found at genotype BT-1 and the highest was at the BT-2. The lowest hardness of fruit skin and flesh was found at genotype BT-4 and the highest hardness of skin was at BT-3, while the highest hardness of flesh was at BT-1 and BT-2. Chemical quality of total dissolved solid, vitamin C, acid content, and water content was not significantly different among the four genotypes BT-1, BT-2, BT-3, and BT 4.

Keywords: chemical quality, genotype, papaya, physical quality


PENDAHULUAN

Pepaya ( Carica papaya L.) termasuk keluarga Caricaceaeyang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat.Famili ini terdiri dari empat genus yaitu Carica, Jarilla, Jacaranta dan Cylicomorpha. Tiga genus pertama merupakan asli dari Amerika dan satu genus yaitu Cylicomorpha dari Afrika (Yon, R.Md. 1994). Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu komoditas buah secara internasional, baik dalam bentuk buah segar maupun sebagai produk olahan (Sankat dan Maharaj, 1997).

Peran multiguna pepaya sebagai buah segar, olahan, sayur (baik daun maupun buahnya), penyehat mata oleh karena buah pepaya kaya vitamin A (91,5 IU/100 g), pe­langsing tubuh oleh karena papain penghancur lemak dan vitamin C (55 mg/100 g), pelu­ruh empedu, air seni dan melancarkan ASI serta abortivum (Salunkhe, Bolin dan Reddy, 1991), ditambah lagi secara tradisional mudah dibudidayakan oleh petani, menjadikan komoditas pepaya sebagai salah satu komoditas yang strategis untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Panen energi dari 100 g buah sebesar 46,3 – 49,6 kal dari 12,2 – 15,6% karbohidrat menjadikan buah pepaya sebagai makanan sarapan pagi pada sebagian besar negara penghasil pepaya. Energi yang dihasilkan oleh buah pepaya juga dapat mengganti setengah bagian energi yang dihasilkan oleh 100 g umbi kentang (Salunkhe dan Desai, 1984).

Menurut Verheij dan Coronel (1997), 60% buah pepaya dapat dimakan. Untuk setiap100 g buah pepaya terdiri atas 86,6 g air, 0,5 g protein, 0,3 g lemak, 12,1 g karbohidrat, 0,7 g serat, 0,5 g abu, 204 mg kalium, 34 mg kalsium, 11 mg fosfor,1 mg besi, 74 mg vitamin A, 0,003 mg tiamin,0,5 mg niasin, dan 0,004 riboflavin.

Panen energi dari 100 g buah sebesar 46,3 – 49,6 kal dari 12,2 – 15,6% karbohidrat menjadikan buah pepaya sebagai makanan sarapan pagi pada sebagian besar negara penghasil pepaya. Energi yang dihasilkan oleh buah pepaya juga dapat mengganti setengah bagian energi yang dihasilkan oleh 100 g umbi kentang (Departemen Pertanian, 2008). Produksi buah pepaya di Indonesia berfluktuasi pada tahun 2006 mencapai 643.451 ton (Chan, 1994). Menurut data FAO 2005, menunjukkan bahwa Indonesia merupakan produsen pepaya terbesar ke lima di dunia setelah Brazil, Nigeria, India dan Mexico.

Pada saat proses pemasakan, buah banyak mengalami banyak perubahan fisik dan kimia setelah panen yang menentukan kualitas buah untuk dikonsumsi (Santoso dan Purwoko, 1995). Menurut Pantastico (1989) buah yang berkualitas baik, salah satunya dipengaruhi oleh waktu panen yang tepat, karena mutu buah tidak dapat diperbaiki namun dapat dipertahankan. Buah yang dipanen sebelum matang dapat menghasilkan mutu yang baik serta proses pemasakan yang salah. Penundaan waktu panen buah akan meningkatkan kepekaan terhadap proses pembusukan, serta mutu dan nilai jualnya rendah. Pematangan adalah proses perubahan organ tanaman dari matang secara fisiologis, tetapi belum dapat dimakan. Perkembangan dan pematangan buah sebagian besar selesai pada saat buah masih berada di pohon, sedangkan proses pemasakan dan senesence akan berlanjut hingga buah telah dipetik dari pohonnya.

Penggunaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi dan mempunyai mutu buah lebih baik masih diperlukan dalam pengembangan pepaya di masa depan. Karena pengembangan masih dihadapkan pada persoalan rendahnya produktivitas, ukuran buah yang beragam, postur tanaman yang tinggi dan lambat berbuah, serta rentan terhadap cekaman kekeringan dan genangan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri fisik 4 genotip pepaya koleksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: