KANDUNGAN UNSUR HARA TANAH DAN TANAMAN SELADA PADA TANAH BEKAS TSUNAMI AKIBAT PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK

Erida  Nurahmi

ABSTRACT

            Various forms of soil damage can be seen from the changes in physical properties, chemical and biological soil which happens in almost all coastal areas affected by the tsunami. The objectives of the study were to investigate the influence of organic and inorganic fertilizers in tsunami-affected lands on the growth of lettuce, and elemental content of N, P, and K in soil and plants. Experiment was carried out in polybags. Result showed that organic and inorganic fertilizer increased nutrient status of N and P soil, increased growth and nutrient content of N and P in lettuce plants. While for nutrient content of K, organic and inorganic fertilizer only affected soil and roots of lettuce. Growth and nutrient content of N, P and K in soil and plants due to organic and inorganic fertilizer application was highly dependent on the dosage given. The best growth of lettuce was obtained at combination of organic fertilizer 30 tons/ha with inorganic NPK fertilizer 1000 kg/ha
Key words: tsunami-affected land, fertilizers, organic and inorganic, lettuce


PENDAHULUAN

Pasca bencana gempa bumi dan tsunami akhir tahun 2004 di Provinsi NAD, menyisakan kerusakan fisik dan nonfisik yang masih belum dapat diperbaiki secara sempurna.  Hal yang sama juga terlihat pada  kondisi lahan pertanian masyarakat yang sempat terendam air laut ketika bencana terjadi. Menurut Tim Penanggulangan Bencana Nasional Departemen Pertanian Republik Indonesia (2005) lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat seluas 20.101 ha, sedangkan kerusakan ladang mencapai 31.345 ha.  Kerusakan ini disebabkan terjadinya kontaminasi garam dan lumpur laut.

Keberadaan senyawa garam dalam jumlah yang berlebih pada lahan pertanian  menimbulkan masalah bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Sebagian besar tanaman darat sangat sensitif terhadap senyawa garam yang berlebihan, karena dapat meracuni organel sel dalam jaringan akarnya, sehingga tanaman mati.  Akan tetapi, beberapa jenis tanaman tertentu memiliki sistem khusus untuk mengatasi kondisi ekstrim tersebut, misalnya tanaman mangrove.  Menurut Poljakoff-Mayber dan Gale (1975) ada tiga cara yang umumnya terjadi dalam tanaman untuk mengurangi kandungan garam dalam jaringannya. Pertama, mengeluarkan langsung garam-garam dari akarnya seperti yang terjadi pada tanaman jenis mangrove.  Kedua, dengan mengembangkan jaringan penyimpan air untuk mengurangi tekanan osmotik yang tinggi.  Ketiga, dengan cara menggugurkan organ-organ tanaman yang banyak mengandung garam.

Menurut Doorenbos dan Kassam (1979), kemampuan tanaman menyerap air pada lingkungan bergaram akan berkurang sehingga gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala kekeringan.  Gejala-gejala yang tampak seperti daun cepat menjadi layu, terbakar, berwarna biru kehijau-hijauan, pertumbuhan daun yang kecil, dan pada akhirnya tanaman akan mati kekeringan.  Selain itu terjadi pula penurunan jumlah daun dan stomata per satuan luas daun, meningkatnya daun sekulen serta terjadinya penebalan lapisan kutikula dan lilin di permukaan daun (Levitt, 1980).  Perubahan struktur ini disebabkan karena berkurangnya jumlah air yang dapat diserap oleh tanaman.  Di samping itu, transpirasi per unit luas daun pada kebanyakan tanaman menurun dengan meningkatnya salinitas tanah.

Degradasi kesuburan tanah dapat juga diartikan sebagai hasil dari satu atau lebih kejadian yang mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan tanah secara aktual maupun potensial untuk memproduksi barang dan jasa (FAO, 2005).  Tanah terdegradasi yang dicirikan dengan penurunan sifat kimia dan biologi tanah umumnya tidak terlepas dari penurunan kandungan bahan organik tanah, sehingga pemberian bahan organik sebagai agen resiliensi merupakan salah satu upaya mempercepat rehabilitasi lahan secara alami.

Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk hijau) dan kapur dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena kedua bahan tersebut dapat meningkatkan daya pegang air dan hara di tanah. Sementara itu, adanya residu pupuk diharapkan dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk anorganik pada musim tanam berikutnya.  Beberapa hasil penelitian  juga menunjukkan bahwa pemberian bahan kapur, pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kieserit mampu meningkatkan hasil padi gogo dan kedelai tanah podzolik merah kuning (Arief dan Irman, 1993).

Beberapa keunggulan dari pupuk organik yaitu memperbaiki struktur tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air, menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah karena jasad renik dalam tanah amat berperan dalam perubahan bahan organik, sebagai sumber unsur hara N, P, K dan S, dan  unsur mikro dan lain-lain  (Prihmantoro, 2005 ; Sutedjo dan Kartasepoetra (1988.  Bahan organik yang telah dikomposkan selain bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman juga berperan besar terhadap perbaikan sifat-sifat tanah (Mushawar, 2005). Bahan organik dapat meningkatkan pengaruh permukaan dari pupuk buatan, memperbesar daya ikat tekstur tanah berpasir, sehingga struktur tanah menjadi lebih kompak, memperbaiki sistem drainase dan aerasi, terutama pada tanah berat.  Dengan aerasi tanah yang baik dan kandungan air yang cukup, maka suhu tanah menjadi lebih stabil dan bahan organik mempertinggi daya ikat tanah. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: