Archive for October, 2011

PEMANFAATAN BAKTERI ANTAGONIS SEBAGAI AGEN BIOKONTROL PENYAKIT LAYU (Fusarium oxysporum f.sp. cubense) PADA TANAMAN PISANG

 

Susanna

 

ABSTRACT

Fusarium wilt or panama disease caused by Fusarium oxysporum f.sp. cubense is on of the important disease on banana. Recently there is no such effective methode for controlling the disease. The use of fungicide to control the disease can make new races of the fungal pathogen is very virulent. The use of biocontrol agent such as Pseudomonas fluorescens and Bacillus subtilis is alternative methode to control fusarium wilt. The aim of this experiment was to find out the most effective antagonist bacterial to control fusarium wilt on banana. The study was carried out in Mycology Laboratory of IPB and green house and Phytopathology Laboratory of Balitbio, Bogor from January to October 2001. Six treatments in this experiment were arranged in randomized complete design with 3 replications. The result showed that Pseudomonas fluorescens and Bacillus subtilis were reducing Panama disease fusarium wilt on banana. Both antagonistic bacterials were effective to control fusarium wilt.

Keywords: Banana, Fusarium oxysporum f.sp. cubense, Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis.

PENDAHULUAN

Saat ini, fusarium yang sering disebut penyakit panama disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) sudah menjadi masalah yang utama di berbagai pertanaman pisang dunia. Penyakit tersebut telah meluas baik pada pertanaman pisang perkarangan maupun perkebunan. Kerugian yang diakibatkan oleh patogen tersebut cukup tinggi. Hasil pengamatan Sulyo (1992) di Kabupaten Lebak beribu-ribu tanaman pisang mati akibat terjangkit layu.

Penyakit ini telah menyebar luas di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan (Muharam et al., 1992). Hal ini menunjukkan bahwa penyakit layu fusarium mempunyai potensi untuk terus berkembang dan menjadi salah satu kendala yang harus dipertimbangkan dalam rangka pengembangan pisang secara besar-besaran di Indonesia.

Foc merupakan patogen tular tanah (soil borne pathogen) yang bersifat penghuni tanah (soil inhabitant ), memiliki ras fisiologi yang berbeda dan dapat menimbulkan penyakit yang bersifat monosiklik sehingga strategi pengendalian yang efektif hingga kini belum ditemukan. Disamping itu patogen Foc dapat bertahan hidup dalam berbagai jenis tanah untuk puluhan tahun walaupun tanpa tanaman inang.

Beberapa tehnik pengendalian telah dilakukan seperti penggunaan fungisida, kultur tehnis, dan kultivar yang resisten, tetapi masih juga menjadi masalah. Alternatif pengendalian lain yaitu penggunaan mikroorganisme antagonis. Cook & Baker (1983) menyatakan bahwa usaha penanggulangan penyakit tanaman dengan cara biologi mempunyai peluang yang cukup cerah karena organismenya telah tersedia di alam dan aktifitasnya dapat distimulasi dengan modifikasi lingkungan maupun tanaman inang. Mikroba tanah dari kelompok bakteri yang berpotensi menekan patogen tular tanah, diantaranya: Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis. P. Fluorescens dapat mengurangi penyakit layu pada pisang yang ditanam dalam ember plastik pada lahan terbuka dari 93,3 – 20,0% (Djatnika dan Wakiah, 1995). Keanekaragaman mikroorganisme yang antagonis dan kekayaan sumberdaya alam dalam tanah pertanian, sebenarnya menjanjikan peluang yang cukup besar untuk dimanfaatkan dalam pengendalian hayati terhadap penyakit tanaman tanpa merusak lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bakteri antagonis (Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis) dalam mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman pisang.

Advertisements

PENGARUH PENCUCIAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PRODUKSI PADI SAWAH DI PROVINSI NAD

Chairunas

 

ABSTRACT

The research objective was to get the appropriate technological packet of lowland rice cultivation on tsunami-affected land to increase land productivity. The research was conducted in Bireuen District of Aceh Province. Result of salinity measurement using Electro Magnetic (EM-38) tool on tsunami-affected land showed that soil salinity has decreased (ECa = 0,5 dS/m ~ Ece = 0,52 dS/m) but it was still higher than that of unaffected land. Soil analyses showed that organic content was very low (0.97 %) and potassium was also low (0.52). In contrast, there were very high contents of Mg (8.58 cmol/kg) and Ca (7.00 cmol/kg). In dry season of cropping year 2005 (April-September), farmers harvested rice as much as 30-50 % of normal productivity (2.5 – 4 tons/ha). Effort in increasing land productivity needs introduction of technological packet such as manure combined with potassium application. In this research, manure used was from processed chicken waste in dosage of 0 and 2 tons/hectare combined with KCl fertilizer as source of potassium in dosage of 50 tons/ha and 75 tons/ha. Basic fertilizer used were 200 kgs/ha urea and 100 kgs/ha SP36. The research applied factorial Randomized Block Design, consisted of 8 application combinations and 3 replications. The result showed that application of 2 tons/ha manure combined with 75 kgs/ha KCl, 200 kgs/ha urea and 100 kgs/ha SP36 and two times of leaching gave the highest rice yield (11,54 tons/ha). The lowest yield of 8.30 tons/ha (30 % higher than average farmer yield before tsunami) was found on farmer’s application (without leaching, no manure, 200 kgs/ha urea, 100 kgs/ha Sp36 and 50 kgs/ha KCl).

Keyword: lowland rice, tsunami, manure, potassium, leaching

 

PENDAHULUAN

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang memiliki potensi cukup besar di bidang pertanian, terutama tanaman pangan. Luas lahan sawah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 331.236 ha. Produktivitas padi rata-rata mencapai 4.4 ton/ha (Distan TPH, 2004).

Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 telah mengubah Provinsi ini secara drastis pada segala bidang kegiatan masyarakat ; budaya, sosial dan ekonomi. Di bidang pertanian, kerusakan yang terjadi pada lahan, yang bersifat fisik – kimia – biologi, tidak dalam waktu dekat bisa direhabilitasi. Di samping itu fasilitas dan infrastruktur penyokong serta aspek psikologis masyarakat tani memerlukan penanganan khusus.

Rehabilitasi lahan pertanian di NAD, khususnya perbaikan kesuburan lahan pasca tsunami adalah usaha pertama dan utama yang harus dilakukan sebelum masukan teknologi lainnya bisa efektif dan efisien. Berhubung kerusakan lahan bersifat fisik – kimia – biologi karena bencana tsunami, maka penanganan lahan harus secara spesifik untuk menghilangkan kendala-kendala yang disebabkan oleh oleh gelombang tsunami dimana ion Na+ nya tinggi telah tertimbun (deposit) menyebabkan tanah padat sehingga tanah potensial menjadi rusak (John, 2005). Kendala utama yang harus dihilangkan (yang feasible untuk direhabilitasi dalam waktu dekat) adalah kegaraman/salinitas yang disebabkan oleh gelombang tsunami, serta keracunan unsur hara yang mungkin bisa disebabkan oleh peningkatan kadar garam, perubahan pH tanah (Peter, 2005).

Untuk ini teknologi yang dapat mengurangi/ menghilangkan salinitas dan beberapa unsur yang beracun sangat diper­lukan; tanpa adanya teknologi tersebut produktivitas lahan tidak akan dapat dikembalikan.

Introduksi beberapa komponen teknologi padi sawah diharapkan mampu mengembalikan dan meningkatkan produktivitas 1- 2 ton/ha, sehingga sistem usahatani padi sawah menjadi usahatani yng kompetitif dibandingkan dengan komoditas tanaman semusim lainnya. Sasaran pendapatan usahatani padi (pendapatan bersih) yang merupakan resultante dari penerapan teknologi anjuran (Puslitbangtan, 2003).

Kerusakan pada sebagian besar lahan sawah yang produktif, di Provinsi NAD, diperlukan perbaikan lahan secara intensif, ini merupakan tanggung jawab dari semua pihak yang terkait khususnya Pemerintah Daerah. Hal ini harus diperlukan penanganan dengan segera karena pada umumnya sebagian besar masyarakat ber­mata pencaharian sebagai petani.

Melalui upaya perbaikan lahan dan introduksi beberapa komponen teknologi budidaya pada lahan yang terkena bencana alam tsunami diharapkan kondisi lahan pertanian dapat baik kembali, petani termotivasi kembali untuk berusahatani dan produksi yang maksimal dapat dicapai.

Solusi yang dapat ditempuh dalam menyikapi kondisi di atas adalah melalui beberapa cara, antara lain; kesesuaian varietas, penggunaan pupuk organik, pencucian lahan, terutama pada lahan yang terkena tsunami untuk menetralisir pengaruh salinitas pada tanaman, pembinaan dinamika kelompoktani, menjalin pola kemitraan serta jaringan pemasaran, juga melakukan diseminasi program serta adanya dukungan pemerintah daerah dalam pemberdayaaan kembali ekonomi masyarakat.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pencucian dan pemberian pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil padi varietas Ciherang pada lahan sawah terkena tsunami.

PENGARUH JENIS PUPUK ORGANIK DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN LIDAH BUAYA

Jumini dan Syammiah

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to know the effect of organic fertilizer species and planting space, and interaction between them on the growth of aloe. Research was done from February to May 2006 at experiment station of Agriculture Faculty of Syiah Kuala University. Units of treatments were arranged by factorial randomized complete block design with 3 replications. Data collected were analyzed by analysis of variance and followed with honestly significant different test at the level of 5%. The results showed that cow manure was the best for the growth of aloe compared to compos, and the spacing of 70×70 cm was the best planting space. However, the interaction between the two factors showed that widening planting space from 60×60 cm to 70×70 cm with cow manure did not give significant effect; while this gave significant positive effect when using compos.

Keywords: organic fertilizer, planting space, Aloe vera


PENDAHULUAN

Lidah buaya (Aloe vera (L.) Weeb.) merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri. Menurut Wahjono dan Koesnandar (2002), tanaman lidah buaya memiliki banyak manfaat dan khasiat, beberapa di antaranya: anti jamur, anti bakteri, regerasi sel, menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, melindungi tubuh dari penyakit kanker, sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV, obat luka memar, muntah darah, obat cacing dan susah buang air besar.[1]

Permintaan lidah buaya di Indonesia untuk bahan kosmetik dan obat-obatan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya perusahaan pengolahan daun lidah buaya, sehingga setiap tahun harus mengimpor dari Amerika Serikat dan Australia (Furnawanthi, 2002). Melihat peluang pasar yang besar, produksi lidah buaya di dalam negre harus ditingkatkan sehingga paling tidak dapat menurunkan angka ekspor.

Seperti halnya tanaman lain, untuk dapat berproduksi maksimal lidah buaya harus dipenuhi segala kebutuhan hidupnya. Secara morfologi tanaman lidah buaya berperakaran dangkal, sehingga kesempurnaan tanah bagian atas menjadi sangat penting. Pemanfaatan pupuk organik adalah solusi terbaik mengingat peran pentingnya dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Setiap jenis pupuk organik walaupun memiliki peran yang relatif sama namun memiliki karakteristik tersendiri, dan hingga kini belum diketahui jenis pupuk organik terbaik untuk budidaya lidah buaya.

Selain kebutuhan yang bersifat input, kebutuhan akan ruang hidup atau jarak tanam juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Jarak tanam yang terlalu lebar dapat menyebabkan tidak efisiennya penggunaan tanah (populasi tanaman terlalu kecil) dan dapat merangsang tumbuhnya gulma, sebaliknya bila terlalu sempit mengakibatkan daun antar tanaman saling bersinggungan hingga akan terluka, yang pada akhirnya akan menurunkan produksi. Jarak tanam optimum tergantung pada beberapa faktor seperti kesuburan tanah, kelembaban tanah, dan varietas yang dibudidayakan (Sumarno, 1984).

Belum ada kesesuaian pendapat tentang jarak tanam yang baik untuk tanaman lidah buaya, namun dengan beberapa alasan, jarak tanam yang dianjurkan berada pada kisaran 50×50 cm sampai 100×100 cm (Sudarto, 1997), karena jarak tanam sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan dimana tanaman tersebut dibudidayakan. Sungguhpun demikian, dengan panjang akar 30-40 cm dan panjang daun 50-75 cm, pendapat di atas tidak dapat dibantah. Namun karena masih berada pada kisaran yang luas maka cukup layak untuk ditentukan jarak tanam yang lebih tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh (sekaligus menentukan pilihan terbaik) jenis pupuk organik dan jarak tanam, serta interaksi antara keduanya, terhadap pertumbuhan tanaman lidah buaya.

PENGGUNAAN 2,4 D UNTUK INISIASI KALUS JARINGAN NUCELLUS Mangifera odorata Griff. MELALUI BUDIDAYA JARINGAN

Chairani Siregar

 

ABSTRACT

Application of 2,4 D for callus initiation from nucellar tissue of  Mangifera odorata through tissue culture has been done at Biotecnology laboratory, Agriculture Faculty, University of Tanjungpura, Pontianak. The aim of this reseach was to describe the 2,4 D concentration in half strength MS medium on the nucellar callus formation of  Mangifera odorata. This reseach has been conducted from April to July 2005, and Completely Randomized Design was applied, with 6 treatments and 4 replications in which each replication consist of 3 samples.The treatments level: d1= 1 ppm, d2= 1,2 ppm, d3= 1,4 ppm, d4= 1,6 ppm, d5= 1,8 ppm, d6= 2 ppm. The result showed that 1 ppm of 2,4 D gave the fastest callus formation (9,5 days), and the highest callus weight (85,95 mg).

Keywords : Mangifera odorata, 2,4 D, Callus, Tissue Culture

 

PENDAHULUAN

Mangga kweni (Mangifera odorata Griff.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki arti cukup penting bagi kita. Dari segi rasa kweni memang tidak terlalu enak untuk dikonsumsi, namun keistimewaannya justru terletak pada aromanya yang tajam. Budidayanya dilakukan sebagai tanaman pekarangan yang biasa dijadikan pembatas antar pekarangan tanpa perawatan yang intensif (Pracaya, 1987).

Mangga kweni secara umum diperbanyak dengan biji. Walaupun menghasilkan keturunan yang sama dengan induknya, tetapi tanaman asal biji tetap memerlukan waktu yang lama. Dalam budidaya jaringan, menginduksi kalus merupakan suatu langkah penting. Setelah kalus terbentuk, diusahakan agar jaringan mengalami diferensiasi membentuk akar dan tunas. Media yang digunakan untuk pembentukan kalus dalam teknik kultur jaringan adalah media Murashige dan Skoog (MS), dengan menambahkan satu unsur yang menjadi penunjang bagi keberhasilan pembentukan kalus tersebut, yaitu menggunakan Dicholorophenoxyacetic acid atau disingkat 2,4 D (Gunawan, 1987).

2,4 D merupakan zat pengatur tumbuh dari golongan auksin. Zat pengatur tumbuh ini merangsang pembentukan kalus, mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis sel, jaringan dan organ. Selain itu 2,4 D mempunyai sifat stabil, karena tidak mudah terurai oleh enzim–enzim yang dikeluarkan oleh sel atau oleh pemanasan pada proses sterilisasi (Gunawan, 1987). Penggunaan 2,4 D dengan konsentrasi 1-2 ppm dalam media setengah MS akan dapat menginisiasi kalus dari jaringan nucellus.

Kemampuan untuk mensintesis dan merombak serta kepekaan terhadap zat–zat tersebut untuk setiap spesies tanaman berbeda-beda. Oleh karena itu tidak ada satu konsentrasi tertentu bagi setiap penggunaan dalam kultur jaringan, sehingga perlu diadakan penelitian mengenai bagaimana memperbanyak mangga kweni dengan menggunakan jaringan nucellus dari bagian biji muda yang berumur 20 sampai 60 hari setelah ant

hesis. Pada umur tersebut jaringan nucellus masih terdapat pada biji dan belum tertutup oleh lapisan (integumen) biji. (Tjitrosomo, 1984 dan Evans, 1986)

Penelitian ini bertujuan mencari konsentrasi 2,4 D terbaik dalam penggunaanya sebagai zat pengatur tumbuh untuk inisiasi kalus jaringan nucellus mangga kweni (Mangifera odorata Griff.) melalui budidaya jaringan.

Tag Technorati: {grup-tag},,,,

JENIS SENYAWA ORGANIK SUPLEMEN PADA MEDIUM KNUDSON C UNTUK PERTUMBUHAN PROTOCORM LIKE BODIES DENDROBIUM BERTACONG BLUE X DENDROBIUM UNDULATUM

Syammiah

 

ABSTRACT

The aim of this research was to find out the best modification on Knudson C medium for the growth of protocorm like bodies of Dendrobium bertachong blue X Dendrobium undulatum in vitro. Research has been done for three months from April to July 2005. Completely Randomized Design with 6 treatments and 4 replications was applied. The treatments were Knudson C medium added with: 15% of coconut liquid endosperm, 7.5% of banana juice, 0.2% of yeast extract, 15% of potato juice, 5% of aloe juice, and 5% of tomato juice. The results showed that 5% of tomato juice was the fastest for shoot forming and 5% of aloe juice was the best medium supplement for the colour of protocorm like bodies.

Keywords: Knudson C medium, tissue culture organic compound supplements, protocorm like bodies, sub culture, Dendrobium


PENDAHULUAN

Anggrek Dendrobium adalah salah satu jenis anggrek yang terbesar populasinya di dunia. Diperkirakan anggrek ini terdiri dari 1.600 spesies (Lestari, 1985). Perbanyakan anggrek Dendrobium dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya secara generatif melalui penebaran biji, secara vegetatif dapat melalui pemisahan rumpun (splitting) dan anakan (keiki). Perbanyakan melalui splitting memerlukan banyak tanaman induk, sedangkan dengan cara keiki perlu waktu yang lama karena anakan jarang muncul pada ruas tanaman anggrek. Oleh karena itu, teknik perbanyakan secara in vitro menjadi penting dalam perbanyakan Dendrobium.

Kelebihan perbanyakan secara in vitro adalah kemampuan memperoleh eksplan yang tepat sesuai keinginan. Selain itu, keseragaman tanaman dapat dipertahankan serta mampu dengan cepat diperoleh bibit untuk skala besar bila diiringi dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat. Menurut Gunawan (1995), kelebihan kultur jaringan adalah hasil perbanyakan pertama, baik berupa biji dan mata tunas, dapat langsung digunakan untuk perbanyakan selanjutnya.

Penggunaan media tumbuh anggrek saat ini sangat bervariasi. Variasi media tersebut biasanya dalam bentuk modifikasi komponen penting dalam media yaitu dengan menambahkan zat-zat lainnya pada media yang mungkin dapat meningkatkan pertumbuhan eksplan, seperti menambahkan zat-zat pengatur tumbuh, vitamin, air kelapa, asam-asam amino, maupun jus buah-buahan.

Modifikasi terhadap beberapa media standar Murashige dan Skoog (MS), Woody Plant Medium (WPM), Vacin dan Went (VW) telah dicoba diteliti. Misalnya penelitian Apriani (1996) menggunakan MS + air kelapa, jus pisang dan tomat, dan penelitian Yulinda (2003) menggunakan VW + air kelapa, bubur pisang, bubur ubi kayu, ragi dan ampas kedelai. Mereka menghasilkan modifikasi yang cukup baik. Namun belum ada data atau penelitian yang menggunakan media standar Knudson C dengan modifikasi tambahan seperti media di atas.

Menurut Sagawa dan Shogi (1977), media Knudson C dapat memberikan pengaruh yang baik untuk pertumbuhan anggrek Dendrobium sp. Demikian pula penambahan senyawa organik memiliki peran penting, karena pada setiap bahan alami ini banyak terkandung unsur hara, vitamin, asam amino, asam nukleat, fosfor dan zat tumbuh seperti auksin dan giberelin yang berfungsi sebagai perangsang perkecambahan dan pertumbuhan (Widiastoety, 2001).

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi modifikasi media Knudson C yang terbaik bagi pertumbuhan sub kultur protocorm like bodies (plb) silangan Dendrobium bertacong blue x Dendrobium undulatum.

Tag Technorati: {grup-tag},,,

PENGARUH PENAMBAHAN BAHAN ORGANIK PADA TANAH BEKAS TSUNAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS KACANG HIJAU DI DESA BLANG KRUENG

Muhammad Hatta dan Nurhayati

 

ABSTRACT

The experiment was aimed at studying dosages of organic matter for growth and production of several varieties of mung bean in the tsunami affected land. The experiment was conducted at Blang Krueng Village, a tsunami affected area, from July to September 2006. The experiment applied factorial completely randomized design with three replicates. Two factors were studied, i.e. varieties and dosages of organic matter. Varieties were consisted of Gelatik, Parkit, and local while dosages were consisted of 0, 10, 20, and 30 t/ha. The results showed that varieties significantly afffected dried weight of grain per plot, but did not significantly affect other variables. Parkit variety had the best one. Dosages of organic matter did not significantly affect variables observed.


PENDAHULUAN

Tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.) memegang peranan penting dalam menunjang program diversifikasi pangan. Tanaman yang mengandung berbagai vitamin ini memiliki potensi yang sangat besar, sehingga produksinya perlu terus ditingkatkan. Namun, lahan pertanian yang subur untuk pengembangan tanaman ini relatif terbatas. [1]

Kesulitan akan lahan ini diperburuk dengan adanya tsunami. Daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang terkena musibah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian yang cukup parah.

Salah satu faktor pembatas dalam pemanfaatan lahan bekas tsunami adalah kesuburan tanahnya telah menurun, akibat terkontaminasi garam-garam yang terbawa oleh air tsunami. Garam-garam ini menyebabkan salinitas tanah meningkat dan ini akan menurunkan laju nitrifikasi.

Menurut Kissel et al. (1997), penurunan laju nitrifikasi biasanya diikuti dengan meningkatnya potensial osmotik larutan tanah, sehingga hanya sedikit organisme dalam tanah yang toleran terhadap salinitas. Selanjutnya Tan (1991) menambahkan kehadiran ion Na+ pada tanah yang salin dalam jumlah yang tinggi dapat membuat partikel tanah tersuspensi sehingga dapat menurunkan porositas tanah dan aerasi.

Peningkatan laju nitrifikasi pada tanah salin dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik yang memiliki kandungan unsur hara nitrogen. Penambahan bahan organik pada reklamasi tanah bekas tsunami sebagai pupuk organik pada lahan pertanian diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian dan dapat dimanfaatkan sebagai alternative pengganti penggunaan pupuk anorganik.

Menurut Buckman dan Brady (1982) penambahan bahan organik dapat memperbaiki sifat-sifat tanah, baik fisik, kimia, maupun biologi tanah. Lebih lanjut Syarief (1986) menyatakan, disamping dapat menambah unsur hara ke dalam tanah, bahan organik juga dapat mempertinggi humus, memperbaiki struktur tanah, dan mendorong kehidupan/kegiatan jasad renik di dalam tanah. Bahan organik ini dapat memberikan sumber energi bagi mikroorganisme tanah untuk membentuk nitrat tanah yang merupakan unsur hara yang sangat diperlukan tanaman.

Selama pertumbuhan dan perkembangannya dari mulai berkecambah sampai kemudian menghasilkan buah atau bagian lainnya yang dipanen, tanaman membutuhkan unsur hara. Tidak tersedianya unsur hara bagi tanaman akan menyebabkan pertumbuhannya terganggu dan menurunnya produksi.

Salah satu alternatif peningkatan kesuburan lahan pertanian kacang hijau pada reklamasi tanah bekas tsunami adalah dengan memberikan bahan organik berupa pupuk kandang. Namun, berapa dosis pupuk kandang yang sesuai bagi beberapa varietas kacang hijau pada lahan yang terkena tsunami belum diketahui. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui dosis pupuk kandang yang tepat bagi tiga varaietas kacang hijau yang dicobakan terhadap pertumbuhan dan produksinya.

UJI ADAPTIF BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (Glycine Max (L) Merril) PADA AGROEKOSISTEM LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI PADA MUSIM TANAM JUNI DI KEBUN PERCOBAAN LAMPINEUNG NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Burlis Han

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nanggroe Aceh Darussalam

ABSTRACT

A research of the adaptive test of some soybean varieties at specific agroecosystem of specific dry land location has been conducted in Experimental Station of Lampineung Banda Aceh at plant season of 28 June 2004. Production of Soybean on dry land in Province of Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) is still low and its productivity increase moves tardy. From 1989 – 1994 the soybean production was successively: 1,6 ; 1,18 ; 1,18 ; 1,20 and 1,21 tons/ha. Some constraints often met in dry land soybean cultivation are low and varied land fertility, high weed population, low seed quality and unestimated rainfall pattern. Especially for seed, constraint faced by farmer in production center area is unavailability of superior seed. This research was aimed to get superior varieties of Soybean which is adaptive in specific location. This research started from June to September 2004. This research used Non Factorial Randomized Complete Block Design, followed by Duncant Multiple Rank Test. Treatment factors were five varieties of Soybean, consisting of Kaba, Merbabu, Mahameru, Sinabung and Pangrango. Observation of adaptability was based on variablity of growth and production component. Results of research showed that average production which can be reached were Kaba 1.202,5 kgs/ha, Mahameru 652,5 kgs/ha, Merbabu 1.787,5 kgs/ha, Pangrango 1.219 kgs/ha and Sinabung 1.660,6 kgs/ha. The most adaptive variety are Merbabu and Sinabung.

Keywords: Varieties, soybean, agroecosystem, dry land, specific location, planting season

PENDAHULUAN

Lahan kering yang potensi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) cukup luas yaitu 386.472 ha, yang terdiri dari 140.497 ha lahan pekarangan dan 245.975 ha tegalan. Kira-kira 90.947 ha atau + 36,97 % dari luas tegalan telah dimanfaatkan untuk usahatani kedelai dan selebihnya belum dimanfaatkan dengan baik (Kanwil Deptan Prop. Dista Aceh, 1996).

Produksi kedelai pada agroekosistem lahan kering ini masih belum maksimal dan umumnya di bawah rata-rata potensi varietas unggul yang sudah dilepas (Distan. Prop. Dista Aceh. 1996). Peningkatan produktivitas bergerak lambat dan landai seperti contoh produksi tahun 1989 – 1994 berturut-turut: 1,6 ; 1,18 ; 1,18 ; 1,20 dan 1,21 ton/ha. Walaupun pada beberapa tahun terakhir telah ditargetkan agar melalui program Intensifi-kasi akan dapat meningkatkan produktivitas melebihi 1,5 ton/ha dan program SPAKU 1,75 ton/ha, namun sulit untuk terealisasi. Kenyataannya produktivitas dari tahun 1996 – 2000 berturut-turut 1,26 ; 1,27 ; 1,26 ; 1,24 dan 1,21 ton/ha (Distan Tk.I. Prop. NAD, 2001).

Beberapa kendala yang sering dijumpai dalam usahatani kedelai lahan kering adalah : tingkat kesuburan tanah bervariasi dan rendah, populasi gulma tinggi, kualitas benih rendah dan pola curah hujan sering bergeser dari perkiraan (Arsyad dkk, 1991). Khusus untuk benih, kendala utama yang dihadapi petani di daerah sentra produksi adalah tidak tersedianya benih yang bermutu baik. Benih yang digunakan petani berasal dari produksi untuk konsumsi yang tidak murni lagi. Kalaupun ada benih berbantuan melalui BUMN tertentu sering tidak cukup atau sudah lewat masa simpan sehingga viability dan vigor sudah rendah.

Keadaan seperti ini terjadi pada awal musim tanam dalam setiap tahunnya. Sebagai contoh pada tahun 2000 dibutuhkan benih sebanyak 2.525,6 ton untuk keperluan 63.140 ha lahan. Untuk itu ditargetkan benih kedelai berlabel biru dan merah jambu sebanyak 252,56 ton (10%). Ternyata yang dapat disediakan hanya 38.500 kg, sehingga kekurangan tersebut tidak tertanggulangi dan kemungkinan akan tetap menjadi kendala pada tahun-tahun yang akan datang.

Kondisi ini disebabkan karena tidak berkembangnya penangkaran benih di daerah, akibat rendahnya motivasi petani untuk melaksanakan penangkaran. Tidak ada penangkar benih yang permanen ditingkat petani, yang ada hanya hasil pertanaman petani yang diopkup oleh penyalur benih seperti PT. Pertani dan Sanghiang Sri, kemudian diusahakan kepada BPSB-XII untuk disertifikasi. Pada MT tahun 2000 tercatat pengusulan sertifikat 42 petani, MT 2000/2001 sebanyak 4 petani dan MT 2001 sebanyak 15 petani (informasi dari BPSB – XII. Juni 2001).

Berdasarkan analisa permasalahan dengan metode Participatory Rural Appraesal (PRA) petani dan dinas terkait, ada beberapa penyebab, salah satu diantaranya adalah sulit mendapat benih sumber yang berpotensi hasil tinggi untuk ditangkarkan. Oleh sebab itu untuk mendapatkan varietas-varietas yang berpotensi hasil tinggi lebih dari 1,5 ton/ha, maka pada Februari tahun 2004 dilaksanakan kegiatan uji adaptif beberapa varietas unggul kedelai pada agroekosistem lahan kering spesifik. Hasil dari kegiatan tersebut, diperoleh lima varietas yang adaptif di KP. Lampineung. Masing-masing dari varietas tersebut adalah : Kaba, Merbabu, Mahameru, Sinabung dan Pangrango. Sebagai tindak lanjutnya untuk mengetahui kapasitas daya adaptif tersebut pada musim tanam lainnya, maka pada musim tanam Juni (MTII ) pada tahun 2004 dilakukan uji adaptif beberapa varietas terbaik hasil kegiatan musim tanam Februari (MTI) tahun 2004 tersebut pada lahan kering KP. Lampineung kembali.

Hasil uji lanjutan terhadap daya adaptasi dari lima varietas yang dihasilkan dari kegiatan uji adaptif 15 varietas, pada agroekosistem lahan kering spesifik pada musim tanam sebelumnya (MT Februari tahun 2004), akan terdapat perbedaan adaptasi yang nyata antara varietas dan akan diperoleh paling kurang dua varietas yang sangat adaptif.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan beberapa varietas unggul spesifik lokasi sebagai benih sumber. Luaran yang diharapkan adalah beberapa varietas unggul kedelai yang adaptif pada lahan kering spesifik dengan produk­tivitas dan kualitas hasil yang tinggi.