PENGUJIAN PENGHAMBATAN AKTIVITAS MAKAN DARI EKSTRAK DAUN Lantana camara L. (Verbenaceae) TERHADAP LARVA Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae)

 

Evaluation of Antifeedant activity of Leaf Extract Lantana camara L. (Verbenaceae) against Larva Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae)

 

Khaidir dan Hendrival

 

 

ABSTRACT

Research on antifeedant activity of n-hexane leaf extract Lantana camara and its active fractions were evaluated for their insecticidal activity against Plutella xylostella larvae. The method included extraction, fractionation, and examination antifeedant leaf extract L. camara and fractions active against P. xylostella larvae. Extract application was conducted using a residue feeding method. Fractionation of active compounds from extract n-hexane was conducted by liquid vacuum chromatography, using phase silent silicate gel GF254 and phase mobility n-hexane, ethyl acetate, and methanol (elusion gradient), which produce fractions A, B, C, D, and E. Extract leaf L. camara and fractions possessed antifeedant activity against P. xylostella larvae. Extract leaf L. camara at concentration of 1% caused larva antifeedant activity up to 78.47%. Fraction E caused a higher larva antifeedant activity (85,52%) than extract and other fractions did.

 

Keywords: antifeedant, Lantana camara, Plutella xylostella

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Plutella xylostella merupakan hama utama pada tanaman sawi dan kubis di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia (Setiawati, 2000). P. xylostella bersifat oligofag yang hanya menyerang tanaman dari famili Cruciferae (Talekar
& Shelton, 1993) dan menyerang tanaman mulai dari persemaian sampai panen (Shelton et al. 2000). Apabila tidak dilakukan pengendalian, kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan hama P. xylostella dapat mencapai sampai 100% terutama pada musim kemarau (Setiawati, 2000). Sampai saat ini upaya pengendalian masih mengutamakan penggunaan insek-tisida sintetik seperti profenofos, permetrin, deltametrin, diafenturon, dan derivat bensamid. Mening-katnya penggunaan insektisida sintetik memiliki dampak negatif seperti resistensi hama, resurjensi hama, munculnya hama sekunder, dan terbunuhnya musuh alami (predator dan parasitoid seperti Diadegma semiclausum) (Udiarto & Sastrosiswojo, 1997).

Upaya-upaya untuk menekan serangan hama P. xylostella terus dilakukan melalui pencarian strategi-strategi pengendalian dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia yang lebih aman terhadap produk tanaman, lingkungan, dan serangga hama sendiri. Pengen-dalian serangga hama dengan menggunakan senyawa-senyawa yang bersifat menghambat aktivitas makan memberikan beberapa kele-bihan seperti tidak menimbulkan resistensi, selektivitas yang tinggi, dapat membantu dalam pemecahan masalah resistensi, mudah terde-gradasi dan relatif tidak beracun terhadap manusia. Dengan adanya kelebihan-kelebihan tersebut, senya-wa kimia tumbuhan yang bersifat demikian dapat memenuhi persya-ratan dalam sistem pengendalian hama terpadu sehingga aplikasinya dapat dipadukan dengan komponen strategi pengendalian yang lainnya (Dadang & Ohsawa, 2000). Penggunaan senyawa-senyawa kimia dari tumbuhan yang dapat meng-hambat aktivitas makan serangga sebagai agen pengendalian serangga hama telah menarik banyak perhatian para peneliti (Isman, 2002).

Aplikasi senyawa-senyawa yang dapat bersifat penghambatan aktivitas makan serangga dapat memberikan kontribusi dalam kegiatan pengendalian serangga hama. Penggunaan secara praktis senyawa-senyawa penghambat akti-vitas makan serangga dapat dilakukan pada beberapa tahap dalam budidaya tanaman seperti pembibitan padi atau aplikasi pada buah-buah yang siap panen. Tumbuhan memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya terhadap serangan organisme lain termasuk serangga fitofag baik secara fisik maupun kimia. Banyak senyawa-senyawa kimia seperti dari kelompok terpenoid, alkaloid, dan fenol yang telah diisolasi dari berbagai tumbuhan mempunyai aktivitas penghambatan makan serangga (Dadang & Ohsawa, 2000).

Beberapa famili tumbuhan yang memiliki sumber insektisida nabati adalah Meliaceae, Annonaceae, Piperaceae, Asteraceae, Zingiberaceae, Solanaceae, dan Verbenaceae (Dadang, 1999). L. camara (Verbenaceae) merupakan tumbuhan perdu yang banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis (Ghisalberti, 2000) serta tergolong dalam 10 gulma yang berbahaya di dunia (Sharma et al., 2005). Gulma L. camara umum dijumpai pada semua daerah perkebunan karet di Sumatera Utara dan Aceh (Nasution, 1984). Gulma selain menimbulkan kerugian ter-hadap tanaman melalui persaingan, gulma juga bermanfaat sebagai insektisida. L. camara dilaporkan memiliki sifat insektisidal, anti-ovoposisi, penghambatan aktivitas makan, penghambatan pertumbuhan, efek kematian terhadap serangga hama di lapangan dan di gudang penyimpanan (Pandey et al., 1986;
Ogendo et al., 2003; Deshmukhe et al., 2011; Hendrival & Khaidir, 2012; Sousa & Costa, 2012). Bagian tumbuhan L. camara yang dapat digunakan sebagai insektisida adalah bunga dan daun (Morallo-Rejesus, 1986). Penelitian bertujuan untuk mempelajari potensi daun L. camara yang memberikan pengaruh penghambatan aktivitas makan larva P. xylostella.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: