KEEFEKTIFAN CENDAWAN Beauveria bassiana Vuill TERHADAP MORTALITAS KEPIK HIJAU Nezara viridula L. PADA STADIA NIMFA DAN IMAGO

Hasnah, Susanna, dan Husin Sably

ABSTRACT

The objectives of the study was to obtain an effective concentration of B. bassiana to control pests of N. Viridula. Experiment was performed at Laboratory of Pest, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University Darussalam, Banda Aceh. The experiment used a faktorial completely randomized design (CRD). Factors evaluated were (1) concentration of B. bassiana consisting of three levels: 2 gL-1 distilled water, 4 gL-1 distilled water, and 6 gL-1 distilled water, and (2) stadia of N. viridula consisting of 2 levels: third instar nymphs and imago. Variable observed were incubation period, mortality of N. viridula, time of death, and percentage of feeding inhibition. The results showed that concentration of B. bassiana and stadia of N. viridula had no effect on incubation period of fungus B. bassiana. Concentration of B. bassiana affected mortality and time of death of nymph and imago N. viridula. Concentration of fungus B. bassiana affected percentage of feeding inhibition. In general, fungus B. bassiana had a high potential on controlling insect N. viridula.

Keywords: Beaveria bassiana, Nezara viridula

PENDAHULUAN

Nezara viridula L. (Hemiptera: Pentatomidae) ditemukan di seluruh daerah tropis dan subtropis yang memakan berbagai bagian dari tanaman, dan dapat dikenal dari warna hijau yang seragam serta panjangnya sekitar 16 mm sehingga dinamakan kepik hijau. Di Indonesia, hama ini telah berkali-kali diberitakan terdapat pada tanaman padi (di tangkai, daun, dan bulir), jagung, tembakau, kentang, cabai, kapas, jeruk, buncis dan berbagai tanaman polong yang buahnya juga ikut dihisap (Kalshoven, 1981).

Kepik hijau bersifat kosmopolit, menyebar mulai dari Eropa Selatan, Afrika Selatan, Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Australia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Harahap dam Tjahjono, 2004). Menurut Sudarmo (1994), hama ini bersifat polipagus dan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, sehingga menurunkan hasil panen baik secara kualitas maupun kuantitas serta daya kecambah benih menurun (Marwoto et al., 1991 dalam Wardani et al., 2001).

Dalam upaya menekan kerusakan akibat serangan hama kepik hijau ini, konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan konsep pengendalian yang dianjurkan Pemerintah untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), yang dituangkan dalam UU Nomor 12 Tahun 1992 (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Holtikultura, 1994). Metode pengendalian yang digunakan meliputi pengendalian secara kultur teknis dan pengendalian hayati, sedangkan pestisida hanya digunakan bila perlu (Untung, 1993).

Di Indonesia pada umumnya, pengendalian hama tersebut masih banyak menggunakan insektisida sintetik yang dilakukan secara intensif, yang dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif, terutama terbunuhnya musuh alami dan akumulasi residu pestisida. Untuk mencermati permasalahan tersebut perlu dikembangkan suatu cara pengendalian alternatif yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, manusia dan tumbuhan seperti penggunaan cendawan entomopatogen Beaveria bassiana.

B. bassiana merupakan cendawan yang mempunyai prospek untuk pengendalian banyak serangga hama. Cendawan ini sudah digunakan secara meluas di Indonesia, khususnya untuk mengendalikan hama bubuk kopi (Hypothenemus hampei), Spodoptera litura F (Jauharlina, 1998).

Hasil penelitian Daud et al., (1993) dalam Atmadja et al. (2000) terhadap larva Darna catenata dengan konsentrasi 39,9 x 106 spora ml-1 pada hari ke enam tingkat kematian larva hama tersebut 80 – 100 %, sedangkan pada konsentrasi 2,65 x 106 spora ml-1 dan 11,8 x 106 spora ml-1 tingkat kematian larva 46,7 – 93,3 %.

Hasil penelitian Atmadja et al., (2000) yang mencoba tiga konsentrasi konidia B. bassiana yaitu 1,10 x 108, 3,36 x 107, dan 1,68 x 107 yang diaplikasikan secara langsung ke tubuh imago H. antonii di laboratorium, menunjukkan tingkat kematian 94-98 persen pada enam hari setelah aplikasi.

Harmiyanti (2006), juga mencobakan konsentrasi konidia B. bassiana 108 ml-1 pada Crocidolomia binotalis dengan tingkat kematian tertinggi 80% pada hari ke delapan setelah aplikasi.

Keefektifan cendawan patogen serangga untuk mengendalikan hama sasaran sangat tergantung pada umur serangga, stadia perkembangan, permukaan kutikula, dan kerapatan spora. Hasil penelitian Atmadja et al., (2000) dengan menggunakan konsentrasi cendawan B. bassiana 1,10 x 108, 3,36 x 107, dan 1,68 x 107, menyatakan bahwa tingkat kematian Helopeltis antonii stadia imago lebih tinggi daripada tingkat kematian pada stadia nimfa.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang konsentrasi cendawan entomopatogen B. bassiana yang efektif untuk mengendalikan N. viridula pada stadia nimfa dan imago. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi yang efektif dari B. bassiana untuk mengendalikan hama N. viridula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: