RESPONS TUNAS KAKTUS PADA BERBAGAI KONSENTRASI NAA DAN BAP SECARA IN VITRO

Mardhiah Hayati

 

ABSTRACT

The research was arranged in a factorial completely randomized design 3 x 3 with 5 replicates. Factors evaluated were concentration of NAA (0, 2, 4 mgl-1), and concentration of BAP (0, 3, 6 mgl-1). Variables observed were initiation time, shoot numbers, shoot height, root number at 2 and 4 weeks after culturing (WAC) and life percentage, dead percentage, contamination percentage. The results showed that NAA significantly affected initiation time and shoot numbers at 4 WAC.  The best initiation time was found at concentration of  NAA 4 mgl-1 and the best shoot numbers was found at concentration of NAA 2 dan 4 mgl-1. BAP had significant effect on  shoot number 4 WAC, shoot height 2 WAC, and root numbers at 2 and 4 WAC.  The best shoot numbers and shoot height were found at  BAP 3 mgl-1 but did not significantly differ from BAP 6 mgl-1.  The best root numbers, however, was at no BAP.  There was no significant interaction between both factors.

Keywords: NAA, BAP, cactus.

 


PENDAHULUAN

 

Kaktus (Mammillaria myriacantha) adalah tanaman hortikultura yang berasal dari Benua Amerika. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat karena penampilannya yang unik dan khas (Djaafarer dan Budiatmaja, 1987). Tanaman kaktus ternyata tidak hanya dikenal sebagai tanaman hias saja. Kaktus juga biasa menghasilkan buah yang dikenal dengan prickly pear cactus yang nikmat rasanya dan dikonsumsi dalam bentuk segar atau dikeringkan  (Tim Trubus, 2001).

Jenis kaktus tertentu kadang-kadang mengalami penyimpangan dari bentuk aslinya. Kaktus yang seperti ini diberi istilah Cristata. Menurut Djaafarer (1987), kaktus-kaktus yang Cristata ini termasuk kaktus yang istimewa dan langka, sebab bentuk Cristata tidak dapat diperbanyak melalui biji (generatif). Apabila biji kaktus yang dihasilkan induk kaktus yang Cristata ini ditumbuhkan maka akan kembali kepada bentuk normalnya. Hal inilah yang menyebabkan harga kaktus yang Cristata menjadi sangat mahal.

Menurut Hasjim (1987), tidak hanya kaktus Cristata yang sulit di perbanyak dengan biji, kaktus-kaktus tertentu seperti Echinocactus grusonii atau yang lebih populer dengan sebutan Golden Ball sangat sulit diperbanyak dengan biji, karena bunganya baru muncul setelah berumur puluhan tahun.

Perbanyakan kaktus secara vegetatif dilakukan dengan menyetek, memisahkan anakan dan menyambung, namun setek dan anakan hanya terbatas pada jenis kaktus yang memiliki percabangan dan anakan yang cukup banyak. Cara ini tidak efektif untuk jenis kaktus yang tumbuh secara tunggal, berbatang pendek, dan jenis kaktus yang berbatang panjang tetapi tidak memiliki anakan. Sedangkan penyambungan hanya menciptakan jenis-jenis kaktus baru untuk mengatasi kejenuhan pasar (Endah dan Tim Lentera, 2002; Arif, 1990). Djaafarer dan Budiatmaja (1987) juga menyatakan bahwa penyetekan kaktus tidak dapat dilakukan terhadap semua jenis, hanya pada jenis-jenis kaktus yang banyak bercabang.

Mengatasi permasalahan sistem konvensional di atas yang umumnya masih memerlukan waktu yang cukup lama, saat ini dikembangkan suatu sistem perbanyakan tanaman yang lebih cepat dengan hasil yang lebih banyak, yakni dengan sistem kultur jaringan (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Gunawan (1987) secara luas mendefinisikan kultur jaringan sebagai usaha mengisolasi, menumbuhkan, memperbanyak, dan meregenerasikan protoplas dari sel utuh atau agregat sel, atau bagian tanaman seperti meristem, tunas, daun muda, batang muda, ujung akar, kepala sari dan bakal buah, dalam suatu lingkungan aseptik yang terkendali.

Pola perkembangan eksplan di dalam kultur jaringan dipengaruhi oleh jenis, jumlah, dan perbandingan zat-zat pengatur tumbuh yang digunakan. Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin memegang peranan penting. Auksin dan sitokonin tidak hanya menentukan tumbuhnya jaringan yang dikulturkan, tetapi bagaimana jaringan itu tumbuh (Skoog dan Miller,  dalam Yusnita 2003).

Wetter dan Constable (1991) juga menyatakan bahwa organogenesis merujuk kepada proses yang menginduksi pembentukan jaringan, sel, atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan. Benziladenin dan sitokinin lainnya, baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan golongan auksin dan kadang-kadang dengan asam giberelat, menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas. Pembentukan akar dapat terjadi serentak atau diinduksi sesudahnya.

Auksin sintetik seperti NAA (Naftalen Asam Asetat) dan 2,4-D(2,4-Dikhlorofenoksi asetat) biasanya lebih efektif daripada IAA (Indol Asam Asetat), karena NAA dan 2,4-D tidak dirusak oleh IAA oksidase atau enzim lain sehingga dapat bertahan lebih lama dan lebih stabil, namun penggunaan 2,4-D dalam kultur jaringan cenderung dihindari karena 2,4-D dapat menginduksi kalus dari eksplan, kecuali untuk tujuan demikian (Salisbury dan Ross, 1995; Hendaryono dan Wijayani, 1994). Selanjutnya Wetter dan Constable (1991), menyatakan bahwa NAA, IAA, dan IBA dapat digunakan dalam media dengan kadar seperti sitokinin, tetapi NAA lebih baik digunakan karena lebih stabil.

Golongan sitokinin yang aktif adalah BAP (N6– benzyl amino purine) dan Thidiazuron. Kasus-kasus tertentu menunjukkan thidiazuron lebih aktif dari pada BAP, namun setiap tanaman akan menunjukkan respons yang berbeda, sehingga tidak dapat dikatakan auksin atau sitokinin yang terbaik karena regenerasi juga ditentukan oleh faktor internal yang tidak diketahui (Gunawan, 1995).

Pierik (1987) menyatakan, auksin alami (IAA) biasa digunakan dengan konsentrasi 0,01-10 mg/l, dan untuk auksin sintetik (IBA, NAA, dan 2,4-D) yang relatif lebih aktif digunakan pada konsentrasi 0,001-10 mg/l. sedangkan BAP biasa digunakan dengan konsentrasi lebih tinggi (1-10 mg/l) dimana dapat merangsang pembentukan tunas, tetapi biasanya menghambat terbentuknya akar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons mata tunas kaktus terhadap berbagai konsentrasi NAA dan BAP serta interaksi antara NAA dan BAP secara in vitro.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: