PENGARUH JENIS AMELIORAN TERHADAP EFEKTIVITAS DAN INFEKTIVITAS MIKROBA PADA TANAH GAMBUT DENGAN KEDELAI SEBAGAI TANAMAN INDIKATOR

Nurhayati

ABSTRACT

The objectives of  this research were to study effects of some ameliorants  (calcify dolomite,  sea mud,  and some biofertilizers) to some variables of C-organic, C/N, soil nitrogen, soil available P, N and P absorption, the infection of Bradyrhizobium and mycorrhiza, and soybean growth. This research was arranged in Randomized Complete Block Design with thirteen treatments and two replicates. Provision of some amelioran exerted significant effects on numbers of root nodules, degree of mycorrhiza infection, and plant height of 5 week after planting (WAP). The best amelioran was calcify dolomite on which had positive responses to the increase of numbers of root nodules, degree of mycorrhiza infection, and plant height of 5 WAP. The second best was combination of Bradyrhizobium +Mos+ peat soil isolate mycorrhiza, which significantly increased numbers of root nodules, degree of mycorrhiza infection, and plant height of 5 WAP. The poor and the poorest ameliorants were sea mud+calcify dolomite and sea mud without dolomite, respectively, which caused reduction of numbers of root nodules, degree of mycorrhiza infection, and plant height of 5 WAP.

Keywords: Peat soil, calcify dolomite, sea mud, Bradyrhizobium, Mos, mycorrhiza

PENDAHULUAN

Lahan marjinal yang potensinya cukup besar untuk dimanfaatkan adalah lahan gambut. Di Indonesia tanah gambut (Histosol) merupakan golongan kedua terluas setelah Podzolik dan menempati 10% dari daratan Indonesia. Lebih dari 38 juta ha tanah gambut di daerah tropis, sekitar 27 juta ha (87.3 %) terletak di Indonesia yang sebagian besar masih merupakan hutan dan hanya sebagian kecil yang sudah diusahakan menjadi lahan pertanian atau perkebunan. (Soekardi dan Hidayat, 1994; Widjaya-Adhi, 1986). Tidak seluruh lahan itu bisa dikembangkan, tetapi yang masih mungkin untuk dimanfaatkan diperkirakan seluas 5.6 juta ha (Subagyo et al., 1996). Oleh karena berbagai kendala, baik teknis maupun sosial ekonomi, pemanfaatan lahan gambut sangat terbatas, sedangkan kontribusi lahan gambut untuk perluasan areal pertanian sangat penting. Kenyataan ini menyebabkan tanah gambut cukup potensial untuk perluasan areal pertanian.

Pada kondisi alami, tanaman pertanian umumnya sulit tumbuh di lahan gambut disebabkan faktor penghambat yang dimiliki lahan gambut begitu kompleks mencakup kesuburan kimia, fisik dan biologi yang kurang menguntungkan. Hal ini antara lain disebabkan pH rendah, kejenuhan basa rendah, KTK tinggi, rasio C/N tinggi, sehingga ketersediaan hara makro dan mikro bagi tanaman rendah, aktivitas mikroba rendah, adanya pengaruh intrusi garam dan lapisan sulfat masam, drainase yang buruk, dan daya dukung tanah rendah dan berbagai faktor-faktor penghambat lainnya seperti keberadaan asam organik yang bersifat toksik. Kondisi demikian tidak menunjang terciptanya laju penyediaan hara yang memadai bagi tanaman. Kandungan bahan organik yang tinggi pada lahan gambut menyebabkan hara mikro membentuk senyawa kompleks dengan asam organik dan tidak mudah tersedia (Rachim 1995).

Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut, peningkat-an produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan sering kali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi, pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan sering kali menyebabkan pencemaran lingkungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas lingkungan.

Beberapa penelitian untuk menghasilkan teknologi yang dapat meningkatkan kesuburan tanah tanpa menggunakan pupuk kimia buatan telah banyak di lakukan. Salah satu teknologi yang saat ini dikembangkan adalah pengelolaan hara terpadu yang mendukung pemupukan organik dan peman-faatan pupuk hayati. Pemanfaatan bahan-bahan perbaikan tanah (amelioran) seperti kapur, bahan-bahan mineral lainnya dan pupuk hayati seperti Bradyrhizobium, mos dan mikoriza dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah dan khususnya untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia dan biologi lahan gambut merupakan alternatif yang tepat. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang dipilih dalam budidaya tanaman yakni efisiensi energi dan selaras dengan lingkungan.

Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam, penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah, daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik, membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman.

Upaya pengembangan gam-but sebagai lahan pertanian diperlukan beberapa upaya antara lain mempercepat kematangan, meningkatkan kejenuhan basa, antara lain dengan memberikan biofertilizer dan bahan amelioran seperti kapur dolomit, tanah mineral.

Pupuk hayati adalah mikrobia dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanam-an inangnya. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak, tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan, sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah, disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersediaan P dalam tanah seperti Bradyrhizobium dan mikoriza.

Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Namun, pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologi untuk meningkatkan ketersediaan hara, sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman, menekan soilborne disease, mempercepat proses mineralisasi, memperbaiki struktur tanah, dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe, 2008).

Pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung bahan aktif mikroba yang menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsur hara dalam tanah, sehingga dapat diserap tanaman. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional, penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50%, berkurangnya pencemaran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan (Goenadi, dkk, 2000).

Di samping itu, bentuk hara P pada tanah gambut didominasi bentuk P organik yang disebut fosfolipida. Fosfolipida tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman, oleh karena itu mikoriza sangat berperan untuk menghidrolisis fosfolipida dengan adanya enzim fosfatase yang dapat mengubah senyawa fosfor menjadi tersedia bagi tanaman. Menurut Sutanto (2002), mikoriza dapat menghemat pupuk fosfat sekitar 20% sampai 30%.

Tanah gambut mengandung bahan organik yang tinggi tetapi kandungan unsur hara tanahnya, disebabkan proses dekomposisi bahan organik belum sempurna, sehingga status hara tanah gambut sangat miskin. Diharapkan dengan pemberian mikroorganisme selulolitik dapat memecahkan masalah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa jenis amelioran(kapur, lumpur laut, dan beberapa jenis pupuk hayati) terhadap C organik, C/N, N tanah, P tersedia tanah, serapan hara N dan P tanaman, infektivitas Bradyrhizobium, mikoriza pertumbuhan kedelai pada tanah gambut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: