KEEFEKTIFAN EKSTRAK DAUN PARE (Momordica charantia) DALAM MENGENDALIKAN Crocidokomia pavonana F. PADA TANAMAN SAWI

 

Effectiveness of Leaf Extract of Bitter Melon (Momordica charantia) In Controling Crocidokomia pavonana F. On Mustard

Hasnah, Husni, dan Nezpi Noza Purnama

 

 

ABSTRACT

The purpose of this study was to obtain effective concentrations of leaf extracts of bitter melon in controlling Crocidolomia pavonana on mustard (Brassia juncea Linn). The experiment was conducted at Laboratory of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agricultural Kuala University, Banda Aceh. The study took place from August to November 2010. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD), with six concentration of 0, 5, 10, 15, 20, and 25 ml/L solution. Each treatment was repeated 4 times to obtain 24 units of the experiment. Variables observed were mortality of larvae C. pavonana, formed pupa percentage, emerging imago percentage and feeding deterrent percentage. The results showed that application of leaf extract of M. charatia could control C. pavonana on mustard. The higher concentration of the leaf extract was given, the more effective control was against C. pavonana on mustard plant. The use of leaf extracts M. charantia in concentration of 20% was able to control C. pavonana up to 60%.

 

Keywords: bitter melon, Crocidokomia pavonana, mustard, leaf exttact

 

 

 

PENDAHULUAN

Salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman sawi adalah adanya serangan hama Crocidolomia pavonana yang dapat menurunkan hasil produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Akibat serangan hama ini dapat menggagalkan panen, terutama pada musim kemarau (Cahyono, 1995 dalam Santoso & Sumarmi, 2008).

Pada umumnya pengendalian hama yang dilakukan oleh petani sawi di Indonesia adalah secara kimiawi dengan menggunakan insektisida sintetik. Penggunaan insektisida cenderung berlebihan, bersifat preventif dan dilakukan secara terjadwal (Suyanto, 1994). Akibat meningkatnya penggunaan insektisida sintetik, bertambah pula permasalahan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh residu bahan kimia tersebut terhadap kelestarian lingkungan, biotik maupun abiotik (Oka, 1995).

Pemerintah telah menerapkan konsep pengendalian hama terin-tegrasi pada pembudidayaan tanaman hortikultura, salah satu komponen utamanya adalah pemanfaatan insektisida nabati (Kardinan, 1997). Mardiningsih & Tobing (1994), menyebutkan bahwa insektisida nabati relatif lebih mudah didapat, aman terhadap organisme bukan sasaran dan mudah terurai di alam sehingga tidak menimbulkan polusi.

Penggunaan ekstrak tumbuh-an sebagai salah satu sumber insektisida nabati didasarkan atas pemikiran bahwa terdapat meka-nisme pertahanan dari tumbuhan akibat interaksinya dengan serangga pemakan tumbuhan, salah satunya adalah adanya senyawa metabolik sekunder dari tumbuhan yang bersifat sebagai penolak (repellent), penghambat makan (antifeedant/ feeding deterrent), penghambat perkembangan (Insect Growth Regulator/ IGR), dan penolak peneluran (oviposition repellent/ deterrent), dan sebagai bahan kimia yang mematikan serangga dengan cepat (Prijono, 1999).

Salah satu tanaman yang bersifat insektisida nabati adalah tanaman pare (Momordica charantia). Pemanfaatan tanaman ini cukup beragam terutama sekali digunakan untuk bahan obat modern. Senyawa aktif yang terdapat dalam daun pare antara lain momordisin, momordin, karantin, resin, minyak lemak, saponin, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba. Selain itu, di dalam daun pare terkandung alkaloid yang berfungsi sebagai insektisida (Utami & Prapti, 2003).

Cara kerja senyawa-senyawa tersebut yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, minyak lemak dan momordisin adalah dengan bertindak sebagai racun perut. Bila senyawa-senyawa ini masuk ke dalam tubuh larva, maka alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu senyawa ini juga menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya, dan mengakibatkan larva mati kelaparan (Cahyadi, 2009).

Hasil penelitian Ling et al. (2008), menunjukkan bahwa senyawa momordisin I dan II yang terkandung dalam daun pare mempunyai sifat antifeedan yang penting terhadap larva Plutella xylostela. LC50 untuk momordisin II terhadap larva P. xylotela pada instar 2 dan 3 yaitu 76,69 µg/ml dan 116,24 µg/ml, sedangkan momordisin I adalah 144,08 µg/ml dan 168,42 µg/ml. oleh karena itu, senyawa momordisin I dan II sangat berperan dalam proses penghambatan perkembangan dan pertumbuhan larva P. xylostela. Momordisin I lebih beracun dibandingkan momordisin II. Selanjutnya hasil penelitian terhadap Liriomyza sativae bahwa pada konsentrasi 4000 µg/ml dapat menghambat makan sampai 78,02 % dan menghambat proses peletakan telur sampai 78,36% (Ling et al., 2009).

Hasil penelitian Cahyadi (2009) bahwa, aplikasi ekstrak daun pare pada larva Artemia sali, menghasilkan LC50 pada 519,226 µg/ml. Selanjutnya penelitian Dharma (2011) dengan penggunaan ekstrak daun pare sebanyak 100mg mampu menghambat makan sampai 85% dari larva Spodoptera litura dengan menggunakan pelarut metanol.

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang keefektifan ekstrak daun pare
(M. charantia) dalam mengendalikan hama C. pavonana pada tanaman sawi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun pare yang efektif dalam mengendalikan C. pavonana pada tanaman sawi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: