APLIKASI BEBERAPA DOSIS HERBISIDA PARAQUAT PADA BIDURI DENGAN UMUR YANG BERBEDA

Gina Erida dan Herman Evisa

 ABSTRACT

 

            The study on application of different dosages of paraquat herbicide on different ages of milkyweed (Calotropis gigantea R. Br) have been conducted in Experimental Station, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University, Darussalam Banda Aceh. The treatments were arranged in a Completely Randomized Design (CDR) with two factors. The first factor was dosages of herbicide which were 0; 0,1; 0,2; 0,3; and 0,4 kg active ingredient (a.i.) ha-1. The second factor was ages of  C. gigantea R. Br which were 30 days, 45 days and 60 days after planting. The result showed that dosage of 0,3 kg i.a. ha-1 significantly increased the percentage of C. gigantea R. Br and decreased the dry weight shoot and root of C. gigantea R. Br. The youngest stage of C. gigantea R. Br was more effective to be controlled, and had a lower dry weight shoot and root than the oldest one. The paraquat herbicides applied with dosages of 0,3 kg a.i. ha-1 on 30 days after planting increased the percentage of C. gigantea R. Br, and  reduced shoot and root dry weight of C. gigantea R. Br.

Keywords : paraquat, herbicide, milkyweed (Calotropis gigantea R.Br)

 

 

PENDAHULUAN

 

Gulma tidak hanya tumbuh pada tanaman yang dibudidayakan saja, akan tetapi dapat tumbuh pada non areal pertanian[1] (ruderal). Gulma ruderal umumnya dijumpai pada sisa-sisa lahan pertanian, tepi jalan, tepi rel kereta api, tepi kolam, lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan pada tem-pat pembuangan sampah (Sastroutomo, 1990). Salah satu gulma ruderal ialah biduri (Calotropis gigantea R.Br) yang mampu tumbuh dengan sedikit unsur hara dan bersaing dengan gulma yang lainnya (Steenis, 1981).

Menurut Wardiyono (2008), biduri menyebar dari India, Sri Lanka sampai Thailand dan Cina bagian Sela-tan, serta tumbuh tersebar di Indonesia dan kawasan Malaysia lainnya. C. gigantea termasuk golongan gulma berdaun lebar famili Asclepiadaceae. Pada umumnya pengendalian gulma biduri dilakukan dengan cara mekanis dan pembakaran. Namun, pengendalian ini banyak membutuhkan waktu, tenaga kerja, dan kurang efisien sedangkan pembakaran dapat merusak ekosistem yang lain. Salah satu alternatif pengendalian cara lain adalah dengan menggunakan herbisida yaitu herbisida paraquat.

Menurut Anwar (2002), herbisida paraquat merupakan herbi-sida kontak non selektif yang dapat diberikan sebelum tanam dan sesudah tumbuh. Rao (2000), menambahkan bahwa herbisida paraquat dapat mengendalikan gulma berdaun lebar, dengan merusak bagian membran sel serta menghambat fotosintesis. Herbisi-da ini digunakan pada pertanaman kopi, teh, karet, kelapa, kelapa sawit, tebu, gandum, nenas, baby corn, dan jagung. Hasil penelitian Roslina (2008), menunjukkan bahwa herbisida paraquat pada dosis 0,4 kg b.a ha-1 mampu menekan pertumbuhan gulma biduri hingga 100 %.

Penghambatan atau pemacuan pertumbuhan dan perkembangan gul-ma, ditentukan oleh dosis herbisida tersebut. Herbisida pada dosis tertentu dapat bersifat selektif, tetapi bila dosis diturunkan atau dinaikkan berubah menjadi tidak selektif (Tjitrosoedirdjo et al., 1984). Djojosumarto (2008), menambahkan dalam takaran yang sangat rendah dapat berfungsi sebagai hormon untuk merangsang pertumbuh-an tanaman, sedangkan pada takaran yang tinggi dapat bersifat tidak selektif.

Kepekaan tumbuhan terhadap suatu jenis herbisida juga ditentukan oleh umur tumbuhan. Semakin muda umur tumbuhan, maka semakin tinggi persentase pertumbuhan jaringan me-ristematiknya sehingga aktivitas bio-logisnya semakin tinggi pula. Tumbuhan yang masih muda kurang mampu bertahan dibandingkan dengan tumbuhan yang sudah tua. Jadi, umur dari suatu tumbuhan sering menentu-kan tanggapan terhadap herbisida. Stadia pertumbuhan gulma yang sudah hampir menyelesai-kan siklus hidupnya  kurang peka terhadap herbisida, tetapi sebaliknya gulma yang sedang aktif tumbuh lebih peka  dan mudah dikendalikan oleh herbisida. Keadaan inilah yang menentukan kapan aplikasi herbisida yang tepat digunakan (Klingman & Ashton, 1982).

Menurut Anwar (2002), gejala keracunan akibat herbisida paraquat terlihat pada umur satu minggu dan dua minggu, juga dapat menyebabkan kelayuan dan kekeringan daun yang dimulai dari gangguan pada membran sehingga terjadi nekrosis dan kematian daun. Paraquat juga dapat menekan senyawa-senyawa fotosintesis dan hasil respirasi sehingga daun tidak normal.

Pada fase vegetatif ukuran tumbuhan terus meningkat dan membutuhkan air, serta unsur hara, untuk proses photosintesis. Pada fase vegetatif ini laju pertumbuhan semakin cepat, sedangkan pada fase generatif pertambahan ukuran tanaman semakin lambat dengan bertambahnya umur tanaman (Salisbury & Ross, 1995).

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang dosis herbisida paraquat terhadap  pertumbuhan pada berbagai stadia umur C. gigantea.

Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik C. gigantea pada beberapa stadia umur akibat aplikasi herbisida paraquat berbagai dosis.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: