EFEKTIVITAS DOSIS DAN WAKTU APLIKASI Trichoderma virens TERHADAP SERANGAN Sclerotium rolfsii PADA KEDELAI

Tjut Chamzurni, Rina Sriwati, dan Rahel Diana Selian

 

ABSTRACT

This study was aimed at obtaining an effective dose and application timing of Trichoderma in controlling wilt disease caused by Sclerotium on soybean. This study used a factorial complete ramdomized design with 8 combination of treatments and 4 replications. There were two factors studied, dose and timing of Trichoderma. Four level doses factor were studied, i.e. 75, 150, 225, and 300 g.polybag-1, while timing of application consisted of 2 levels, 7 days before planting and at the planting time. The observed variables were germination rate, incubation period, length of lesion formed on the base of the stem, and dry weight of seeds per plant. Data of variables observed was analized by analysis of variance and followed by least significance different test at level 5%. The results showed that dose of Trichoderma gave a significant effect on seed germination rate, incubation period, length of lesion and dry weight of seed per plant. Dose of Trichoderma 300 g.polibag-1 was the best and gave germination rate of seed up to 84,38%, incubation period 8 days, length of lesion 1,35 cm and dry weight of seed 24,13 g. The timing of application gave a significant effect only on dry weight of seed per plant. The best timing of application was found at 7days before planting and no interaction between doses and time of application of Trichoderma.

Keywords: Trichoderma virens, Sclerotium rolfsii, soybean

PENDAHULUAN

Kedelai (Glycine max L. Merril) merupakan komoditas tanaman pangan ketiga setelah padi dan jagung di Indonesia. Tanaman ini dikenal juga sebagai sumber protein nabati terpenting yang relatif murah, sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (Deptan,1991 dalam Misnawati, 2003).

Usaha peningkatan produkti-vitas kedelai tidak terlepas dari berbagai kendala, antara lain adanya gangguan hama dan penyakit. Salah satu penyakit yang cukup penting adalah penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Sclerotium rolfsii Sacc. Cendawan ini menyerang tanaman kedelai muda yang berumur sekitar dua sampai tiga minggu dan dapat menyebabkan kematian awal pada tanaman yang terinfeksi. Kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 75% (Sudhanta, 1997).

Selain pada kedelai, S. rolfsii juga dapat menyerang berbagai tanaman lainnya, seperti kacang tanah, tomat, kentang dan tembakau (Agrios, 1988). Patogen ini sulit ditanggulangi antara lain karena mampu bertahan selama bertahun-tahun di dalam tanah dalam bentuk sklerotia dan mempunyai kisaran inang yang luas (Semangun, 1993).

Memasuki pasar global, produk-produk pertanian ramah lingkungan akan menjadi prioritas. Persyaratan kualitas produk pertanian akan menjadi lebih erat kaitannya dengan pemakaian pestisida sintetik. Salah satu alternatif upaya peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian khususnya kedelai dapat dilakukan dengan pemanfaatan agen hayati (biopestisida) sebagai pengganti pestisida sintetik yang selama ini telah diketahui banyak berdampak negatif dalam mengendalikan penyakit-penyakit tanaman, seperti terbunuhnya mikroorganisme bukan sasaran dan membahayakan kesehatan dan ling-kungan. Trichoderma virens adalah cendawan saprofit tanah yang secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jenis cendawan penyebab penyakit tanaman (spektrum pengendalian luas). T. virens dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis cendawan penyebab penyakit tanaman. Pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman. Mekanisme antagonis yang dilakukan adalah berupa persaingan hidup, parasitisme, antibiosis dan lisis (Harwitz, 2003).

Trichoderma virens mengeluar-kan antibiotik dari senyawa viridiol phytotoxin yang dapat menghambat perkembangan patogen, memarasit patogen dengan penetrasi langsung dan juga lebih cepat dalam memper-gunakan O2, air dan nutrisi sehingga mampu bersaing dengan patogen (Kinerley & Mukherjee, 2010). Efektivitas T. virens sebagai agen antagonis sangat dipengaruhi oleh dosis dan waktu aplikasi. Hasil penelitian Idarniati (2007), perlakuan T. harzianum dengan dosis 500 gram per polibag terhadap serangan S. rolfsii pada kacang tanah dapat mengurangi persentase tanaman terserang mencapai 15%. Penelitian yang dilakukan oleh Nur & Ismiyati (2007), waktu aplikasi Trichoderma sp. 7 hari sebelum tanam efektif dalam menekan penyakit layu fusarium pada bawang merah dan menunjukkan bobot umbi kering perumpun tertinggi yaitu 70,30 gram.

Sclerotium rolfsii merupakan patogen tanah yang dapat bertahan hidup dalam tanah dengan membentuk tubuh istirahat. Oleh karena itu, waktu aplikasi yang tepat sangat dibutuhkan dalam mengendalikan cendawan S. rolfsii.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk menguji efektivitas dosis T. virens dan waktu aplikasi yang tepat untuk mengendalikan penyakit layu sclerotium pada tanaman kedelai.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis T. virens yang efektif dan waktu aplikasi yang tepat dalam mengendalikan penyakit layu sklerotium pada tanaman kedelai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: