KAJIAN CEMPAKA KUNING (Michelia champaca L.) SEBAGAI TUMBUHAN OBAT

Zumaidar

 

ABSTRACT

 

The aim of the research was to appraise uses of yellow champaca (Michelia champaca L.) as a medicinal plant. This research applied participatory rural appraisal method. The data were sampled from 9 sub districts in Banda Aceh by purposive sampling respondents, i.e. tuha peut (ranking people in community), tabib (traditional healer), bidan gampong (traditional midwife) and the community planting yellow champaca.  The result showed that yellow champaca was used as medicine for 21 diseases. Plant organs most used were flowers and leaves. Most of them were mixed with other plant organs.

Keywords: Champaca, Michelia, medicinal plant

 


PENDAHULUAN

 

Pada awalnya pemanfaatan suatu jenis tumbuhan disebabkan oleh adanya sistem pengetahuan lokal atau Indigenous Knowledge mengenai tumbuhan pada suatu kelompok masyarakat tradisional. Pengetahuan ini terbentuk sebagai hasil dari coba-coba (trial and error) serta perkembangan budaya manusia, yang selanjutnya akan menciptakan kearifan lokal pada kelompok masyarakat tersebut (Martin, 1995).

Pengetahuan tentang suatu kelompok masyarakat terhadap pemanfaatan tumbuhan yang didapat secara turun temurun dikenal dengan etnobotani, secara khusus mengenai obat dikenal dengan etnofarmakologi. Meskipun dalam perkembangan modern saat ini tuntutan mengenai informasi kearifan lokal (lndigenous Knowledge) mutlak diperlukan namun disisi lain ilmu ini semakin terancam keberadaannya seiring semakin jauhnya masyarakat dengan alam sekitarnya. Sistem pengetahuan lokal juga dipahami sebagai local level decision making, baik dalam bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, pengelolaan sumberdaya alam, dan berbagai aktivitas lainnya dalam lingkungan masyarakat desa. Pengkajian terhadap pengetahuan lokal juga telah mampu memberikan gambaran mengenai kearifan tradisi masyarakat dalam mendayagunakan sumberdaya           alam dan sosial secara bijaksana dan tetap memelihara keseimbangan lingkungan (Adimihardja, 1996). Warren et al. (1991) menambahkan bahwa kajian terhadap tumbuhan yang digunakan biasanya hanya terbatas pada apa yang ada di dalam  kelompok masyarakat tersebut dan mengandung nilai persepsi, pengetahuan, etika, moral, aturan dan teknologi.

Michelia champaca L. dikenal dengan cempaka kuning atau di Aceh dikenal dengan sebutan Jeumpa Kuneng. Tumbuhan ini telah ditetapkan sebagai puspa daerah atau flora identitas Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No. 48 Tahun 1989 (Pitojo, 1994). Menurut salah seorang tokoh di Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) Provinsi NAD, masyarakat Aceh sangat menghargai Bungong Jeumpa. Hal ini ditandai dengan pemanfaatan jenis ini dalam berbagai acara adat. Selain itu keharuman, keindahan dan warna bunga ini telah mengilhami pujangga Aceh untuk menciptakan syair yang terkenal dengan lagu Bungong Jeumpa. Namun pengetahuan masyarakat Aceh menyangkut pemanfaatan tumbuhan ini sebagai obat belum diketahui. Oleh karenanya, diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan tumbuhan cempaka kuning sebagai obat tradisional yang digunakan oleh masyarakat di Kota Banda Aceh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: