PENGARUH TINGKAT KEMASAKAN BUAH DAN CARA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH KAKAO (Theobroma cacao L.)

Rita Hayati, Zainal Abidin Pian, dan Syahril AS

ABSTRACT

This study was aimed at determining seed viability and vigor of cocoa on some levels of fruit maturity and storage methods. The results showed that levels of fruit maturity did not significantly affect growth potential, germination, seedling vigor and growth rates of cocoa seeds. Storage method exerted highly significant effects on growth potential, germination, seedling vigor and growth rates of cocoa seeds. The best cocoa seed viability and vigor were found at a storage by using a paper straw. There was no significant interaction between level of fruit maturity and storage method on growth potential, germination, seedling vigor and growth rates of cocoa seeds.

Keywords: maturity, storage, cocoa


PENDAHULUAN

Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya berbagai tanaman pertanian, terma-suk tanaman perkebunan seperti kakao, kopi, jambu mete, kemiri dan melinjo. Sebagai bahan perbanyakan tanaman, benih harus memiliki mutu yang tinggi baik genetik, fisik maupun fisiologis agar dapat menghasilkan tanaman yang tumbuh vigor dan berproduksi tinggi. Benih yang bermutu tinggi akan mengalami kemunduran pada saat penyim-panan. Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang selama mungkin, agar benih dapat ditanam pada tahun-tahun berikutnya atau untuk tujuan pelestarian benih dari suatu jenis tanaman (Sutopo, 2002).

Benih tanaman pertanian dapat dikelompokkan atas tiga kelompok benih, yaitu benih ortodok, rekalsitran dan intermediate. Penge-lompokan tersebut didasarkan atas kepekaannya terhadap pengeringan dan suhu. Benih ortodok tahan terhadap pengeringan, membutuhkan kadar air dan suhu rendah untuk mempertahankan hidupnya. Se-baliknya, benih rekalsitran sangat peka terhadap pengeringan, mengalami kemunduran pada kadar air dan suhu yang rendah. Sementara benih intermediate berada di antara kedua sifat ortodok dan rekalsitran (Hasanah, 2002).

Kakao dikenal dalam bentuk yang digunakan sebagai bahan makanan dan campuran minuman. Dengan perkembangan industri yang pesat dewasa ini kakao digunakan sebagai bahan kosmetik dan obat-obatan. Selain itu digunakan juga untuk pembuatan kembang gula dan manisan cokelat. Kakao adalah salah satu tanaman pertanian yang benihnya tergolong ke dalam benih rekalsitran. Benih kakao sangat sensitif terhadap pengeringan dan peka terhadap suhu rendah. Viabilitas benih kakao yang disim-pan dengan perubahan temperatur dari 15-17 0C akan mengalami penurunan (Hor dalam Ashari, 1995).

Salah satu faktor yang sangat mendukung keberhasilan dan peningkatan produksi kakao adalah tersedianya bibit yang berkualitas dan mampu tumbuh baik di lapangan. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga nilai viabilitas benih dan vigor kecambah saat penyimpanan dan perkecambahan. Justice dan Bass (2002) menge-mukakan, tingkat kemasakan buah dapat mempengaruhi viabilitas benih, benih yang berasal dari buah yang terlalu tua atau terlalu muda biasanya memiliki daya vigor rendah.

Menurut Sadjad (1994) benih yang pasca masak fisiologis ditandai dengan rontoknya buah dari tangkai, daging buahnya lunak dan bijinya ada yang telah berkecambah. Sutopo (2002) mengemukakan benih yang dipanen sebelum masak fisiologis belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan keadaan embrio belum sempurna. Sedangkan yang masak fisiologis embrio telah terbentuk secara sempurna serta telah memiliki cadangan makanan yang cukup. Waktu panen dan cara pasca panen akan menentukan kualitas benih sebelum benih tersebut disimpan. Benih yang dipanen sebelum masak fisiologis dicapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi, bahkan pada beberapa tanaman benih yang demikian tidak akan berkecambah.

Selain faktor tingkat kemasakan buah, viabilitas benih kakao juga ditentukan oleh faktor cara simpan. Salah satu metode penyimpanan yang dapat mencegah penguapan kandungan air benih yang berlebihan selama penyimpanan adalah dengan mengemas benih dalam wadah yang kedap uap air seperti kantong plastik yang tertu-tup. Penyimpanan benih dalam wadah yang kedap air dapat memper-tahankan vigor dan daya tumbuh benih serta merupakan penghalang bagi hama dan penyakit benih. Kondisi benih rekalsitran bergantung pada kondisi akhir kadar air benih setelah penyimpanan, makin tingginya kadar air benih setelah disimpan akan semakin tinggi pula viabilitas benih tersebut (Hereri dalam Sukma, 2005).

Menurut Hasanah (2002), pengetahuan dalam usaha mem-perpanjang daya hidup benih rekalsitran masih sangat terbatas. Daya simpan benih dapat diper-panjang dengan mengemas benih pada penggunaan plastik berlubang yang dilengkapi dengan bahan yang lembab seperti sekam dan serbuk gergaji. Namun hal ini memerlukan protektan bagi benih agar dapat mengurangi infeksi, dan tidak berbahaya bagi benih. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh tingkat kemasakan buah dan cara simpan benih terhadap viabilitas dan vigor benih kakao.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas benih dan vigor benih kakao pada beberapa tingkat kemasakan buah dan cara penyimpanan. Di samping itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara tingkat kemasakan buah dan cara simpan benih terhadap viabilitas dan vigor benih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: