PENGARUH SUPERPARASITISME TERHADAP PERKEMBANGAN PROGENI PARASITOID Tetrastichus brontispae Ferriere

Husni, Jauharlina, dan Amru Al Haraqal

ABSTRACT

 

            The purpose of this research was to investigate effects of superparasitism rate on development of Tetrastichus brontispae progeny. In this research, each host (Brontispa longissima pupa) was exposed for different frequencies, i.e., 1, 3, 5, 7 and 9 times for female parasitoid.  The result showed that the rate of superparasitism affected the number of progeny emergence, the developmental time of immature progeny, and sex ratio of progeny. The number of progeny emergence was increased as the increase of  superparasitism rate. The number of progeny emergence from single oviposition host was 15, while from host exposed on female parasitoid for 3, 5, 7, and 9 times were 12, 5, 2 and 0, respectively. The developmental time of immature progeny was lengthened as the increase of superparasitism rate. Sex ratio of progeny was biased to female progeny as the increase of rate of superparasitism. The result of this research indicated that superparasitism gave negative effect on development of T. brontispae progeny.

Keywords:  Superparasitism, Parasitoids, Tetrastichus brontispae 

 

 

PENDAHULUAN

 

Brontispa longissima Gestro (Coleoptera: Crhysomelidae) meru-pakan salah satu hama utama perusak pucuk kelapa yang dilaporkan perta-ma kali dari Kepulauan Aru (Kep. Maluku) pada tahun 1885.  Pada beberapa tahun terakhir sejak serang-an berat di Vietnam dan Maladewa (tahun 1999), hama ini telah menyebar ke lebih 25 Negara di Asia, Australia dan Kepulauan Pasifik serta beberapa daerah di Indonesia.  Pada awalnya hama ini tidak menimbulkan masalah serius dan hanya terbatas pada beberapa wilayah tetentu, namun karena daya mobilitas yang tinggi dan faktor lingkungan yang mendukung hama ini akhirnya menyebar hampir ke seluruh pertanaman kelapa di Indonesia (Alouw et al., 2006).

Akhir-akhir ini hama B. longissima menyerang  areal perta-naman kelapa di Kota Sabang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).  Luas areal tanaman kelapa di Kota Sabang Provinsi NAD pada tahun 2007 mencapai 4.108 hektar yang semuanya diusahakan oleh rakyat.  Dari luasan tersebut seba-nyak 3.744 hektar telah terserang hama B. longissima dengan tingkat serangan ringan sampai berat.  Kon-disi tanaman yang telah berumur lebih dari 10 tahun dengan ketinggian rata-rata di atas 15 m, topografi yang berbukit-bukit dan tata letak tanaman tidak teratur, serta musim kemarau yang panjang telah menyebabkan berkembangnya hama tersebut (Ditjenbun, 2008).

Pengendalian hama B. longis-sima tidak hanya tergantung pada satu metode saja, tapi beberapa metode dapat dikombinasikan untuk mengendalikan populasi hama ter-sebut di lapangan.  Salah satu metode pengendalian yang dapat diterapkan adalah pengendalian hayati (Ditjen-bun, 2008).  Pengendalian hayati adalah usaha memanfaatkan dan menggunakan musuh alami sebagai pengendali populasi hama baik dengan memanfaatkan parasitoid, predator maupun patogen.  Teknik pengendalian ini mempunyai harapan yang lebih baik untuk mengendalikan hama B. longissima di lapangan (Hosang et al., 2006).

Adapun musuh alami yang dapat diaplikasikan untuk mengenda-likan  hama B. longissima adalah serangga prasitoid dan jamur entomopatogen. Namun, penggunaan jamur entomopatogen kurang praktis dan sangat sulit diaplikasikan, terutama pada pohon dengan struktur batang yang tinggi. Oleh karena itu, penggunaan parasitoid merupakan terobosan yang sangat tepat dalam mengendalikan hama B. longissima pada berbagai kondisi lapangan (Nakamura et al., 2006).  Beberapa parasitoid dari famili Eulophidae – salah satunya adalah Tetrstichus brontispae (Ferriere) – telah berperan sangat penting dalam mengendalikan hama B. longissima di beberapa Negera, termasuk di Indonesia (Kalshoven, 1981).

Tetrastichus brontispae merupakan parasitoid larva-pupa (Mangoendihardjo & Mahrub, 1983) dan merupakan parasitoid gregarius (Hosang et al., 1996).  Parasitoid ini menyerang instar akhir stadia larva dan pupa yang berumur 1-2 hari.  Daya parasitasi parasitoid T. brontispae di laboratorium dilaporkan sangat tinggi yaitu 60-90 persen (Chin & Brown; 2000; Kalshoven; 1981; Widarto, 2008).  Secara alami parasitoid T. brontispae dapat dengan mudah ditemukan di lapangan. Namun, mengingat populasinya di alam semakin berkurang yang diakibatkan oleh berbagai faktor, maka perlu dilakukan pembiakan massal di laboratorium untuk kemudian dilepaskan kembali ke alam.

Parasitoid gregarius merupa-kan tipe parasitoid yang mampu tumbuh dan berkembang lebih dari satu individu parasitoid dalam satu inidividu inang (Zulfaidah, 2009).  Pada parasitoid gregarius, super-parasitisme (peletakan telur atau sejumlah telur pada inang yang telah diparasit oleh parasitoid lain dari famili yang sama) berpengaruh terhadap ukuran telur dan jumlah telur yang diletakkan (Skinner 1985 dalam Godfray, 1994) serta berpe-ngaruh terhadap seks rasio progeni parasitoid (Suzuki & Iwasa, 1980 dalam Godfray 1994).

Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh superparasitisme parasitoid T. brontispae pada pupa B. longissima terhadap perkembangan progeni parasitoid.  Hal ini perlu dilakukan atas dasar pertimbangan pemanfaatan potensi parasitoid di lapangan dan kebijakan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih menekankan pada keseim-bangan ekosistem dan pengelolaan habitat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: