PENGARUH JUMLAH RUAS SETEK DAN DOSIS UREA TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK PUCUK NILAM (Pogostemon cablin Benth.)

Effects of Cutting Internode Numbers and Urea Dosages on Bud Cutting Growth of Pogostemon

Erida Nurahmi, Kamarlis Karim, dan Tarmizi

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to study effects of cutting internode numbers and urea dosages, and interaction between them on pogostemon bud cutting growth. This research was done at Kajhu Village, Baitussalam Sub District, Aceh Besar District, Aceh Province, from February 15th to April 15th 2011. Experiment was arranged according to Factorial Randomized Complete Block Design 3 x 3, with 3 replicates. Each of replications was consisted of 3 plants, resulting 81 experimental units. The first factor was cutting internode numbers, consisted of 3 levels, i.e. 2, 3 and 4 internodes. The second factor was urea dosage, also consisted of 3 levels, i.e. 1, 2 and 3 g urea/cutting. All cuttings were planted in polybags; one cutting per polybag, filled with 5 kg of soil, with one internode was inserted into the soil. The result showed that there were highly significant interactions between cutting internode numbers and urea dosages on pogostemon cutting leaves and bud numbers at 60 days after planting, which means that cuttings with different internode numbers responded differently to urea dosage increases. The best one was cutting with 4 internode numbers and the best urea dosage was 2 g/cutting. The best combination was cutting with 2 internodes and 2 g urea/cutting.

Keywords: pogostemon, cutting internode number, urea dosage, bud cutting

 

PENDAHULUAN

Nilam (Pogostemon cablin Benth) atau sering disebut Pogostemon patchouly, merupakan tanaman yang banyak ditanam untuk diambil minyaknya. Indonesia merupakan penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang tiap tahun memasok sekitar 75% kebutuhan dunia. Dari jumlah itu, 60% diproduksi di Provinsi Aceh dan sisanya berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah (Sumangat dan Risfaheri, 1998).

Minyak nilam adalah salah satu dari beberapa jenis minyak atsiri yang antara lain digunakan sebagai bahan baku kosmetik, parfum, antiseptik, sabun, obat dan insektisida (Rukmana, 2004). Dengan berkembangnya industri parfum di dalam dan di luar negeri, kegunaan tanaman nilam menjadi berkembang. Di samping sebagai bahan pewangi, minyak nilam juga digunakan sebagai pengikat bahan pewangi lain, sehingga aroma parfum tersebut dapat bertahan lama (Tasma, 1998 dalam Mardani, 2005).

Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang dan tunas tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchouly alcohol yang berkisar antara 30-50 %. Aromanya segar dan khas mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis (Rusli, 1991). Sampai saat ini belum ditemukan bahan sintetis atau bahan pengganti yang dapat menyamai manfaat minyak nilam ini. Oleh sebab itu, kondisi dan potensi minyak nilam tersebut merupakan basic power (Mangun, 2005).

Tanaman nilam mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan, dan dimantapkan perannya sebagai salah satu komoditi penghasil devisa negara dan sumber pendapatan bagi petani. Masalah yang dihadapi dalam budidaya nilam saat ini antara lain masih rendahnya produktivitas yaitu sekitar 2 ton daun kering/hektar/tahun, dan kualitas minyak nilam yang masih sangat beragam, sementara budidaya tanaman nilam yang baik produktivitasnya dapat mencapai sekitar 4 ton daun kering/hektar/tahun (Syakir dan Moko, 1988).

Sehubungan dengan masih rendahnya produktivitas perlu dilakukan upaya ke arah peningkatan produksi dengan cara perluasan areal dan peremajaan. Budidaya nilam secara intensif dalam skala luas akan menambah jumlah produksi yang dihasilkan. Dalam perluasan per-kebunan ini dibutuhkan bahan tanam (bibit) dalam jumlah yang banyak (Wahid, Wikardi dan Asma, 1990).

Tanaman nilam umumnya diperbanyak dengan setek. Setek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, cabang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Keuntungan perbanyakan dengan setek adalah tanaman baru yang diperoleh mempunyai sifat yang sama dengan induknya, umur seragam, dan waktu perbanyakan lebih singkat untuk memperoleh tanaman dalam jumlah banyak (Wudianto 1998).

Menurut Kantarli (1993, dalam Danu dan Nurhasybi, 2003), faktor yang mempengaruhi keberhasilan setek berakar dan tumbuh baik adalah bahan seteknya dan perlakuan terhadap bahan setek di pembibitan. Hal yang perlu diperhatikan terkait bahan setek adalah jumlah ruas yang digunakan, yaitu 2 ruas atau lebih (Mardani, 2005). Melalui jumlah ruas yang tepat diharapkan akan diperoleh pertumbuhan bibit setek yang maksimum.

Hal yang perlu diperhatikan terkait perlakuan terhadap bahan setek di pembibitan adalah pemupukan, terutama dosis urea. Pupuk urea adalah pupuk yang mengandung unsur Nitrogen sebanyak 45% yang berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti pembentukan klorofil, membentuk lemak, protein dan memacu pertumbuhan daun, batang dan akar (Marsono, 2005). Menurut Rukmana (2004), pemberian pupuk urea dengan dosis 250 kg/ha, 280 kg/ha dan 560 kg/ha dapat berpengaruh baik terhadap pertumbuhan nilam, namun belum didapatkan hasil yang maksimum. Melalui pemupukan dengan dosis urea yang tepat diharapkan akan diperoleh hasil setek yang baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah ruas setek dan dosis pupuk urea, serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan setek nilam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: