EFEKTIVITAS EKSTRAK NIMBA DALAM PENGENDALIAN ULAT GRAYAK PADA TANAMAN SELADA

Alfian Rusdy

ABSTRACT

 

 Research objectives were to evaluate effectiveness of seed and leaf neem extracts at various concentrations in controlling armyworm in lettuce. Experimental design used was factorial completely randomized design, consisting of eight combinations of treatment with three replications. Factors examined were firstly neem extract of seed and leaf and secondly concentration of the neem extracts, which consists of four levels for each of the 5%, 10%, 15% and 20%.  Variables observed were mortality, percentage of pupa, percentage of imago, and intensity of damaged plants.   Results showed that use of seed and leaf extracts of neem plant can control armyworm (Spodoptera litura F.) in lettuce plants. Seed extract was more toxic than leaf extract of neem. The most effective concentration was 20 cc/100 ml solution (20%), followed by 15 cc (15%), 10 cc (10%), and 5 cc (5%).

Keyword: Neem, Armyworm, lettuce

 


PENDAHULUAN

 

Tanaman selada termasuk dalam kelompok tanaman sayuran yang sudah dikenal di masyarakat. Jenis sayuran ini mengandung zat yang  lengkap sehingga memenuhi syarat untuk kebutuhan gizi masyarakat. Selada sebagai sayuran bisa dikonsumsi dalam bentuk mentah atau lalapan. Selada juga dapat berguna untuk pengobatan (terapi) berbagai macam penyakit. Sehingga dengan demikian, selada memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang kesehatan masyarakat. Namun dalam pembudidayaan tanaman selada selalu terkendala Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit.  Salah satu hama yang sering menyerang selada adalah ulat grayak (Spodoptera litura F.).

Ulat grayak memakan daun tanaman hingga daun berlobang-lobang kemudian robek-robek atau terpotong-potong (Cahyono, 2006).

Ulat grayak (Spodoptera litura F.) termasuk dalam ordo lepidoptera, merupakan   hama   yang  menyebabkan  kerusakan  yang serius pada tanaman budidaya   di daerah tropis dan sub tropis.     (Haryanti dkk., 2006).

Untuk mengendalikan hama tersebut, petani umumnya menggunakan insektisida kimia yang intensif (dengan frekuensi dan dosis tinggi). Hal ini mengakibatkan timbulnya dampak negatif seperti gejala resistensi, resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami, meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan bagi pengguna. Pengurangan penggunaan pestisida di areal pertanian menuntut tersedianya cara pengendalian lain yang aman dan ramah lingkungan, di antaranya dengan memanfaatkan musuh alami dan penggunaan pestisida nabati (Samsudin, 2008).

Pemakaian insektisida pada awalnya tidak dirasakan sebagai penyebab gangguan pada lingkungan. Namun peningkatan jumlah  dan  jenis hama yang diikuti dengan peningkatan pemakaian insektisida menimbulkan banyak masalah. Salah satu di antaranya adalah menimbulkan  pencemaran lingkungan, keracunan pada pengguna dan residu pada komoditas pangan serta resistensi hama (Haryanti dkk., 2006).

Ketergantungan terhadap pestisida sintetis (kimia) mengakibatkan pengembangan metode pengendalian yang lain menjadi terabaikan atau bahkan ditinggalkan. Sebenarnya, usaha tani (agribisnis) tanpa pestisida sintetis bukanlah hal yang mustahil. Harus diakui bahwa teknologi pertanian tradisional (konvensional) merupakan teknologi yang mempunyai peranan besar untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Namun, pertambahan jumlah penduduk mengharuskan adanya peningkatan produksi tanaman. Pertanian masa depan yang ideal seharusnya memadukan teknologi tradisional dan  teknologi modern yang   diaktualisasikan   sebagai  pertanian   yang berwawasan lingkungan (Rahmat  dan Yuyun, 2006).

Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pada prinsipnya  lebih ditekankan pada upaya memadukan semua teknik pengendalian hama yang cocok serta mendorong berfungsinya proses pengendalian alami yang mampu mempertahankan populasi hama pada taraf yang tidak merugikan tanaman, dengan tujuan menurunkan status hama, menjamin keuntungan pendapatan petani, melestarikan kualitas lingkungan dan menyelesaikan masalah hama secara berkelanjutan. Dengan penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) tersebut, pemakaian pestisida sintetis diupayakan sebagai alternatif terakhir dan pelaksanaannya secara lebih bijaksana dengan memperhatikan faktor-faktor ekologi dan biologi dari hama sasaran dan musuh alami (Sumartono, 1994).

Walaupun demikian akan sulit sekali meramalkan bagaimana mengendalikan hama secara efektif tanpa menggunakan insektisida sintetis (Intan, 1992 dalam Julinawati, 1995).

Penggunaan pestisida nabati yang   berasal   dari  tumbuhan merupakan salah satu pestisida yang  dapat digunakan untuk mengendalikan serangan hama dan  penyakit   tanaman. Pestisida ini   berbahan   aktif  tunggal atau majemuk dapat berfungsi   sebagai penolak, anti fertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya. Di alam ini  terdapat lebih dari 1000 spesies tumbuhan yang mengandung insektisida, lebih dari 380 spp mengandung zat pencegah makan (antifeedant), lebih dari 270 spp mengandung zat penolak (repellent), lebih dari 35 spp mengandung akarisida dan lebih dari 30 spp mengandung zat penghambat pertumbuhan (Susetyo dkk,  2008).

Kelebihan utama penggunaan insektisida alami adalah mudah teurai atau tergradasi secara cepat.   Proses  penguraiannya    dibantu oleh komponen  alam, seperti     sinar matahari, udara dan   kelembaban. Dengan demikian insektisida alami yang disemprotkan beberapa hari sebelum panen tidak meninggalkan residu (Sukrasno, 2003).

Salah satu tumbuhan penghasil pestisida alami adalah tanaman nimba. Pestisida asal nimba mempunyai tingkat efektivitas yang tinggi dan berdampak spesifik terhadap organisme pengganggu. Bahan aktif nimba juga tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Tanaman nimba sangat potensial sebagai pestisida biologi dalam program Pengendalian Hama Terpadu (PHT), untuk mengurangi dan meminimalkan penggunaan pestisida sintetis (Rahmat  dan Yuyun, 2006).

Nimba (Azadirachta indica) yang mengandung senyawa bioaktif berupa triterpenoids: azadirachtin, salannin dan meliantriol yang terdapat pada daun, buah dan biji. Nimba merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi tinggi untuk perlindungan tanaman, dan menurut negara asalnya nimba dikenal khusus untuk pengobatan dengan bagian yang digunakan daun, biji dan lain-lain (Ketkar, 1976 dalam Julinawati, 1995)

Biji nimba mempunyai manfaat sebagai insektisida, baik untuk tanaman budidaya atau tanaman hias. Walaupun aktif sebagai insektisida, biji nimba tidak beracun bagi manusia maupun hewan yang bukan sasaran (Sukrasno, 2003).

Apakah ekstrak biji dan daun nimba (Azadirachta indica) berpengaruh terhadap mortalitas dan perkembangan hama Ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada tanaman selada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak  biji dan daun nimba pada berbagai  konsentrasi untuk mengendalikan Spodoptera litura F. pada tanaman selada.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: