VIABILITAS BENIH NANGKA PADA PELBAGAI STADIA KEMASAKAN DAN LETAK BIJI


Ainun Marliah, Said Imran, dan Alkausar

ABSTRACT

The aim of this research was to evaluate effect of fruit ripening stadiums, seed position inside the fruit, and interaction between them, on jack fruit seed viability.  Units of research arranged according to completely randomized design (CRD) with 3 replicates.  The factor of fruit ripening stadiums consisted of 3 levels: before, in and after physiological maturity, and also the factor of seed position inside the fruit consisted of 3 levels: both ends and at the middle of the fruit.  Observations conducted to the potency to germinate, Germination capacity, rate of germination and uniformity of germination.   The results showed that germination capacity, rate of germination and uniformity of germination were highly significant affected and potency to germinate was significantly effected by fruit ripening stadiums.  The highest jackfruit seed viability was found from physiological matury stadium.  Germination capacity and rate of germination also highly significantly affected by seeds position inside the fruit, but not significant on the potency to germinate and uniformity of germination.  The highest jack fruit seeds vibility come from the middle of the fruit.  There was a very significant of both factors on seed rate of germination, significant interaction on germination capacity, and not significant to other parameters.

Keywords: viability, seed, fruit ripening stadium, physiological maturity

PENDAHULUAN

 

            Tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus Lmk.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang berasal dari family Moraceae. Tanaman ini sangat banyak manfaatnya,selain dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan sayur juga dapat dijadikan sebagai tanaman pagar dan tanaman penahan erosi dalam sistem konservasi, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan (Widyastuti,1993).

Kebutuhan nangka terus meningkat baik untuk konsumsi rumah tangga, industri maupun sebagai tanaman konservasi. Hal ini memerlukan usaha peningkatan produktivitasnya melalui pengembangan dan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif dan efisien. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pembibitan tanaman itu sendiri. Pembibitan yang baik diharapkan dapat menghasilkan tanaman yang mempunyai tingkat produktivitas dan kualitas yang tinggi (Siregar dkk, 2000). Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan pemilihan benih yang berkualitas  (mempunyai viabilitas tinggi),  yang dijadikan bahan tanam.

Menurut Robert (dalam Justice dan Louis, 2002) salah satu faktor yang mempengaruhi viabilitas benih adalah stadia kemasakan. Benih yang berasal dari buah yang terlalu tua dan terlalu muda mempunyai viabilitas yang rendah. Daya kecambah benih pada saat awal pembentukan biji sangat rendah, akan tetapi semakin bertambahnya umur benih yang berhubungan dengan akumulasi bahan-bahan cadangan makanan, kemampuan benih untuk berkecambah meningkat. Makin tua umur benih kandungan bahan kering di dalamnya akan semakin tinggi. Kandungan bahan kering merupakan akumulasi bahan cadangan makanan yang terbentuk melalui proses fotosistesis. Menurut Shellavantar et al. (1998) akumulasi bahan kering maksimum  pada benih terjadi pada saat  masak fisiologis buah. Selanjutnya benih yang dipanen setelah lewat masak fisiologis menghasilkan benih dengan berat kering dan viabilitas yang menurun. Hal ini disebabkan  cadangan makanan yang dimiliki telah mulai berkurang akibat proses katabolisme yang terus berlangsung, sementara suplai makanan dari tanaman telah terhenti pada saat masak fisiologis (Sadjad, 1980).

Selain stadia kemasakan buah, letak biji pada buah juga mempengaruhi viabilitas benih. Biji yang letaknya pada bagian tengah dari buah, mempunyai ukuran lebih besar dan lebih  homogen dari pada biji yang letaknya pada bagian ujung dan pangkal buah. Menurut Sutopo (1994) benih yang berukuran besar dianggap lebih baik dari pada benih yang berukuran kecil. Hal ini erat hubunganannnya dengan kandungan cadangan makanan,  dimana pada benih ukuran besar mengandung cadangan makanan yang lebih banyak.  Menurut Sukatario (1996) bahwa benih bermutu baik adalah benih yang berukuran sedang dan seragam. Selanjutnya dikatakan bahwa benih yang terletak pada  bagian ujung buah mempunyai viabilitas rendah, karena mempunyai cadangan makanan lebih sedikit dibandingkan dengan benih yang terletak di tengah. Selain itu benih yang terletak di bagian ujung buah mempunyai selaput pelindung yang sangat tipis, sehingga sangat peka terhadap serangan penyakit dan kekeringan.  Namun secara spesifik belum diketahui stadia kemasakan dan letak biji pada buah yang tepat sehingga menghasilkan viabilitas benih nangka yang tinggi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahiu stadia kemasakan buah dan letak biji yang tepat     serta interaksi keduanya sehingga menghasilkan viabilitas benih nangka yang tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: