Archive for October, 2010

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP MORTALITAS KEONG MAS

Alfian Rusdy

 

ABSTRACT

 

            The objective of the research was to study effectiveness of garlic extract (Allium sativum) at various concentrations to control golden snails (Pomacea Canaliculata).  The experiment was conducted in Agriculture Faculty, Iskandar Muda University,  Banda Aceh. The experiment applied a completely randomized design (CRD) with 5 replicates. Factors evaluated were various concentrations of garlic extract, consisting of 4 levels, i.e. 5 percent, 10 percent, 15 percent, and 20 percent of water. Variables observed were eating activity, mortality, and rate of death.  Result showed that eating activity, mortality, and rate of death were significantly affected by concentrations of garlic extract.

Keywords: golden snail, garlic extract

 


PENDAHULUAN

 

     Keong mas (Pomacea canaliculata) di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1981 di Jogyakarta.  Keong mas ini pada mulanya diintroduksi ke Indonesia untuk dibudidayakan, baik sebagai ikan hias atau dijadikan komoditas ekspor.  Namun, dalam beberapa tahun perkembangannya sangat cepat dan pesat hingga tidak terkendali,  sehingga berkembang secara liar dan hidup bebas di tempat-tempat genangan air dan akhirnya sampai ke sawah-sawah dan berubah status menjadi hama (Balai Informasi Pertanian, 1992).

Pengendalian keong mas yang telah banyak dilakukan umumnya mencakup penanganan secara mekanis dan kultur teknis.  Pengendalian secara mekanis antara lain melalui penggunaan penghalang dari plastik, yakni pada saat pembibitan di persemaian, pema-sangan kawat kasa atau jalinan bambu atau lidi di tempat masuk dan keluarnya air irigasi dari petak sawah untuk mencegah masuk dan keluarnya keong mas ke persawahan, memusnahkan keong atau kelompok telur sehingga siklus hidupnya akan terputus dan secara bertahap populasinya akan tertekan (Panjaitan dan Silalahi, 1992)

Pestisida juga banyak digunakan untuk pengendalian keong mas ini. Pada awalnya pemakaian pestisida tidak dirasakan sebagai penyebab gangguan pada ling-kungan. Namun, peningkatan jumlah dan jenis hama yang diikuti dengan peningkatan pemakaian pestisida menimbulkan banyak masalah. Pemakaian pestisida dapat mem-bunuh hama tanaman, namun di sisi lain dapat menimbulkan kerugian seperti pencemaran lingkungan, keracunan pada pengguna dan residu pada komoditas pangan serta resistensi hama (Haryanti, dkk., 2006).

Menurut Sunaryo, 1989 dalam Muhni, 2003.  Usaha pengendalian secara kimia dengan molusisida sintetik membawa dampak negatif terhadap lingkungan, terutama bagi organisme non target dan harganya relatif mahal.  Salah satu dampak negatifnya adalah terjadinya keracunan pada petani dan hewan ternak.  Oleh karena itu, diperlukan suatu alternatif pengen-dalian yang ramah lingkungan agar petani tidak tergantung pada pestisida sintetis dan penggunaannya diminimalkan.

Salah satu alternatif adalah penggunaan pestisida nabati.  Hal ini dilakukan atas dasar pertimbangan pemanfaatan potensi flora alam yang banyak ditemui di sekitar manusia dan kebijakan pengendalian organis-me pengganggu tanaman yang lebih menekankan pada pendekatan ter-hadap pengelolaan ekosistem dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan.

Pestisida nabati atau juga disebut dengan pestisida alami yaitu pestisida   yang   berasal   dari  tum-buhan merupakan salah satu pestisida yang  dapat digunakan untuk me-ngendalikan serangan hama dan  penyakit   tanaman. Pestisida ini   berbahan   aktif  tunggal atau maje-muk dapat berfungsi   sebagai peno-lak, anti fertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya. Di alam,  terdapat lebih dari 1000 spesies tumbuhan yang mengandung insektisida, lebih dari 380 spp mengandung zat pencegah makan (antifeedant), lebih dari 270 spp mengandung zat penolak (repellent), lebih dari 35 spp mengandung akarisida dan lebih dari 30 spp mengandung zat penghambat pertum-buhan (Susetyo dkk,  2008).

Salah satu tumbuhan penghasil pestisida alami adalah tanaman bawang putih. Bahan aktif bawang putih juga tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Selain itu, residunya mudah terurai menjadi senyawa yang tidak beracun, sehing-ga aman atau ramah bagi lingkungan. Tanaman bawang putih sangat potensial sebagai pestisida biologi dalam program Pengendalian Hama Terpadu (PHT), untuk mengurangi dan meminimalkan penggunaan pestisida sintetis (Iptek net, 2002).

Dosis yang pernah dicobakan untuk bawang putih pada konsentrasi ekstrak umbi bawang putih 7 persen dapat menyebabkan turunan pertama Sitophilus zeamays tidak keluar (Andriana, 1999)

Berdasarkan permasalahan di atas, penggunaan senyawa aktif dari hewan maupun tumbuhan seperti serbuk bawang putih perlu diteliti efeknya terhadap keong mas (Pomacea canaliculata)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak ba-wang putih (Allium sativum)  pada berbagai  konsentrasi untuk mengen-dalikan keong mas (Pomacea canaliculata)

 


Advertisements

PENGARUH PEMOTONGAN UMBI BIBIT DAN JENIS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH

Jumini, Yenny Sufyati, dan Nurul Fajri

ABSTRACT

            The objective of the research was to find out a suitable bulb slicing and kind of organic fertilizer for a maximum growth and yield of onion.  This research applied a randomized complete block design (RCBD), 3 by 3 with 3 replications. Factors observed were bulb slicing and kinds of organic fertilizer.  Bulb slicing consisted of no cut, cut of one-third, and cut of one-fourth of onion bulbs.  Organic fertilizer consisted of compost, manure of cow and manure of chicken. Variables observed were plant height, a number of onion tillers per bunch, a number of onion bulbs per bunch, wet and dry weight of bulbs per bunch.  Result showed that bulb slicing significantly affected a number of onion tillers per bunch at 30 day after planting (DAP), 45 DAP, and a number of onion bulbs per bunch. However, bulb slicing did not significantly affect plant height at 15 DAP and dry weight of bulb per bunch.  The best growth and yield was found at cut of one-fourth of the bulb. Organic fertilizer showed a significant effect on a number of bulbs per bunch but did not exert a significant effect on other variables. More bulbs per bunch were achieved at compost. There was no significant interaction between bulb slicing and organic fertilizer type on growth and yield of onion.

Keywords: onion, bulb slicing, compost, manure


PENDAHULUAN

Kebutuhan masyarakat terha-dap bawang[1] merah (Allium ascalonicum L.) akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Produktivitas bawang merah di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan Negara lain seperti Thailand dan Filipina, yang rata-rata produksinya mencapai 12 ton umbi kering per hektar (Rismunandar dan Nio, 1986). Sementara produksi umbi kering di Nanggroe Aceh  Darussalam  antara 3 – 5 ton per hektar (Distan NAD, 2008).

            Seleksi umbi bibit merupakan langkah awal yang sangat menen-tukan keberhasilan produksi. Bebe-rapa perlakuan perlu mendapat perhatian setelah umbi dipilih dan siap untuk ditanam. Menurut Wibowo (2005), pemotongan ujung umbi bibit dengan pisau bersih kira-kira 1/3 atau ¼  bagian dari panjang umbi, yang bertujuan agar umbi tumbuh merata, dapat merangsang tunas, mempercepat tumbuhnya tanaman, dapat merangsang tumbuh-nya umbi samping dan dapat mendorong terbentuknya anakan. Selanjutnya Samadi dan Cahyono (2005) menambahkan sebelum dita-nam umbi bibit bawang merah pada bahagian ujung umbi dipotong sebe-sar 1/3 – ¼ bahagian, sesuai dengan kondisi bibit.

Untuk meningkatkan hasil bawang merah, selain dengan per-lakuan umbi bibit dapat juga dengan cara pemupukan. Dwijoseputro (1998) menyatakan bahwa pemupuk-an perlu dilakukan untuk menambah unsur hara ke dalam media tanam, karena tanah mempunyai keterbatas-an dalam menyediakan unsur hara yang cukup. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dapat digunakan 2 jenis pupuk yaitu anor-ganik dan organik (Syarief, 2002).

Ada beberapa jenis pupuk organik yaitu pupuk kandang dan pupuk kompos. Pupuk kandang bisa berasal dari kotoran sapi dan kotoran ayam yang telah terdekomposisi sem-purna. Kandungan unsur hara yang terkandung di dalam pupuk kandang sangat tergantung pada jenis hewan, kondisi pemeliharaan, lama atau barunya kotoran dan tempat peme-liharaannya. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 10 – 20 ton/ha (Purwa, 2007). Pupuk kandang sebagai sumber dari unsur hara makro maupun mikro yang berada dalam keadaan seimbang. Unsur makro seperti N, P, K, Ca dan lain-lain sangat penting untuk pertum-buhan dan perkembangan tanaman. Unsur mikro yang tidak terdapat dalam pupuk lain, tersedia dalam pupuk kandang seperti Mn, Co, dan lain-lain (Sutanto, 2002).

Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi merupakan bahan organik yang spesifik, berperan untuk meningkatkan ketersediaan Fosfor dan unsur mikro serta mengurangi pengaruh buruk dari Aluminium. Pupuk kandang tersebut banyak mengandung unsur hara yang di-butuhkan tanaman seperti N, P, K, Mg, S dan B (Brady, 1974 dalam Sudarkoco, 1992).

Bahan organik yang terkandung dalam pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam dapat meningkatkan jumlah dan aktivitas metabolisme serta kegiatan jasad mikro dalam membantu proses dekomposisi di dalam tanah (Sarief, 1986). Menurut Mulyani et al., (2007) kotoran ayam yang telah mengalami proses dekomposisi yang sempurna mengandung unsur hara P2O5 (0,86 %), K (1,30 %), Ca (3,25 %), Mg (0,47 %) dan  KTK (45,24 c mol kg-1).

Pupuk kompos adalah hasil pembusukan sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikro or-ganisme pengurai. Kandungan unsur hara dalam kompos sangat bervariasi, tergantung pada bahan yang dikom-poskan, cara pengomposan dan cara penyimpanan (Novizan, 2005)

Berdasarkan uraian di atas, belum diketahui berapa bagian tingkat pemotongan umbi bibit yang tepat dan jenis pupuk organik yang sesuai agar diperoleh pertumbuhan dan hasil bawang merah yang maksimal. Selain itu juga belum diketahui apakah terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemotongan umbi bibit yang tepat dan jenis pupuk organik yang sesuai agar diperoleh pertumbuhan dan hasil bawang merah yang maksimal serta ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah.

DOSIS DAN FREKUENSI KASCING UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT

Susanna, Tjut Chamzurni, and Arisandi Pratama

ABSTRACT

A study of dosage and frequency of kascing (warm excrement) for controlling fusarium wilt disease (Fusarium oxysporum f.sp lycopersici) on tomatoes (Lycopersicum esculentum Mill) has been done in a Laboratory of Plant and Disease Department and a Field Experiment Station, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University in Banda Aceh. The purpose of this experiment was to study effects of dosage and frequency of kascing to control fusarium wilt on tomato plants. The experiment applied a factorial completely randomized design (CRD) with five replications. The factors studied were dosage and frequency of kascing. The dosage consisted of 100 and 200 g/plant, whereas the frequency of kascing consisted of one and two times of application. The results showed that dosage of 200 g/plant with two times of kascing application can control disease fusarium wilt on tomato plant.

Keywords: kascing, Fusarium oxysporum, tomato

 


PENDAHULUAN

 

Tanaman tomat (Lycoper-sicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat potensial untuk dikem-bangkan, karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan potensi ekspor yang besar.  Daerah sentra produksi tomat di Indonesia tersebar di beberapa propinsi, antara lain Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali (Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2004).  Produksi tomat di Indonesia berkisar antara   10 – 33 ton ha-1.  Dewasa ini budidaya tomat tidak hanya dikem-bangkan secara tradisional tetapi masyarakat tani sudah mulai menge-nal dan mengembangkan secara intensif (Pracaya, 1989).

Pada pelaksanaan pembudi-dayaan dan upaya peningkatan pro-duksi tanaman tomat tidak terlepas dari masalah hama dan penyakit.  Salah satu penyakit penting pada tanaman tomat adalah penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (Fol).  Penyakit ini mengakibatkan kerusak-an yang besar pada tanaman tomat, sehingga menimbulkan kerugian 20 – 30% (Wibowo, 2007). Gejala pertama dari penyakit ini adalah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah atas, kadang-kadang daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dengan tangkai merunduk dan akhirnya layu keseluruhan, jika tanaman dipotong dekat pangkal batang akan terlihat suatu cincin cokelat dari berkas pembuluh (Semangun, 2004).

Berbagai metode pengendali-an telah sering dilakukan untuk mengendalikan penyakit layu fusa-rium, namun kebiasaan petani yang menggunakan pestisida sintetik lebih dominan sehingga menyebabkan patogen menjadi resisten dan terjadi pencemaran  terhadap lingkungan.  Pada kondisi lingkungan yang demikian, perlu dicari alternatif lain untuk menjaga kelestarian lingkung-an.  Bahan organik telah dilaporkan mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit.  Salah satu bahan organik yang dapat digunakan adalah kascing.  Kascing yang karakteristiknya ramah ling-kungan mulai dari produksi hingga aplikasi adalah pengganti yang cocok dan tepat dalam proses pertumbuhan dan juga mampu menekan perkem-bangan patogen tanaman. Kascing merupakan pupuk organik yang mengandung fitohormon, mikroba dan unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.

Kascing adalah pupuk organik yang dihasilkan dari proses pencer-naan dalam tubuh cacing dan dibuang sebagai kotoran cacing yang telah terfermentasi.  Kascing ini memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan pupuk organik lain karena kascing kaya akan unsur hara makro dan mikro esensial serta mengandung hormon tumbuh tanaman seperti auksin, giberelin, dan sitokinin yang mutlak dibutuhkan untuk pertumbuh-an tanaman yang maksimal (Purwati, 2008).  Menurut Suyono et al. (2000) di dalam kascing juga terdapat mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma sp. Hasil penghitungan mikroorganisme antagonis (Tricho-derma sp.) di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala bahwa di dalam 10 gram kascing, terdapat 5,5 x 104 koloni.  La An (2008) menyatakan bahwa penggunaan kascing dapat membantu mengemba-likan kesuburan tanah karena di dalamnya terdapat mikroorganisme dan karbon organik yang mendorong perkembangan ekosistem dan rantai makanan.  Oktarina (2008) melapor-kan bahwa kascing dapat menu-runkan intensitas serangan penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada tanaman tembakau di persemaian sebesar 50 %.

Menurut Mulat (2003), pemberian kascing dengan dosis 200 g per tanamansebanyak 2 kali aplikasi dapat menekan perkembangan penyakit layu fusarium pada tanaman kedelai 75%.  Berdasarkan uraian di atas, ingin dilakukan penelitian tentang dosis dan frekuensi pemberian kascing untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis dan frekuensi pemberian kascing dalam mengendalikan penyakit layu fusa-rium pada tanaman tomat.

PENGARUH FUNGISIDA BENLATE DAN MEDIA PENGEPAKAN DALAM KONDISI KELEMBABAN TINGGI TERHADAP VIGOR DAN VIABILITAS BENIH KAKAO SETELAH PENYIMPANAN

Erida Nurahmi, Sabaruddin, dan Ninik Erlina

ABSTRACT

 

This study was aimed at determining effect of fungicide Benlate and packaging media in high humidity conditions on cocoa seed vigor and viability.  The design used was a factorial completely randomized design (CRD) 3 by 3 with 3 replications. Fungicides consisted of three levels and packaging materials consisted of three levels. The results showed that fungicide Benlate exerted a significant effect on cocoa seed viability. The highest seed viability and vigor were found at a concentration 0.65% of fungicide, while the best packaging media was a perforated plastic polypropylene.  The best combination was obtained between fungicide Benlate of 0.65% and a perforated plastic polypropylene of packaging media.

Keywords: cacao seeds, Benlate fungicide, plastic polypropylene, polyetilane and air humidity.

PENDAHULUAN

 

Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya berbagai tanaman pertanian. Sebagai bahan perbanyakan, benih haruslah bermutu tinggi baik genetis, fisis maupun fisiologis agar dapat menghasilkan tanaman vigor, baik pertumbuhan maupun produksinya.[1]

Mutu benih, secara periodik akan terus menurun sejalan dengan waktu. Kecepatan penurunan mutu benih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor intrinsik, salah satunya yaitu kadar air benih, maupun faktor ekstrinsik, salah satunya adalah kondisi kelengasan udara dalam ruang simpan.

Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang selama mungkin, agar benih dapat ditanam pada tahun-tahun berikutnya atau untuk tujuan pelestarian benih dari suatu jenis tanaman (Sutopo, 2002).

Benih tanaman kakao tergolong benih rekalsitran, karena itu sangat sensitif terhadap kekeringan dan juga peka terhadap suhu rendah. Hor (dalam Ashari, 1995) membuktikan terjadinya penurunan tajam viabilitas benih kakao dari 15°C ke 17°C.

Kondisi benih kakao tersebut masih menjadi masalah utama yang masih belum teratasi dengan baik sampai saat ini.  Hal itu meng-akibatkan laju penurunan viabilitas benih berlangsung cenderung lebih cepat, baik pada masa penyimpanan maupun dalam proses pengiriman ke lokasi konsumen (Toruan, 1985).

Sebagai benih rekalsitran, selama penundaan penanaman, benih kakao lebih aman tetap berada dalam daging buah yang menutupinya agar tetap dapat mempertahankan kadar air yang tinggi, sehingga dapat dinyatakan bahwa benih kakao tidak tahan terhadap kehilangan air, tidak toleran terhadap suhu rendah, berkecambah selama penyimpanan, membutuhkan oksigen yang tinggi dan terjadinya kontaminan mikroorganisme di penyimpanan (Chin, 1989).

Pengetahuan dalam usaha memperpanjang daya hidup benih rekalsitran masih sangat terbatas. Ashari (1995) mengemukakan bahwa, masalah utama dalam penyimpanan benih dengan kondisi kelembaban simpan yang tinggi adalah menunda perkecambahan benih dan untuk mengatasi gangguan serangan jamur adalah dengan aplikasi fungisida sehingga benih rekalsitran tersebut dapat dipertahankan viabilitasnya pada kondisi yang aman.

Hasanah (2002) menyatakan bahwa daya simpan benih rekalsitran dapat dipertahankan dengan mengemas benih pada kantong plastik yang berlubang dan dilengkapi dengan bahan yang lembab seperti serbuk gergaji atau arang. Namun,  hal ini memerlukan protektan dari invasi dan infeksi mikroorganisme, sekaligus tidak berbahaya bagi benih.

Pada saat ini hanya ada tiga metode penyimpanan jangka pendek untuk benih rekalsitran yang berhasil ditemukan, yaitu metode penyimpanan lembab atau imbibisi, metode pengeringan parsial dan teknik-teknik atmosfir terkendali. Hasil yang telah diperoleh King dan Roberts (dalam Chin, 1989), menunjukkan bahwa setelah satu bulan penyimpanan benih-benih kakao dengan menggunakan teknik penyimpanan imbibisi tersebut masih diperoleh tingkat perke-cambahan lebih dari 60%. Sisi negatif dari teknik ini adalah serangan mikroorganisme terutama jamur. Oleh sebab itu, perlakuan benih dengan bahan kimia sebelum disimpan sangat dibutuhkan untuk menghindari serang-an jamur atau cendawan dan mikroorganisme lainnya yang mengontaminasi benih selama dalam penyimpanan. Fungisida yang biasa digunakan adalah KOC, Dithane M-45, Benlate, Thiram, Ceresan, Arasan, Captan dan lain-lain (Sutopo, 2002).

Hasil penelitian Rizmi (2004) menunjukkan bahwa metode penyimpanan kelembaban tinggi dan konsentrasi Fungisida Benlate 0,45% dapat mempertahankan daya kecambah benih kakao sampai 64,57% setelah penyimpanan selama 20 hari, tetapi dalam penelitian tersebut tidak dijelaskan mengenai bahan pengemasnya.

Sampai saat ini belum ada informasi yang jelas tentang jenis media dan kemasan penyimpanan untuk benih kakao yang dapat digunakan secara bersamaan dengan fungisida Benlate. Penelitian ini di-harapkan dapat menjawab  permasa-lahan tersebut yang tujuan akhirnya adalah viabilitas dan vigor benih kakao dapat dipertahankan selama mungkin selama penyimpanan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fungisida Benlate dan media simpan dalam kondisi kelembaban tinggi terhadap vigor dan viabilitas benih kakao setelah penyimpanan, serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut.

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN INANG PADA SUHU RENDAH TERHADAP PREFERENSI SERTA KESESUAIAN INANG BAGI Trichogrammatoidea armigera NAGARAJA

Husni, Alfian Rusdy, Pudjiantodan Zulfanazli

ABSTRACT

 

            The purpose of this study was to investigate effect of storage period length under low temperature on host preference and host suitability for egg parasitoid, Trichogrammatoidea armigera.  In this study, Corcyra cephalonica eggs were used as the alternative host.  The result showed that the storage of host eggs under low temperature for 1.5 to 3 hours was able to delay host egg hatching until the day 5, however, for normal host eggs the hatching time was started at day 4.  This method did not exert a negative effect on host preference and host suitability for parasitoid T. armigera.  The rate of parasitism on the stored hosts was more than 90%, and it was not significantly different from the normal host.  T. armigera progeny (offspring) emerged from the stored host was also very high (more than 100%).  The result also showed that the percentage of T. armigera female progeny emerged from stored hosts higher than the normal host.  The female progeny emerged from normal host was 51%, while from hosts stored under low temperature for 1.5, 2.0, 2.5 and 3 hours were 69,49%, 66,03%, 66,16% and 71,10%, respectively.  The results indicated that the stored host eggs under low temperature (1– 4 oC) for 1,5 – 3,0 hours did not kill the host embryo, but only delay the hatching times.  Therefore, the availability of a sufficient number of fresh hosts could be maintained in the laboratory, so that the efficiency of mass rearing program of T. armigera parasitoid could be increased.

Keywords: Trichogrammatoidea armigera, Corcyra cephalonica, host preference, host suitability, mass rearing program

PENDAHULUAN

Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) pada umumnya lebih mengandalkan pada penggunaan pestisida sintetis, dengan alasan mudah didapatkan, harganya terjangkau, aplikasinya mudah, dan hasilnya lebih cepat terlihat. Namun dampak negatif yang ditimbulkan oleh pestisida sintesis seperti resistensi, resurgensi, berkurangnya populasi musuh alami dan residu pestisida di lingkungan telah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dilakukan pengendalian hayati  sebagai pengendali hama yang ramah lingkungan dan aman terhadap organisme bukan sasaran. Pengendalian hayati bertujuan untuk menekan populasi OPT agar tetap berada di bawah ambang ekonomi dengan menggunakan musuh alami atau agen antagonis.

Kebutuhan berbagai spesies musuh alami, termasuk parasitoid semakin meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya populasi hama, sebagai pengaruh dari praktek budidaya yang semakin intensif. Lingkungan hidup di sekitar manusia sesungguhnya telah menyediakan berbagai serangga sebagai predator atau parasitoid yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama-hama di lahan pertanian. Namun kebera-daan parasitoid bervariasi di setiap daerah, bahkan di beberapa tempat populasi parasitoid tidak dalam jumlah yang cukup karena habitatnya terganggu setelah pembukaan lahan pertanian, praktek budidaya, dampak langsung pestisida dan menurunnya populasi hama sebagai inang (Meilin, 1999).

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berbagai laboratorium penelitian telah banyak mengembangkan parasitoid. Parasitoid telah dikenal sejak tahun 1920 (Godfray, 1994) dan telah dibiakkan secara massal di laboratorium di Amerika. Salah satu spesies parasitoid yang dikem-bangbiakkan adalah parasitoid telur Trichogramma. Parasitoid ini bersifat polifag, mampu memarasit 10 ordo serangga, di antaranya adalah ordo-ordo hama penting seperti Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, Heteroptera, Hyme-noptera (symphyta) dan Neuroptera (Pinto dan Stouthamer 1994; Smith, 1996). Trichogrammatidae merupakan parasitoid telur dari berbagai spesies serangga dari ordo Lepidoptera yang bersifat polifag dan sudah banyak digunakan sebagai agen pengendali hayati di dalam negeri maupun di luar negeri. Di Indonesia Trichogram-matidae telah banyak dilakukan pembiakan massal dan dikomersialkan di berbagai Balai Penelitian dan Perkebunan Tebu di wilayah Jawa Timur. Parasitoid yang digunakan adalah Trichogrammatoidea armigera, Trichogrammatoidea cojuangcoi, T.  chilonis dan T.  chilotrae (Chaerunnisa, 2005).

Menurut Knutson (2002) penelitian tentang Trichogramma spp. terus berlanjut dan beberapa spesies Trichogramma telah diperbanyak secara massal dan dikomersialkan. Meskipun demikian, masih banyak pertanyaan tentang keefektifan dan aplikasi praktis penggunaan Trichogramma spp. pada berbagai sistem produksi tanaman.  Keefektifan parasitoid Trichogramma spp. dalam mengendalikan hama dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi: spesies Trichogramma yang digunakan, kualitas dan kebugaran parasitoid, jumlah parasitoid yang dilepaskan dan waktu pelepasan, metode pelepasan serta interaksi yang kompleks antara parasitoid, hama target,  tanaman dan kondisi lingkungan. Trichogramma spp. telah digunakan selama 10 tahun untuk mengendalikan hama penggerek batang jagung Ostrinia nubilalis pada areal 154.467 ha dan berhasil menurunkan kepadatan populasi penggerek hingga 97,52% (Han, 1988).

Pembiakan massal parasitoid di laboratorium dengan menggunakan inang pengganti menemui hambatan yaitu umur inang yang relatif singkat dengan waktu penetasan telur inang menjadi larva berlangsung cepat hanya dengan waktu 3-4 hari. Untuk mencapai tujuan tersebut, penting dilakukan penelitian tentang metode penyimpanan atau pengawetan telur inang sehingga kendala pembiakan parasitoid telur secara massal di laboratorium dapat diatasi. Ada beberapa cara pengawetan telur inang antara lain penyimpanan dalam suhu rendah, pengawetan dengan sinar ultraviolet dan penyimpanan dalam nitrogen cair.

Dalam proses penyimpanan telur inang diperlukan metode yang mudah dan murah. Penelitian Djuwarso dan Wikardi (1999) menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu rendah sangat efektif untuk memperlambat penetasan telur inang menjadi larva. Sehingga diperlukan penelitian tentang lama penyimpanan pada suhu rendah yang efektif serta hubungannya dengan preferensi para-sitisasi serta variabel-variabel kebugaran parasitoid.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan inang pada suhu rendah terhadap preferensi serta kesesuaian inang bagi parasitoid telur Trichogrammatoidea armigera Nagaraja (Hymenoptera:  Tri-chogrammatidae) sehingga memudahkan dalam pembiakan massal di laboratorium.

PENGARUH PUPUK HAYATI TIENS GOLDEN HARVEST TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO

Muhammad Hatta, Zaitun, dan Eyadinikoni Yunsa

 


ABSTRACT

This study was aimed at determining effect of various concentrations of biological fertilizer Tiens Golden Harvest (TGH) on growth of cocoa seedlings.  TGH fertilizer concentrations studied consisted of 4 levels, i.e. 0 mlL-1 water, 5 mlL-1 water, 10 mlL-1 water, and 15 mlL-1 water. The results showed that concentrations of TGH fertilizer significantly affected height of cocoa seedling at 30 and 60 day after planting (DAP), and stem diameter of cocoa seedling at 20, 30, 40, 50 and 60 DAP.  The best TGH fertilizer concentration was found at 15 mlL-1 water. However, TGH fertilizer concentration did not significantly affect height of cocoa seedling at age of 10, 20, 40 and 50 DAP, stem diameter at age of 10 DAP, leaf area, root length, wet and dry weight at 60 DAP.
Keywords: biofertilizers, Tiens Golden Harvest, cocoa seedlings

 


PENDAHULUAN

 

            Produktivitas kakao Indonesia masih tergolong rendah dan potensial untuk  ditingkatkan. Upaya yang da-pat dilakukan antara lain dengan pembibitan yang baik sehingga dihasilkan bibit yang berkualitas.  Menurut Poedjiwidodo (1996) pembibitan merupakan tahap yang sangat menen-tukan dalam keberhasilan penanaman dan produksi di kemudian hari. Lebih lanjut Siregar et al. (2005) menyata-kan bahwa, pendukung keberhasilan dalam pengusahaan tanaman kakao adalah dengan tersedianya bibit yang berkualitas dan mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan di lapangan.

Pembibitan tanaman kakao umumnya dilakukan dalam polibag, karena cara ini mempunyai beberapa keuntungan di antaranya pertum-buhan bibit lebih baik dan seragam serta mudah dalam pemeliharaan dan pengangkutan. Setyamidjaja (1986) menyatakan bahwa dalam pelaksa-naan pembibitan, perlu diperhatikan keadaan media tanam. Keadaan media tanam yang dimaksud terkait dengan sifat fisika, biologi, dan kimia tanah.

Sifat biologi tanah merupakan unsur penting dari media tanam yang perlu diperhatikan untuk pertum-buhan tanaman. Sifat biologi tanah menyangkut dengan kehidupan mikroorganisme tanah di dalam media. Salah satu teknologi yang inovatif untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah adalah dengan pemberian pupuk hayati (Suhendar dan Al Ghozali, 2009).

Salah satu produk yang dikenal sebagai pupuk hayati adalah Tiens Golden Harvest (TGH). Pupuk hayati ini selain mengandung unsur hara yang terbatas, juga mengandung populasi mikroba indigenous tanah asli Indonesia dan ramah lingkungan.  Pupuk hayati ini tidak mengandung logam berat As, Pb, Hg, Cd maupun mikroba patogen dan Salmonella Sp. Pupuk ini dipersiapkan dan dirancang untuk memperbaiki kesuburan tanah Indonesia.. Beberapa mikroorganisme dominan dalam pupuk ini adalah Azotobacter Sp, Azoospirilium Sr, Mikroba Selulolitik, Mikroba Pelarut Fosfat, Lactobacillius Sp, Pseu-domonas fluorescent (Suhendar dan Al Ghozali, 2009).

Pupuk hayati Tiens Golden Harvest dapat mempercepat pelapuk-an bahan organik di dalam media. Dari proses pelapukan ini diharapkan ketersediaan unsur-unsur penting bagi tanaman berlangsung lebih cepat. Goenadi (1997) menyatakan bahwa proses dekomposisi secara alami memerlukan waktu yang lama, yaitu 3-6 bulan dan proses dekom-posisi dapat dipercepat melalui pemberian aktivator dekomposisi.  Goenadi dan Isroi (2003) menyatakan bahwa biodecomposer yang terdapat dalam pupuk hayati Tiens Golden Harvest dapat mempercepat proses pengomposan menjadi 2-3 minggu.

Selain itu, pupuk hayati ini dapat juga berperan dalam pengen-dalian penyakit tanaman dan menjaga lingkungan hidup.  Goenadi dan Isroi (2003) menyatakan bahwa sebagian mikroba bahan aktif biodecomposer juga berperan sebagai musuh alami penyakit jamur akar atau busuk pangkal batang.  Menurut Suhendar dan Al Ghozali (2009) mikro-organisme Pseudomonas fluorescent yang terdapat dalam pupuk hayati ini berperan penting dalam penguraian pestisida di dalam tanah.

Menurut Suhendar dan Al Ghozali (2009) konsentrasi pupuk Tiens Golden Harvest yang dian-jurkan untuk pembibitan tanaman tahunan (kelapa sawit, karet, sengon, kopi, kakao, cengkeh, pepaya, jeruk, apel, dan mangga) adalah 1 L yang diencerkan dengan 100 L air, setara dengan 10 ml per L air,  diberikan pada kecambah umur 10 – 15 hari setelah tanam. Namun demikian, konsentrasi tersebut belum tentu sesuai untuk semua daerah, karena setiap daerah mempunyai jenis tanah dan kondisi iklim yang berbeda dengan daerah lainnya

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian ten-tang pengaruh pupuk hayati yang diberikan pada media tanam terhadap pertumbuhan bibit kakao.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai kon-sentrasi pupuk hayati Tiens Golden Harvest terhadap pertumbuhan bibit kakao.


PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM TANAH DAN JARINGAN TANAMAN SELADA

Erita Hayati

ABSTRACT

 

           The objective of this research was to study content of heavy metal  (Pb) in soil and lettuce tissue caused by organic and inorganic fertilizers application. This research applied a factorial completely randomized design (CRD) with 3 replicates. The first factor was organic fertilizer, consisting of 4 levels and the second factor was inorganic fertilizers, consisting of 2 levels. Variables observed were fresh weight, and content of heavy metal in soil and tissue. Results showed that application of organic and inorganic fertilizers could reduce level of lead Pb) in soil and plant tissue. The highest Pb concentration was in the treatment without organic fertilizer and the lowest Pb concentration was in the organic fertilizer of 45 tons per ha, which was not significantly different from the organic fertilizer of 30 tons per ha. The highest plant fresh weight was obtained in dosage of organic fertilizer 15 tons/ha in the second planting. The best combination for plant fresh weight was an organic fertilizer of 15 tons/ha and an inorganic fertilizer of 1000 kg/ha.

Keywords : heavy metals, inorganic and organic fertilizers, lettuce, Pb

 


 PENDAHULUAN

 

Salah satu bentuk degradasi lahan pertanian yang  terjadi akibat  tsunami adalah terjadi pencemaran, baik limbah padat maupun limbah cair.    Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2005, terhadap kualitas ling-kungan di Aceh pasca tsunami untuk mengukur pencemaran limbah padat, terdapat cemaran  beberapa logam berat, seperti cadmium (Cd) < 0,01 ppm, tembaga (Cu) = 14,7 – 30,5 ppm dan timbal (Pb) = 6,9 – 19,4 ppm.

Kualitas kandungan logam berat di dalam lumpur tsunami telah melampaui ambang batas yang ditetapkan. Logam berat dapat mengancam kesehatan tanaman, ternak dan manusia, di antaranya adalah Pb dan Cd.  Jika Pb dan Cd mencemari lingkungan, maka akan bertahan lama dibandingkan dengan kebanyakan polutan lainnya, karena Pb mempunyai kelarutan yang rendah dan relatif bebas dari degradasi oleh mikroorganisme, maka Pb cenderung terakumulasi dan tersedimentasi da-lam tanah sehingga mudah mencemari rantai makanan dan  metabolisme ma-nusia (Davies, 1990).

Atas dasar hasil pengamatan tersebut, diperkirakan kandungan lo-gam berat yang terbawa oleh lumpur tsunami telah terakumulasi pada lahan pertanian dan apabila lahan tersebut ditanami tanaman maka akan teraku-mulasi ke dalam jaringan tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sebe-rapa banyak logam berat terakumulasi pada tanah dan jaringan tanaman.

Menurut Alloway (1990), beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah logam berat dalam jaringan tanaman  antara lain konsentrasi lo-gam berat dalam larutan tanah, mobilitas ion logam berat ke zona perakaran, pergerakan logam berat dari permukaan akar ke dalam akar tanaman dan pergerakan logam berat dalam jaringan tanaman lainnya.  Secara umum ada 2 mekanisme masuknya timbal (Pb) tersedia dalam tanaman, yaitu pengambilan melalui akar dan pengambilan melalui daun, setelah masuk ke dalam sistem, Pb akan diikat oleh membran sel, mito-kondria, dan kloroplas.  Pb diserap secara cepat pada saat zat itu dipin-dahkan atau jika akarnya mati.

Tanah mempunyai kapasitas sangga yang terbatas terhadap logam berat.  Karakteristik ini ditentukan oleh banyak faktor di antaranya pH, kan-dungan bahan organik dan kapasitas tukar kation (Lepp, 1981).

Keberadaan bahan organik dalam tanah selain dimanfaatkan oleh mikroorganisme sebagai sumber energinya, juga dapat bereaksi dengan logam berat mem-bentuk senyawa kompleks (organo metalic complex) sehingga dapat mengurangi sifat racun logam berat (Stevenson, 1982).

Selain upaya memperbaiki lahan tsunami dengan menggunakan bahan organik, menciptakan lahan yang baik bagi pertumbuhan tanaman adalah dengan menjaga ketersediaan nutrisi tanaman yang seimbang dalam tubuh tanaman tersebut. Untuk menjaga ketersediaan nutrisi tanaman adalah dengan cara pemberian pupuk anorganik yaitu NPK mutiara yang mudah dan cepat tersedia, serta dapat merangsang pertumbuhan tanaman.  Namun hal ini belum diketahui pengaruhnya secara pasti, oleh karena itu perlu dilakukan pengujian tentang pengaruh pupuk anorganik terhadap ketersediaan hara bagi pertumbuhan selada di lahan tsunami.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Konsentrasi Pb dalam tanah dan jaringan tanaman selada  akibat pemberian  pupuk organik dan anorganik serta apakah ada interaksi antara kedua faktor tersebut.