PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP MORTALITAS KEONG MAS

Alfian Rusdy

 

ABSTRACT

 

            The objective of the research was to study effectiveness of garlic extract (Allium sativum) at various concentrations to control golden snails (Pomacea Canaliculata).  The experiment was conducted in Agriculture Faculty, Iskandar Muda University,  Banda Aceh. The experiment applied a completely randomized design (CRD) with 5 replicates. Factors evaluated were various concentrations of garlic extract, consisting of 4 levels, i.e. 5 percent, 10 percent, 15 percent, and 20 percent of water. Variables observed were eating activity, mortality, and rate of death.  Result showed that eating activity, mortality, and rate of death were significantly affected by concentrations of garlic extract.

Keywords: golden snail, garlic extract

 


PENDAHULUAN

 

     Keong mas (Pomacea canaliculata) di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1981 di Jogyakarta.  Keong mas ini pada mulanya diintroduksi ke Indonesia untuk dibudidayakan, baik sebagai ikan hias atau dijadikan komoditas ekspor.  Namun, dalam beberapa tahun perkembangannya sangat cepat dan pesat hingga tidak terkendali,  sehingga berkembang secara liar dan hidup bebas di tempat-tempat genangan air dan akhirnya sampai ke sawah-sawah dan berubah status menjadi hama (Balai Informasi Pertanian, 1992).

Pengendalian keong mas yang telah banyak dilakukan umumnya mencakup penanganan secara mekanis dan kultur teknis.  Pengendalian secara mekanis antara lain melalui penggunaan penghalang dari plastik, yakni pada saat pembibitan di persemaian, pema-sangan kawat kasa atau jalinan bambu atau lidi di tempat masuk dan keluarnya air irigasi dari petak sawah untuk mencegah masuk dan keluarnya keong mas ke persawahan, memusnahkan keong atau kelompok telur sehingga siklus hidupnya akan terputus dan secara bertahap populasinya akan tertekan (Panjaitan dan Silalahi, 1992)

Pestisida juga banyak digunakan untuk pengendalian keong mas ini. Pada awalnya pemakaian pestisida tidak dirasakan sebagai penyebab gangguan pada ling-kungan. Namun, peningkatan jumlah dan jenis hama yang diikuti dengan peningkatan pemakaian pestisida menimbulkan banyak masalah. Pemakaian pestisida dapat mem-bunuh hama tanaman, namun di sisi lain dapat menimbulkan kerugian seperti pencemaran lingkungan, keracunan pada pengguna dan residu pada komoditas pangan serta resistensi hama (Haryanti, dkk., 2006).

Menurut Sunaryo, 1989 dalam Muhni, 2003.  Usaha pengendalian secara kimia dengan molusisida sintetik membawa dampak negatif terhadap lingkungan, terutama bagi organisme non target dan harganya relatif mahal.  Salah satu dampak negatifnya adalah terjadinya keracunan pada petani dan hewan ternak.  Oleh karena itu, diperlukan suatu alternatif pengen-dalian yang ramah lingkungan agar petani tidak tergantung pada pestisida sintetis dan penggunaannya diminimalkan.

Salah satu alternatif adalah penggunaan pestisida nabati.  Hal ini dilakukan atas dasar pertimbangan pemanfaatan potensi flora alam yang banyak ditemui di sekitar manusia dan kebijakan pengendalian organis-me pengganggu tanaman yang lebih menekankan pada pendekatan ter-hadap pengelolaan ekosistem dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan.

Pestisida nabati atau juga disebut dengan pestisida alami yaitu pestisida   yang   berasal   dari  tum-buhan merupakan salah satu pestisida yang  dapat digunakan untuk me-ngendalikan serangan hama dan  penyakit   tanaman. Pestisida ini   berbahan   aktif  tunggal atau maje-muk dapat berfungsi   sebagai peno-lak, anti fertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya. Di alam,  terdapat lebih dari 1000 spesies tumbuhan yang mengandung insektisida, lebih dari 380 spp mengandung zat pencegah makan (antifeedant), lebih dari 270 spp mengandung zat penolak (repellent), lebih dari 35 spp mengandung akarisida dan lebih dari 30 spp mengandung zat penghambat pertum-buhan (Susetyo dkk,  2008).

Salah satu tumbuhan penghasil pestisida alami adalah tanaman bawang putih. Bahan aktif bawang putih juga tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Selain itu, residunya mudah terurai menjadi senyawa yang tidak beracun, sehing-ga aman atau ramah bagi lingkungan. Tanaman bawang putih sangat potensial sebagai pestisida biologi dalam program Pengendalian Hama Terpadu (PHT), untuk mengurangi dan meminimalkan penggunaan pestisida sintetis (Iptek net, 2002).

Dosis yang pernah dicobakan untuk bawang putih pada konsentrasi ekstrak umbi bawang putih 7 persen dapat menyebabkan turunan pertama Sitophilus zeamays tidak keluar (Andriana, 1999)

Berdasarkan permasalahan di atas, penggunaan senyawa aktif dari hewan maupun tumbuhan seperti serbuk bawang putih perlu diteliti efeknya terhadap keong mas (Pomacea canaliculata)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak ba-wang putih (Allium sativum)  pada berbagai  konsentrasi untuk mengen-dalikan keong mas (Pomacea canaliculata)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: