EFEKTIVITAS EKSTRAK BUAH MENGKUDU TERHADAP MORTALITAS PLUTELLA PADA TANAMAN SAWI

Hasnah dan Nasril

ABSTRACT

One of the pests frequently attacking mustard greens is Plutella xylostella. Resulted damage can be up to 58-100% if control is not immediately done, especially in the dry season. The objective of this research was to obtain a effective concentration of great morinda extracts for controlling P. xylostella on mustard green. This research was conducted in Experimental Farm and Laboratory of Plant Pests and Diseases Department at the Faculty of Agriculture Unsyiah Darussalam Banda Aceh.  The results showed that application of great morinda was effective to control P. xylostella. Mortality of 100% larva was recorded at 3 days after application of  great morinda extract in the concentration of 150ml L-1 solution and this was equivalent to 1 ml L-1  of methrin delta solution, and that the percentage of pupa and imago was 0%. The intensity of damage to plant leaf of mustard greens was only 15.47% in the application of 150 ml L-1 of great morinda. It can be concluded that the concentration of 150ml L-1 solution of great morinda fruit extracts was effective for controlling P. xylostella and that was equivalent to 1 ml L-1  of methrin delta solution.
Keywords:  great morinda extract, P. xylostella and mustard green

 

 

PENDAHULUAN

Tanaman sawi salah satu tanman dari famili Crucifera, banyak kendala yang dihadapi petani pada waktu membudidayakannya antara lain serangan hama. Salah satu hama yang sering kali menyerang tanaman dari famili Crucifera ini adalah Plutella xylostella atau disebut ngengat ”punggung berlian”. Hama ini bersifat kosmopolit, larva P. xylostella menyerang tanaman yang masih muda di persemaian sampai tanaman dewasa di lapangan (Kalshoven, 1981).

P. xylostella tersebar diseluruh dunia, dari daerah tropis sampai daerah sub tropis. Tanaman yang terserang menjadi rusak berat (Pracaya, 2007). Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tersebut dapat mencapai 58 – 100 persen apabila tidak segera dilakuan pengendalian, terutama pada musim kemarau (Rukmana, 1994).

Untuk menekan populasi hama ini berbagai cara pengendalian telah ditempuh, baik secara kultur teknis, mekanis, biologis, maupun dengan insektisida sintetik (Pracaya, 2005).

Deltamethrin merupakan salah satu insektisida sintetik yang paling banyak dipakai dikalangan petani yang diaplikasi untuk mengendalikan serangga hama, sehingga penggunaannya harus disesuaikan dengan tujuan dan sasarannya. Deltamethrin adalah racun kontak dan perut, kurang efektif  bila diaplikasi melalui tanah atau akar, karena ia harus bersinggungan langsung dengan kulit serangga sampai terjadi proses penetrasi pada lapisan lilin, polifenol dan kotikula (Taniqu, 2008).

Aplikasi insektisida deltametrin dapat dilakukan dengan penyemprotan sebagi tindakan pencegahan (preventif) terutama pada tanaman holtikultura dan palawija, karena insektisida kontak biasanya dibekali dengan bahan perekat (sticker) dan perata (spreader), sesuai dengan takaran yang dianjurkan. Frekuensi aplikasi berikutnya harus berdasarkan hasil pantuan di lapangan yakni berdasarkan hubungan intensitas serangan yang ditimbulkan dengan kepadatan hama di lapangan (Taniqu, 2008).

Pengendalian hama dengan menggunakan insektisida sintetik secara berlebihan dapat menimbulkan beberapa masalah, antara lain, resurjensi dan resistensi serta ledakan hama kedua, demikian juga terjadinya pencemaran lingkungan baik pada litosfer, hidrosfer, maupun atmosfer (Solichah, et al.,2004).

Oleh karena itu insektisida nabati merupakan alternatif untuk menggantikan insektisida sintetik, karena insektisida nabati tidak mengakibatkan efek negatif bagi manusia, ternak maupun lingkungan. Secara umum insektisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang mudah dibuat. Jenis insektisida ini bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan karena residu mudah hilang (Dinas Pertanian & Kehutanan, 2002).

Penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai salah satu sumber insektisida nabati didasarkan atas pemikiran bahwa terdapat mekanisme pertahanan dari tumbuhan. Salah satu senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan yaitu senyawa metabolik sekunder yang bersifat penolak (repellent), penghambat makan (antifeedant/feeding deterrent), penghambat perkembangan dan penghambat peneluran (oviposition repellent/deterrent) dan sebagai bahan kimia yang mematikan serangga dengan cepat (Prijono, 1999).

Salah satu tanaman yang bersifat sebagai insektisida nabati adalah mengkudu (Morinda citrifolia L.). Mursito (2005), menyebutkan bahwa mengkudu mengandung  minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid,  polifenol dan antrakuinon. Kandungan lainnya adalah terpenoid, asam askorbat, scolopetin, serotonin, damnacanthal, resin, glikosida, eugenol dan proxeronin (Bangun & Sarwono, 2005).

Hasil penelitian Christiana (2006), dengan menggunakan ekstrak buah mengkudu pada konsentari 3% menghasilkan mortalitas dari  Bactrocera dorsalis  sebesar 50%.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka perlu diteliti pengaruh ekstrak buah mengkudu terhadap perkembangan dan  mortalitas P. xylostella.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak buah mengkudu (M. citrifolia L.) yang efektif untuk mengendalikan hama  P. xylostella pada tanaman sawi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: