Archive for May, 2012

PENGARUH JENIS PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS JAGUNG MANIS

 

Syafruddin, Nurhayati, dan Ratna Wati

ABSTRACT

A research was conducted at Experimental Farm of Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University in February – Mei 2011. The objectives of the research were to determine effect of kind of fertilizer on growth and yield of several sweet corn varieties and also to know interaction between both factors mentioned. The experiment was performed using a randomized complete block design (RCBD), 3 x 3 with 3 replications. There were two factors studied, namely kinds of fertilizer, consisting of 3 levels: organic fertilizer, NPK and liquid organic fertilizer NASA. The second factor was varieties consisting of 3 levels: Bonanza, Manise, and Jago F1. The results showed that kinds of fertilizer exerted highly significant effects on diameter of bottom stem at age 45 day after planting (DAP), number of leaves at 45 DAP, leaf length at age 30 and 45 DAP and exerted a significant effect on ear length without cornhusk. The highest growth and yield of sweet corn was found in NPK fertilizer treatment. Varieties of sweet corn exerted highly significant effects on plant height age 15 DAP, diameter of bottom stem at age 30 and 45 DAP, number of leaf at age 15 DAP, leaf width at age 15, 30, and 45 DAP and exerted significant effects on ear length without cornhusk, ear diameter without cornhusk, ear weight per bed with border plant, ear weight per bed without border plant, ear weight with cornhusk and plant height at age 30 and 40 DAP, diameter of bottom stem at age 15 DAP, number of leaf at age 45 DAP, leaf length at age 15 and 45 DAP. The highest of growth and yield was found at Variety Bonanza. Additionally, there was no interaction between kinsd of fertilizer and several varieties of sweet corn on growth and yield of all variables observed.

Keywords: organic fertilizer, soil, sweet corn, variety

PENDAHULUAN

Di Indonesia penanaman jagung manis (Zea mays saccharata STURT L.) dewasa ini telah berkembang. Tanaman jagung manis sangat respons terhadap tanah dengan kesuburan tinggi. Selaras dengan pernyataan di atas dalam hal pengolahan tanah harus diperhatikan aspek pemupukan. Dalam pemupukan ketepatan dosis, cara dan waktu pemupukan yang tepat sangat penting agar produksi optimum. Pupuk yang biasa diberikan dalam budidaya jagung manis adalah pupuk organik (alami) dan pupuk buatan (kimia). Pupuk organik yang umum diberikan yaitu pupuk kandang dan pupuk hijau, sedangkan pupuk buatan yang umum diberikan adalah urea, KCl, NPK dan SP 36 yang diberikan pada saat penanaman (Hardjodinomo, 1970; Sahoo and Mahapatra, 2007 ).

Pupuk kandang merupakan salah satu pupuk organik yang mengandung hara makro dan hara mikro, yang dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Marsono, 2001). Pupuk kandang dapat berasal dari kotoran sapi, ayam atau bebek yang benar-benar telah matang yang dapat digunakan sebagai pupuk dasar atau pupuk susulan. Selain itu pupuk kandang dapat menghasilkan hormon sitokinin dan giberelin yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Jumlah pupuk kandang yang diberikan ke dalam tanah berkisar antara 20-30 ton/Ha. Cara pemberiannya tergantung pada jenis tanaman yaitu dapat dengan cara disebar merata di atas permukaan tanah (Cahyono, 1998).

Pupuk NPK Mutiara disebut juga sebagai pupuk majemuk karena mengandung unsur hara utama lebih dari 2 jenis, dengan kandungan unsur hara N (15%) dalam bentuk NH3 , P (15%) dalam bentuk P2O5 dan K (15%) dalam bentuk (K2O). Unsur fosfor (P) yang berperan penting dalam transfer energi di dalam sel tanaman, mendorong perkembangan akar dan pembuahan lebih awal, memperkuat batang sehingga tidak mudah rebah, serta meningkatkan serapan N pada awal pertumbuhan. Unsur kalium (K) juga sangat berperan dalam pertumbuhan tanaman misalnya untuk memacu translokasi karbohidrat dari daun ke organ tanaman (Aguslina, 2004).

Pupuk Organik Cair NASA (Nusantara Subur Alami) merupakan pupuk organik cair yang berasal dari ekstraksi bahan organik limbah ternak dan unggas, limbah tanaman, limbah alam, beberapa jenis tanaman tertentu dan zat-zat alami lainnya. Pupuk ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi kekurangan atau kesulitan mendapatkan pupuk kandang, 1 liter POC Nasa sama dengan 1 ton pupuk kandang, sehingga dapat menghemat biaya transportasi dan tenaga kerja. Adapun anjuran pupuk POC Nasa untuk tanaman jagung yaitu berkisar antara 20 – 60 cc/ 10 – 30 L air/ 100 m2. Secara garis besar pupuk NASA mempunyai fungsi utama dan beberapa fungsi sampingan yaitu sebagai pupuk organik, memberikan unsur-unsur hara (terutama mikro) yang diperlukan oleh tanaman.

Selain pemupukan, penggunaan varietas yang tepat akan meningkatkan produksi jagung manis. Varietas merupakan salah satu di antara banyak faktor yang menentukan dalam pertumbuhan dan hasil tanaman. Selain faktor lingkungan, penggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang sangat penting untuk mencapai produksi yang tinggi. Penggunaan varietas unggul mempunyai kelebihan dibandingkan dengan varietas lokal dalam hal produksi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit, respons pemupukan sehingga produksi yang di peroleh baik kuantitas maupun kualitas dapat meningkat (Soegito dan Adie, 1993).

Benih jagung manis berbeda dengan jagung biasa. Jagung manis mengandung lebih banyak gula dari pada pati sehingga bila kering bijinya keriput. Benih jagung manis sulit diusahakan sendiri mengingat statusnya sebagai jagung hibrida yaitu persilangan antara jagung tipe gigi kuda dengan tipe mutiara yang kemudian melalui pemuliaan tanaman diperoleh jenis yang manis. Dengan demikian proses pengadaan benihnya hanya bisa dilakukan oleh pemulia tanaman. Apabila menggunakan benih yang berasal dari penanaman sebelumnya, mutu dan produksi jagung manis akan berkurang (Purwono, 2007). Beberapa varietas jagung manis yang sudah dilepas dan dibudidayakan saat ini antara lain Bonanza, Cap panah Merah ( Jago F1 ), Si Manis, Manise, Sweet Boy , Jaguar F1, Super Sweet, Bisi Sweet 1 dan lain-lain.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas jagung manis serta ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh jenis pupuk pada beberapa varietas jagung manis yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis.

Advertisements

INTERSEPSI AIR HUJAN PADA TANAMAN KOPI RAKYAT DI DESA KEBET, KECAMATAN BEBESEN, KABUPATEN ACEH TENGAH

 

Hairul Basri , Manfarizah, dan Andi Salasa

ABSTRACT

The purpose of the study was to determine the amount of rainfall interception on coffee plants, and obtain a relationship between rainfall and interception of coffee plant. The research was conducted in a coffee plantation in Kebet Village, Bebesen Sub-District, Central Aceh District. The experiment was carried out from February to March 2011. The method used in this research was a descriptive method, using direct measurements in the field. The samples of coffee plants were 4 years and 15 years old. The results showed that rainfall interception of 4 years-coffee-crop was 56.87% of the total rainfall of 82.50 mm and that of 15-year-old coffee plants was 72.12%, of total rainfall of 133.50 mm. The greater the rainfall was, the greater the interception would be, as well as the older age of the coffee plant was, the greater the percentage of interception was recorded. The average proportion of rainfall as the water passes (throughfall) was greater than the proportion of rainfall that becomes stream stems (stemflow), due to high density of leaves covering the stem. Relationship between rainfall and interception on coffee plants was a natural logarithm equation: (1) for 4 years coffee crop, I = 3.440 ln (Pg) + 0.650 and R2 = 0.56; (2) for 15 years old coffee crop, I = 2.992 ln (Pg) + 2.371 and R2 = 0.69.

Keywords: Interception, rainfall, and stemflow.

 

PENDAHULUAN

Kondisi hutan bila dilihat dari luasan penutupan lahan telah mengalami perubahan yang cepat dan dinamis, sesuai perkembangan pembangunan dan perjalanan waktu. Banyak faktor yang mengakibatkan perubahan tersebut antara lain pertambahan penduduk dan pembangunan di luar sektor kehutanan yang sangat pesat memberikan pengaruh besar terhadap meningkatnya kebutuhan akan lahan dan produk-produk dari hutan. Kondisi ini diperparah dengan adanya perambahan hutan yang mengakibatkan semakin luasnya kerusakan hutan di Indonesia.

Di Kabupaten Aceh Tengah banyak terjadi perusakan kawasan hutan serta konversi lahan menjadi perkebunan kopi (Coffea sp.). Tanaman kopi telah ada sejak zaman penjajahan Belanda yaitu pada tahun 1908 dan berkembang sampai saat sekarang. Tanaman kopi merupakan tanaman yang identik dalam kehidupan penduduk di Kabupaten Aceh Tengah karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya dari komoditi tanaman tersebut. Jenis tanaman kopi yang ditanam di Kabupaten Aceh Tengah terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu kopi Robusta (Coffea canephora) dan kopi Arabika (coffea arabica). Kopi Robusta dapat dijumpai pada daerah dengan ketinggian 300 – 600 m dpl, sedangkan kopi arabika dapat dijumpai pada daerah dengan ketinggian 700 – 1500 m dpl. Sekitar 48.001 ha atau sekitar sepersepuluh luas wilayah kabupaten ini didominasi oleh perkebunan kopi (BPS, 2010). Sekitar 85% dari luas lahan tersebut ditanami dengan kopi arabika dan sisanya ditanami kopi robusta.

Luas perkebunan kopi yang terdapat di Kabupaten Aceh Tengah yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun memunculkan ke permasalahan terhadap kelestarian dan fungsi hidrologi pada kawasan hutan. Konversi hutan menjadi perkebunan kopi dikhawatirkan mengganggu keseimbangan air (water balance) di wilayah ini. Salah satu parameter yang dapat menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi keseimbangan air di suatu wilayah adalah besarnya nilai intersepsi.

Intersepsi air hujan oleh tanaman adalah proses tertahannya air hujan pada permukaan tanaman yang kemudian diuapkan kembali ke atmosfer (Rao, 1986). Air hujan yang jatuh di atas tanaman tidak langsung sampai ke permukaan tanah untuk berubah menjadi aliran permukaan (surface run off), tetapi untuk sementara air hujan akan ditampung oleh tajuk atau kanopi, batang dan cabang tanaman. Setelah tempat-tempat tersebut jenuh air, air hujan akan sampai ke permukaan tanah melalui air lolos (throughfall) dan aliran batang (stemflow). Akibat adanya proses penguapan, ada bagian air hujan yang tidak pernah sampai permukaan tanah yang disebut sebagai air intersepsi. Jumlah air untuk penjenuhan bergantung dengan fisiologi dari tanaman seperti tekstur, kelebatan daun dan kerapatan cabang (Alfiansyah, 1999).

Air hujan jatuh pada permukaan tajuk vegetasi akan mencapai permukaan tanah melalui dua proses mekanis yaitu air lolos (throughfall) dan aliran batang (stemflow). Hilangnya air melalui intersepsi merupakan bagian dalam analisis keseimbangan air (water balance) yaitu kaitannya dengan produksi air (water yield) pada daerah aliran sungai (DAS). Dalam analisis keseimbangan air, intersepsi diperlakukan sebagai kehilangan air (rainfall interception loss). Air hujan yang jatuh di atas tanaman disebut hujan kotor (gross rainfall), sedangkan air hujan yang mencapai permukaan tanah melalui tirisan dan aliran batang disebut sebagai hujan efektif (net precipitation).

Penelitian yang berhubungan dengan intersepsi, khususnya untuk tanaman kopi di daerah ini belum pernah dilakukan. Oleh karena, penelitian awal tentang besarnya intersepsi tanaman kopi sangat penting untuk dilakukan karena nilai intersepsi tersebut merupakan salah satu parameter yang menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi keseimbangan air (water balance) di Kabupaten Aceh Tengah.

PENGARUH PEMBUANGAN PUCUK DAN TUNAS KETIAK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI

 

Muhammad Hatta

ABSTRACT

This study was aimed to examine effects of terminal bud and auxiliary shoot removals on growth and yield of chili pepper. The experiment was arranged in a randomized complete block design (RGD) with 3 replications. Factors studied were trimming of terminal bud and trimming of auxiliary shoots. Results showed that removal of terminal bud had no effect on plant growth, represented by stem diameter (P = 0.6517) and yields, represented by the number of fruits (P = 0.9806) and length of fruit (P = 1128). Similarly, removal of auxiliary shoots also had no effect on stem diameter (P = 0.7302), number of fruits (P = 0.4210), and length of fruit (P = 0.9878).

Keywords: auxiliary shoot, terminal bud, chili pepper

PENDAHULUAN

Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran penting di kalangan masyarakat Indonesia. Tanaman ini tergolong tanaman semusim dan bagi masyarakat Indonesia merupakan tanaman yang sangat dikenal sebagai bahan penyedap dan pelengkap berbagai menu masakan khas (Prajnanta, 2003). Di Indonesia tanaman ini diandalkan sebagai salah satu komoditas ekspor non migas dari komoditas sayuran segar (Rukmana, 1994). Di masa depan, kebutuhan cabai akan terus meningkat baik untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Oleh karena itu, produksi cabai harus meningkat setidaknya sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk.

Produksi cabai dapat ditingkatkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui upaya budidaya tanaman yang tepat, termasuk perawatannya. Di antara praktek perawatan yang umum dilakukan oleh petani adalah melakukan pemangkasan tunas yang tumbuh di ketiak daun. Menurut beberapa literatur, pemangkasan ini dimaksudkan untuk memperkuat batang dan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang tidak perlu di bagian bawah tubuh tanaman dan diarahkan ke bagian atas, selain juga untuk memperluas ruang sirkulasi udara dan penetrasi sinar matahari ke seluruh bagian tanaman. Pemangkasan juga dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan higienis sehingga tanaman bisa terbebas dari serangan hama dan penyakit. Keseluruhan tujuannya adalah agar tanaman dapat memberikan hasil dan kualitas buah yang maksimal (Prajnanta, 2003; Hartmann et al., 1988).

Dalam kenyataannya, pemang-kasan tunas ketiak menimbulkan konsekuensi terhadap praktek budi daya tanaman akibat adanya perubahan profil tanaman yang dipangkas. Pada tanaman cabai, pemangkasan tunas ketiak menyebabkan batang tanaman menjadi lebih tinggi akibat percabangan terdorong ke bagian atas. Beratnya percabangan bagian atas ini mengakibatkan tanaman mudah rebah sehingga diperlukan bantuan penopang batang tanaman dengan pemasangan ajir. Akibatnya, praktek pemangkasan ini menyebabkan timbulnya pekerjaan tambahan yang tidak sedikit seperti pekerjaan perempelan dan pemasangan ajir. Tambahan pekerjaan ini memiliki konsekuensi terhadap perlunya tambahan biaya baik untuk tenaga kerja maupun untuk penyediaan bahan ajir.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari apakah pemangkasan pucuk dan tunas ketiak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai.

PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS TOMAT AKIBAT PERLAKUAN JENIS PUPUK

Puspita Dewi dan Jumini

ABSTRACT

Objectives of the study were to determine effects of organic fertilizer on growth and yield of two varieties of tomato as well as the interaction between both factors. Factors studied were 1) types of organic fertilizer, consisted of 3 levels: manure, compost and green manure and 2) varieties of tomatoes, consisted of two levels: Viccario F1 and San Marino F1. Variables observed were plant height and stem diameter at ages 15, 30 and 45 days after transplanting (DAT), fruit numbers, and fruit weight for 5 times of harvest. The results showed that types of organic fertilizer exerted significant effects on plant height at age of 15 and 30 DAT, plant stem diameter at age 15 and 30 DAT, fruit numbers and fruit weight. The best growth of tomato was on green manure. Varieties also exerted significant effects on plant height at ages 15, 30 and 45 DAT, stem diameter at ages 30 and 45 DAT, fruit numbers and fruit weight, but no significant effect on stem diameter at age 15 DAT. The best growth and fruit numbers wer found at Viccario, while the highest fruit weight was found at variety San Marino. There was a significant interaction between types of organic fertilizer and tomato varieties on plant height at age 45 DAT, but no significant interaction on other variables. The best plant growth was found at the combination of Viccario-manure.

Keywords: variety, organic fertilizer, manure, green manure, tomato

PENDAHULUAN

Tomat (Lycopercicum esculentum MILL.) merupakan tanaman sayuran yang termasuk dalam famili Solanaceae. Melihat potensi di dalam negeri maupun luar negeri yang cukup besar, maka bisnis tomat mempunyai prospek yang cukup cerah (Cahyono, 1998). Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk meningkatkan produksinya. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan penambahan pupuk organik ke dalam tanah dan penggunaan varietas yang berdaya hasil tinggi.

Pupuk kandang merupakan salah satu jenis pupuk organik yang mengandung hara makro dan mikro, yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Marsono dan Sigit, 2001). Kandungan unsur haranya terdiri dari air 30 – 40 %, bahan organik 60 – 70 %, P2O5 0,5 – 1 %, K2O 0,5 – 1 %. Selain itu, pupuk kandang dapat menghasilkan hormon sitokinin dan giberelin yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Jumlah pupuk kandang yang diberikan ke dalam tanah berkisar antara 20 – 30 ton/ha. Cara pemberiannya tergantung pada jenis tanaman, dapat dengan cara disebar merata di atas permukaan tanah atau dibenamkan dalam tanah (Cahyono, 1998)

Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik alami yang berasal dari daun atau bagian tanaman lainnya yang telah mengalami pelapukan dengan sempurna. Dengan demikian, kompos merupakan sumber bahan organik dan nutrisi bagi tanaman (Susanto, 2002).

Aplikasi pupuk hijau yang berasal dari daun lamtorogung (Leucaena galuca) dapat dilakukan dengan membenamkan langsung ke dalam tanah. Kandungan hara daun lamtorogung terdiri atas 4,33 % P, 1,44 % Ca dan 0,36 % Mg. selain itu pemberian daun lamtorogung ke dalam tanah sebagai pupuk organik, juga berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta dapat memperkecil erodibilitas tanah (Marsono dan Sigit, 2001).

Penggunaan varietas unggul merupakan komponen teknologi yang penting untuk mencapai produksi yang tinggi (Soegito dan Adie, 1993). Varietas unggul memiliki sifat-sifat tertentu seperti berumur genjah, tahan terhadap hama dan penyakit, respons terhadap pemupukan dan dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Varietas tomat yang dibudidayakan petani saat ini antara lain adalah varietas Permata, Ratna, varietas Moneymecker, Sakura, Viccario F1, San Marino F1 dan lain-lain (Rukmana, 1994). Varietas Viccario dapat ditanam di dataran rendah atau dataran tinggi, dan tahan terhadap penyakit busuk daun, ukuran buahnya lebih kecil dari tomat lainnya (± 30 – 50 g), dari setiap tanaman mampu menghasilkan 2 kg. Varietas San Marino dapat ditanam di dataran rendah atau dataran tinggi dan tahan terhadap penyakit layu, berat per buah antara 70 – 80 g (4 kg/tanaman).

Berdasarkan masalah di atas, belum diketahui jenis pupuk organik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tanaman tomat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tomat dan ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.

SIFAT KIMIA DAN EVALUASI SENSORI BUBUK KOPI ARABIKA

Rita Hayati, Ainun Marliah, dan Farnia Rosita

ABSTRACT

Study of chemical characteristics and sensory evaluation of e Arabica coffee pawder (Coffea arabica L.) has been performed. The results showed that chemical characteristics significantly differed among varieties tested. Variety Gayo 1 had water content 13.39%, the highest water content compared to Variety P88 and Variety Bergendal. Varieties Gayo 1 had fat content 5.66% and was significantly different from other two varieties. Caffeine levels were significantly different among varieties; Varieties P88 0.95%, Varieties Gayo 1 0.99%, Varieties Bergendal 1.09% but all varieties had met a standard caffeine content of coffee ground. Sensory evaluation using a quantitative descriptive analysis showed that coffee powder of Variety Gayo 1 was received by panelists on attributes of flavor, taste, and overall acceptance, while coffee powder of Variety Bergendal had a low value of the attributes tested.

Keywords: chemical characteristics, sensory, arabica coffee powder.

PENDAHULUAN

Kopi (Coffea sp) merupakan tanaman yang menghasilkan sejenis minuman. Minuman tersebut diperoleh dari seduhan kopi dalam bentuk bubuk. Kopi bubuk adalah biji kopi yang telah disangrai, digiling atau ditumbuk hingga menyerupai serbuk halus (Arpah, 1993).

Sebelum kopi dipergunakan sebagai bahan minuman, terlebih dahulu dilakukan proses roasting. "Flavor" kopi yang dihasilkan selama proses roasting tergantung pada jenis kopi hijau yang dipergunakan, cara pengolahan biji kopi, penyangraian, penggilingan, penyimpanan dan metode penyeduhannya. Cita rasa kopi akan ditentukan akhirnya oleh cara pengolahan di pabrik-pabrik. Penyang-raian biji kopi akan mengubah secara kimiawi kandungan-kandungan dalam biji kopi, disertai susut bobotnya, bertambah besarnya ukuran biji kopi dan perubahan warna bijinya. Kopi biji setelah disangrai akan mengalami perubahan kimia yang merupakan unsur cita rasa yang lezat (Ridwansyah, 2003).

Evaluasi sensori adalah merupakan suatu metode yang dilakukan oleh manusia menggunakan panca indera manusia yaitu mata, hidung, mulut, tangan dan juga telinga. Melalui lima panca indera dasar ini, kita dapat menilai atribut sensori sesuatu produk seperti warna, rupa, bentuk, rasa, dan tekstur (Abdullah, 2005) dan telah banyak diteliti (Batch et al., 2012; Kraujalete et al., 2012). Bidang penilaian sensori memerlukan subjek untuk menilai produk. Subjek ini kemudian disebut sebagai panelis, dan panelis dapat dibedakan menjadi panelis konsumen, panelis jenis konsumen, dan panelis laboratorium. Setiap pemakaian panelis sangat tergantung pada metode yang digunakan dalam sebuah penelitian.

Analisis deskriptif kuantitatif (ADK) merupakan teknik penilaian sensori yang mencirikan tanggapan atribut-atribut sensori dalam bentuk kuantitatif. Metode ADK mampu memberi uraian perkataan yang cukup bagi semua ciri sensori produk. Ini meliputi produk yang telah ada (masih dan sedang berada di pasaran), ramuan, ide atau produk baru yang masih belum ada saingan dan ADK menggunakan panelis terlatih (Cardelli dan Labuza, 2001).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat kimia dan evaluasi sensori bubuk kopi arabika. Hasil penelitian yang diperoleh merupakan informasi penting dari kopi arabika yang dikembangkan di Gayo, Bener Meriah.

PENGARUH TRICHODERMA TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO, TOMAT, DAN KEDELAI

 

Erida Nurahmi, Susanna, dan Rina Sriwati

ABSTRACT

Trichoderma is a free-living fungus, commonly can be found in soil and root ecosystem. Extensively, it is capable of producing antibiotics, parasite to other fungus, and microorganism that cause diseases on plants. The objectives of the experiment were to study effects of Trichoderma on germination and growth of cacao, tomato, and soybean. The result showed that provision of Trichoderma (T. harzianum and T. virens) conidia suspension using seed submersion technique did not affect seed germination of cacao, tomato, and soybean, but significantly affected cacao root extension. Provision of Trichoderma through seed submersion on sand box germination gave a positive response to tomato plant, tolerance to cacao plant, and a negative response to soybean plant. The causing factors of difference responses varied including concentration, application techniques, and kinds of seed.

Keywords: Trichoderma, cacao, tomato, soybean

PENDAHULUAN

Spesies Trichoderma adalah cendawan yang hidup bebas, umum ditemui pada ekosistem tanah dan akar. Cendawan ini telah dipelajari secara ekstensif dalam kemampuannya menghasilkan antibiotik, memara-sitisasi cendawan lain, dan mikroorganisme penyebab penyakit pada tanaman (Harman et al., 2004.) Sampai saat ini, dasar tentang bagaimana Trichoderma memberikan efek menguntungkan pada pertumbuh-an dan perkembangan tanaman masih terus diteliti. Namun, beberapa strain Trichoderma memberikan pengaruh penting dalam perkembangan dan produktivitas tanaman (Harman, 2006). Akhir-akhir ini, Trichoderma dikenal dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan juga berperan sebagai pengendalian hayati dalam tanah (Chang et al., 1986;. Yedidia et al., 2001, Adams et al., 2007).

Banyak bukti yang sangat mendukung bahwa auksin berperan dalam pengaturan percabangan akar. Aplikasi auksin alami dan sintetis meningkatkan akar lateral dan perkembangan akar rambut, sedangkan penghambatan transportasi auksin mengurangi percabangan akar (Reed et al., 1998; Casimiro et al., 2001). Meskipun auksin adalah pemain utama dalam regulasi pertumbuhan akar, namun sedikit yang diketahui perannya dalam merangsang pertumbuhan tanaman yang dikorelasikan dengan cendawan. Mekanisme sinyal Trichoderma spesies meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman di laporkan oleh Hexon et al., 2009, melalui respons benih Arabidopsis yang diinokulasi dengan dua spesies Trichoderma. Trichoderma atroviride (sebelumnya dikenal sebagai Trichoderma harzianum) dan Trichoderma virens, ditemukan bahwa kedua cendawan tersebut merangsang pertumbuhan kecambah Arabidopsis dalam kondisi axenic. Rangsangan pertumbuhan tanaman yang disebab-kan oleh cendawan yang berkorelasi dengan pembentukan produktif akar lateral, oleh T. Viren menunjukkan peran cendawan Trichoderma sangat penting dalam memberikan sinyal auksin dan merangsang pertumbuhan tanaman Arabidopsis.

Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati adalah T. harzianum, T. viridae, dan T. Konigii, yang merupakan cendawan penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma di samping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman (Ramada, 2008). Cendawan T. harzianum telah digunakan dalam percobaan pengendalian hayati (Chet et al., 1979; Elad et al., 1982); Papavizas and Luumsden, 1980), yang menunjukkan meningkatnya kemam-puan pertumbuhan tanaman. Respons dari aplikasi T. harzianum adalah dengan meningkatnya persentase perkecambahan, tinggi tanaman, dan bobot kering serta waktu perkecambahan yang lebih singkat pada tanaman sayuran (Baker et al., 1984; Chang et al., 1986, Paulitz et al., 1986) dan lebih awal berbunga serta meningkatkan jumlah kumpulan bunga pada Vinca minor L, dan petunia (Petunia hybrid Vilm) (Baker et al., 1984; Chang et al., 1986). Di samping itu beberapa penelitian juga melaporkan bahwa aplikasi Trichoderma pada konsentrasi yang berlebih memberikan respons negatif terhadap pertumbuhan tanaman kakao (Sriwati at al., 2011). Chang dan Beker, 1986 melaporkan bahwa aplikasi Trichoderma sangat tepat dilakukan pada tanah karena dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Sehubungan dengan telah diisolasi dan diidentifikasi beberapa cendawan Trichoderma yang berasosiasi pada tanaman kakao oleh Sriwati at al., (2011), dan salah satu di antaranya telah diidentifikasi secara molekuler adalah Trichoderma virens (Sriwati at al., 2011). Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui peran T. virens dan membandingkan dengan T. harzianum dalam merangsang perkecambahan dan pertumbuhan beberapa benih tanaman dan hubungannya dengan peningkatan auksin.

Penelitian bertujuan untuk mempelajari efek isolat Trichoderma virens strains Gl-21 isolat asal kakao dalam merespons perkecambahan dan pertumbuhan benih kakao, tomat, dan kedelai serta hubungannya dengan auksin.

TOKSISITAS EKSTRAK DAUN Lantana camara L. TERHADAP HAMA Plutella xylostella L.

 

Hendrival dan Khaidir

ABSTRACT

Toxicity n-hexane leaf extract Lantana camara and its active fractions were evaluated for their insecticidal activit ies against Plutella xylostella larvae. The method included sample extraction, fractionation, and toxicity examination of leaf extract L. camara and its active fractions against P. xylostella larvae. The extracts were applied by residue method. Fractionation of active compounds from extract n-hexane was conducted by a vacuum liquid chromatography by using a stationary phase of silicate gel GF254­ and mobile phase of n-hexane, etil acetate, and methanol which produced five fractions, that is fractions A, B, C, D, and E. Leaf extract of L. camara and its fractions possessed an insecticidal activity causing mortality to P. xylostella larvae. The results showed that LC50 of crude extract at 3 and 4 day after applications was 0,936 and 0,651%, while LC50 of fractions A = 0,386 and 0,178%; fractions C = 0,327 and 0,132; fractions D = 0,617 and 0,318%; fractions E = 0,622 and 0,244%.

Keywords: extract leaf L. camara, P. xylostella, toxicity

PENDAHULUAN

Plutella xylostella merupakan hama utama pada tanaman sawi dan kubis di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia (Setiawati, 2000). P. xylostella bersifat oligofag yang hanya menyerang tanaman dari famili Cruciferae (Talekar & Shelton, 1993) dan menyerang tanaman mulai dari persemaian sampai panen (Shelton et al. 2000). Apabila tidak dilakukan pengendalian, kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan hama P. xylostella dapat mencapai sampai 100% terutama pada musim kemarau (Setiawati, 2000).

Sampai saat ini upaya pengendalian hama ini masih mengutamakan penggunaan insektisida sintetik seperti profenofos, permetrin, deltametrin, diafenturon, dan derivat bensamid. Meningkatnya penggunaan insektisida sintetik memiliki dampak negatif seperti resistensi hama, resurjensi hama, munculnya hama sekunder, dan terbunuhnya musuh alami (predator dan parasitoid seperti Diadegma semiclausum) (Udiarto & Sastrosiswojo, 1997).

Upaya-upaya untuk mengurangi penggunaan insektisida sintetik perlu terus dilakukan untuk menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan juga menjaga kesehatan petani dan lingkungan. Untuk itu, penggunaan insektisida nabati perlu terus dikembangkan sehingga dihasilkan produk-produk insektisida nabati yang efektif dan mudah cara aplikasinya (Dadang & Dewi, 2008). Beberapa famili tumbuhan yang memiliki sumber insektisida nabati adalah Meliaceae, Annonaceae, Piperaceae, Asteraceae, Zingiberaceae, Solana-ceae, dan Verbenaceae (Dadang, 1999). L. camara (Verbenaceae) merupakan tumbuhan perdu yang banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis (Ghisalberti, 2000) serta tergolong dalam 10 gulma yang berbahaya di dunia (Sharma et al., 2005). Gulma L. camara umum dijumpai pada semua daerah perkebunan karet di Sumatera Utara dan Aceh (Nasution, 1984). Selain menimbulkan kerugian terhadap tanaman melalui persaingan, gulma ini juga bermanfaat sebagai insektisida. L. camara dilaporkan memiliki sifat insektisidal, anti-ovoposisi, penolakan makan, dan penghambatan pertum-buhan terhadap serangga hama di lapangan dan di gudang penyimpanan (Pandey et al., 1986; Ogendo et al., 2003).

Toksisitas suatu jenis insektisida, termasuk insektisida nabati dapat dinyatakan sebagai LC50 (konsentrasi kematian median) yaitu konsentrasi yang dibutuhkan untuk mematikan 50% dari populasi serangga uji (Stephenson et al., 1993). Pendugaan nilai toksisitas ditentukan dengan analisis probit. Analisis probit digunakan dalam pengujian biologis untuk mengetahui respons subjek yang diteliti terhadap stimuli, dalam hal ini, insektisida nabati yaitu ekstrak daun L. Camara, dengan melihat respons berupa mortalitas larva P. xylostella. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun L. camara dan fraksi aktifnya terhadap kematian larva P. xylostella.