APLIKASI PUPUK HAYATI DAN KANDANG UNTUK PENGENDALIAN LALAT BIBIT PADA TANAMAN KEDELAI

Hasnah dan Susanna

 

ABSTRACT

 

The objectives of this research were to find out dosages of biofertilizer and manure which was the most effective to control bean fly (A. phaseoli). This research was carried out at Cot Cut Village, District of Kuta Baro, Aceh Besar, from September to December 2008. This research used a factorial randomized complete block design with two factors: biofertilizer (H) and manure (K).  Dosages of biofertilizer were H1= 2,8 L ha-1, H2= 3,5 L ha-1, H3= 4,2 L ha-1, and H4= 4,9 L ha-1. Dosages of manure fertilizer were K1= 2,8 ton ha-1,  K2= 5,6 ton ha-1 and K3= 8,4 ton ha-1.  The result showed that application of biofertilizer was more effective than that of manure fertilizer to percentage rates of the attacked plant. However, both biofertilizer and mature fertilizer exerted  significant effects to percentage of plant death, plant dwarf, number of larva and pupa, and dry seed weight per plant.  Application of biofertilizer at 4,9 L ha-1 and manure fertilizer at 8,4 ton ha-1 reduced  percentages of  plant death up to 86% and 83%, respectively.

Keywords: A. phaseoli, biofertilizer, manure fertilizer, and soybean

 


PENDAHULUAN

 

            Agromyza (Ophiomyia) phaseoli Tryon adalah lalat bibit yang termasuk dalam ordo.  Diptera dan famili Agromyzidae. Lalat ini me-rupakan hama yang menyerang bibit tanaman kedelai. Penyebarannya mulai dari Indonesia,Asia Selatan, Australia dan Samudera Pasifik (Kalshoven, 1981). Hama ini termasuk hama penting yang mengganggu pertumbuhan tanaman kedelai dan merupakan satu kendala utama yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas kedelai di Indonesia (Halim et al., 2004). Ambang ekonomi dari serangan A. phaseoli adalah 2 imago/50 tanaman atau intensitas serangan 2 % pada tanaman yang berumur 10 hari setelah tanam (Wiriadiwangsa, 2008).

Serangan lalat bibit ini dapat terjadi segera setelah tanaman muncul di atas permukaan tanah. Gejala serangan mula-mula berupa bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama atau daun kedua di sekitar pangkal daun. Bintik-bintik putih tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telurnya (Tengkano & Soehardjan, 1985), serta cairan yang keluar dari lubang tusukan merupakan bahan pakan imago (Tengkano, 2003).

Usaha yang telah dilakukan dalam mengendalikan serangan hama ini adalah dengan pemakaian insek-tisida. Namun perlu disadari bahwa penggunaan insektisida dapat menim-bulkan resistensi dan resurjensi terhadap serangga hama, dan bahkan berdampak negatif terhadap ling-kungan lainnya. Untuk menghindari kelemahan penggunaan insektisida perlu dikembangkan konsep pengena-dalian hama terpadu (PHT). Salah satu komponen dari PHT adalah pemupukan yang berimbang dan berwawasan lingkungan ( Untung, 2006 ).

Berawal dari permasalahan tersebut perlu dikembangkan suatu teknologi yang sesuai dengan lingkungan, dan mengikuti kaidah konservasi serta mampu mendukung  pencapaian produksi optimum yang aman terhadap lingkungan. Salah satu langkah efektif yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan pupuk hayati dan pupuk kandang sebagai metode pengendalian hama secara preventif.

Menurut  hasil penelitian di Amerika, pemupukan berimbang antara kandungan N,P, dan K dapat meningkatkan ketahanan tanaman gandum terhadap serangan hama penggerek batang. Sebaliknya apabila pemupukan Nitrogen yang lebih banyak, tanaman menjadi lebih peka terhadap serangan penggerek batang. Pemupukan yang berimbang merupakan upaya mengubah toleransi tanaman terhadap serangan hama, sehingga hal ini termasuk dalam ketahanan ekologi  (Untung, 2008).

Pupuk hayati mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas hasil tanaman, yaitu melalui peningkatan aktivitas biologi yang akhirnya dapat berinteraksi dengan sifat-sifat fisik dan kimia media tumbuh (tanah). Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai bahan aktif pupuk hayati ialah mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat dan pemantap agregat (Subba Rao, 1982). Penelitian Saraswati (1999) pada tanaman kedelai menunjukkan adanya peningkatan serapan P (dari 3.00 menjadi 3.30 mg    pot-1) dan N (dari 65.40 menjadi 65.80 mg pot-1) yang diinokulasi dengan fungi Aspergillus sp. Hasil penelitian tersebut memberikan indikasi bahwa penggunaan pupuk berbasis mikro-organisme dapat memperbaiki atau memulihkan kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah serta dapat meningkatkan hasil tanaman. Unsur fosfat berperan menjaga keseim-bangan dari efek pemberian nitrogen yang berlebihan, merangsang pembentukan jaringan, dan memper-kuat dinding sel sehingga diyakini  dapat membuat tanaman menjadi tahan terhadap serangan hama (Buckman & Brady, 1982; Soepardi, 1983)).  Selanjutnya  De Data (1987) menambahkan bahwa, peran unsur fosfat sebagai pendorong perkem-bangan akar, sedangkan unsur kalium berperan meningkatkan respons tanaman terhadap fosfat, serta mempunyai peranan penting dalam proses-proses fisiologi tanaman, termasuk membuka dan menutup stomata dan ketahanan terhadap kondisi iklim yang  tidak mengun-tungkan.

Dalam penelitian ini digunakan pupuk hayati yang mengandung : Azotobacter sp 2,0 x 105 -107 sel ml-1, mikroba pelarut fosfat 3,0 x 105 -107 sel ml-1, Azospirillum sp.  2,3 x 105 -108 sel ml-1, mikroba pendegradasi selulosa  3,5 x 104 -107 sel ml-1 dan unsur hara P =34,70 ppm; K = 1700 ppm; C organik = 0,92%; N =0,04%; Fe =44,3 ppm; Mn =0,23 ppm; Cu =0,85 ppm dan Zn =3,7 ppm (Simalongo, 2008).

Selanjutnya penggunaan pupuk kandang dalam penelitian ini adalah untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta sebagai sumber unsur hara nitrogen bagi tanaman. Kandungan hara dalam pupuk kandang sapi antara lain adalah N =0,65 ppm; P =0,15 ppm; K =0,30 ppm; Ca =0,12 ppm; Mg =0,10 ppm; S =0,09 ppm dan Fe =0,004 ppm (Hartatik & Widowati, 2006).

Pupuk hayati dan pupuk organik berdaya ameliorasi ganda dengan berbagai proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus mengonversi tanah serta menyehatkan ekosistem tanah, dan menghindari pencemaran lingkungan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis pupuk hayati dan pupuk kandang yang efektif untuk pengendalian  secara preventif terhadap serangan lalat bibit (A. phaseoli) pada tanaman kedelai.

            Penelitian ini dimaksudkan juga untuk memasyarakatkan peng-gunaan pupuk hayati dan  pupuk kandang dalam pengendalian secara preventif terhadap hama tanaman, khususnya lalat bibit (A. phaseoli) pada tanaman kedelai, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan dapat tercipta pertanian yang berkelanjutan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: