INFEKTIVITAS MIKORIZA PADA BERBAGAI JENIS TANAMAN INANG DAN BEBERAPA JENIS SUMBER INOKULUM

 

Nurhayati

ABSTRACT

This research was aimed to study types of host plants and sources of inoculum on mycorrhizal infectiveness. The study was conducted at Screenhouse and Soil Chemistry Laboratory of Agriculture Faculty, Unsyiah, and Soil Biology Laboratory of Agriculture Faculty, USU from July 2011 to November 2011. This research used a randomized complete block design (RCBD) factorial of two factors with three replications. Factors studied were several types of host plants and some types of sources of inoculum. Host factors consisted of A1 = kudzu, A2 = soybean, A3 = corn and factors source of inoculum consisted of B1 = spore from rhizosfer kudju, B2 = r spores from soybean, B3 = spores from corn.  Variables observed were degree of mycorrhizal infection. Results showed that there was an interaction between host plant species and inoculums sources of mycorrhizal infectivity. The best infectivity was a combination of host plant kudzu and source of spore from kudzu.

Keywords: mycorrhizae, kudzu, soybean, corn, infectiveness

PENDAHULUAN

Untuk meningkatkan kesubur-an tanah marginal ada dua alternatif pengayaan hara yang dapat dilakukan agar tanaman dapat menyerap unsur hara secara maksimal yakni (1) dengan pemberian pupuk buatan atau alam, dan (2) inokulasi mikoriza yang memiliki infektivitas dan efektivitas yang tinggi. Alternatif pertama selain memerlukan biaya yang sangat banyak jumlahnya, juga ada dampak pemberian pupuk itu sendiri terhadap lingkungan di sekitarnya. Alternatif kedua mengikuti cara yang sudah dilakukan oleh tumbuhan agar dapat hidup pada lahan-lahan yang kurang subur. Namun, untuk mempercepat proses terjadinya asosiasi ini, perlu melakukan inokulasi pupuk hayati mikoriza pada tanaman sewaktu masih berada di persemaian (Sutanto, R. 2002). Jamur mikoriza adalah sekelompok jamur tanah yang diketahui dapat berfungsi sebagai pupuk hayati. Sekalipun keberadaan jamur mikoriza sudah diketahui lebih dari 100 tahun yang lalu, namun sebagai pupuk hayati mungkin baru sejak Mosse 1957 mengetahui peran jamur mikoriza dalam penyerapan fosfor oleh tanaman (Mosse, 1981).

Secara umum tanaman yang bermikoriza mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatang-kan manfaat positif bagi keduanya. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai ‘biofertilization", baik untuk tanaman pangan, perkebunan, kehutanan maupun tanaman penghijauan (Widada, 1994).

Mikoriza adalah salah satu jenis pupuk hayati yang berperanan terhadap peningkatan kesehatan tanah, ramah lingkungan dan mampu meningkatkan status hara tanah serta hasil pertanian. Bagi tanaman inang, adanya asosiasi ini dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah, meningkat-kan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk (biogeo-khemis). Sedangkan secara langsung, mikoriza dapat meningkatkan serapan air, hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrem, meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auksin, cytokinin, giberelin dan vitamin terhadap tanaman inangnya (Nuhamara, 1994)

Pupuk hayati mikoriza mampu meningkatkan penyerapan unsur hara terutama fosfat dan beberapa unsur hara makro dan mikro . seperti Cu dan Zn. Dengan demikian mikoriza mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman karena status nutrisi tanaman dapat ditingkatkan dan diperbaiki, terutama untuk daerah yang bermasalah, tanah-tanah marginal (Killham, 1994).

Pertumbuhan tanaman pada tanah yang pH nya rendah, kandungan Al, Fe tinggi, dapat ditingkatkan toleransinya jika dikolonisasi dengan pupuk hayati mikoriza.. Mikoriza mampu meningkatkan ketahanan terhadap serangan patogen akar, misalnya dengan menghasilkan selubung akar atau antibiotik. Mikoriza juga dapat meningkatkan resistensi terhadap kekeringan, terutama pada daerah yang kurang hujan. Pertumbuhan tanaman pada tanah yang tercemar logam berat, dapat ditingkatkan ketahanannya jika dikolonisasi oleh mikoriza, misalnya pada daerah pertambangan. Mikoriza juga mampu menyesuaikan diri pada lingkungan yang ekstrem, terutama pada tanah marginal seperti daerah kering, pH rendah, tanah masam, dan lain-lain (Killham, 1994).

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa betapa besar sumbangan yang diperoleh dengan pemanfaatan pupuk hayati mikoriza baik terhadap lingkungan edafik maupun terhadap tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang infektivitas mikoriza pada beberapa jenis tanaman inang dan sumber inokulum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: