HUBUNGAN SALINITAS DENGAN VIABILITAS BENIH KACANG TANAH

Sabaruddin Zakaria dan Cut Meutia Fitriani

ABSTRACT

       The research has been made to explain the relationship between two-sortation methods with peanut seed (Arachis hypogaea, L.) viability and vigor and its application for salinity resistance appraisal. Completely Randomized Design with Factorial type 3 x 3 and 3 repetitions was used to analyze the effect of sortation method. The parameters used in this research were seed growth potential, germination ability, growth velocity and T50. The second research for salinity resistance was using Completely Randomized Design with Factorial type 2×4 and 3 repetitions. The parameters used in this research were seed vigor, growth velocity and T50. The research results showed that sortation method did not have significant difference on the peanut seed viability. Seed sortation by using 1.5 % NaCl solution could be used as one alternative for sortation of peanut seed. However, the sortation by using 3.0 % NaCl solution caused negative effect on the viability and vigor of peanut seed. Salinity factors gave high significant difference on the viability of seed. The highest seed viability was found without NaCl treatment (control). Relationship between salinity and seed viability was linear negative, meanings that higher salinity cause lower seed viability.

Keywords : peanut, sortation, salinity

PENDAHULUAN

            Untuk menaikkan hasil kacang tanah per satuan luas, maka diperlukan usaha yang lebih intensif dalam sistem budidayanya. Usaha yang diperlukan dalam peningkatan hasil kacang tanah tidak hanya tertumpu pada aspek kuantitas tetapi juga mencakup aspek kualitas. Kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi hanya dapat diperoleh bila benih yang digunakan adalah benih yang bermutu (Sumarno dan Hartono, 1983).

            Menurut Sudikno (1977) salah satu kriteria benih berkualitas adalah tingginya kemurnian benih. Adanya keragaman genetika dan lingkungan dari benih yang dihasilkan menyebabkan kemurnian benih menjadi suatu masalah. Upaya terakhir yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ialah dengan sortasi.

            Peningkatan produksi tanaman dengan cara perluasan areal sering mendapat hambatan karena semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk dijadikan lahan pertanian. Terbatasnya lahan ini selalu berkaitan antara berbagai kepentingan yang bertolak belakang. Disatu pihak produksi pangan harus ditingkatkan, di pihak lain tanah dan produktifitasnya mempunyai berbagai masalah. Sebagian tanah tersebut tidak sesuai untuk dijadikan lahan pertanian akibat faktor pembatas, seperti tanah rawa, tanah masam dan tanah salin (Sutedjo dan Kartasapoetra, 1988)

            Tanah salin diIndonesiasemakin banyak dijumpai karena adanya akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan. Semua jenis tanah yang tersebar di daerah arid dan semi arid serta sepanjang pesisir pantai dapat berkembang menjadi tanah salin dengan akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan (Jonaidi, 1987).

            Bintoro (1983) menyatakan masalah salinitas timbul apabila konsentrasi NaCl, Na2CO3, Na2SO4 dan garam-garam Mg terdapat dalam jumlah yang berlebihan. Garam NaCl adalah yang paling dominan karena Natrium (Na+) akan terakumulasi pada lapisan tanah atas dalam jumlah yang berlebihan.

            Menurut Rusell (1958), kadar garam yang tinggi dapat menaikkan tekanan osmosis. Hal ini dapat mengurangi kesanggupan benih mengabsorbsi air dan secara tidak langsung akan menghambat perkecambahan benih, karena benih tidak memperoleh kadar air yang cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamil (1979) yang menyatakan bahwa, jika konsentrasi suatu larutan di sekitar biji tinggi dapat menyebabkan tidak atau kurang meresapnya air ke dalam biji sehingga mengakibatkan benih tidak berkecambah.

            Bintoro et al. (1990) menyatakan bahwa, toleransi tanaman terhadap salinitas tergantung pada jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman. Dengan kata lain tanaman mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap salinitas. Kebanyakan tanaman pertanian sangat peka terhadap kandungan garam dalam tanah. Benih yang ditanam di daerah yang mempunyai salinitas tinggi sangat sulit atau tidak dapat berkecambah sama sekali. Hal ini disebabkan  terhambatnya serapan air oleh benih dan terjadi keracunan oleh ion-ion yang menyusun garam tersebut.

            Tanaman kacang tanah merupakan salah satu tanaman bahan makanan penting diIndonesiayang harus diupayakan pengembangannya meskipun pada tanah marginal. Tanah salin adalah salah satu jenis tanah marginal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman baik pada fase perkecambahan maupun fase-fase lainnya. Pengaruh salinitas terhadap perkecambahan benih mencakup dua hal yaitu pengaruh tekanan osmosis yang tinggi sehingga benih sulit menyerap air dan pengaruh kimia atau keracunan oleh ion-ion spesifik yang menyusun garam. Karena itu penelitian untuk mengetahui sejauh mana toleransi tanaman kacang tanah terhadap salinitas, baik pada fase perkecambahan maupun pada fase sesudahnya perlu dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara metode sortasi benih dengan viabilitas dan vigor benih kacang tanah serta aplikasinya untuk menduga tingkat ketahanan salinitas.

 


7 responses to this post.

  1. Posted by melia on July 16, 2009 at 6:14 am

    perkecambahan benih kacang tanah

    Reply

  2. mohon referensinya donk…. terimakasih :)

    Reply

  3. mohon referensinya tentang salinitas… terimakasih :)

    Reply

  4. Terima kasih pak,
    sangat bermanfaat teorinya, :)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: