PENGARUH CEKAMAN AIR PADA DUA JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI

Nurhayati

ABSTRACT

This study was aimed at determining effect of water stress maintained at 100, 80, 60, and 40% of field capacity in ordo Entisol and Ultisol on growth and yield of soybean. Experimental design used was a completely randomized design, 4 x 2 with three replicates. Results showed that water stress significantly affected all components of growth and yield of soybean, as well as amount of cumulative water need of soybean at plant ages of 8 – 95 days. Soil type also significantly affected all components of growth and yield of soybean, as well as amount of cumulative water need of soybean, except root length.  The best growth and yield of soybean was found at ordo Entisol. There was a highly significant interaction of all components of soybean growths and yields, except plant height at the age of 15 and 30 days after planting.  Soybean was still capable of producing high yield at the range of water stress 60% – 80% of field capacity in ordo Entisol, whereas in ordo Ultisol at the same circumstance, the soybean was not capable of maintaining the yield.
Keywords: soybean, water stress, ultisol, entisol, field capacity


PENDAHULUAN

 

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) termasuk salah satu komoditi pangan yang penting di Indonesia. Produktivitas kedelai di Indonesia masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan Amerika Serikat. Rendahnya produksi kedelai di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor tanah, iklim, hama dan penyakit, maupun cara pengelolaan yang kurang baik. Salah satu unsur iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai adalah curah hujan atau ketersediaan air tanah. Kandungan air tanah harus cukup untuk perkecambahan, pertumbuhan, pembungaan dan pengisian polong. Diantar faktor-faktor tersebut masalah kekurangan air merupakan unsur iklim yang dominan menyebabkan rendahnya produksi kedelai di Indonesia (Tangkuman, 1974).

Ketersediaan air secara optimal bagi tanaman kedelai selama pertumbuhannya jarang sekali ditemukan di lapangan. Ketersediaan air yang tidak terjamin merupakan salah satu penyebab merosotnya panen dan luas pertanaman kedelai karena kedelai termasuk tanaman yang tidak tahan kekeringan (Fagi dan Tangkuman, 1985: Lamina, 1989). Dengan demikian kekurangan air pada media tanam kedelai menyebabkan pertumbuhan dan hasilnya menurun.

Cekaman air berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap tanaman. Secara langsung dapat menyebabkan penurunan turgor tanaman. Tekanan turgor sangat berperan dalam menentukan ukuran tanaman, berpengaruh terhadap pembesaran dan perbanyakan sel tanaman, membuka dan menutupnya stomata, perkembangan daun, pembentukan dan perkembangan bunga (Islami dan Utomo, 1985). Sedangkan secara tidak langsung berpengaruh terhadap proses fisiologis seperti fotosintesis, metabolisme nitrogen, absorbsi hara dan translokasi fotosintat (Salisbury dan Ross, 1985).

Kebutuhan air tanaman merupakan besaran evaporasi dan transpirasi. Tanaman kedelai membutuhkan sejumlah air setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Pramono et al. (1993) pengaruh kekurangan air yang terjadi pada fase generatif lebih menekan hasil dibandingkan bila kekurangan air yang terjadi pada fase vegetatif. Selanjutnya Zen et. al. (1993) menambahkan bahwa kekurangan air pada fase pembungaan kedelai akan menyebabkan gagalnya pembentukan polong.

Kedelai merupakan tanaman C3 yang tidak tahan kekeringan dan penggenangan air. Kondisi air tanah yang baik untuk tanaman kedelai adalah air tanah dalam kapasitas lapang sejak tanaman tumbuh hingga polong berisi penuh. Kemudian kering menjelang panen (Sumarno dan Hartono, 1983).

Kebutuhan air untuk kedelai setara dengan jumlah air yang dievapotranspirasikannya yaitu berkisar antara 300 – 350 mm selama pertumbuhannya (Kung, 1971; Doorenbos dan Kassam, 1979). Selanjutnya Rosadi dan Darmaputra (1998) menyatakan bahwa tanaman kedelai yang mengalami kekurangan air tersedia sampai dengan (60 – 70%) pada fase vegetatif masih bisa dipertahankan asal segera diairi pada saat pembungaan.

Kemampuan tanaman untuk menyerap air tersedia tergantung pada jenis tanaman dan profil tanah yang dapat dijangkau oleh akar. Kisaran air tanah tersedia bagi tanaman merupakan air yang terikat antara kapasitas lapang (pF 2,54) dan titik layu permanen (pF 4,2)  yang besarnya bervariasi tergantung pada tekstur tanah, yaitu semakin halus tekstur tanah semakin besar kisarannya (Hakim et. al. 1986).

Menurut Loveless (1987) air tanah tersedia bagi tanaman berkisar pada kadar air tanah 20 – 55% untuk tanah liat dan 8 – 18% untuk tanah berpasir. Selanjutnya Islami dan Utomo (1995) menyatakan bahwa kemampuan tanah menyimpan air tersedia merupakan fungsi dari tekstur dan struktur tanah.

Tanah ordo entisol merupakan golongan tanah yang belum mengalami diferensiasi profil membentuk horizon yang nyata. Sifat Entisol dipengaruhi langsung oleh sumber bahan induknya sehingga kesuburannya ditentukan sifat bahan induk asalnya. Selanjutnya Entisol mempunyai tingkat kesuburan yang bervariasi dari rendah sampai tinggi, tekstur dari sedang hingga kasar, kandungan bahan organik dari rendah sampai tinggi, struktur yang bervariasi, drainase dari jelek sampai baik, pH tanah berkisar dari asam netral sampai alkalin, kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation juga bervariasi karena tergantung pada bahan induknya (Munir, 1996). Menurut Soepardi (1979) sifat fisika tanah ordo Entisol antara lain adalah distribusi ukuran partikel mempunyai hubungan positif dengan kecepatan air yang mengalir di atas suatu hamparan dan juga berpengaruh terhadap retensi dan transmisi air. Semakin kecil ukuran partikel yang bervariasi dari halus sampai kasar. Kepadatan ditunjukkan dengan porositas total dari suatu material, dimana pori total terdiri dari pori makro dan mikro.

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah berapa persen kadar air tanah berdasarkan kapasitas lapang yang masih dapat ditoleransi oleh tanaman kedelai pada tanah ordo Entisol dan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai, serta interaksinya dengan demikian dapat diketahui bahwa jumlah air yang terbatas masih dapat memberikan hasil panen yang baik sehingga pemberian air dapat dilakukan dengan efisien dan efektif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat cekaman air yang dipertahankan pada 100, 80, 60 dan 40% dari kapasitas lapang pada tanah ordo Entisol dan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: