PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS CABAI MERAH PADA MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA

Ainun Marliah, Mariani Nasution, dan Armin

 

ABSTRACT

The study was aimed at determining appropriate varieties and growing media on growth and yield of red peppers as well as interactions between the two factors mentioned. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) 3 x 3 with three replications. Factors studied were red pepper varieties (TM 999, ST 168 and local), and growing media (soil + sand, soil + manure, and soil + husk) with a ratio of 2:1. The results showed that varieties exerted highly significant effects on plant height at 15 days after transplanting (DAT) and fruit weight per plant at first harvest 90 DAT and a significant effect on number of fruits per plant at first harvest 90 DAT. Varieties of TM 999 and ST 168 were better than that of local. Growing media also exerted highly significant effects on plant height at 45 DAT, number of productive branches, number of fruits per plant at first harvest (90 DAT) and fruit weight per plant at first harvest (90 DAT), and significant effects on plant height at 15 and 30 DAT, number of fruits per plant at second harvest (93 DAT), and weight of fruit per plant at third harvest (96 DAT). The best growing medium was soil + sand. There was no significant interaction between varieties and growing media on growth and yield of red chili.

Keywords: Varieties, Growing Media, Red Hot Pepper


PENDAHULUAN

Cabai merah merupakan salah satu tanaman sayuran penting di Indonesia, karena mampu memenuhi kebutuhan khas masyarakat Indonesia akan rasa pedas dari suatu masakan. Cabai merah juga memberikan warna dan rasa yang dapat membangkitkan selera makan, banyak mengandung vitamin dan dapat juga digunakan sebagai obat-obatan, bahan campuran makanan dan peternakan (Setiadi, 2005).

Kebutuhan akan cabai merah terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri makanan yang membutuhkan bahan baku cabai. Hal ini menyebabkan komoditi ini menjadi komoditi yang paling sering menjadi perbincangan di seluruh lapisan masyarakat karena harganya dapat melambung sangat tinggi pada saat-saat tertentu (Andoko, 2004). Mengingat prospek cabai merah yang sangat cerah maka perlu dibudidayakan secara intensif.

Salah satu usaha untuk meningkatkan hasil cabai merah adalah dengan menggunakan benih bermutu dari suatu varietas. Varietas cabai merah pada dasarnya terdiri dari varietas hibrida dan non hibrida (lokal), yang masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Beberapa varietas cabai hibrida di antaranya TM-999 dan ST-168.

Menurut Andoko (2004) bahwa varietas TM-999 mempunyai akar dan cabang sangat kuat sehingga tahan terhadap kekeringan, warna buah merah terang, ukuran daun lebih kecil, tahan terhadap layu bakteri phytoptora dan anthracnose sehingga dapat ditanam di musim hujan maupun kemarau. Selanjutnya dikatakan bahwa varietas ST-168 mempunyai perakaran dan batang yang kuat, bercabang banyak, buahnya lebat, produksi tinggi, warna buah merah menyala, tahan terhadap layu bakteri phytoptora dan antraknosa, tidak mudah patah dan tahan disimpan lama. Sebaliknya, varietas lokal produksinya rendah dan tidak tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem baik itu kekeringan maupun hujan yang tinggi.

Selain varietas, faktor media tumbuh juga merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan hasil cabai merah. Media tumbuh yang baik adalah media yang memiliki sifat fisik, kimia dan biologi yang sesuai. Hal tersebut dapat diperoleh dengan mencampur tanah, pasir, pupuk kandang, sekam ataupun bahan-bahan organik lainnya (Anonymous, 1991). Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa-sisa makanan atau alas kandang (Hakim et al., 1986). Pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan mendorong kehidupan dan perkembangan jasad renik (Sutejo dan Kartasapoetra, 1990). Arang sekam (kuntan) adalah sekam padi berwarna hitam, yang dihasilkan dari pem-bakaran sekam yang tidak sempurna. Menurut Agoes (1994) arang sekam sangat banyak kandungan haranya seperti SiO2 (52%) dan K (31%), serta komponen lainnya seperti Fe2O3, K2O, MgO, CaO. MnO, Cu dan bahan-bahan organik lainnya ada dalam jumlah yang sangat kecil. Selanjutnya, Warna hitam dari sekam bakar tersebut disinyalir mampu mengabsorbsi sinar matahari dengan baik yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang berbagai proses metabolisme tanaman. Syarif (1986) menyatakan untuk mendapatkan media tumbuh lebih baik yang memiliki tata udara dan air yang sesuai maka media tanah dapat dicampur dengan berbagai bahan organik, yaitu dengan perbandingan 2:1.

Setiap varietas mempunyai adaptasi yang berbeda-beda terhadap lingkungannya, baik unsur iklim maupun terhadap media tumbuh. Poespodarsono (dalam Ashari dan Andi, 2000) menyatakan setiap varietas terdiri dari sejumlah genotipe yang berbeda, dimana masing-masing genotipe mempunyai kemampuan tertentu untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas terbaik dan media tumbuh yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui apakah varietas mempunyai tanggap yang berbeda pada berbagai media tanam bagi pertumbuhan dan hasil cabai merah.

4 responses to this post.

  1. Posted by yosi on December 27, 2012 at 8:21 am

    maaf ada jurnalnya ga?

    Reply

  2. Posted by aziz on April 14, 2013 at 2:26 am

    gan permisi, ane boleh kopas gak buat tinjauan pkm?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: