PENGUJIAN MODEL SIMULASI VIGOR KEKUATAN TUMBUH BENIH KEDELAI (Glycine max (L) Merril) PADA KONDISI LAHAN STRES OKSIGEN

Syamsuddin, Syafruddin, dan Hasanuddin

ABSTRACT

The research objectives were to study relationships between soybean seed vigor in laboratory and seed growth in field.  The research was carried out in Laboratory Seed Science and Technology and Seed Experimental Farm of Agriculture Faculty, University of Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh. Experimental design used was a completely randomized design (CRD) 2×5 with 3 replications in the laboratory and a split plot design with 3 replications in the field. The factors examined were soybean varieties and oxygen. The varieties were consisted of Pandermau S-37, Local of Bireuen, Wilis, Orba, local of Tasikmalaya. The oxygen was consisted of 2 levels, i.e. oxygen stress and normal oxygen. Variables observed in the laboratory were seedling growth rate and dry weight of normal seedling, while in the field were soybean growth rate and dry weight of plant.  Results showed that growth of the five varieties on the field of oxygen stress can be simulated through examination in laboratory. Of the two variables observed, seedling growth rate was more sensitive for the purpose. On the other hand, dry weight of seedling was less precise for simulating that condition.

Keywords: Orba, Pandermau S-37, Vigor, Stress, Tasikmalaya, Varieties, Wilis.


PENDAHULUAN

 

Penggunaan kedelai sebagai bahan makanan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan tekno-logi industri pengolahan pangan yang menggunakan bahan baku kedelai. Sebagai contoh kedelai dapat diolah menjadi bahan makanan berbentuk tempe, tahu, touco, kecap, susu sari kedelai dan berbagai produk pangan lainnya. Di samping itu tanaman kedelai sudah lama diketahui dapat memperbaiki kesuburan tanah, melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium (Anonymous, 1997).

Produsen benih atau petani oleh karena beberapa alasan sering menanam kedelai pada saat curah hujan masih terlalu tinggi, bahkan tidak jarang penanaman harus dila-kukan pada tanah bertekstur berat dengan aerasi yang kurang baik dan drainase yang buruk, kondisi ini mengakibatkan tanah mengalami kekurangan oksigen. Menurut Kamil (1979), di lapangan oksigen tidaklah menjadi faktor pembatas bagi perkecambahan. Oksigen baru menjadi faktor pembatas karena tingginya kadar air tanah di mana benih itu di tanam. Pada kasus demikian, benih sering tidak mampu tumbuh sesuai dengan persentase daya berkecambah yang tercantum pada label sertifikasi. Pengujian daya berkecambah yang dilakukan di laboratorium umumnya dengan kondisi media dan lingkungan yang serba optimum, sedangkan kondisi lapangan tidak selamanya menegun-tungkan, misalnya aerasi buruk (stres oksigen) merupakan kondisi yang sub optimum. Oleh karena itu, penilaian yang mengandalkan hasil uji laboran-torium tidak selamanya menjamin benih itu mampu tumbuh baik di lapangan. Metode pengujian benih yang berkaitan dengan kondisi sub optimum di lapangan perlu dilaku-kan. Hanya benih dengan vigor kekuatan tumbuh tinggi yang dapat mengatasi dan mampu tumbuh serta berkembang menjadi tanaman normal pada keadaan demikian.

Perkecambahan dan perkem-bangan bibit merupakan periode kritis bagi pertumbuhan tanaman. Kekurangan oksigen pada periode ini dapat mempengaruhi perkecambahan, pertumbuhan kecambah dan kemam-puan kecambah untuk mencapai permukaan tanah karena proses respirasi yang kurang optimal bahkan dalam jangka panjang benih atau bibit akan mati (Madiki, 1998). Selanjutnya Pranoto et al. (1990), menyatakan bahwa proses respirasi membutuhkan oksigen. Bila kon-sentrasi oksigen kurang dari 20%, perkecambahan akan terhambat kecuali pada beberapa benih tertentu seperti tanaman air, serta beberapa serealia. Toleransi benih terhadap kekurangan oksigen berbeda-beda ditentukan oleh vigor kekuatan tumbuh benih. Hal ini berhubungan dengan sifat genetik. Benih yang tidak mampu tumbuh pada kondisi lapangan yang seperti ini berarti benih tersebut tidak bervigor tinggi sebab vigor benih mempengaruhi pertumbuhan tanaman di lapangan. Kondisi sub optimum di lapangan sangat beragam dan spesifik untuk lahan tertentu, oleh karena itu pengujian vigor kekuatan tumbuh benih pun menjadi spesifik pula.

Salah satu kriteria benih bervigor tinggi adalah apabila tidak terjadi perbedaan yang besar antara kinerja perkecambahan di lapangan dengan di laboratorium. Upaya untuk lebih mendekatkan kriteria pengujian laboratorium dengan kondisi nyata di lapangan atau lebih mengarahkan pengujian untuk mencari kemung-kinan penilaian yang lebih peka dan dini dapat ditempuh melalui teknik simulasi dan analisis sistem (Sadjad, 1995). Isely (1957) menyatakan bahwa metode uji vigor dapat dikelompokkan dalam pengujian langsung dan tidak langsung. Pengujian secara langsung dilakukan dengan menilai pertumbuhan kecam-bah dari benih yang ditanam di laboratorium pada kondisi stres yang merupakan simulasi keadaan di lapangan misalnya stres oksigen. Pengujian tidak langsung dengan mengamati atribut fisiologis yang spesifik tanpa menilai kinerja pertumbuhan, misalnya uji respirasi dan aktivitas enzim tertentu.

Berbagai metode uji terus dikembangkan untuk menyimulasi vigor kekuatan tumbuh benih di lapangan. Metode laboratorium diupayakan sesuai dengan masalah yang dihadapi di lapangan misalnya lahan yang kondisi tanahnya stres oksigen, di laboratorium diciptakan keadaan tersebut secara analog, econik maupun simbolik. Benih yang berhasil tumbuh dengan baik pada pengujian di laboratorium diharapkan pula akan tumbuh baik di lapangan bermasalah tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: