INDUKSI EMBRIO SOMATIK DARI TANAMAN KAKAO ADAPTIVE ACEH MENGGUNAKAN EKSPLAN BUNGA SERTA ZAT PENGATUR TUMBUH PICLORAM

Induction of Embryo Somatic From Cacao Adaptive Aceh Using Flower Eksplant with Plant Growth Regulator Picloram

 

Zuyasna dan Siti Hafsah

 

ABSTRACT

 

In order to fulfill the cocoa revitalization program, relatively large quantities of seedling are needed. Tissue culture is one of the alternative techniques for vegetative propagation that produce the large numbers of seedlings and uniform in a relatively short time, and also does not depend on the season. A preliminary study to induce callus and embryo somatic cocoa clones adaptive in Aceh has been carried out using immature flower parts of cocoa. The result showed that picloram was able to produce somatic embryos of staminode of various explants. Callus growth began to appear after two weeks on staminode, and then were subcultured into the same medium to produce secondary somatic embryos.

 

Keywords: picloram, BAP, cacao, callus, somatic embryo

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Benih kakao termasuk salah satu benih rekalsitran dengan daya simpan yang pendek. Benih rekalsitran dalam penyimpanan mempunyai kandungan air lebih dari 20%, tidak tahan dikeringkan dan tidak tahan disimpan pada suhu rendah (Pence, 1992; Benson, 2000; Fang et al., 2004). Benih kakao yang dikeluarkan dari buahnya dapat berkecambah dalam waktu 3-4 hari dan segera akan kehilangan daya kecambahnya jika setelah hari ke 4 belum ditanam. Di samping daya simpan yang pendek, kekurangan lain dari benih kakao adalah sifat heterogenitas tanaman yang baru diketahui setelah tanaman berumur 4-5 tahun. Hal ini dapat merugikan petani jika ternyata bibit yang ditanam dari benih memiliki sifat yang tidak sama seperti induknya atau tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Perbanyakan tanaman kakao sampai saat ini paling banyak dilakukan secara generatif (75-90%) melalui benih hibrida F1 (inter clonal hybrid). Sebenarnya perbanyakan secara generatif melalui benih relatif lebih mudah tetapi tanaman yang dihasilkan mempunyai sifat yang tidak seragam (Maximova et al., 2002). Perbanyakan secara vegetatif lebih sulit dibandingkan dengan per-banyakan secara generatif, namun tanaman yang dihasilkan lebih seragam. Tanaman kakao yang berasal dari perbanyakan vegetatif (10-25%) pada umumnya diperoleh melalui metode stek, sambungan dan okulasi (entres) (Winarsih et al, 2003). Bibit kakao asal perbanyakan vegetatif saat ini belum dapat memenuhi permintaan akan bibit kakao dalam jumlah besar, karena sangat dibatasi oleh jumlah tunas dan cabang yang siap disetek, disambung, dan diokulasi. Bibit kakao yang dapat meng-hasilkan tanaman yang sama baiknya dengan induk unggulnya sangat diperlukan. Salah satu alternatif adalah dengan me-manfaatkan bibit asal organ vegetatif yang dihasilkan melalui teknik kultur jaringan dengan proses embriogenesis somatik.

Perbanyakan secara in vitro melalui embriogenesis menye-diakan sarana untuk menghasilkan sejumlah besar tanaman yang identik secara genetik dan sering merupakan tanaman yang bebas patogen. Teknik ini juga dapat digunakan untuk mengembangkan sistem transformasi genetik atau untuk melestarikan plasma nutfah melalui kriopreservasi embrio somatik. Namun, agar teknik ini dapat diaplikasikan dan ekonomis, penting dilakukan optimalisasi variabel sistem untuk mendapatkan embrio berkualitas dengan tingkat multiplikasi yang tinggi.

Beberapa penelitian kultur jaringan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia untuk menghasilkan bibit kakao hasil kultur jaringan melalui proses regenerasi embriogenesis somatik telah dilakukan (Winarsih & Priyono, 1995; Winarsih et al., 2002; Winarsih et al., 2003). Peneliti dari Negara lain juga mengembangkan regenerasi kakao melalui proses embriogenesis somatik (Mayolo et al., 2003; Alemanno et al., 2003; Traore et al., 2003). Jenis eksplan kakao yang sudah diteliti daya regenerasinya adalah daun muda, nuselus, embriozigotik muda biji genotipe dan seluruh bagian-bagian bunga termasuk antera (Sondahl et al., 1993; Alemanno et al., 1997; Li et al., 1998).

Meskipun telah banyak dilakukan penelitian di berbagai Negara tentang perbanyakan kakao menggunakan teknik kultur jaringan dan induksi embrio somatik, akan tetapi belum diperoleh hasil yang memuaskan. Hal ini mungkin disebabkan adanya perbedaan respons masing-masing genotipe terhadap media kultur yang digunakan. Oleh karena itu produksi massal bibit kakao klon-klon baru dengan teknik kultur jaringan masih perlu penelitian lebih lanjut, terutama sekali terhadap klon-klon adaptif di Aceh.

Menurut Karp (1995), banyak bukti menunjukkan variasi somaklonal dipengaruhi oleh pemilihan jenis zat pengatur tumbuh terutama sekali besarnya konsentrasi dalam media. Zat pengatur tumbuh dapat berfungsi seperti mutagen. Menurut Shoemaker et al. (1991), frekuensi variasi somaklonal sangat tergantung pada konsentrasi auksin yang digunakan dalam medium induksi embrio somatik.

    Sumber eksplan sangat penting dalam menginduksi variasi somaklonal. Semakin tua atau semakin khusus suatu jaringan, maka akan semakin besar variasi yang diperoleh dari tanaman yang diregenerasikan. Menurut Karp (1995) pada tahun 1976 Bush et al. melaporkan bahwa tanaman Chrysanthemun yang diregene-rasikan dari petal lebih mampu berbunga dan lebih tinggi ketidakhormatannya daripada tanaman yang dihasilkan dari pedikel. Sedangkan menurut Sutjahjo (1994) pada tahun 1980 Roest & Bokelman menyatakan bahwa eksplan yang berasal dari daun atau bagian daun memberikan keragaman genetik yang lebih besar daripada bagian tanaman lainnya.

Berdasarkan pengalaman peneliti pada induksi embrio somatik pada tanaman kacang tanah, bahwa penggunaan teknik kultur jaringan mampu mengubah karakter suatu tanaman. Perubahan yang terjadi akibat perlakuan pada teknik kultur jaringan bisa mengarah pada perbaikan ataupun penurunan suatu karakter, dan hal ini mengindikasikan terjadinya keragaman somaklonal (Zuyasna et al. 2005). Adanya keragaman somaklonal yang terjadi dalam teknik kultur jaringan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan klon-klon baru yang memiliki sifat yang diinginkan pada suatu tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya variasi somaklonal di antara sel atau jaringan tanaman yang dikulturkan secara in vitro yaitu: lamanya jaringan dalam kultur in vitro, sumber eksplan yang dipakai, tipe regenerasi yang digunakan, genotipe tanaman donor, konsentrasi dan tipe zat pengatur tumbuh yang digunakan atau digunakannya kondisi selektif dalam media in vitro (Amberger et al. 1992; Skirvin et al. 1993).

     Berdasarkan penjelasan di atas, kami melakukan pengkajian terhadap klon kakao yang adaptif di Aceh guna mendapatkan metode perbanyakan tanaman secara kultur jaringan melalui pendekatan embrio somatik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: