EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP MORTALITAS Sitophilus zeamais M. PADA JAGUNG DI PENYIMPANAN

Hasnah dan Usamah Hanif

ABSTRACT

The objective of study was to determine the effective concentration of garlic extract in controlling S. zeamais on maize in storage. Concentrations of garlic extract tested were 2 percent, 4 percent, 6 percent, 8 percent, 10 percent, and 12 percent. The results showed that garlic extracts were potential as plant-based insecticide, indicated by a positive effect of garlic extract on S. zeamais mortality, the average time of S. zeamais death, the maize kernel damage and the number of S. zeamais progeny. Concentration of 12 percent gave the highest mortality rate of S. zeamais, the fastest average time of S. zeamais death, the lowest maize kernel damage and the lowest number of S. zeamais progeny, while the concentration of 2 percent gave the lowest mortality rate of  S. zeamais, the longest average time of S. zeamais death, the highest percentage of kernel damage, and the highest number of S. zeamais progeny.

Keywords : Sitophilus zeamais, garlic, maize


PENDAHULUAN

 

            Jagung (Zea mays) selain untuk pangan juga digunkan untuk pakan ternak. Data menunjukkan sekitar 60 persen jagung digunakan untuk bahan baku industri, 57 persen diantaranya untuk pakan ternak (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2004). Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi (Prihatman, 2007).

Jagung merupakan salah satu biji-bijian yang tergolong dalam komoditi bahan simpan. Penyimpanan material ini dapat bertujuan untuk persediaan pangan dan sebagai persediaan benih. Namun dalam kenyataannya, material ini sering mengalami kerusakan dipenyimpanan yang menyebabkan terjadi penurunan kualitas dan kuantitas. Penyebab terjadinya kerusakan ini dapat berupa faktor biotik (organisme pengganggu) dan faktor abiotik yaitu faktor lingkungan mikro di penyimpanan (Surtikanti, 2004).

Hama gudang yang sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis khususnya di gudang-gudang di Indonesia adalah S. zeamais (Haines dan Pranata, 1983). Serangga ini bersifat polifag yaitu selain merusak butiran beras juga merusak jagung, padi, kacang-kacangan, gaplek, kopra dan butiran lainnya (Kartasapoetra, 1987).

Kumbang bubuk (S. zeamais M) merupakan hama gudang utama di Indonesia. Serangga ini dapat menyerang biji jagung sejak dipertanaman hingga di penyimpanan dalam gudang. Populasi hama meningkat seiring dengan lamanya penyimpanan. Daya simpan dan mutu jagung selama di penyimpanan sangat dipengaruhi oleh kondisi awal biji sebelum disimpan (kadar air, persentase biji rusak atau pecah) dan ruang penyimpanan. Populasi S. zeamais perlu dikendalikan, karena selain mengakibatkan kerusakan biji dan susut bobot juga menyebabkan kadar air meningkat dapat juga menurunkan sebagai hasil respirasi (Surtikanti, 2004).

Dari berbagai cara pengendalian hama pasca panen, cara yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan insektisida atau fumigan. Dalam perkembangannya cara ini banyak kekurangannya antara lain seriko keamanan pangan (bahaya residu), timbulnya resistensi serangga dan pencemaran lingkungan. Di lain pihak terjaminnya kesehatan manusia dari segi pangan dan kelestarian lingkungan hidup menjadi hal yang sangat penting.

Penggunaan ekstrak tumbuhan/tanaman sebagai salah satu sumber insektisida didasarkan atas pemikiran bahwa terdapat mekanisme pertahanan dari tumbuhan akibat interaksinya dengan serangga pemakan tumbuhan, salah satunya dihasilkan senyawa metabolik sekunder oleh tumbuhan yang bersifat sebagai penolak (repelent), penghambat (antifeedant/feeding deterrent), penghambat perkembangan (oviposition repellent/deterrent) dan sebagai bahan kimia yang mematikan serangga dengan cepat (Prijono, 1999a).

Ekstrak bawang putih dapat berfungsi sebagai penolak kehadiran serangga (Novizan, 2002). Pestisida dari bawang putih juga dapat berfungsi untuk mengusir keong, siput dan bekicot, bahkan mampu membasmi siput dengan merusak sistem saraf. Minyak atsiri yang terkandung dalam bawang putih mengandung komponen aktif bersifat asam (Port, 2002).

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Andriana (1999), bahwa ekstrak bawang putih memiliki daya kerja sebagai insektisida terhadap perkembangan S. zeamais dan dengan konsentrasi 7 persen mampu menurunkan populasi serangga turunan pertama menjadi nol.

Ekstrak bawang putih berpengaruh terhadap tingkat kematian larva Culex pipiens quinquefasciatus pada konsentrasi 4 ppm dalam pelarut aquades dengan tingkat kematian larva mencapai 96,8 persen (Amiranti, 2005).

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak bawang putih (A. sativum) terhadap mortalitas S. zeamais pada jagung di penyimpanan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak umbi bawang putih sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan S. zeamais pada jagung di penyimpanan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: