INTERSEPSI AIR HUJAN PADA TANAMAN KOPI RAKYAT DI DESA KEBET, KECAMATAN BEBESEN, KABUPATEN ACEH TENGAH

 

Hairul Basri , Manfarizah, dan Andi Salasa

ABSTRACT

The purpose of the study was to determine the amount of rainfall interception on coffee plants, and obtain a relationship between rainfall and interception of coffee plant. The research was conducted in a coffee plantation in Kebet Village, Bebesen Sub-District, Central Aceh District. The experiment was carried out from February to March 2011. The method used in this research was a descriptive method, using direct measurements in the field. The samples of coffee plants were 4 years and 15 years old. The results showed that rainfall interception of 4 years-coffee-crop was 56.87% of the total rainfall of 82.50 mm and that of 15-year-old coffee plants was 72.12%, of total rainfall of 133.50 mm. The greater the rainfall was, the greater the interception would be, as well as the older age of the coffee plant was, the greater the percentage of interception was recorded. The average proportion of rainfall as the water passes (throughfall) was greater than the proportion of rainfall that becomes stream stems (stemflow), due to high density of leaves covering the stem. Relationship between rainfall and interception on coffee plants was a natural logarithm equation: (1) for 4 years coffee crop, I = 3.440 ln (Pg) + 0.650 and R2 = 0.56; (2) for 15 years old coffee crop, I = 2.992 ln (Pg) + 2.371 and R2 = 0.69.

Keywords: Interception, rainfall, and stemflow.

 

PENDAHULUAN

Kondisi hutan bila dilihat dari luasan penutupan lahan telah mengalami perubahan yang cepat dan dinamis, sesuai perkembangan pembangunan dan perjalanan waktu. Banyak faktor yang mengakibatkan perubahan tersebut antara lain pertambahan penduduk dan pembangunan di luar sektor kehutanan yang sangat pesat memberikan pengaruh besar terhadap meningkatnya kebutuhan akan lahan dan produk-produk dari hutan. Kondisi ini diperparah dengan adanya perambahan hutan yang mengakibatkan semakin luasnya kerusakan hutan di Indonesia.

Di Kabupaten Aceh Tengah banyak terjadi perusakan kawasan hutan serta konversi lahan menjadi perkebunan kopi (Coffea sp.). Tanaman kopi telah ada sejak zaman penjajahan Belanda yaitu pada tahun 1908 dan berkembang sampai saat sekarang. Tanaman kopi merupakan tanaman yang identik dalam kehidupan penduduk di Kabupaten Aceh Tengah karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya dari komoditi tanaman tersebut. Jenis tanaman kopi yang ditanam di Kabupaten Aceh Tengah terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu kopi Robusta (Coffea canephora) dan kopi Arabika (coffea arabica). Kopi Robusta dapat dijumpai pada daerah dengan ketinggian 300 – 600 m dpl, sedangkan kopi arabika dapat dijumpai pada daerah dengan ketinggian 700 – 1500 m dpl. Sekitar 48.001 ha atau sekitar sepersepuluh luas wilayah kabupaten ini didominasi oleh perkebunan kopi (BPS, 2010). Sekitar 85% dari luas lahan tersebut ditanami dengan kopi arabika dan sisanya ditanami kopi robusta.

Luas perkebunan kopi yang terdapat di Kabupaten Aceh Tengah yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun memunculkan ke permasalahan terhadap kelestarian dan fungsi hidrologi pada kawasan hutan. Konversi hutan menjadi perkebunan kopi dikhawatirkan mengganggu keseimbangan air (water balance) di wilayah ini. Salah satu parameter yang dapat menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi keseimbangan air di suatu wilayah adalah besarnya nilai intersepsi.

Intersepsi air hujan oleh tanaman adalah proses tertahannya air hujan pada permukaan tanaman yang kemudian diuapkan kembali ke atmosfer (Rao, 1986). Air hujan yang jatuh di atas tanaman tidak langsung sampai ke permukaan tanah untuk berubah menjadi aliran permukaan (surface run off), tetapi untuk sementara air hujan akan ditampung oleh tajuk atau kanopi, batang dan cabang tanaman. Setelah tempat-tempat tersebut jenuh air, air hujan akan sampai ke permukaan tanah melalui air lolos (throughfall) dan aliran batang (stemflow). Akibat adanya proses penguapan, ada bagian air hujan yang tidak pernah sampai permukaan tanah yang disebut sebagai air intersepsi. Jumlah air untuk penjenuhan bergantung dengan fisiologi dari tanaman seperti tekstur, kelebatan daun dan kerapatan cabang (Alfiansyah, 1999).

Air hujan jatuh pada permukaan tajuk vegetasi akan mencapai permukaan tanah melalui dua proses mekanis yaitu air lolos (throughfall) dan aliran batang (stemflow). Hilangnya air melalui intersepsi merupakan bagian dalam analisis keseimbangan air (water balance) yaitu kaitannya dengan produksi air (water yield) pada daerah aliran sungai (DAS). Dalam analisis keseimbangan air, intersepsi diperlakukan sebagai kehilangan air (rainfall interception loss). Air hujan yang jatuh di atas tanaman disebut hujan kotor (gross rainfall), sedangkan air hujan yang mencapai permukaan tanah melalui tirisan dan aliran batang disebut sebagai hujan efektif (net precipitation).

Penelitian yang berhubungan dengan intersepsi, khususnya untuk tanaman kopi di daerah ini belum pernah dilakukan. Oleh karena, penelitian awal tentang besarnya intersepsi tanaman kopi sangat penting untuk dilakukan karena nilai intersepsi tersebut merupakan salah satu parameter yang menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi keseimbangan air (water balance) di Kabupaten Aceh Tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: