APLIKASI PERLAKUAN PERMUKAAN TANAH DAN JENIS BAHAN ORGANIK TERHADAP INDEKS PERTUMBUHAN TANAMAN CABE RAWIT

Muhammad Hatta

 

ABSTRACT

This study was aimed at determining effects of soil surface treatments and organic matter types, as well as interactions between the two treatments on growth of cayenne pepper. The results showed that there were significant interactions between soil surface treatments and organic material types on plant growth of cayenne pepper at age of 5 weeks after planting. Surface treatments affected plant growth However, the soil surface treatments were influenced by types of organic matters given in the soil. On organic matter in the form of compost, the best growth was found on recycled newspaper mulch placed on soil surface. Conversely, on organic matter in the form of pieces of recycled newspaper, mulch of recycled newspapers gave the worst growth. Organic matters also affected plant growth. However, treatment of organic matter was also influenced by soil surface treatments. On the surface soil compaction treatment, the best growth was obtained at compost. On treatment of newspaper mulch, the best growth was also obtained at the type of compost. In contrast, on the untreated soil surface, the best growth was found at the type of organic matter made of the pieces of recycled newspaper.

Keywords: compaction, mulch, organic matter, newsprint, cayenne pepper


PENDAHULUAN

Cabai rawit, (Capsicum frutescens L.) adalah tumbuhan dari anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia, tanaman ini juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Teng-gara lainnya (Wikipedia, 2010). Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Di dalam buah cabe rawit, terkandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak atsiri, vitamin A, dan Vitamin C. Kapsaisin memberikan rasa pedas, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pemati rasa kulit. Bijinya mengan-dung solanine, solamidine, solamar-gine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kapsisi-din berkhasiat sebagai anti-biotik (Iptek, 2010).

Semprotan cabe, yang berbahan aktif capsaicin, digunakan secara luas untuk perlindungan pribadi.  Cabe rawit merah juga dapat digunakan sebagai obat.  Yang paling banyak digunakan adalah sebagai salep untuk meringankan nyeri otot, sendi, dan sakit gigi, untuk mengobati batuk, asma, dan sakit tenggorokan, sebagai stimulan, dan untuk mengobati sakit perut, mabuk laut, dan perut kembung (Francis, 2010 ).

Bertanam cabai rawit dapat memberikan nilai ekonomi yang cukup tinggi apabila diusahakan dengan sungguh–sungguh. Satu hektar tanaman cabai rawit dapat menghasilkan 8 ton buah cabai rawit (Nungardani, 2010).

Cabai rawit akan bertumbuh dan berproduksi dengan baik apabila ditanam pada lingkungan yang optimum, baik iklim maupun tanah tempat tumbuhnya. Menurut Hanafi (2010) tanah yang baik untuk cabe rawit adalah gembur, subur, porous, dan banyak mengandung humus atau bahan organik. Akan tetapi, tanah dimaksud sudah sulit didapat.

Menurut Suriadikarta dan Simanungkalit (2006) sebagian besar lahan pertanian intensif telah mengalami degradasi dan mengandung kandungan C-organik yang sangat rendah, yaitu kurang dari 2 persen, bahkan di lahan sawah di Jawa kandungannya kurang dari 1 persen. Padahal, untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan C-organik lebih dari 2,5 persen. Untuk itu, lahan-lahan pertanian intensif perlu ditambahkan bahan organik.

Bahan organik merupakan unsur yang penting dalam tanah. Menurut BP Tanah (2005) bahan organik berperan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sifat fisik berupa pembentukan agregat tanah dan sifat kimia berupa penyedia hara mikro. Sifat biologi berupa sumber energi dan makanan mikroorganisme.

Bahan organik sangat bervariasi tergantung pada bahan dasar pembentuknya. Bahan organik dapat berasal dari sisa tanaman, sisa hewan, ataupun sisa industri. Menurut BP Tanah (2005) kualitas bahan organik atau pupuk organik sangat bervariasi tergantung pada kualitas bahan asalnya.

Selain bahan organik, mulsa juga dapat berperan memperbaiki kondisi tanah dan gilirannya mening-katkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Menurut Umboh (1997), mulsa adalah bahan atau material yang sengaja dihamparkan di atas permukaan tanah. Berdasarkan sumber bahan dan cara pembuatannya, maka mulsa dapat dikelompokkan menjadi mulsa organik, anorganik, dan kimia sintetik.

Mulsa organik berasal ter-utama dari sisa panen, tanaman pupuk hijau atau limbah hasil kegiatan pertanian lainnya seperti batang jagung, jerami padi, batang kacang tanah dan kedelai dan lain-lain yang dapat melestarikan produktivitas lahan untuk jangka waktu yang lama (Purwowidodo, 1983). Kertas koran termasuk ke dalam kategori ini.

Mulsa dapat meningkatkan produktivitas tanah. Hal ini karena mulsa dapat memberikan kebaikan kepada tanah. Menurut Purwowidodo (1983), mulsa mempunyai beberapa kebaikan antara lain dapat melindungi agregat tanah dari daya rusak butiran hujan, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, memelihara suhu dan kelembaban tanah, dan mengendalikan pertumbuhan gulma.

Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik.

Pemberian mulsa khususnya mulsa organik seperti kertas koran juga termasuk salah satu teknik pengawetan tanah. Pemberian mulsa ini dapat mengurangi erosi dan evaporasi, memperbesar porositas tanah sehingga daya infiltrasi air menjadi lebih besar (Sarief, 1985).

Evaporasi atau penguapan air dari tanah yang berlebihan sering menjadi faktor tertekannya pertum-buhan dan rendahnya produksi tanaman. Selain dengan mulsa, evaporasi dapat juga dikurangi dengan pemadatan permukaan tanah. Pemadatan ini berfungsi seperti kerak permukaan tanah, yaitu bisa memperkecil porositas permukaan tanah sehingga laju evaporasi air dari dalam tanah akan berkurang. Penghambatan evaporasi ini akan menjamin ketersediaan air tanah tetap terjaga. Menurut Hanafiah (2005) tanah yang tidak porous atau padat menyebabkan pergerakan air dari tanah ke udara terhambat. Selanjutnya menurut Gunadarma (2010), pemadatan tanah dapat memperbaiki kuat geser tanah, mengurangi kompresibilitas, mengurangi permeabilitas, dan mengurangi sifat kembang susut tanah. Menurut Soilquality (2010) kerak permukaan tanah bisa memiliki beberapa keuntungan. Kerak mengurangi kehilangan air karena permukaannya lebih sedikit terkena udara dibandingkan dengan tanah remah. Selain itu, kerak membentuk hambatan terhadap evaporasi air tanah. Evaporasi air tanah yang rendah berarti lebih banyak air yang tinggal di dalam tanah untuk keperluan tanaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: