PENGARUH PUPUK HAYATI TIENS GOLDEN HARVEST TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO

Muhammad Hatta, Zaitun, dan Eyadinikoni Yunsa

 


ABSTRACT

This study was aimed at determining effect of various concentrations of biological fertilizer Tiens Golden Harvest (TGH) on growth of cocoa seedlings.  TGH fertilizer concentrations studied consisted of 4 levels, i.e. 0 mlL-1 water, 5 mlL-1 water, 10 mlL-1 water, and 15 mlL-1 water. The results showed that concentrations of TGH fertilizer significantly affected height of cocoa seedling at 30 and 60 day after planting (DAP), and stem diameter of cocoa seedling at 20, 30, 40, 50 and 60 DAP.  The best TGH fertilizer concentration was found at 15 mlL-1 water. However, TGH fertilizer concentration did not significantly affect height of cocoa seedling at age of 10, 20, 40 and 50 DAP, stem diameter at age of 10 DAP, leaf area, root length, wet and dry weight at 60 DAP.
Keywords: biofertilizers, Tiens Golden Harvest, cocoa seedlings

 


PENDAHULUAN

 

            Produktivitas kakao Indonesia masih tergolong rendah dan potensial untuk  ditingkatkan. Upaya yang da-pat dilakukan antara lain dengan pembibitan yang baik sehingga dihasilkan bibit yang berkualitas.  Menurut Poedjiwidodo (1996) pembibitan merupakan tahap yang sangat menen-tukan dalam keberhasilan penanaman dan produksi di kemudian hari. Lebih lanjut Siregar et al. (2005) menyata-kan bahwa, pendukung keberhasilan dalam pengusahaan tanaman kakao adalah dengan tersedianya bibit yang berkualitas dan mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan di lapangan.

Pembibitan tanaman kakao umumnya dilakukan dalam polibag, karena cara ini mempunyai beberapa keuntungan di antaranya pertum-buhan bibit lebih baik dan seragam serta mudah dalam pemeliharaan dan pengangkutan. Setyamidjaja (1986) menyatakan bahwa dalam pelaksa-naan pembibitan, perlu diperhatikan keadaan media tanam. Keadaan media tanam yang dimaksud terkait dengan sifat fisika, biologi, dan kimia tanah.

Sifat biologi tanah merupakan unsur penting dari media tanam yang perlu diperhatikan untuk pertum-buhan tanaman. Sifat biologi tanah menyangkut dengan kehidupan mikroorganisme tanah di dalam media. Salah satu teknologi yang inovatif untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah adalah dengan pemberian pupuk hayati (Suhendar dan Al Ghozali, 2009).

Salah satu produk yang dikenal sebagai pupuk hayati adalah Tiens Golden Harvest (TGH). Pupuk hayati ini selain mengandung unsur hara yang terbatas, juga mengandung populasi mikroba indigenous tanah asli Indonesia dan ramah lingkungan.  Pupuk hayati ini tidak mengandung logam berat As, Pb, Hg, Cd maupun mikroba patogen dan Salmonella Sp. Pupuk ini dipersiapkan dan dirancang untuk memperbaiki kesuburan tanah Indonesia.. Beberapa mikroorganisme dominan dalam pupuk ini adalah Azotobacter Sp, Azoospirilium Sr, Mikroba Selulolitik, Mikroba Pelarut Fosfat, Lactobacillius Sp, Pseu-domonas fluorescent (Suhendar dan Al Ghozali, 2009).

Pupuk hayati Tiens Golden Harvest dapat mempercepat pelapuk-an bahan organik di dalam media. Dari proses pelapukan ini diharapkan ketersediaan unsur-unsur penting bagi tanaman berlangsung lebih cepat. Goenadi (1997) menyatakan bahwa proses dekomposisi secara alami memerlukan waktu yang lama, yaitu 3-6 bulan dan proses dekom-posisi dapat dipercepat melalui pemberian aktivator dekomposisi.  Goenadi dan Isroi (2003) menyatakan bahwa biodecomposer yang terdapat dalam pupuk hayati Tiens Golden Harvest dapat mempercepat proses pengomposan menjadi 2-3 minggu.

Selain itu, pupuk hayati ini dapat juga berperan dalam pengen-dalian penyakit tanaman dan menjaga lingkungan hidup.  Goenadi dan Isroi (2003) menyatakan bahwa sebagian mikroba bahan aktif biodecomposer juga berperan sebagai musuh alami penyakit jamur akar atau busuk pangkal batang.  Menurut Suhendar dan Al Ghozali (2009) mikro-organisme Pseudomonas fluorescent yang terdapat dalam pupuk hayati ini berperan penting dalam penguraian pestisida di dalam tanah.

Menurut Suhendar dan Al Ghozali (2009) konsentrasi pupuk Tiens Golden Harvest yang dian-jurkan untuk pembibitan tanaman tahunan (kelapa sawit, karet, sengon, kopi, kakao, cengkeh, pepaya, jeruk, apel, dan mangga) adalah 1 L yang diencerkan dengan 100 L air, setara dengan 10 ml per L air,  diberikan pada kecambah umur 10 – 15 hari setelah tanam. Namun demikian, konsentrasi tersebut belum tentu sesuai untuk semua daerah, karena setiap daerah mempunyai jenis tanah dan kondisi iklim yang berbeda dengan daerah lainnya

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian ten-tang pengaruh pupuk hayati yang diberikan pada media tanam terhadap pertumbuhan bibit kakao.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai kon-sentrasi pupuk hayati Tiens Golden Harvest terhadap pertumbuhan bibit kakao.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: