PENGGUNAAN 2,4 D UNTUK INISIASI KALUS JARINGAN NUCELLUS Mangifera odorata Griff. MELALUI BUDIDAYA JARINGAN

Chairani Siregar

 

ABSTRACT

Application of 2,4 D for callus initiation from nucellar tissue of  Mangifera odorata through tissue culture has been done at Biotecnology laboratory, Agriculture Faculty, University of Tanjungpura, Pontianak. The aim of this reseach was to describe the 2,4 D concentration in half strength MS medium on the nucellar callus formation of  Mangifera odorata. This reseach has been conducted from April to July 2005, and Completely Randomized Design was applied, with 6 treatments and 4 replications in which each replication consist of 3 samples.The treatments level: d1= 1 ppm, d2= 1,2 ppm, d3= 1,4 ppm, d4= 1,6 ppm, d5= 1,8 ppm, d6= 2 ppm. The result showed that 1 ppm of 2,4 D gave the fastest callus formation (9,5 days), and the highest callus weight (85,95 mg).

Keywords : Mangifera odorata, 2,4 D, Callus, Tissue Culture

 

PENDAHULUAN

Mangga kweni (Mangifera odorata Griff.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki arti cukup penting bagi kita. Dari segi rasa kweni memang tidak terlalu enak untuk dikonsumsi, namun keistimewaannya justru terletak pada aromanya yang tajam. Budidayanya dilakukan sebagai tanaman pekarangan yang biasa dijadikan pembatas antar pekarangan tanpa perawatan yang intensif (Pracaya, 1987).

Mangga kweni secara umum diperbanyak dengan biji. Walaupun menghasilkan keturunan yang sama dengan induknya, tetapi tanaman asal biji tetap memerlukan waktu yang lama. Dalam budidaya jaringan, menginduksi kalus merupakan suatu langkah penting. Setelah kalus terbentuk, diusahakan agar jaringan mengalami diferensiasi membentuk akar dan tunas. Media yang digunakan untuk pembentukan kalus dalam teknik kultur jaringan adalah media Murashige dan Skoog (MS), dengan menambahkan satu unsur yang menjadi penunjang bagi keberhasilan pembentukan kalus tersebut, yaitu menggunakan Dicholorophenoxyacetic acid atau disingkat 2,4 D (Gunawan, 1987).

2,4 D merupakan zat pengatur tumbuh dari golongan auksin. Zat pengatur tumbuh ini merangsang pembentukan kalus, mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis sel, jaringan dan organ. Selain itu 2,4 D mempunyai sifat stabil, karena tidak mudah terurai oleh enzim–enzim yang dikeluarkan oleh sel atau oleh pemanasan pada proses sterilisasi (Gunawan, 1987). Penggunaan 2,4 D dengan konsentrasi 1-2 ppm dalam media setengah MS akan dapat menginisiasi kalus dari jaringan nucellus.

Kemampuan untuk mensintesis dan merombak serta kepekaan terhadap zat–zat tersebut untuk setiap spesies tanaman berbeda-beda. Oleh karena itu tidak ada satu konsentrasi tertentu bagi setiap penggunaan dalam kultur jaringan, sehingga perlu diadakan penelitian mengenai bagaimana memperbanyak mangga kweni dengan menggunakan jaringan nucellus dari bagian biji muda yang berumur 20 sampai 60 hari setelah ant

hesis. Pada umur tersebut jaringan nucellus masih terdapat pada biji dan belum tertutup oleh lapisan (integumen) biji. (Tjitrosomo, 1984 dan Evans, 1986)

Penelitian ini bertujuan mencari konsentrasi 2,4 D terbaik dalam penggunaanya sebagai zat pengatur tumbuh untuk inisiasi kalus jaringan nucellus mangga kweni (Mangifera odorata Griff.) melalui budidaya jaringan.

Tag Technorati: {grup-tag},,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: