PENGARUH CAIRAN PERASAN BEBERAPA JENIS DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN CENDAWAN ENDOFIT Trichoderma Sp. SECARA INVITRO

Rina Sriwati, Susanna, Putri Yuni

ABSTRACT

The study, aimed at investigating effects of several types of leaf juice liquids on growth of endophytic fungi Trichoderma sp. in vitro has been carried out in Laboratory of Plant Pathology, Faculty of Agriculture Unsyiah, Banda Aceh. The study started with preparation of liquids squeezed from leaves of four types of plant: cocoa leaf, maranggo tree, neem, and lead tree. Experiment used a completely randomized design non faktorial, consisted of 5 treatments and 4 replications. Variables measured were incubation period of spores, spore colony diameter, spore color, and spore number. Results showed that treatment of several types of leaf juice liquid exerted a highly significant effect on incubation period and spore colony diameter of fungi Trichoderma sp. The fastest incubation period (2.25 days) and the longest colony diameter (9.00 cm) were found at juice liquid of lead tree leaves. The longest incubation period (3:53 today) was found at cocoa leaf juice likuid, while the shortest colony diameter (4.98 cm) was found at juice of maranggo tree leaves. Use of all liquid leaves in various media did not affect spore numbers, although the media with juice of lead tree leave had more Trichoderma sp. than that of other media.

PENDAHULUAN

Cendawan endofit adalah cendawan yang hidup di dalam jaringan tanaman pada periode tertentu dan mampu hidup dengan membentuk koloni dalam jaringan tanaman tanpa membahayakan inangnya.

Kemampuan cendawan endo-fit memproduksi senyawa metabolit sekunder sesuai dengan tanaman inangnya merupakan peluang yang sangat besar dan dapat diandalkan untuk memproduksi metabolit sekunder dari mikroba endofit yang diisolasi dari tanaman inangnya tersebut. Dari sekitar 300.000 jenis tanaman yang tersebar di muka bumi ini, masing-masing tanaman mengan-dung satu atau lebih mikroba endofit yang terdiri dari bakteri dan jamur (Balittro, 2008).

Interaksi tanaman dengan cendawan endofit mampu meng-kolonisasi inangnya dan tumbuh dengan tidak menimbulkan gejala dalam jaringan tanaman yang diinfeksinya sehingga tanaman tetap sehat (Petrini, 1991). Penelitian tentang interaksi tanaman dengan cendawan endofit sudah banyak dilakukan antara lain intercellular symbionts antara endophytik ascomycota famili Clavicipitaceae yang berkembang dalam jaringan tanaman (Clay & Schardl, 2002).

Hasil penelitian Sriwati et al, (2009) melaporkan, bahwa terdapat beberapa spesies cendawan endofit yang berasosiasi pada daun kakao dari Aceh Timur salah satu di antaranya adalah cendawan Trichoderma sp. Trichoderma merupakan salah satu mikro organisme antagonis yang mampu menekan patogen dan mikroorganisme yang dapat diguna-kan sebagai biokontrol terhadap cendawan patogen. Pemanfaatan cendawan Trichoderma juga berpo-tensi sebagai pengendali hayati karena bersifat antagonis terhadap beberapa patogen tanaman, seperti Fusarium sp, Rhizoctonia solani dan Phytium (Ramada, 2008).

Arnold & Herre (2003), menjelaskan bahwa cendawan endofit sangat sensitif terhadap bahan kimia yang dihasilkan oleh daun tanaman, terutama komponen fenolik yang bersifat antifungi (Colley & Kursar,1996), senyawa-senyawa tersebut adalah inhibitor yang menghambat pertumbuhan sebagian jenis cendawan. Cannon & Simmon (2002) menyatakan bahwa senyawa kimia yang terkandung dalam daun tanaman berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan cendawan endofit.

Dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan. Ada beberapa tanaman naungan yang digunakan, antara lain tanaman nimba, sentang, dan lamtoro. Tanaman-tanaman tersebut merupa-kan tanaman pelindung dan mempunyai banyak fungsi yang sering terdapat pada perkebunan kakao. Akhir-akhir ini nimba dan sentang dikenal sebagai jenis tanaman yang menghasilkan berbagai zat aktif, salah satu bahan aktif tersebut adalah azadirachtin suatu senyawa triterpenoid yang berguna sebagai sumber terbaik untuk biopestisida (Zakiah, et al, 2003). Sementara ekstrak daun lamtoro selain berfungsi sebagai pupuk organik juga sebagai pestisida nabati (Soerodjotanoso, 1993). Cannon & Simmon (2002) menyatakan bahwa senyawa kimia yang terkandung dalam daun tanaman berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan cendawan endofit. Untuk ketahanan Trichoderma sebagai cendawan endofit pada tanaman, maka perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan Trichoderma seperti suhu, pH, kelembaban yang optimum dan senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman.

Berdasarkan uraian di atas dengan asumsi bahwa cendawan Trichoderma sensitif terhadap bahan kimia yang terkandung di dalam beberapa jenis daun, maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat pengaruh ekstrak beberapa daun tanaman terhadap pertumbuhan cendawan Trichoderma asal kakao.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: