Archive for April, 2011

PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR MERANG AKIBAT PERBEDAAN MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI PUPUK SUPER A-1

Zuyasna, Mariani Nasution, dan Dewi Fitriani

 

ABSTRACT

 

The objectives of this study were to investigate several media and liquid organic fertilizer on the growth and the yield of mushroom (Volvariella Volvaceae L) and also to identify the interactions between the two factors. The research was conducted at Lee Guna Gampong Peurada Banda Aceh from 15 June to 23 July 2010.  A factorial randomized completely design with three replications was used in this experiment. The first factor evaluated was medium (dried rice stalks, cane bagasse, and cardboard), and the second factor was Super A-1 fertilizer concentrations (0 cc, 7.5, and 15 cc/L). The results showed that media significantly affected stem weight and cap diameter of mushroom. However, the media did not influence primordial initiation, the number of mushrooms, length and diameter of stems. Mushrooms grew best on the medium of cane bagasse. Super A-1 concentration significantly influenced the number of mushrooms, diameter of mushroom cap, and stem diameter, but did not affect mushroom weight. The best concentration of Super A-1 for mushrooms growth was 15cc/L. There were no interactions between the media and concentration Super A-1 based on variables observed in this experiment.

           

Keywords: mushroom, rice stalk, cane pulp, cardboard, organic liquid fertilizer

 

 

PENDAHULUAN

 

Jamur merang (Volvariella volvaceae L) telah dikenal dan dibudidayakan sebelum abad ke-18 di Cina. Tapi baru sekitar tahun 1932-1935, jamur merang ini diintroduksi oleh orang-orang Cina ke daerah Filipina, Malaysia dan Negara-negara Asia Tenggara lainnya.  Di Indonesia, jamur merang mulai dikembangkan sejak tahun 1955 (Sinaga, 2007).

Jamur merang merupakan bahan makanan yang enak dan kaya akan protein, mineral serta vitamin. Menurut Nurman dan Kahar (1990), jamur merang mengandung protein 2,68%, lemak 2,24%, karbohidrat 2,6%, vitamin C 206,27 mg, kalsium 0,75%, fosfor 36,6% dan kalium 44,2%.  Bahkan Mayun (2007) berpendapat bahwa kandungan mi-neral yang ada dalam jamur merang lebih tinggi dibandingkan daging sapi dan domba.

Dengan semakin meningka-tnya pemahaman masyarakat tentang peranan makanan bergizi bagi kesehatan, maka semakin tinggi pula kebutuhan masyarakat terhadap bahan makanan bergizi terutama sekali bahan makanan yang berprotein tinggi.  Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat adalah mengena-bangkan budidaya jamur merang.  Pada awalnya, jamur ini hanya dibudidayakan pada media merang saja atau tangkai padi.  Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, ternyata jamur ini juga dapat dibudidayakan dengan menggunakan media alternatif lain, seperti limbah biji kopi, ampas batang aren, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah kapas, ampas tebu bahkan limbah kardus (Agromedia, 2009).

Pada musim tertentu jerami padi sulit di dapat, karena jerami padi hanya tersedia pada musim panen saja.  Oleh karena terbatasnya keter-sediaan jerami padi setelah beberapa bulan panen dan beberapa daerah yang memiliki lahan penanaman padi yang terbatas, perlu dicari alternatif media lain sebagai tempat yang baik untuk pertumbuhan jamur merang.  Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah melalui pemanfaatan limbah pertanian.  Limbah pertanian dapat memberikan nilai tambah dalam kegiatan usaha tani, antara lain dapat dijadikan kompos dan digunakan sebagai media tumbuh jamur merang (Nilawati et al., 2007).

Untuk perkembangan jamur diperlukan sumber nutrisi atau makanan dalam bentuk unsur-unsur hara yang diperoleh dari bahan tambahan lainnya seperti pemakaian pupuk untuk kebutuhan nutrisi dan makanan bagi jamur.  Pupuk sangat penting peranannya dalam mening-katkan produksi dan produktivitas tanaman. Marsono (2005) menyatakan bahwa pupuk bermanfaat dalam menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah atau media untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Berdasarkan komponen pe-nyusunnya pupuk dapat digolongkan atas dua yaitu pupuk anorganik dan pupuk organik.  Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari pelapukan sisa-sisa makhluk hidup, seperti tanaman dan kotoran hewan. Pupuk ini umumnya mengandung unsur hara makro dan mikro yang diperlukan oleh tanaman meskipun dalam jumlah sedikit.  Salah satu bentuk pupuk organik yang banyak beredar di pasaran adalah pupuk organik cair.

Penggunaan pupuk organik cair dewasa ini terus meningkat. Salah satu pupuk organik cair yang beredar di pasaran adalah pupuk organik cair super A-1.  Keunggulan yang dimiliki pupuk cair super A-1 adalah kandungan haranya yang mengandung unsur hara makro dan mikro, 14 mineral esensial, pengendali hama alami, mengandung senyawa pengatur tumbuh alami giberelin (GA3), Zeatin, 17 macam asam amino, asam organik, enzim, vitamin dan mobilisasi nutrisi.  Pemberian pupuk organik cair super A-1 harus memperhatikan kon-sentrasi yang diaplikasikan terhadap tanaman.  Konsentrasi yang biasa digunakan untuk tanaman sayur-sayuran dan tanaman pangan adalah 2-4 cc/L air dan untuk jamur tiram dan kayu 3-5 cc/L air (Harsono, 2009).

Dewasa ini permintaan akan jamur merang makin meningkat, namun untuk memenuhi permintaan tersebut diperlukan media tumbuh yang sesuai agar diperoleh pertumbuhan dan hasil yang baik dan dapat dipanen setiap saat tanpa bergantung pada ketersediaan merang.  Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan jenis-jenis media pengganti merang yang dapat digunakan untuk pertumbuhan jamur merang sehingga dapat lebih meningkat hasilnya.  Sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan jamur merang, perlu juga dilakukan penelitian tentang penggunaan pupuk Super A-1 pada pertumbuhan jamur merang.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari jenis media dan konsentrasi pupuk Super A-1 yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil jamur merang yang maksimal. Di samping itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.


Advertisements

PENGUJIAN MODEL SIMULASI VIGOR KEKUATAN TUMBUH BENIH KEDELAI (Glycine max (L) Merril) PADA KONDISI LAHAN STRES OKSIGEN

Syamsuddin, Syafruddin, dan Hasanuddin

ABSTRACT

The research objectives were to study relationships between soybean seed vigor in laboratory and seed growth in field.  The research was carried out in Laboratory Seed Science and Technology and Seed Experimental Farm of Agriculture Faculty, University of Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh. Experimental design used was a completely randomized design (CRD) 2×5 with 3 replications in the laboratory and a split plot design with 3 replications in the field. The factors examined were soybean varieties and oxygen. The varieties were consisted of Pandermau S-37, Local of Bireuen, Wilis, Orba, local of Tasikmalaya. The oxygen was consisted of 2 levels, i.e. oxygen stress and normal oxygen. Variables observed in the laboratory were seedling growth rate and dry weight of normal seedling, while in the field were soybean growth rate and dry weight of plant.  Results showed that growth of the five varieties on the field of oxygen stress can be simulated through examination in laboratory. Of the two variables observed, seedling growth rate was more sensitive for the purpose. On the other hand, dry weight of seedling was less precise for simulating that condition.

Keywords: Orba, Pandermau S-37, Vigor, Stress, Tasikmalaya, Varieties, Wilis.


PENDAHULUAN

 

Penggunaan kedelai sebagai bahan makanan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan tekno-logi industri pengolahan pangan yang menggunakan bahan baku kedelai. Sebagai contoh kedelai dapat diolah menjadi bahan makanan berbentuk tempe, tahu, touco, kecap, susu sari kedelai dan berbagai produk pangan lainnya. Di samping itu tanaman kedelai sudah lama diketahui dapat memperbaiki kesuburan tanah, melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium (Anonymous, 1997).

Produsen benih atau petani oleh karena beberapa alasan sering menanam kedelai pada saat curah hujan masih terlalu tinggi, bahkan tidak jarang penanaman harus dila-kukan pada tanah bertekstur berat dengan aerasi yang kurang baik dan drainase yang buruk, kondisi ini mengakibatkan tanah mengalami kekurangan oksigen. Menurut Kamil (1979), di lapangan oksigen tidaklah menjadi faktor pembatas bagi perkecambahan. Oksigen baru menjadi faktor pembatas karena tingginya kadar air tanah di mana benih itu di tanam. Pada kasus demikian, benih sering tidak mampu tumbuh sesuai dengan persentase daya berkecambah yang tercantum pada label sertifikasi. Pengujian daya berkecambah yang dilakukan di laboratorium umumnya dengan kondisi media dan lingkungan yang serba optimum, sedangkan kondisi lapangan tidak selamanya menegun-tungkan, misalnya aerasi buruk (stres oksigen) merupakan kondisi yang sub optimum. Oleh karena itu, penilaian yang mengandalkan hasil uji laboran-torium tidak selamanya menjamin benih itu mampu tumbuh baik di lapangan. Metode pengujian benih yang berkaitan dengan kondisi sub optimum di lapangan perlu dilaku-kan. Hanya benih dengan vigor kekuatan tumbuh tinggi yang dapat mengatasi dan mampu tumbuh serta berkembang menjadi tanaman normal pada keadaan demikian.

Perkecambahan dan perkem-bangan bibit merupakan periode kritis bagi pertumbuhan tanaman. Kekurangan oksigen pada periode ini dapat mempengaruhi perkecambahan, pertumbuhan kecambah dan kemam-puan kecambah untuk mencapai permukaan tanah karena proses respirasi yang kurang optimal bahkan dalam jangka panjang benih atau bibit akan mati (Madiki, 1998). Selanjutnya Pranoto et al. (1990), menyatakan bahwa proses respirasi membutuhkan oksigen. Bila kon-sentrasi oksigen kurang dari 20%, perkecambahan akan terhambat kecuali pada beberapa benih tertentu seperti tanaman air, serta beberapa serealia. Toleransi benih terhadap kekurangan oksigen berbeda-beda ditentukan oleh vigor kekuatan tumbuh benih. Hal ini berhubungan dengan sifat genetik. Benih yang tidak mampu tumbuh pada kondisi lapangan yang seperti ini berarti benih tersebut tidak bervigor tinggi sebab vigor benih mempengaruhi pertumbuhan tanaman di lapangan. Kondisi sub optimum di lapangan sangat beragam dan spesifik untuk lahan tertentu, oleh karena itu pengujian vigor kekuatan tumbuh benih pun menjadi spesifik pula.

Salah satu kriteria benih bervigor tinggi adalah apabila tidak terjadi perbedaan yang besar antara kinerja perkecambahan di lapangan dengan di laboratorium. Upaya untuk lebih mendekatkan kriteria pengujian laboratorium dengan kondisi nyata di lapangan atau lebih mengarahkan pengujian untuk mencari kemung-kinan penilaian yang lebih peka dan dini dapat ditempuh melalui teknik simulasi dan analisis sistem (Sadjad, 1995). Isely (1957) menyatakan bahwa metode uji vigor dapat dikelompokkan dalam pengujian langsung dan tidak langsung. Pengujian secara langsung dilakukan dengan menilai pertumbuhan kecam-bah dari benih yang ditanam di laboratorium pada kondisi stres yang merupakan simulasi keadaan di lapangan misalnya stres oksigen. Pengujian tidak langsung dengan mengamati atribut fisiologis yang spesifik tanpa menilai kinerja pertumbuhan, misalnya uji respirasi dan aktivitas enzim tertentu.

Berbagai metode uji terus dikembangkan untuk menyimulasi vigor kekuatan tumbuh benih di lapangan. Metode laboratorium diupayakan sesuai dengan masalah yang dihadapi di lapangan misalnya lahan yang kondisi tanahnya stres oksigen, di laboratorium diciptakan keadaan tersebut secara analog, econik maupun simbolik. Benih yang berhasil tumbuh dengan baik pada pengujian di laboratorium diharapkan pula akan tumbuh baik di lapangan bermasalah tersebut.


PENGARUH SUPERPARASITISME TERHADAP PERKEMBANGAN PROGENI PARASITOID Tetrastichus brontispae Ferriere

Husni, Jauharlina, dan Amru Al Haraqal

ABSTRACT

 

            The purpose of this research was to investigate effects of superparasitism rate on development of Tetrastichus brontispae progeny. In this research, each host (Brontispa longissima pupa) was exposed for different frequencies, i.e., 1, 3, 5, 7 and 9 times for female parasitoid.  The result showed that the rate of superparasitism affected the number of progeny emergence, the developmental time of immature progeny, and sex ratio of progeny. The number of progeny emergence was increased as the increase of  superparasitism rate. The number of progeny emergence from single oviposition host was 15, while from host exposed on female parasitoid for 3, 5, 7, and 9 times were 12, 5, 2 and 0, respectively. The developmental time of immature progeny was lengthened as the increase of superparasitism rate. Sex ratio of progeny was biased to female progeny as the increase of rate of superparasitism. The result of this research indicated that superparasitism gave negative effect on development of T. brontispae progeny.

Keywords:  Superparasitism, Parasitoids, Tetrastichus brontispae 

 

 

PENDAHULUAN

 

Brontispa longissima Gestro (Coleoptera: Crhysomelidae) meru-pakan salah satu hama utama perusak pucuk kelapa yang dilaporkan perta-ma kali dari Kepulauan Aru (Kep. Maluku) pada tahun 1885.  Pada beberapa tahun terakhir sejak serang-an berat di Vietnam dan Maladewa (tahun 1999), hama ini telah menyebar ke lebih 25 Negara di Asia, Australia dan Kepulauan Pasifik serta beberapa daerah di Indonesia.  Pada awalnya hama ini tidak menimbulkan masalah serius dan hanya terbatas pada beberapa wilayah tetentu, namun karena daya mobilitas yang tinggi dan faktor lingkungan yang mendukung hama ini akhirnya menyebar hampir ke seluruh pertanaman kelapa di Indonesia (Alouw et al., 2006).

Akhir-akhir ini hama B. longissima menyerang  areal perta-naman kelapa di Kota Sabang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).  Luas areal tanaman kelapa di Kota Sabang Provinsi NAD pada tahun 2007 mencapai 4.108 hektar yang semuanya diusahakan oleh rakyat.  Dari luasan tersebut seba-nyak 3.744 hektar telah terserang hama B. longissima dengan tingkat serangan ringan sampai berat.  Kon-disi tanaman yang telah berumur lebih dari 10 tahun dengan ketinggian rata-rata di atas 15 m, topografi yang berbukit-bukit dan tata letak tanaman tidak teratur, serta musim kemarau yang panjang telah menyebabkan berkembangnya hama tersebut (Ditjenbun, 2008).

Pengendalian hama B. longis-sima tidak hanya tergantung pada satu metode saja, tapi beberapa metode dapat dikombinasikan untuk mengendalikan populasi hama ter-sebut di lapangan.  Salah satu metode pengendalian yang dapat diterapkan adalah pengendalian hayati (Ditjen-bun, 2008).  Pengendalian hayati adalah usaha memanfaatkan dan menggunakan musuh alami sebagai pengendali populasi hama baik dengan memanfaatkan parasitoid, predator maupun patogen.  Teknik pengendalian ini mempunyai harapan yang lebih baik untuk mengendalikan hama B. longissima di lapangan (Hosang et al., 2006).

Adapun musuh alami yang dapat diaplikasikan untuk mengenda-likan  hama B. longissima adalah serangga prasitoid dan jamur entomopatogen. Namun, penggunaan jamur entomopatogen kurang praktis dan sangat sulit diaplikasikan, terutama pada pohon dengan struktur batang yang tinggi. Oleh karena itu, penggunaan parasitoid merupakan terobosan yang sangat tepat dalam mengendalikan hama B. longissima pada berbagai kondisi lapangan (Nakamura et al., 2006).  Beberapa parasitoid dari famili Eulophidae – salah satunya adalah Tetrstichus brontispae (Ferriere) – telah berperan sangat penting dalam mengendalikan hama B. longissima di beberapa Negera, termasuk di Indonesia (Kalshoven, 1981).

Tetrastichus brontispae merupakan parasitoid larva-pupa (Mangoendihardjo & Mahrub, 1983) dan merupakan parasitoid gregarius (Hosang et al., 1996).  Parasitoid ini menyerang instar akhir stadia larva dan pupa yang berumur 1-2 hari.  Daya parasitasi parasitoid T. brontispae di laboratorium dilaporkan sangat tinggi yaitu 60-90 persen (Chin & Brown; 2000; Kalshoven; 1981; Widarto, 2008).  Secara alami parasitoid T. brontispae dapat dengan mudah ditemukan di lapangan. Namun, mengingat populasinya di alam semakin berkurang yang diakibatkan oleh berbagai faktor, maka perlu dilakukan pembiakan massal di laboratorium untuk kemudian dilepaskan kembali ke alam.

Parasitoid gregarius merupa-kan tipe parasitoid yang mampu tumbuh dan berkembang lebih dari satu individu parasitoid dalam satu inidividu inang (Zulfaidah, 2009).  Pada parasitoid gregarius, super-parasitisme (peletakan telur atau sejumlah telur pada inang yang telah diparasit oleh parasitoid lain dari famili yang sama) berpengaruh terhadap ukuran telur dan jumlah telur yang diletakkan (Skinner 1985 dalam Godfray, 1994) serta berpe-ngaruh terhadap seks rasio progeni parasitoid (Suzuki & Iwasa, 1980 dalam Godfray 1994).

Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh superparasitisme parasitoid T. brontispae pada pupa B. longissima terhadap perkembangan progeni parasitoid.  Hal ini perlu dilakukan atas dasar pertimbangan pemanfaatan potensi parasitoid di lapangan dan kebijakan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih menekankan pada keseim-bangan ekosistem dan pengelolaan habitat.