BIOLOGI HAMA KUTU PUTIH PEPAYA (Paracoccus marginatus) PADA TANAMAN PEPAYA

Nur Pramayudi dan Hartati Oktarina

ABSTRACT

Mealybug (Paracoccus marginatus) is a new pest attacted papaya that effect quantity and quality of papaya production. The research was aimed at study of biology and development of papaya mealy bug; from an egg stadium to mature bug. The experiment was conducted at plant field experiment of Agriculture Faculty, Syiah Kuala University from May to November 2011. To understand the biology and development of mealy bug, a survey and collection of P. Marginatus were conducted for mass production in laboratory, then they were invested on healthy papaya leaf. In the future the result of this study will be used as a pest control recommendation.

Keywords: Paracoccus marginatus, papaya, biology

PENDAHULUAN

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu tanaman buah tropis asal Meksiko Selatan. Tanaman ini diketahui tumbuh di daerah-daerah basah, kering, daerah dataran rendah, serta pegunungan (sampai ketinggian 1.000 m dpl). Di daerah dataran tinggi, sebenarnya pepaya dapat tumbuh, tetapi buah yang dihasilkan kurang optimal (Suketi dan Sujiprihati, 2009).

Pepaya merupakan salah satu komoditas buah yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Produksi pepaya selama lima tahun terakhir termasuk dalam kelompok lima besar produksi buah-buahan dan buah ini tersedia sepanjang tahun. Secara agroklimatologi, tanaman ini tidak memerlukan kondisi yang spesifik sehingga komoditas ini dapat berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Budidaya yang dilakukan oleh sebagian petani hanya dengan memanfaatkan areal sekitar pekarangan, namun, akhir-akhir ini komoditas pepaya mempunyai peluang untuk dibudidayakan secara komersial (Muljana, 1997).

Salah satu kendala dalam penanaman pepaya di daerah tropis adalah tingginya serangan hama dan penyakit. Curah hujan dan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun mengakibatkan perkembangan hama yang sangat cepat. Fluktuasi suhu yang ekstrem juga berperan dalam penyebaran hama. Akhir-akhir ini terdapat hama baru yang menyerang tanaman pepaya, yaitu kutu putih pepaya Paracoccus marginatus. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas buah (Suketi dan Sujiprihati, 2009).

P. marginatus merupakan serangga asli Meksiko/Amerika Tengah. Serangga ini dilaporkan menjadi hama pertama kali ditemukan di Florida pada tahun 1998 (Walker et al., 2003). Hama ini merupakan salah satu jenis hama yang memiliki kisaran inang yang cukup luas. Menurut Miller dan Miller (2002) hama ini memiliki lebih dari 25 suku tanaman yang bernilai ekonomi sebagai inangnya, di antaranya tanaman pepaya, ubi kayu, jarak pagar, tomat, alpukat melon, dan kembang sepatu. Selain itu, hama ini juga menyerang tanaman jambu, jagung dan akasia.

Kutu putih pepaya P.marginatus Williams & Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococci-dae) merupakan hama baru yang menjadi masalah penting pada pertanaman pepaya di Indonesia. Serangga ini diketahui keberadaan-nya pertama kali pada bulan Mei 2008 pada tanaman pepaya di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat (Rauf, 2008).

P. marginatus termasuk jenis kutu-kutuan yang seluruh tubuhnya diselimuti oleh lapisan lilin berwarna putih. Tubuh berbentuk oval dengan embelan seperti rambut-rambut berwarna putih dengan ukuran yang pendek. Hama ini terdiri dari jantan dan betina, dan memiliki beberapa fase perkembangan yaitu: fase telur, pradewasa (nimfa), dan imago. Telur P. marginatus berbentuk bulat berwarna kuning kehijauan dan ditutupi oleh massa seperti kapas dan akan menetas dalam waktu 10 hari setelah diletakkan (Walker et al., 2003).

Hama kutu putih biasanya bergerombol sampai puluhan ribu ekor. Mereka merusak dengan cara mengisap cairan. Semua bagian tanaman bisa diserangnya dari buah sampai pucuk. Serangan pada pucuk menyebabkan daun kerdil dan keriput seperti terbakar. Hama ini juga menghasilkan embun madu yang kemudian ditumbuhi cendawan jelaga sehingga tanaman yang diserang akan berwarna hitam.

Kutu putih dewasa jantan bisa berukuran 3 mm dan bersayap. Induk betinanya mampu bertelur hingga 500 butir, yang diletakkan dalam satu kantung telur terbuat dari lilin. Dengan siklus hidup sepanjang sebulan. P. marginatus bisa berbiak 11-12 generasi dalam setahun (Rauf, 2008).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: