PENGARUH PEMOTONGAN UMBI BIBIT DAN JENIS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH

Jumini, Yenny Sufyati, dan Nurul Fajri

ABSTRACT

            The objective of the research was to find out a suitable bulb slicing and kind of organic fertilizer for a maximum growth and yield of onion.  This research applied a randomized complete block design (RCBD), 3 by 3 with 3 replications. Factors observed were bulb slicing and kinds of organic fertilizer.  Bulb slicing consisted of no cut, cut of one-third, and cut of one-fourth of onion bulbs.  Organic fertilizer consisted of compost, manure of cow and manure of chicken. Variables observed were plant height, a number of onion tillers per bunch, a number of onion bulbs per bunch, wet and dry weight of bulbs per bunch.  Result showed that bulb slicing significantly affected a number of onion tillers per bunch at 30 day after planting (DAP), 45 DAP, and a number of onion bulbs per bunch. However, bulb slicing did not significantly affect plant height at 15 DAP and dry weight of bulb per bunch.  The best growth and yield was found at cut of one-fourth of the bulb. Organic fertilizer showed a significant effect on a number of bulbs per bunch but did not exert a significant effect on other variables. More bulbs per bunch were achieved at compost. There was no significant interaction between bulb slicing and organic fertilizer type on growth and yield of onion.

Keywords: onion, bulb slicing, compost, manure


PENDAHULUAN

Kebutuhan masyarakat terha-dap bawang[1] merah (Allium ascalonicum L.) akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Produktivitas bawang merah di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan Negara lain seperti Thailand dan Filipina, yang rata-rata produksinya mencapai 12 ton umbi kering per hektar (Rismunandar dan Nio, 1986). Sementara produksi umbi kering di Nanggroe Aceh  Darussalam  antara 3 – 5 ton per hektar (Distan NAD, 2008).

            Seleksi umbi bibit merupakan langkah awal yang sangat menen-tukan keberhasilan produksi. Bebe-rapa perlakuan perlu mendapat perhatian setelah umbi dipilih dan siap untuk ditanam. Menurut Wibowo (2005), pemotongan ujung umbi bibit dengan pisau bersih kira-kira 1/3 atau ¼  bagian dari panjang umbi, yang bertujuan agar umbi tumbuh merata, dapat merangsang tunas, mempercepat tumbuhnya tanaman, dapat merangsang tumbuh-nya umbi samping dan dapat mendorong terbentuknya anakan. Selanjutnya Samadi dan Cahyono (2005) menambahkan sebelum dita-nam umbi bibit bawang merah pada bahagian ujung umbi dipotong sebe-sar 1/3 – ¼ bahagian, sesuai dengan kondisi bibit.

Untuk meningkatkan hasil bawang merah, selain dengan per-lakuan umbi bibit dapat juga dengan cara pemupukan. Dwijoseputro (1998) menyatakan bahwa pemupuk-an perlu dilakukan untuk menambah unsur hara ke dalam media tanam, karena tanah mempunyai keterbatas-an dalam menyediakan unsur hara yang cukup. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dapat digunakan 2 jenis pupuk yaitu anor-ganik dan organik (Syarief, 2002).

Ada beberapa jenis pupuk organik yaitu pupuk kandang dan pupuk kompos. Pupuk kandang bisa berasal dari kotoran sapi dan kotoran ayam yang telah terdekomposisi sem-purna. Kandungan unsur hara yang terkandung di dalam pupuk kandang sangat tergantung pada jenis hewan, kondisi pemeliharaan, lama atau barunya kotoran dan tempat peme-liharaannya. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 10 – 20 ton/ha (Purwa, 2007). Pupuk kandang sebagai sumber dari unsur hara makro maupun mikro yang berada dalam keadaan seimbang. Unsur makro seperti N, P, K, Ca dan lain-lain sangat penting untuk pertum-buhan dan perkembangan tanaman. Unsur mikro yang tidak terdapat dalam pupuk lain, tersedia dalam pupuk kandang seperti Mn, Co, dan lain-lain (Sutanto, 2002).

Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi merupakan bahan organik yang spesifik, berperan untuk meningkatkan ketersediaan Fosfor dan unsur mikro serta mengurangi pengaruh buruk dari Aluminium. Pupuk kandang tersebut banyak mengandung unsur hara yang di-butuhkan tanaman seperti N, P, K, Mg, S dan B (Brady, 1974 dalam Sudarkoco, 1992).

Bahan organik yang terkandung dalam pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam dapat meningkatkan jumlah dan aktivitas metabolisme serta kegiatan jasad mikro dalam membantu proses dekomposisi di dalam tanah (Sarief, 1986). Menurut Mulyani et al., (2007) kotoran ayam yang telah mengalami proses dekomposisi yang sempurna mengandung unsur hara P2O5 (0,86 %), K (1,30 %), Ca (3,25 %), Mg (0,47 %) dan  KTK (45,24 c mol kg-1).

Pupuk kompos adalah hasil pembusukan sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikro or-ganisme pengurai. Kandungan unsur hara dalam kompos sangat bervariasi, tergantung pada bahan yang dikom-poskan, cara pengomposan dan cara penyimpanan (Novizan, 2005)

Berdasarkan uraian di atas, belum diketahui berapa bagian tingkat pemotongan umbi bibit yang tepat dan jenis pupuk organik yang sesuai agar diperoleh pertumbuhan dan hasil bawang merah yang maksimal. Selain itu juga belum diketahui apakah terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemotongan umbi bibit yang tepat dan jenis pupuk organik yang sesuai agar diperoleh pertumbuhan dan hasil bawang merah yang maksimal serta ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: